Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
Episode 77 - Berdebat


__ADS_3

***


Tantri mengambil naskah tersebut. Dirinya juga tidak membaca semuanya. Naskah dipakai untuk menutupi sebagian wajahnya yang memerah.


" Kakek serius? " Tanya Tantri.


Raya terlihat keberatan dengan naskah yang baru saja dibacanya. Tidak bisa dibayangkan jika memang harus dilakukan.


" Pikirannya memang kotor semua... " Ujar Raya dalam hati.


" Bukannya kau menyukai Alend? Apakah apa yang sudah kuaturkan membuatmu tidak puas? Dibagian mana? Aku akan menambah lagi..." Tanya kakek dengan sangat semangat.


Raya menyamarkan kecanggungannya dengan tawa garing, Ternyata adegan utama cerita ini pada kehidupan malam, buku ini selain adegan dewasanya tidak ada penggambaran dari sisi manapun. Ya ampunn...


" Kakek adegan seperti ini tidak akan lolos sensor, susah payah syutingpun tidak bisa ditayangkan. Kalau begitu semua investasi yang kita keluarkan akan sia - sia " Kata Tantri mencoba mengingatkan kakek.


Sayangnya Kakek Bagaskara terlanjur gembira dengan kehadiran Raya dan tidak lagi peduli dengan yang lain.


" Itulah kekuatan Investor! terbuang sia - sia juga tidak apa - apa! Yang penting Hubungan Raya dan Alend semakin dekat dan erat! Aku tidak keberatan menghabiskan berapapun" Seru kakek menepuk dadanya.


Raya menepuk dahinya, Astaga.. kakek dan cucu ini memang sama - sama pemboros! Sudah turunan.... Aku tidak bisa bicara apa - apa


Raya menggelengkan kepalanya tanpa komentar apapun. Tingkah kakek seperti anak kecil yang menati dipuji.


" Bagaimana Raya? Kakek sudah begitu memikirkanmu, apakah kamu boleh menjadikan kakek sebagai muridmu?" Tanya kakek merengek.


Dengan wajah tegas Raya langsung menjawab " NO! "


" Eh Tapi... " Kakek belum puas merengek.


" Bukannya tadi kau bilang menunggu lima menit? " Tiba - tiba muncul Alend dari arah tangga.


Sontak perhatian mengarah kepada kedatangan pemuda itu.


" Kak Alend.. " Raya menatap lurus ke arah Alend. sedangkan kakek seperti tersentak kaget. Kedatangan Alend tidak diharapkannya.


" Huft..akhirnya... " Tantri langsung bernapas lega.

__ADS_1


Raya langsung berdiri mendekati Alend, gadis itu lupa jika telah berjanji menemukan kunci secepatnya. Dirinya langsung teringat janjinya Begitu melihat Alend." Semoga Kak Alend tidak marah karena aku lupa mencari kuncinya " Doa Raya dalam hati.


" Maaf kak, Kakek membahas mengenai massalah kerja jadi sedikit memakan waktuku " Jelas Raya namun tidak menjelaskan jika dirinya tadi masuk lewat jendela akibat melihat banyak pengawal dijendela yang dimaksud Alend.


" Kerja apa? " Tanya Alend.


Alend menatap heran ke arah kakeknya, pasal selama ini kakek tidak pernah ikut campur dalam pekerjaan di Galaxy Entertaiment sejak perusahaan itu berdiri.


" Kakek memberi naskah ini secara paksa padaku.. kau baca sendiri saja... " Kata Tantri memberikan naskah tadi yang dibacanya.


" Dan kakek... " Tantri sengaja hanya mendesiskan lanjutan kalimatnya sehingga yang mendengar hanya Alend saja.


" Benarkah? " Alend menyorot Kakeknya.


Kakek merasa tubuhnya merinding melihat cucunya. Tatapan mata Alend mirip Aryasatya saat tengah menyelidiki sesuatu.


Raya sontak langsung mendekati Alend. Dirinya tidak ingin Alend meliat naskah tersebut.


" Kak Alend, jangan dibaca lagi! Naskah ini tidak berakhlak (secara tidak langsung Raya langsung menembak kakek dengan kata itu), Rata - rata isinya pemeran laki - laki dan perempuannya begituan terus disetiap adegan... Panaaass " Kata Raya.


ALend tidak dapat menahan senyumnya melihat betapa merahnya wajah Raya. Semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Raya mungkin tidak tahu jika Naskah seperti ini banyak beredar di dunia perfilman.


Andaikan saja sedang berduaan mungkin Alend sudah tertawa melihat kepolosan Raya. Sisi lain gadis ini yang baru nampak dimatanya.


