Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
65 - Kekesalan yang tidak beralasan


__ADS_3

***



Alend saja terus mengikuti Raya hingga ke dapur. Penasaran dengan gadis yang mengaku akan memasak untuknya. Tidak pernah ada yang memasak didapur itu selain pelayannya lagi - lagi Alend membuat pengecualian dengan membiarkan Raya melakukannya.


Terlihat Raya tengah kesulitan dengan tas yang berisi sesuatu yang tengah bergerak - gerak (Alend menebak sebentar lagi gadis itu akan menyerah untuk memasak dan Alend bersiap untuk memanggil Pelayannya)


" Ikannya masih hidup, aku harus segera menanganinya..." Kata Raya optimis.


" Kau beneran bisa masak? " Tanya Alend berpangku dada didekat kulkas.


Raya tertawa canggung tidak menjawab perkataan Alend.


" Pertama..aku harus membunuhmu ( Ikan ) dulu..." Kata Raya menatap ikan yang tengah menggelepar ditalenan.


Ketika hendak akan memotong ekor ikan langsung menampar pisau dan menghalau Raya.


Alend tertawa kecil melihatnya.


" Ikan ini... aku adalah sang juara 5 kali berturut - turut, tidak mungkin dipermainkan oleh seekor ikan, ayo ikan bersiaplah untuk mengeyangkan kami... " Kata Raya menghunus pisau dapurnya.


Raya sibuk ke sana ke mari membawa sayuran, memang terlihat agak kaku (maklum bukan dapur sendiri) namun Raya tampak terampil dalam memotong sayuran. Suasana sunyi hanya terdengar suara pisau beradu dengan talenan.


Alend tidak berkomentar, dirinya memperhatikan cara Raya memasak.


Tak! Ketak! Ketak!


Suara Pisau terdengar nyaring.


Raya menengok dan melempar senyuman pada pria yang sejak tadi memperhatikannya tidak jauh.


" Kak Bisakah kau jangan berdiri disana? " Tanya Raya sambil memotong sayuran


" Kenapa? " Tanya Alend.


" Kalau kau berdiri disitu aku tidak akan fokus masak, aku khawatir dengan masakanku nantinya" Kata Raya blak - blakan.


" Baiklah...asal kau berjanji tidak akan menaruh daun seledri di sup ikanmu nanti..." Kata Alend.


Rupanya pria itu tidak suka Daun seledri.


" WOKEHH.. " Jawab Raya dengan isyarat tangannya.

__ADS_1


***


Alend melangkah menuju ruang tengah, harum masakan sudah tercium sampai diruangan itu sehingga yang menciumnya bisa membayangkan rasanya.


Mata Alend teralih pada panggilan masuk, Panggilan dari temannya yang bernama Jeremy (Muncul pada episode Gala amal )


[ Alend : Halo...]


[Jeremy: Wah ada apa hari ini? Tumben suasana hatimu sepertinya sangat...sangat...baik sekali! ]


[ Alend: Tidak ada apa-apa]


Panggilan langsung beralih menjadi video call. Jeremy tidak ingin ketinggalan sesuatu karena instingnya bicara lain.


[Jeremy : jangan sok cool lagi, memangnya sudah berapa lama kita saling kenal, aku mengenalmu sampai ke tulang putihmu... instingku mengatakan pasti akan terjadi sesuatu... seperti bau bau gosip baru...]


baru akan menjawab, Alend didatangi Raya. Gadis itu membawa sepiring buah ditangannya.


" Kak makanlah buah terlebih dahulu untuk menahan lapar"


"oke"


Raya meletakkan buah di meja. Alend mengambil sebuah anggur dan memakannya dengan perlahan sementara Raya dan Jeremy terpaku menatapnya.


" Kenapa sich harus makan dengan gaya yang begitu menggoda??" 


[Jeremy : Eh Tunggu yang tadi aku lihat itu Raya kan? ]


Raya tidak mendengar percakapan kedua pria itu, dirinya balik ke dapur untuk melihat masakannya. Jeremy masih saja protes dengan keberadaan Raya dirumah Alend.


