Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
25


__ADS_3

Karin dan Rasyid akhirnya tiba di apartemen Rasyid, lalu begitu memasuki apartemen, Karin sangat terkejut ketika ia melihat apartemen itu sangatlah mirip dengan tempat tinggalnya di kehidupan sebelumnya.


Bahkan Karin sempat memperhatikan seluruh furniture yang ada di sana, dan Karin langsung teringat akan semua barang-barang yang dimiliki suaminya ketika mereka masih muda.


Tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai mengganti satu persatu barang yang ada di apartemen tersebut karena semuanya disesuaikan dengan seleranya.


"Ini,, apartemen mu,," Karin berbicara dengan wajah yang tercengang hingga membuat Rasyid berpikir bahwa perempuan itu terkejut melihat kemewahan di apartemen tersebut.


"Apa kau suka apartemennya?" Tanya Rasyid pada istrinya.


"Ng?!" Karin menatap suaminya dengan raut wajah yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, Tetapi beberapa saat kemudian Karin mengganggukan kepalanya, lalu dia pun mengikuti suaminya yang langsung membawanya menuju kamar.


"Ini kamar kita, Kau boleh berganti pakaian di sana," kata Rasyid menunjuk pintu ruang ganti hingga membuat Karin menganggukkan kepalanya lalu dia pun segera pergi ke ruang ganti.


Karin terlebih terkejut lagi ketika mendapati di dalam ruangan tersebut tersedia begitu banyak pakaian untuknya.

__ADS_1


Bahkan perhiasan juga diletakkan di sana hingga membuat Karin tak mampu berkata-kata dengan apa yang ia lihat.


Maka Karin cepat-cepat memakai pakaiannya sebelum dia keluar menemui suaminya yang saat itu sedang duduk di tepi tempat tidur.


"Woh,, bajunya sangat pas denganmu," ucap Rasyid yang tak menyangka bahwa pakaian yang ia siapkan untuk istrinya benar-benar cocok untuk perempuan itu.


Karin pun keheranan melihat suaminya, perempuan itu berkata, "Bagaimana bisa ada begitu banyak pakaian perempuan dan juga perhiasan perempuan di dalam ruang ganti?"


"Ah, dulu aku pikir setelah kita menikah kita akan tinggal di sini, jadi aku menyiapkan semua itu untukmu. Tapi Ketika aku melihatmu menangis di kamar mandi karena tidak menginginkan pernikahan kita, maka aku jadi mengurungkan semua niatku," ucap Rasyid membuat Karin benar-benar mematung di tempatnya karena dia tak menyangka bahwa ternyata selama ini hanya ada kesalahpahaman antara Karin yang lama dengan Rasyid sehingga kedua orang itu terlihat seperti dua orang asing yang tidak ingin disatukan.


Rasyid menganggukkan kepalanya dengan pelan, "Ya, tapi untunglah sekarang aku tahu bahwa kau sudah mencintaiku." Kata Rasyid sambil mengulurkan tangan kanannya memegang tangan kiri istrinya dan terlihat jelas bahwa pria itu sangat bahagia.


Mendengar ucapan suaminya, maka Karin pun segera duduk di samping suaminya dan memeluk pria itu dengan hati-hati agar tidak menyentuh luka Rasyid yang ada di punggungnya.


"Terima kasih, aku juga sangat menyukaimu," kata Karin sambil memejamkan matanya dengan perasaan yang begitu hangat.

__ADS_1


Rasyid yang mendengarkan itu juga merasa begitu senang hingga dia mengulurkan tangannya mencubit pelan pipi istrinya.


Keduanya terdiam selama beberapa saat sampai Karin kemudian berkata, "ngomong-ngomong, Kenapa kau langsung menyukaiku ketika kita baru pertama kali menikah?"


Pertanyaan itu langsung membuat Rasyid menatap istrinya dan mengingat kembali apa yang terjadi sebelum mereka menikah.


Rasyid kemudian mengukir sebuah senyum tipis di wajahnya sambil berkata, "Aku tidak pernah bertemu dengan perempuan sepertimu sebelumnya, jadi ketika kau baru pertama kali datang ke rumah kami, aku sangat terkejut. Aku diam-diam memperhatikanmu selama satu bulan sebelum pernikahan kita, dan saat itulah aku merasa bahwa kau adalah perempuan yang kucari.


"Kau sangat berbeda dengan perempuan lain yang kukenal yang hanya mengenal laki-laki untuk mendapatkan hartanya. Kau berbeda, kau bahkan sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya berdandan dan tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau kemewahan." Kata Rasyid.


"Benarkah?" Karin mengukir sebuah senyum lebar di wajahnya, dan dia memang mengetahui ingatan Karin di mana satu bulan sebelum mereka dinikahkan di kuil, Karin hanya menghabiskan waktunya terus menyendiri di kediaman keluarga Mahendra dan berbicara pada dirinya sendiri.


"Ya, kau mungkin tidak tahu, Tapi ketika kau berbicara dengan dirimu sendiri di taman, aku juga berada di taman sambil mendengarkanmu dan aku rasa saat itu aku lebih banyak tersenyum mendengar kau berbicara hal konyol pada dirimu sendiri. Apa kau ingat ketika kau menceritakan cerita putri duyung pada dirimu sendiri?" Tanya Rasyid dengan sorot mata bersemangat menatap istrinya.


"Ah,, aku banyak menceritakan sesuatu pada diriku sendiri, semua itu diceritakan oleh ibuku padaku dan kalau aku merindukan ibuku maka aku akan menceritakannya pada diriku sendiri." Kata Karin sambil mengulurkan tangannya kembali lagi memeluk pria yang ada di hadapannya dalam perasaan bahagianya.

__ADS_1


__ADS_2