" AL.. Tujuan kakek sebenarnya ingin segera menggendong cicit, kau harus memahami isi hati kakekmu...kakakmu Si Arya terlalu garang, aku tidak berani mendesaknya menikah, hatimu lebih lembut darinya, apakah kau bisa mewujudkan keinginan kakekmu ini? " Bujuk Kakek nekat dengan nada memelas.


" Bisa... " Jawab Alend cepat.


Mendengar jawaban itu muncul reaksi yang berbeda dari orang didekat Alend. Raya dan Tantri menjadi semakin tegang bagaimana Alend bisa menyetujui naskah yang diberikan kakeknya tanpa mempertimbangkan akibat kedepannya.


Lain halnya dengan kakek, lelaki tua itu bersorak gembira. Akhirnya Alend luluh berkat usahanya.


" Tapi sebelum itu, apakah nenek perlu membaca naskah ini juga... " Sebelum Alend melanjutkan kata - katanya kakek langsung merampas naskah itu lalu lari terbirit - birit.


Terdengar teriakannya sepanjang lorong rumah. " Dasar cucu tidak berbakti! semua cucuku tidak berbakti!! "


Raya jengah melihat tingkah kakek Alend. " Astaga tingkahnya mirip anak kecil... " Gumamnya tanpa sadar.

__ADS_1


Alend pun tidak berkomentar apapun selain melirik gadis disampingnya.


" Ya sudah..sebaiknya kita pulang.. " Kata Tantri


Raya menatap Tantri sambil mengangguk. Alend tidak rela membiarkan kebersamaan mereka berakhir begitu saja.


" Biar aku yang mengantarmu.. " Ujar Alend.


Tantri menatap heran. Tidak biasanya Alend bersikap seperti itu namun dirinya tidak mau curiga berlebihan kemungkinan ini pasti karena kakek. Alend pasti merasa harus menjelaskan tingkah kakeknya begitu yang ada dalam pikiran Tantri.


Raya mengiyakan ajakan Alend. Tantri pulang ke perusahaan bersama Bima sedangkan Raya naik mobil bersama Alend. Sepanjang jalan Raya canggung tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana. Banyak hal yang ada dalam pikiran namun tidak berani mengutarakannya.


Alend pun demikian. Dirinya tidak tahu harus mengawali pembicaraan dengan kalimat apa. Dirinya tidak enak jika Raya harus didesak sang kakek dengan hal demikian.


Suasana semakin canggung saat keduanya duduk dalam mobil.


" Lain kali ingatlah...jika ke depannya kakek meminta yang aneh - aneh padamu langsung di tolak saja..jangan pernah mengikuti permintaannya " Kata Alend akhirnya buka suara duluan.


Keheningan pecah, suasana rasanya langsung mencair.


" Baik! Aku akan selalu mengingatnya! Kak Alend tenang saja... pasti ada cara untuk membatalkan kontrak penikahan kita... " Kata Raya.


" Apa hanya ini yang kau pikirkan? Kau terus ingin berpisah dariku?" 


Ada rasa marah yang menyeruak dari hati Alend. Pria itu terdiam larut dalam pikirannya. Raya merasa ada hawa dingin menyerang dirinya dari samping.


" Tadi itu seketika aku merasa aura yang sangat dingin terpancar dari Kak Alend.. Apa cuma perasaanku saja?  "


Raya memegang tengkuknya mulai merinding sendiri. Raya melirik Alend, pria itu terlihat jelas sedang menahan sesuatu seperti kemarahan tapi kemarahan untuk apa gadis itu tidak bisa menebaknya dengan benar.


" Apa yang membuatnya tidak senang? Apa kesalahan yang aku perbuat ya?... apakah karena aku melompat dari jendela dan tidak langsung membukakannya pintu? Hadduhhh...aku baru tahu jika Kak Alend ini pendendam sekali... "


Suasana langsung membeku kembali. Raya sama sekali tidak merasa salah dengan kalimatnya barusan.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


Alhamdulillah masih diberi nikmat berupa sakit. Mohon maaf Naya bukan tidak mau lanjut tapi tidak mampu lanjut.  Sakit demam Naya masih bisa mengetik namun jika sedang sakit gigi rasanya semua didunia ini tidak ada yang bisa ditahan.  tambah sakit kepala dan tegang bahu lengkaplah sudah. Akhirnya setelah direlakan gigi sudah tercabut bisa merasa enaknya lagi..


Seperti mimpi saja menahan sakit gigi selama 3 hari tanpa obat. Hanya ada air mata dan drama susah makan. Selebihnya berusaha tersenyum didepan Anak dan rekan kerja.


__ADS_2