
Maka Nyonya Grason langsung membuka pintu dan mendapati putranya sedang duduk memeriksa berkas-berkas, terlihat pria itu hanya sendirian di dalam ruangan hingga membuat Diandra mengerutkan keningnya.
"Di mana Karin?" Tanya Diandra pada kakaknya sambil melirik ke seluruh sudut ruangan untuk mencari Karin yang menurutnya sudah tiba lebih dulu di ruangan kakaknya.
"Dia pergi membeli minuman, tapi kenapa kalian tiba-tiba datang?" Tanya Rasyid tanpa ada niat untuk meninggalkan meja kerjanya, karena saat itu ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan supaya dia bisa pulang cepat bersama istrinya.
Sementara nyonya grason dan Diandra yang memasuki ruangan Rasyid, kedua perempuan itu segera duduk di sofa yang terletak di dalam ruangan Rasyid.
"Dia pergi membeli minuman atau pergi berselingkuh dengan seorang pria tua?!" Tanya Diandra pada kakaknya dengan nada suara yang penuh provokasi.
Saat ini pun Diandra sangat senang, Karena dia pikir sebelum pergi menemui suaminya, Karin terlebih dahulu sehingga di suatu tempat untuk melakukan sebuah hubungan gelap dengan pria tua yang merupakan selingkuhan Karin.
Ucapan Diandra membuat Rasyid mengangkat kepalanya menatap adiknya dengan mata menyipit, "kau datang kemari untuk membuat pertengkaran? Kalau begitu Kau pulang saja!" Tegas Rasyid mengejutkan Diandra karena tak menyangka kakaknya akan membela Karin.
Oleh sebab itu, Diandra melototi kakaknya, "Kakak!! Aku berkata yang sesungguhnya!! Kakak bilang Karin pergi membeli minuman, sementara kami baru saja melihatnya bergandengan bersama seorang pria tua sambil memasuki lift!! Dia bahkan lebih dulu memasuki lift daripada kami, tapi kenapa dia belum tiba di sini?!! Aku yakin dia singgah ke suatu tempat untuk melakukan hubungan gelap dengan pria tua itu sebelum datang kemari menemui kakak!" Tegas Diandra langsung membuat nyonya grason melempari Diandra dengan dompet yang ia dapatkan dari tasnya.
"Jangan bicara sembarangan! Kakakmu sedang bekerja, kau mau pekerjaannya mencari berantakan karena ucapan konyolmu?!" Gerutu nyonya grason yang entah kenapa jadi menyesal karena membawa putrinya ke tempat itu.
Melihat dua orang di depannya tidak mempercayainya, maka Diandra pun berdiri sambil melototi ibunya, "Ibu! Bukankah Ibu juga melihatnya?! Tapi kenapa tidak ada yang mempercayaiku?!! Karin benar-benar berselingkuh dengan pria tua yang--"
"Apa katamu?!" Tiba-tiba sebuah suara menyelah ucapan Diandra hingga membuat 3 orang yang ada di dalam ruangan Rasyid kini menoleh ke arah sumber suara.
Tiga orang itu langsung melihat Karin yang masuk bersama dengan seorang pria paruh baya dengan pria paruh baya yang memegang tongkat juga berpegangan pada tangan Karin.
"Lho, Tuan Selo!" Ucap nyonya grason langsung berdiri mendekati dua orang yang berjalan ke arah mereka.
"Kalian ini ribut-ribut di jam kerja seperti ini, apakah ada masalah?" Tanya Tuan Selo sambil duduk di salah satu sofa kosong dibantu oleh Nyonya grason Dan juga Karin.
"Ibu,, Ibu mengenal pria tua ini?!" Tanya Diandra sambil mengerutkan keningnya menatap ibunya yang tampak bersemangat menyambut pria tua di hadapan mereka.
__ADS_1
Entah kenapa saat ini Diandra merasa kalah sebelum bertarung dengan kakak iparnya, Padahal tadi semangatnya begitu menggebu-gebu.
"Pria tua?!" Ucap tuan Selo sambil menatap ke arah Diandra, tampak jelas raut wajah Tuan Selo terkejut dengan julukan yang diberikan padanya.
Meski julukan itu memang benar, namun dia tetap ingin terlihat muda di depan semua orang bukannya disebut-sebut sebagai pria tua.
Sementara nyonya grason yang Mendengar Putrinya sudah menyinggung Tuan Selo, Nyonya Grason langsung melototi putrinya, "tutup mulutmu! Tuan Selo ini adalah teman kakekmu!" Tegas Nyonya Grason yang sangat tidak senang dengan kelakuan putrinya.
