Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
80


__ADS_3

Saat ini, Karin sedang duduk bersama Diandra dan kedua perempuan itu masing-masing memegang foto dan lem di tangan mereka. 


Keduanya mengoles lem di belakang foto USG Karin lalu menempelkannya di sebuah album yang memang dikhususkan untuk bayi yang ada di kandungan Karin. 


"Kakak ipar, kita harus membuat album ini sampai dia dewasa supaya nanti menjadi kenang-kenangan untuknya," ucap Diandra yang merasa begitu puas melihat urutan foto-foto mulai dari kehamilan Karin sampai USG di bulan ke-9. 


"Ya, itu ide yang bagus! Sekarang ayo mengambil foto berdua," ucap Karin sambil mengambil sebuah kamera lalu mereka berdua pun berfoto sambil memperlihatkan album yang telah mereka hias. 


Cekrek!


Setelah foto itu, Karin dan Diandra memperhatikan foto yang telah mereka ambil dengan Diandra yang merasa sangat senang, "Ayo cetak foto ini dan letakkan di albumnya, nanti keponakanku akan tahu kalau kita berdua yang merangkai album ini untuk mereka!" Seru Diandra dijawab anggukan Karin. 


"Tentu," jawab Karin. 

__ADS_1


"Hah,, Aku tidak sabar menunggu satu minggu lagi untuk proses kelahiran. Aku ingin melihat kedua keponakanku yang pasti sangat imut dan lucu!" Ucap Diandra dengan perasaan penuh bahagia melingkupi seluruh hatinya. 


Maka kedua perempuan itu terus berbincang-bincang sampai pada sore hari keduanya berpisah dengan Karin yang langsung mandi. 


Baru saja selesai mandi, Rasyid sudah kembali bekerja dan pria itu langsung pergi untuk memeluk Karin ketika Karin dengan cepat mendorong tubuh pria itu agar tidak mendekat ke arahnya. 


"Kau sangat bau, Cepat pergi mandi!" gerutu Karin Sambil menjauhi suaminya dengan perempuan itu langsung pergi ke meja rias hingga membuat Rasyid menggigit bibir bawahnya menatap istrinya. 


"Kenapa kau tidak menungguku supaya kita mandi bersama? Apa tadi kau sudah menggosok kakimu?" Tanya Rasyid sambil melihat kaki istrinya karena dia tahu semenjak kehamilannya, istrinya jadi kesulitan untuk menyentuh telapak kakinya. 


Setelah berbicara, Karin langsung mengabaikan suaminya sehingga Rasyid pun dengan cepat masuk ke kamar mandi dan melihat sebuah alat pencuci kaki yang diletakkan di kamar mandi. 


'Hah,, ibu ini,,' Rasyid menggerutu dalam hati karena alat itu membuatnya tidak bisa mandi bersama-sama istrinya sehingga pria itu pun memiliki sebuah rencana untuk menyembunyikan alat itu. 

__ADS_1


Maka setelah mandi, Rasyid keluar dari kamar mandi dan cepat-cepat berganti pakaian sebelum dia dan istrinya turun ke meja makan lalu makan malam bersama keluarga besar. 


Sejak kehamilan Karin, keduanya sudah tinggal di rumah keluarga grason sebab Rasyid cemas pada istrinya bahwa tidak akan ada yang memperhatikannya di rumah dan menemaninya kalau perempuan itu tinggal sendirian di rumah mereka. 


Apalagi saat ini, seluruh keluarganya telah memperlakukan Karin dengan sangat baik sehingga tidak ada alasan bagi Rasid untuk menghindari keluarganya. 


"Lho kakek!" ucap Karin terkejut ketika mereka tiba di meja makan dan ternyata tuan besar Grason telah menunggu di meja makan. 


"Bagaimana kabarmu?" Tanya tuan besar grason sambil memperhatikan cucu menantunya yang perutnya telah membuncit. 


"Aku baik, senang bertemu dengan kakek," kata Karin seraya duduk di kursi yang ditarikan Rasyid untuknya. 


Maka semua orang pun mulai makan dan berbincang-bincang bersama dengan tuan besar yang tak henti-hentinya tersenyum karena pria itu sangat senang bahwa satu minggu lagi dia akan memiliki dua orang cicit. 

__ADS_1


Itu sebabnya juga dia segera kembali dari pulau untuk menyambut kelahiran kedua cicitnya. 


__ADS_2