
***
Dalam ruangan private sebuah restoran mewah jepang, Michel terbaring, rasa percaya dirinya telah hilang entah kemana. Tadinya Michel mengira akan mudah mengalahkan Raya, siapa sangka Raya memendam kekuatan yang tidak pernah ditampakkan pada siapapun.
Michel pun tahu reputasi Raya sebagai tunangan Alend, kebodohannya bahkan sikap sembrononya hingga jumlah haters yang terus bertambah.
Walaupun kalah, Michel merasakan kepuasan tersendiri. Jika selama ini Michel merasa jika Karenina adalah lawan yang terkuat, siapa sangka masih ada lawan lainnya yang tidak bisa dikalahkan. Pemuda ini merasa terlalu tinggi menilai dirinya. Bahkan Raya saja tidak mampu ditaklukannya. Sungguh ternyata dunia ini sangat luas, diatas langit masih ada langit.
“ hehehe, sejauh inikah jaraknya? “ Gumam Michel malah Bahagia.
Seolah telah menemukan kembali semangatnya yang telah hilang akibat kematian Karenina. Sekarang dirinya harus lebih memacu diri untuk bisa menantang Raya Kembali. Pemuda itu ingin menantang Raya suatu saat dan tanpa disadarinya, pemuda itu mulai memendam rasa terhadap Raya.
****
Dilain tempat.
Raya dan Abi pulang ke rumah Abi. Disana Abi diobati luka-lukanya. Raya membuka kotak P3K untuk mencari sesuatu yang diperlukannya. Dirinya pergi sebentar mencari Es batu dalam kulkas dan memasukkannya pada kantung Es yang lembut.
“ Raya…hiks…hiks” Tangis Abi.
“ Sudah jangan menangis…pakai ini untuk mengkompres wajahmu..” Kata Raya memberikan bantal kompres yang berisi es batu pada Abi.
Abi menunduk termenung, ada rasa penasaran tentang Raya yang bisa keluar dari ruangan itu lebih dulu.
“ Raya, jujur padaku…mengapa kau bisa keluar lebih dulu dari ruangan itu…” Kata Abi.
Pemuda itu menyiapkan hatinya untuk mendengar kenyataan yang akan didengarnya.
“ Apa kau menggunakan tubuhmu untuk keluar lebih cepat?” Tanya Abi.
“ Bodoh! Mengapa kau berpikiran seperti itu? “ Tanya Raya terkejut luar biasa.
Abi diam menunduk, Tangannya sibuk mengompres pipinya.
“ Kau ini menghinaku? Coba bayangkan jika memang iya masa Michel selemah itu? Tidak mungkin hanya bertahan 3 menit langsung K.O?” Kata Raya dengan wajah memerah.
“ Mungkin saja… “ Abi memalingkan muka cemberutnya.
“Tenang saja, aku tidak melakukan hal yang melanggar aturan…Nantinya kita tidak akan sembarang ditindas lagi…Githa (Ketua Klub Tari) Kalau mau makan..biarkan dia yang bayar! Kenapa harus kita yang bayar…” Kata Raya memegangi bahu Abi.
__ADS_1
“ Selama masih bisa diselesaikan dengan uang, semuanya tidak masalah bukan?” Jawab Abi dengan polos.
Raya menarik napas, Gadis itu merasa harus mengubah sedikit pandangan sahabatnya itu.
“ Aku pun sepakat dengan perkataanmu tapi bukan menandakan jika kita bisa ditindas siapapun! Kau pikir mudah untuk mendapatkan uang? “ Tanya Raya serius.
“ Mamaku pernah bilang uang kami terlalu banyak, tidak akan habis – habis” Jawab Abi lugu.
Mendengar jawaban yang tidak disangka seperti itu keluar dari sahabatnya yang polos itu, Raya tidak dapat menahan rasa gelinya hingga tertawa terbahak – bahak. Astaga Abi, kau sangat polos…
“ Hahahaha” Tawa Raya.
Abi tercengang wajahnya memerah. Dalam diam dia terus mengompres pipinya. Raya berdiri dari tempat duduknya.
“ Baiklah..bagaimana kalau kita jalan sore ini? Bukannya kita tidak ada kelas?” ajak Raya sambil tersenyum.
Jadwal Abi dan Raya nyaris sama semuanya kecuali dua mata kuliah.
“ Mau kemana?” Tanya Abi
“ Kita pergi jalan – jalan, anggap saja menenangkan hati yang sedang ketakutan..” Jawab Raya dengan senyum.
