
Setelah polisi meninggalkan kediaman keluarga Grason, Nyonya Grason duduk bersama putrinya di ruang tamu.
Diandra pun menatap ibunya sambil berkata, "mereka menanyaiku hampir 30 menit, Memangnya merah pikir aku yang mencuri perhiasan itu?"
Nyonya Grason Menatap putrinya dan dia bisa melihat kekesalan putrinya sehingga Nyonya Grason berkata, "mereka melakukan itu hanya untuk mencari dengan benar di mana perhiasan ibu. Tapi Ibu harap besok mereka sudah membawa hasil sidik jari itu untuk mengetahui siapa yang sudah mencuri perhiasan ibu!!"
Diandra langsung melototkan matanya menatap ibunya, "sidik jari?" Tanya Diandra dengan perasaan cemas meliputi hatinya.
"Ya, mereka mengambil sidik jari yang ada pada brankas dan juga kunci brankas, serta beberapa tempat Di ruang rahasia milik ibu. Lagi pula yang mengetahui ruang rahasia itu hanya beberapa orang saja, dan yang masuk ke ruang rahasia itu hanya ibu bersama ayahmu dan kepala pelayan. Jadi kalau ada sidik jari orang lain selain 3 orang itu, maka sudah dipastikan pemilik sidik jari tersebutlah yang mencuri perhiasan ibu!!" Ucap Nyonya grason langsung membuat Diandra melototkan matanya.
"Itu,, ibu berpikir begitu? Tapi kemarin aku sempat masuk ke dalam ruang rahasia milik ibu untuk mengambil anting-anting ibu yang ku kembalikan pada ibu." Ucap Diandra dengan tangan meramas kuat ujung gaunnya.
"Kau masuk ke sana? Bukankah ibu menyuruhmu untuk meminta tolong pada kepala pelayan?" Tanya Nyonya Grason.
Diandra dengan cepat menggelengkan kepalanya, "ya, memang awalnya begitu, tetapi kemudian aku berubah pikiran," ucap Diandra.
"Ya sudah, Kau tidak perlu khawatir, lagi pula sidik jari milik Karin lah yang akan ditemukan di sana," ucap Nyonya Grason sembari berdiri lalu perempuan itu pergi meninggalkan putrinya untuk beristirahat di kamarnya.
__ADS_1
Sementara Diandra yang melihat kepergian ibunya, dia kini menggigit bibir bawahnya dalam perasaan cemasnya, 'Bagaimana ini?' ucap Diandra dalam hati yang saat ini merasakan sekujur tubuhnya menjadi dingin, bahkan tangannya terasa lebih dingin daripada suhu di dalam kulkas.
Perempuan itu dengan gemetar mengambil ponselnya lalu dia cepat-cepat berlari ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.
Setelah itu, Diandra kemudian gerak-gerakkan jarinya di atas layar ponselnya hingga ia menemukan sebuah kontak untuk ia hubungi.
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
Drrtt.... Drrtt... Drrtt...
"Ada apa?" Tanya seorang perempuan dari seberang telepon dengan nada suara yang ketus.
__ADS_1
"Aku mau membicarakan tentang perhiasan yang kemarin kuberikan padamu untuk dijual," ucap Diandra.
"Bicarakannya nanti saja, Aku sedang bersama kekasihku!!" Gerutu perempuan dari seberang telepon sebelum panggilan telepon itu diakhiri hingga membuat Diandra merasa semakin cemas.
"Perempuan ini gila!!" Geram Diandra kembali menekan tombol panggil pada temannya.
Tetapi saat itu kamu hanya seorang operator yang menjawabnya hingga Diandra melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur.
"Berani-beraniannya dia menonaktifkan ponselnya?!!" Teriak Diandra dengan perasaan yang begitu cemas, ia kebingungan harus melakukan apa.
Perempuan itu mondar-mandir di dalam kabarnya sambil menggigit bibir bawahnya dan merah mesramas ke-10 jari tangannya.
Beberapa saat kemudian Diandra kembali mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur lalu perempuan itu mengambil laman pencarian internet.
"Bagaimana cara menghapus sidik jari seseorang," ucap Diandra pada mesin pencarian pintar.
*Berikut beberapa cara menghapus sidik jari seseorang,* jawab operator menampilkan jawaban untuk pertanyaan Miranda hingga Miranda dengan cepat membaca artikel yang ditampilkan pada layar ponselnya.
__ADS_1
"Benar, aku akan menggunakan alasan ini nanti," ucap Diandra yang kini merasa lebih lega meski dia masih agak cemas bahwa polisi mungkin akan terus memburu kasus ini sampai menemukan perhiasan tersebut.