
Tak tak tak...
Karin menjelajahkan jari-jarinya di atas keyboard komputer yang terletak tak jauh dari suaminya karena itu merupakan komputer suaminya yang tidak terlalu sering digunakan namun berisi data-data penting.
Mendengar suara keyboard yang ditekan terlalu cepat, maka Rasyid kemudian menoleh ke arah istrinya dan terkejut mendapat istrinya benar-benar mengetik dengan sangat cepat.
'bagaimana dia melakukannya?' ucap Rasyid yang tak menyangka bahwa istrinya memiliki keahlian mengetik menggunakan 10 jari dengan begitu sempurna, padahal perempuan itu berasal dari desa dan hanya lulusan SMP saja!!
Maka Rasyid pun mendorong kursinya ke samping istrinya selalu menatap intens layar komputer milik istrinya.
"Sayang, kau benar-benar bisa melakukannya?" Ucap Rasyid sambil menatap istrinya dengan intens.
Karin tersenyum, "tentu saja bisa, Tapi kau jangan terlalu banyak bergerak. Bukankah luka di punggungmu bisa terbuka lagi?" Ucap Karin memperingatkan suaminya.
"Ah, ya," jawab Rasyid ini memperbaiki posisi duduknya dengan tatapan yang masih terus tertuju ke arah komputer istrinya.
"Kau mengetik semua itu dari dalam kepalamu? Apakah kau sudah membaca semua berkas ini?" Tanya Rasyid sambil menunjuk tumpukan berkas di atas meja yang merupakan pedoman untuk pekerjaan yang sedang dilakukan oleh istrinya.
"Tentu saja, aku rasa Kau tidak perlu menunda rapat untuk Besok pagi, aku akan mengerjakannya hari ini juga. Lagi pula dari semua yang dikerjakan oleh sekretaris mu, ada banyak yang bisa kita ambil dari sana Jadi ini hanya seperti merevisi saja," ucap Karin.
__ADS_1
"Ah, ya," jawab Rasyid sambil menganggukkan kepalanya dengan tatapannya masih terus tertuju ke arah komputer istrinya, Tetapi beberapa saat kemudian pria itu kembali lagi ke depan komputernya lalu melanjutkan memeriksa berkas-berkas yang harus diselesaikan pada hari itu.
Mereka berdua fokus pada pekerjaan mereka masing-masing sampai akhirnya Karin mengambil salah satu berkas untuk ia lihat, tetapi berkas tersebut membuatnya mengerutkan keningnya.
'Kenapa isi berkas ini berbeda dengan analisaku di internet?' ucap Karin dalam hati sambil mencocokkan apa yang ia lihat di internet dengan isi berkas yang ada di hadapannya.
Karena merasa bingung ada dua informasi akurat yang ada di tangannya maka Karin pun melirik suaminya sambil berkata, "sayang, coba lihat ini, apakah ini berkas yang benar?"
Rassyid menoleh ke arah istrinya, "Ada apa?" Tanya Rasyid sambil mengambil berkas dari tangan istrinya lalu dia pun memeriksanya.
"Dari mana kau mendapatkan berkas ini?" Tanya Rasyid yang merasa heran kenapa ada berkas seperti itu.
"Ini memang salah, apa dia sengaja memberimu berkas yang telah Ia edit?" Gerutu Rasyid langsung membuat Karin mengerutkan keningnya.
Beberapa saat kemudian, Karin berkata, "biarkan saja, tidak perlu membahas nya, tapi aku rasa kau harus menurunkan posisinya, tapi jangan lakukan hari ini, lakukan setelah rapatmu selesai besok pagi."
Rasyid mengerutkan keningnya menatap istrinya, tetapi kemudian ia mengganggukan kepalanya, "baiklah," ucap Rasyid.
Maka kedua orang itu kembali fokus pada pekerjaan masing-masing sampai pintu ruangan kembali diketuk oleh seseorang.
__ADS_1
Tok tok tok...
"Masuk," perintah Rasyid dengan tatapan yang tidak beralih dari dokumen yang sedang ia periksa.
Dina pun masuk ke dalam ruangan sambil membawa nampan berisi dua minuman, yang lain berisi jus sementara yang lain berisi kopi.
Karin langsung menatap perempuan itu sambil berkata, "jangan buatkan kopi untuk suamiku, buatkan saja jus."
Dina yang mendengarkan ucapan Karin langsung melihat ke arah Rasyid, dan terlihat pria itu tampak tidak memperdulikan ucapan Karin sehingga Dina balik lagi menatap Karin.
"Saya rasa Anda belum mengenal suami anda dengan baik, tetapi selama ini Pak Rasyid selalu minum kopi," ucap Dina sambil tersenyum mengambil kopi yang ada dibagi lalu dia meletakkannya di atas meja Rasyid.
Karin mengerutkan keningnya melihat perempuan itu, lalu dia pun melihat suaminya sambil berkata, "sayang? Kau benar minum kopi?"
Pertanyaan itu akhirnya membuat Rasyid mengangkat kepalanya menatap istrinya sebelum dia melihat kopi di atas meja lalu berkata, "mulai sekarang aku minum jus."
Karin yang mendengarkan itu langsung tersenyum, sementara Dina, dia merasa begitu kesal sambil mengambil kembali kopi yang telah Ia letakkan di atas meja.
"Saya akan membuatkan jus untuk bapak," ucap Dina sebelum dia berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sangat marah.
__ADS_1
Dina langsung pergi menuju dapur, lalu Setelah tiba di dapur, Dina menggertakan giginya, "Sial! Kenapa Rasyid begitu taat pada istrinya? Jelas-jelas selama ini dia selalu minum kopi, tapi kenapa sekarang berubah menjadi jus? Lagi pula perempuan itu,, kenapa dia terus mengatur-ngatur Rasyid?!" Gerutu Dina sambil membuka kulkas untuk mendapatkan buah.