Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
26


__ADS_3

Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Drrriiingg.... Drrriiingg.... Drrriiingg....


Karin baru saja memasuki kamar ketika dia mendengar suara ponsel suaminya yang berdering, sementara suaminya berada di kamar mandi.


Maka Karin yang datang membawa air putih kini meletakkan air putih tersebut di atas meja sebelum dia melihat ponsel suaminya yang memperlihatkan nama pemanggil adalah tuan besar Grason.


"Sayang, kakek menelponmu!" Ucap Karin sambil berjalan ke arah kamar mandi dan langsung membuka pintu kamar mandi.


Karin lalu melihat suaminya sedang duduk di toilet, sepertinya pria itu sedang buang air besar, tetapi karena kebiasaan Karin selama di kehidupan sebelumnya sudah sering melihat suaminya seperti itu, maka Karin sama sekali tidak terusik dan hanya berjalan menghampiri suaminya.


Sementara Rasyid yang duduk di kloset, pria itu merasa kalang kabut menatap istrinya yang semakin mendekat ke arahnya.

__ADS_1


'Aku lupa kalau di sini ada istriku hingga lupa menutup pintunya,' gerutu Rasyid dalam hati yang memang kebiasaannya tidak menutup pintu ketika dia berada di apartemennya karena hanya Dia seorang diri yang ada di apartemen itu.


"Hp mu," ucap Karin menyerahkan ponsel pada suaminya.


"Y, ya, makasih," ucap Rasyid tanpa ada niat untuk mengangkat panggilan telepon itu, namun saat ini dia menatap ke arah Karin yang sedang berjalan keluar dari kamar dengan sikap yang biasa-biasa saja.


Ketika pintu kamar mandi ditutup, saat itu Rasyid mala dilanda kebingungan, "kenapa dia? Tidakkah dia merasa malu?" Ucap Rasyid yang kini merasa aneh dengan istrinya.


Beberapa saat kemudian pria itu menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan pikirannya menjadi melayang-layang, "apa Jangan-jangan Dia sudah terbiasa dengan laki-laki sehingga dia,," Rasyid menelan air liurnya dan buru-buru mengambil tisu toilet.


Begitu Karin dihampiri oleh suaminya, perempuan itu langsung mengangkat wajahnya menatap suaminya, "Kenapa kau berjalan cepat-cepat? Bagaimana dengan lukamu?" Tanya Karin segera meletakkan buku di atas meja dan menatap suaminya yang kini duduk di sampingnya.


"Katakan padaku, apa sebelumnya Kau pernah dekat dengan seorang laki-laki?" Tanya Rasyid pada istrinya.

__ADS_1


"Eh?" Karin mengerutkan keningnya dengan pertanyaan tiba-tiba suaminya.


"Apa jawabanmu?" Tanya Rasyid dengan nada suara tak sabaran untuk mendengarkan ucapan istrinya.


"Uh,, kau biacara apa? Kau adalah laki-laki pertama dan terakhir dalam hidupku," ucap Karin pada suaminya.


"Benarkah?" Tanya Rasyid sambil mengulurkan tangannya memegang kedua tangan istrinya, "kau bilang aku yang pertama dan terakhir?"


Karin mengangguk dengan raut wajah bingungnya, "tentu saja, tapi kenapa kau tiba-tiba saja bertanya seperti itu?" Tanya Karin.


"Ah,, baguslah. Aku hanya khawatir kau sebelumnya pernah bersama-sama dengan pria, kalau tidak kenapa kau biasa-biasa saja di depanku. Padahal aku sendiri sangat malu padamu," ucap Rasyid membuat Karin mengerti mengapa pria itu berkata seperti itu.


"Kau ini!! Bisa-bisanya kau berpikir aneh. Oya, Ayo kita tidur, aku sudah mengantuk," ucap Karin sambil berdiri diikuti oleh Rasyid, lalu mereka pergi ke arah ranjang.

__ADS_1


"Kau tidak boleh tidur terlentang, jadi kau harus tidur menyamping," kata Karin sambil memperbaiki posisi bantal yang ada di sana sebelum dia menyibak selimut dan membiarkan suaminya naik ke tempat tidur terlebih dahulu untuk mendapatkan posisi yang nyaman.


__ADS_2