Kebangkitan Menantu Terhina

Kebangkitan Menantu Terhina
28


__ADS_3

Keesokan harinya.


Cup.


Sebuah ciuman di daratkan Rasyid di puncak kepala istrinya sebelum pria itu keluar dari apartemen meninggalkan istrinya.


Karin diam sambil melambaikan tangannya ke arah suaminya sebelum dia kemudian menutup pintu apartemen lalu berdiri Sambil memandangi apartemen di mana dia berada.


Perempuan itu menahan rasa panas pada matanya yang hendak menangis karena dia tak percaya bahwa apa yang ia alami saat ini adalah sebuah kenyataan sehingga dia kembali melihat pemandangan apartemen suaminya ketika suaminya belum menikah.


"Hah,, aku jadi takut akan kehilangan semua ini. Tapi Kenapa ada hal seperti ini?" Karin berbicara sambil berjalan ke arah sofa lalu dia pun duduk di sofa sambil mengambil remote TV untuk menyalakan TV.


Tetapi Karin tidak jadi melakukannya Ketika saat itu tatapannya malah tertuju pada sebuah vas bunga yang dulunya pernah ia pecahkan ketika bertengkar dengan suaminya.


Mata Karin menghampiri vas bunga tersebut dan melihatnya dengan seksama, "ini memang vas bunga itu. Tapi sebenarnya Bagaimana bisa ada kehidupan seperti ini? Tubuh ini adalah milikku, wajahnya pun milikku, suamiku juga sama, tapi keluarganya berbeda, lingkungan-lingkungan di sekitarnya berbeda tetapi Rumah ini masih sama.


"Kalau dipikir-pikir hanya segala sesuatu yang berkaitan dengan suamiku lah yang sama dengan yang pernah kulihat pada suamiku. Apa maksud semua ini?" Ucap Karin yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi sampai-sampai dia berada pada kehidupan di mana dia dan suaminya kembali bertemu, namun lingkungan tempat mereka berada sangat berbeda.


Karin memikirkannya selama beberapa saat sebelum dia meletakkan kembali vas bunga di tangannya lalu memutuskan untuk kembali ke kamar.

__ADS_1


Karin kemudian mandi lalu merias diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian modis.


"Hm,,, ini cantik," ucap Karin sambil tersenyum melihat dirinya yang tampak muda dan energik.


Setelah puas melihat dirinya di cermin, Karin kemudian meninggalkan apartemen, Lalu dia pergi ke perusahaan suaminya untuk memastikan sesuatu.


Menaiki sebuah taksi, Karin membutuhkan beberapa menit untuk tiba di perusahaan sebelum dia kemudian berjalan memasuki perusahaan dan menghampiri seorang resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya resepsionis pada Karin.


"Ah, Aku ingin bertemu dengan CEO, aku sudah membuat janji dengannya, tolong katakan padanya kalau istrinya sudah datang," ucap Karin dengan sebuah senyum terukir di wajahnya hingga membuat sang resepsionis kebingungan menatap Karin.


Ini pertama kalinya ada seorang perempuan yang datang ke perusahaan mereka mengaku sebagai istri CEO mereka, padahal semua orang tahu jelas kalau CEO mereka belum menikah.


Karin mengangguk dengan percaya diri, "ya, Ini pertama kalinya aku datang kemari, jadi Tolong berikan kesan yang baik," ucap Karin kembali melemparkan sebuah senyumannya pada resepsionis yang ada di hadapannya.


Sang resepsionis kini berada dalam perasaan dilema, karena kalau dia melaporkan masalah tersebut pada CEO dan memang CEO belum memiliki istri, maka dia pasti akan mendapat kemarahan dari sekretaris CEO tapi kalau sampai memang benar perempuan di depannya adalah istri CEO, maka dia akan mendapat masalah yang jauh lebih buruk lagi.


Karin yang melihat resepsionis di hadapannya tampak bingung mau melakukan apa, Dia hanya bisa menghela nafas sambil berkata, "cepat telepon suamiku dan katakan padanya! Tidak perlu menelpon sekretarisnya!"

__ADS_1


"Ah,, baik," ucap sang resepsionis mengambil telepon kantor, lalu dia pun menekan tombol nomor satu yang menghubungkannya kesekretaris Rasyid, sebab tentunya seorang resepsionis biasa sepertinya tidak akan mungkin bisa berbicara secara langsung dengan CEO.


Drrtt.... Drrtt... Drrtt...


Sambil menunggu telepon terhubung, resepsionis tersebut kemudian menatap Karin sambil berkata, "Maaf, siapa nama anda?"


"Karin Grason," ucap Karin.


"Baik," ucap sang resepsionis dengan tangannya yang semakin erat memegang gagang telepon karena dia terlalu cemas bahwa apa yang ia lakukan ini mungkin akan membuatnya mendapat amukan kemarahan.


Beberapa saat berada dalam ketegangannya, akhirnya sekretaris Rasyid kini menjawabnya, "ya?"


"Di sini ada nona Karin yang hendak bertemu dengan Tuan CEO, katanya dia sudah membuat janji dengan Tuan CEO secara pribadi," ucap resepsionis pada orang di seberang telepon.


Sang sekretaris yang mendengarkan ucapan resepsionis, ia kebingungan karena tak pernah mengenal perempuan bernama Karin.


"Ah, Kalau begitu akan ku tanyakan dulu pada CEO, tahan dia dulu!" Perintah sekretaris dari seberang telepon.


"Baik," jawab sang resepsionis sebelum dia menutup panggilan teleponnya lalu menatap Karin sambil berkata, "silakan menunggu sebentar."

__ADS_1


"Baik," jawab Karin sambil berjalan ke arah sofa yang tak jauh darinya lalu duduk di sana sambil memperhatikan lobi perusahaan.


'Perusahaan ini juga tidak mirip dengan perusahaan suamiku dulu, tapi itu memang wajar karena keluarganya juga telah berbeda,' ucap Karin dalam hati dengan matanya yang terus berkeliling memperhatikan sekelilingnya.


__ADS_2