Abi menyetujuinya dan keduanya pun pergi jalan – jalan ke mall. Sesampainya disana mereka memilih – milih baju di sebuah toko.
Abi menatap bingung, mengapa dirinya harus ganti baju. Raya juga memilih baju untuk dirinya. Style yang dipilihnya agak sporty. Abi terlihat sangat berbeda setelah melepas celana popoknya, lebih bergaya dan otomatis lebih tampan. Sisi keimutannya langsung meningkat beberapa puluh kali lipat. Keduanya masih asyik memilih baju yang mereka suka.
Abi agak malu dipuji oleh Raya, selama hal itu disukai Raya maka dirinya akan otomatis menyukainya juga. Keasyikan dua sahabat itu terpecah denga nada orang yang mengenali Raya.
“ Lihat! Bukankah itu Raya? “ tunjuk salah satu pengunjung Toko.
Raya waspada langsung mengajak Abi keluar dari toko tersebut. Keduanya membayar semua baju yang mereka coba tadi.
Setelah puas beli baju, keduanya pergi ke arena permainan di Mall tersebut. Abi ingin mengambil sebuah hadiah
dari sebuah mesin capit hadiah.
Berulang kali gagal mendapatkan apa yang diinginkannya membuat Abi nyaris menangis didepan mesin tersebut.
__ADS_1
“ kenapa tidak bisa juga… masa aku kalah dengan mesin capit ini? Atau akan kubeli sekalian dengan mesinnya saja? “ Abi frustasi selalu kalah dengan mesin capit.
“ Sini serahkan padaku! “ Kata Raya.
Dengan lincahnya gadis itu memainkan mesin capit itu hampir tidak ada yang meleset, hadiah demi hadiah mengalir. Abi hanya menatap dengan tatapan memuja sesekali dirinya sibuk menunjuk hadiah apa yang diinginkannya.
Keduanya baru berhenti setelah mesin nyaris kosong dan menenteng dengan bangganya hadiah mereka. Lelah bermain keduanya memutuskan rehat sambil menonton. Sungguh menyenangkan kegiatan keduanya seharian ini.
Sebelum pulang ke rumah keduanya singgah untuk makan malam.
“ Kenyaaaang…puas sekali hari ini!! “ Keluh Abi mengelus perutnya.
“ Humm… Siapa ya yang tadi siang akan membayar tagihan orang? “ Sindir Raya.
Abi tertawa malu menggaruk kepala yang tidak gatal.
“ Ayo kita pergi! Kali ini aku yang bayar…” Kata Raya. “ Oh ya aku sudah mentransfer uang baju dan uang makanku padamu” Lanjut Raya kemudian.
“ Kenapa begitu perhitungan? Apa harus menghitung begitu jelas?” Tanya Abi keberatan.
“ Abi, baik terhadap teman itu adalah hal yang baik, tetapi kita ini sudah dewasa, saat kamu punya pacar, jika kau mentraktirku membayarkan semua tagihanku makan aku akan dibenci oleh pacarmu” Jawab Raya dengan ringan namun serius.
Raya mengingatkan Abi bagaimana dirinya sangat dibenci oleh Fans tunangannya.
“ Lihat contohnya fans Alend, Dia saja tidak pernah memberiku uang ataupun menghidupiku tetapi fansnya sudah benci setengah mati padaku” Kata Raya membayangkan hidupnya ke depan jika harus membuat pacar Abi membencinya.
Hal itu akan berpengaruh terhadap hubungannya dengan Abi juga dimasa depan.
“ Aku tidak akan memacari gadis yang akan membenci sahabatku! Bagiku kaulah yang terpenting… “ Jawa Abi cemberut.
Raya tersenyum melihat ketulusan sahabatnya, “Beruntungnya Raya punya sahabat seperti ini “ Kata Raya dalam hati.
“ Raya, apa kau mencintai Alend itu? Yakin ingin menjalani pernikahan dengannya? Lihat! Belum menikah saja sudah banyak yang akan mencelakaimu, bagaimana jika kau sudah menikah? Apa kau akan Bahagia? Raya kutegaskan padamu ya, Wanita itu harus menikah dengan pria yang dia suka baru akan Bahagia” Kata Abi.
“ Hmm Kau benar, hal ini tergantung jodoh! “ Jawab Raya pelan.
“ Apa kau sudah berpikir matang – matang? “ Tanya Abi.
“ Orang pasti akan dewasa dan mengetahui segalanya… “ Kata Raya sambil dalam hati diam – diam meminta “Raya” untuk memaafkannya atas segala keputusan yang akan diambilnya nanti.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG