
Hari ini, Karin dan suaminya berangkat ke kantor, dan sementara dalam perjalanan, Karin mendapatkan panggilan telepon dari ibu mertuanya sehingga Karin pun langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo Bu," ucap Karin pada perempuan di seberang telepon.
"Apa hari ini kau sibuk? Ibu mau pergi berbelanja bersama Diandra, Bagaimana kalau kau ikut bersama kami?" Tanya Nyonya grason dari seberang telepon langsung membuat Karin membuka iPad miliknya dan mengecek jadwal mereka hari itu.
"Aku ada jam kosong setelah makan siang, bagaimana kalau aku menyusul ibu di jam itu?" Tanya Karin.
"Tentu saja, Kalau begitu nanti Ibu akan mengirimkan lokasinya padamu," ucap nyonya grason.
"Baik Bu," kata Karin sebelum mereka mengakhiri panggilan telepon itu.
Rasyid yang sedang menyetir mobilnya pun segera menatap istrinya dengan tatapan penuh tanya, "apa kata ibu?"
"Ibu mengajakku untuk pergi berbelanja," jawab Karin sambil tersenyum, saat ini Dia merasa bahwa kehidupannya sudah kembali tenang setelah dia perbaikan dengan ibu mertuanya sehingga beban pikirannya pun mulai berkurang.
"Baguslah, hari ini juga seseorang akan mulai bekerja, dia akan menggantikan posisimu di perusahaan supaya kau tidak usah terlalu lelah harus berada di kantor dari pagi sampai sore," ucap Rasyid yang selalu cemas akan kesehatan istrinya.
"Baguslah, tapi penggantiku perempuan atau laki-laki?" Tanya Karin yang kini merasa cemas bahwa jika yang masuk adalah seorang perempuan, mungkin saja perempuan itu akan menjadi bibit pelakor baru.
"Laki-laki, Aku tidak akan pernah menerima karyawan perempuan lagi," ucap Rasyid yang merasa trauma dengan seorang perempuan, semuanya memiliki sifat yang sama yang ingin mencelakai perempuan lainnya.
Apalagi, yang terancam untuk dilukai adalah istrinya, jadi Tentu saja dia tidak bisa membiarkan seorang perempuan kembali masuk untuk bekerja di sisinya. 0
Karim pun menganggukkan kepalanya, "Baguslah, kalau begitu aku tidak perlu khawatir. Tapi ngomong-ngomong apa Kau sudah mendapat kabar dari pengacara?" Tanya Karin yang belum berbicara tempat dengan suaminya tentang kasus hukum yang sedang ia hadapi.
Padahal, dia sangat penasaran Apa yang akan terjadi pada Anggi setelah perempuan itu melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukannya.
"Tadi pagi-pagi sekali dia menelponku, dan katanya Anggi tidak mau mencabut tuntutannya, jadi kita akan melaju ke proses persidangan. Tapi kau tenang saja, aku akan memastikan dialah yang akan masuk ke dalam penjara!" Tegas Rasyid yang sepenuhnya mendukung istrinya.
Karin pun tersenyum, "Terima kasih sayang," ucap Karin yang merasa bahwa suaminya benar-benar bisa diandalkan.
Maka kedua orang itu pun terus terdiam dalam mobil mereka sampai akhirnya mereka tiba di perusahaan.
Saat mereka keluar dari lift, keduanya langsung disambut oleh Dina yang sedang berdiri bersama dengan seorang pria muda yang kira-kira seumuran dengan Karin.
"Ikuti aku!" Perintah Rasyid pada pria yang bersama dengan Dina Karena dia sudah mengenali wajah pria itu Sebab Dia melihat fotonya.
__ADS_1
Maka Karin dan Rasyid pun berjalan menuju ruangan mereka diikuti oleh seorang pria yang akan menjadi bawahan baru Rasyid.