Mendengar ucapan ibunya, Maka Diandra akhirnya terdiam di tempatnya dengan perasaan kesalnya, 'Hah,, Kenapa perempuan sialan itu selalu saja beruntung?' Gerutu Diandra dalam hati sambil memperhatikan Karin yang dengan cepat melayani semua orang menaruh cemilan dan juga minuman di atas meja.
Bahkan Rasyid yang sedari tadi fokus pada pekerjaannya kini berpindah tempat duduk bergabung dengan mereka di sofa.
Hal itu menandakan bahwa Rasyid juga sangat menghormati Tuan Selo yang saat ini bersama-sama dengan mereka.
"Kakek Selo ternyata masih kuat, bahkan datang ke sini berjalan-jalan," ucap Rasyid yang merasa senang dengan Tuan selo karena pria itu juga memberi sumbangsih yang besar untuk perusahaan mereka.
Bahkan, mereka bisa memenangkan banyak sekali proyek karena bantuan dari tuan Selo.
"Sudah seharusnya saya membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan," ucap Karin dengan sebuah senyuman di wajahnya.
"Kau perempuan yang berhati mulia, Rasyid sangat beruntung memiliki istri sepertimu," puji Tuan Selo.
"Justru akulah yang beruntung karena bisa menikah dengan pria seperti Rasyid. Tapi tadi anda bilang kalau Anda haus, silakan minum, itu adalah minuman herbal yang saya siapkan untuk suami saya, itu sangat bagus untuk kesehatan," ucap Karin langsung membuat Nyonya grason dengan cepat mengambil minuman yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Tuan Selo.
"Terima kasih banyak, kau memang perempuan yang pengertian," puji Tuan Selo pada Karin.
Diandra yang melihat pria tua yang bersama mereka terus memuji Karin, ia merasa sangat kesal namun hanya bisa menahan kekesalannya dalam hati sambil mengepal kuat tangannya.
Rasyid pun diam di tempatnya sambil menggenggam tangan istrinya, ia menunggu sampai Tuan Selo selesai minum lalu berkata, "Saya tidak mengerti barang apa yang dimaksud oleh kakek saya yang ia titipkan di sini."
__ADS_1
"Jadi dia tidak mengatakannya padamu?!" Ucap Tuan Selo yang kini kebingungan.
Rasyid mengangguk, "beberapa hari yang lalu kakek Saya memang datang kemari, tapi dia tidak membawa apapun untuk dititipkan," ucap Rasyid sambil mengambil ponselnya untuk menghubungi kakeknya.
"Apa pria tua itu mengerjaiku?" Ucap Tuan Selo sambil berdecak kesal.
"Tunggulah sebentar, biar aku menelpon kakekku dulu," kata Rasyid segera menekan tombol panggil pada sebuah kontak yang telah ia temukan.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Halo," jawab seorang pria dari seberang telepon.
"Halo Kek, Di sini ada Tuan Selo yang datang menemuiku, katanya dia ingin mengambil barang yang kakek titipkan padaku," ucap Rasyid langsung to the poin.
"Ah,, ya, kau harus memberikannya, kakek meletakkannya di laci tv. Kemarin kau pergi ke toilet lalu kakek menaruhnya di sana!" Ucap tuan besar grason langsung membuat Karin berdiri lalu dia memeriksa laci meja TV.
Beberapa saat kemudian, Karin mengeluarkan sebuah kotak berwarna emas lalu memperlihatkannya pada semua orang.
"Apakah kotak berwarna emas?" Tanya Rasyid pada kakeknya.
"Ya, itu dia, berikan pada Tuan Selo," ucap Tuan besar dari seberang telepon langsung membuat Karin memberikan kotak berwarna emas itu pada Tuan Selo.
Setelah itu, panggilan telepon diakhiri lalu Tuan Selo juga langsung berdiri sambil memegang kotak berwarna emasnya.
"Aku sudah mendapatkan barangnya, sekarang harus pergi karena ada sesuatu yang lain yang harus ku urus," kata tuan Selo langsung membuat Karin menghampiri Tuan Selo.
"Biar saya membantu anda," ucap Karin mengulurkan tangannya untuk membantu Tuan Selo membawa kotak yang ada di tangannya.
__ADS_1
Tetapi Tuan selo menggelengkan kepalanya, "tidak usah repot-repot, cukup bukakan pintu itu untukku, selebihnya aku bisa sendiri!" Kata tuan Selo langsung membuat Karin membuka pintu dan tidak ingin memaksa pria di depannya untuk ia bantu, karena dia tahu seorang pria memiliki harga diri yang tinggi.
Jadi kalau seorang pria berkata a maka yang terjadi haruslah a, kalau yang terjadi adalah hal lain maka pria tersebut pasti akan merasa malu.