Begitu tiba di dalam ruangan dan Rasyid sudah duduk di meja kerjanya, Rasyid pun langsung meletakkan berkas di atas mejanya, "ini adalah pekerjaanmu hari ini, rapikan semuanya dan pelajari semua yang ada di sana!" Perintah Rasyid langsung membuat sang pria mengambil berkas yang diberikan oleh Rasyid.
"Baik Pak," jawab pria tersebut sebelum dia keluar dari ruangan Rasyid dengan Karin yang memperhatikan pria itu.
Rasyid pun melihat ke arah istrinya dan mendapati tatapan Karin begitu serius memandang pria yang keluar dari ruangan mereka.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Rasyid pada istrinya karena dia tahu istrinya memiliki kemampuan untuk membaca karakter seseorang hanya dengan melihat orang tersebut.
"Aku rasa kita tidak perlu khawatir," ucap Karin yang bisa melihat bahwa karakter pria itu adalah karakter yang bagus untuk menjadi partner kerja suaminya.
Selain itu, Karin juga bisa memberikan poin tinggi untuk paras pria itu, dan dia yakin pria itu mungkin akan mengalihkan perhatian Dina dari suaminya.
Apalagi tadi ketika Karin baru keluar dari lift, ia langsung melihat bagaimana wajah merona Dina saat sempat berbincang dengan pria yang baru masuk bekerja, sehingga Karin percaya diri dengan analisanya.
Maka setelah itu, Rasyid dan Karin kembali lagi bekerja sampai jam makan siang tiba lalu Karin pun berpamit pada suaminya karena dia sekaligus akan makan siang bersama dengan ibu mertuanya.
Karin diantar oleh seorang sopir menuju sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kantornya lalu memasuki sebuah restoran yang telah diberitahukan Nyonya grason padanya.
"Kau pasti sudah lapar, kebetulan makanannya sudah tersaji, Ayo kita makan," ucap Nyonya grason langsung membuat Karin menganggukkan kepalanya sambil melirik ke arah Diandra yang duduk di hadapan mereka.
Tampak wajah perempuan itu sangatlah tegang sehingga Karin pun tidak mau mengganggunya dan hanya fokus pada makanan mereka saja.
Bagaimanapun, Karin tidak mau ada pertengkaran di meja makan, apalagi saat ini mereka sedang ada di luar sehingga mereka bertiga akan menjadi pusat perhatian apabila mereka berbicara dengan nada suara yang tinggi, apalagi saling membentak.
Sambil makan, Nyonya Grason berkata, "makanlah yang banyak, kau harus sehat supaya bisa mempersiapkan kehamilan dengan baik."
"Baik bu," jawab Karin sambil makan dengan lahap.
"Ibu memesankan obat herbal untukmu dan untuk Rasyid supaya kalian bisa mengkonsumsinya agar lebih cepat hamil. Nanti setelah obatnya datang, ibu akan mengantarkannya ke apartemen kalian, tapi ngomong-ngomong apakah sekarang belum ada tanda-tanda kau akan digantikan bekerja di perusahaan?" Tanya nyonya grason yang bukannya tidak ingin Karin bekerja di perusahaan, Tetapi dia tidak mau perempuan itu kelelahan hingga mempengaruhi kesuburannya.
"Hari ini sudah ada pria yang datang ke perusahaan, dia yang akan menggantikanku. Tapi aku masih harus mengajarinya beberapa hal dulu sebelum meninggalkan pekerjaanku secara total, mungkin perlu waktu 1 minggu," ucap Karin yang saat ini memegang banyak proyek, Jadi kalau dia meninggalkannya begitu saja, pria yang baru saja masuk bekerja Mungkin tidak akan tahu mengelola semuanya dan malah akan merugikan perusahaan.
Nyonya grason merasa lega dengan kabar yang ia terima dari Karin, "Ah,, syukurlah kalau sudah ada yang akan menggantikan mu, tapi kau harus ingat, tidak boleh terlalu dekat dengan seorang pria kalau sudah menikah. Ibu tidak mau kalau kau bertengkar dengan Rasyid gara-gara hal sepele," ucap nyonya grason mengingatkan Karin.
"Ibu tenang saja, aku tahu batasanku," kata Karin sambil menyuap sepotong daging.
__ADS_1
"Baguslah," ucap Nyonya Grason sambil menaruh sayuran ke piring Karin, "kau juga harus makan sayur yang banyak, jangan hanya daging saja."
Karin tersenyum, "iya Bu," ucap Karin.
Dua perempuan itu terus berbincang-bincang mengabaikan Diandra yang saat itu merasa tidak nafsu makan karena dia seperti orang asing yang kebetulan Satu meja dengan Ibunya dan kakak iparnya.
Tidak ada satupun di antara dua orang di depannya yang mengajaknya berbicara hingga membuat Diandra akhirnya tidak tahan, "Aku mau ke toilet!" Tegas Diandra sambil berdiri lalu perempuan itu segera pergi meninggalkan dua orang yang masih berbincang-bincang.
Perempuan itu langsung pergi ke toilet dan memperbaiki riasannya sekaligus melampiaskan amarahnya dengan berbicara pada dirinya sendiri di depan cermin.
"Padahal aku adalah anak kandung Ibu, sementara Rasyid adalah anak tirinya, tapi bisa-bisanya,,,, ah,,, Aku tidak tahu lagi apa yang ada di pikiran ibu!! Tapi ngomong-ngomong, sebenarnya kakak ipar juga tidak terlalu buruk, dia bahkan membelaku di depan semua orang yang membulyku, tapi,,,, harga diriku akan turun jauh kalau aku sampai memberinya hati!!!" Gerutu Diandra pada dirinya sendiri.
Perempuan itu terus berbicara pada dirinya sampai akhirnya seseorang memasuki toilet hingga Diandra pun bersikap seperti biasa-biasa saja, tetapi ketika ia menoleh ke arah orang yang datang langsung terpaku di tempat.
"Kau!"
"Kau!"
Baik Kartika maupun Diandra langsung melemparkan tatapan tidak senang mereka satu sama lain.
"Sial!" Gerutu Kartika sebelum dia berbalik pergi dari tempat itu karena dia tidak mau satu ruangan dengan Diandra sebab Diandra pernah mengerjainya hingga Kartika memiliki dendam yang begitu besar pada Diandra.
Sementara diandra, dia dengan cepat menyusul perempuan itu keluar dari toilet dan melihat Kartika telah pergi bersama dengan seorang pria.
'Dasar orang miskin,' gerutu Diandra dalam hati sambil menggertakkan giginya sebelum dia pergi meninggalkan toilet karena malas bertemu lagi dengan seseorang yang tidak ia sukai.
Diandra kembali ke tempat duduknya dengan perasaan kesal hingga membuat Karin akhirnya bertanya pada Diandra, "kau terlihat kesal, Apakah ada sesuatu?"
Pertanyaan itu langsung membuat Diandra menatap ke arah Karin dan karena saat ini dia kesal maka dia semakin kesal lagi melihat wajah Karin.
"Sial, di mana-mana aku melihat wajah orang yang menyebalkan!" Gerutu Diandra sebelum dia mengambil tasnya lalu berdiri menatap ibunya, "kalian bersenang-senanglah antara mertua dan menantu, aku yang orang asing di sini akan pergi sekarang juga!!!"
Setelah berbicara, Diandra langsung pergi meninggalkan dua orang yang ada di sana tanpa menoleh ke belakang.
Nyonya grason langsung menghela nafas melihat kelakuan putrinya, "hah,,,, perempuan itu sangat keras kepala!!" Gerutu Nyonya Grason.
Karin pun hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Ibu mertuanya dan dia tidak berniat mengatakan apapun.
__ADS_1