[Jeremy: Kenapa dia ada dirumahmu? Bukannya kamu tidak suka padanya? susah payah aku mencari cara untuk membatalkan perjanjian nikah kalian ternyata kau malah diam - dian bermesraan dengannya! Cepat Katakan! Sudah sampai mana hubungan kalian? Sampai tahap apa? Aku lihat tatapan mesummu saat melihatnya! Dasar! Pria memang makhluk yang paling cepat berubah!! ]


Jeremy ngomel panjang lebar, Alend hanya mendengarkannya sambil makan Anggur seolah yang bicara hanya seorang pembaca berita saja.


[Alend: Dia (Raya) Sedang masak untukku]


Dari arah dapur terdengar suara Raya memanggil Alend untuk makan.


" Kak Masakan pembukanya sudah selesai, cuci tangan sana! " Panggil Raya.


Jeremy membeku sesaat mendengar suara Raya. Oh my God! Masalah ini bikin aku mendadak pusing, bukannya Alend berencana berhenti dari dunia entertaiment? Jangan - jangan karena ini? Aku harus memastikannya dulu


Mau bicara apa daya panggilan telah berakhir. Alend juga memperhatikan ponselnya dan mengira Jeremy telah mematikan panggilannya.

__ADS_1


Alend memutuskan untuk mendatangi Raya membantunya menata makanan dimeja makan.


" Aku datang membantumu" Katanya beranjak bangun.


Alend mengambil piring makan dan hendak menatanya dimeja. Raya masih terlihat sibuk didapur. Ponsel Alend berdering lagi.


Ternyata Alend mendapat panggilan dari kakak pertamanya. Pria itu menengok kesibukan Raya dan beranjak ke balkon rumah untuk bicara dengan kakak pertamanya.


" Ada masalah apa? " Tanya Alend tanpa basa basi sambil menutup pintu dari luar agar Raya tidak mendengar pembicaraannya. ( Untuk sementara namanya masih kakak pertama dulu, Author masih mencari nama yang tepat)


[Kakak Pertama : Bagaimana kontrak pernikahanmu dengan Raya? Apakah kau masih belum mengambil keputusan? ]


Alend terdiam, pria itu sudah menduga jika Jeremy telah melapor pada kakak pertamanya.


" Hemmm..biarkan berjalan secara alami saja" Jawab Alend


[Kakak pertama : Kau mungkin sudah tau jika Raya sudah tidak tinggal dirumahnya]


Alend diam menunggu lanjutan perkataan kakaknya.


[Kakak Pertama: Pak tua Mahesa mengamuk tidak memberikan uang lagi pada anaknya itu, sehingga Raya terpaksa mencari kerja. Tapi kau mungkin belum tahu alasannya keluar dari rumahnya yang nyaman itu kan? ]


Untung saja Alend sedang sendirian saat itu sehingga Ekspresi wajahnya yang berubah tidak terlihat oleh siapapun.


[kakak Pertama : Dia (Raya ) tidak ingin menikah denganmu! Tantri juga memberitahuku jika dia sudah mencari Raya dan membahasnya bersama tapi Tantri tidak memberitahumu mengenai masalah ini, Raya berharap kaulah yang membatalkan Kontrak pernikahan ini agar keluarganya tidak membayar ganti rugi pembatalan pernikahan. Dua hari lagi aku berencana akan kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini]


Alend tidak bicara apapun. Apa yang didengarnya sudah mengiris hatinya. Padahal dirinya juga tadinya ingin membatalkan kontrak pernikahan itu, mengetahui Raya memiliki niat yang sama membuatnya agak "sakit hati". Padahal sedari dulu Raya selalu mengejarnya, memujanya seperti fans nya diluar sana.


Telepon dari Kakak pertamanya menyadarkannya sesuatu, jika bukan hanya Raya yang berubah tetapi dirinya juga sudah berubah. Namun sekarang menjadi terbalik. Alend lah yang memilik "Rasa" pada Raya sedangkan gadis itu berusaha lepas darinya seolah tidak mau lagi dikungkung dari perasaan suka.


" Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi seperti ini... " 


Alend mengintip Raya yang sedang memasak. Dirinya merasa terpukul padahal seharusnya pria itu bersyukur jika Raya dengan sukarela melepaskannya artinya Raya tidak lagi terluka saat berpisah dengannya, Raya sudah mampu hidup dengan mandiri tidak lagi bergantung pada siapapun walaupun Raya sudah jauh dari kediaman Mahesa.


Tapi sekarang mengapa malah Alend tidak ingin Raya berhenti mengejarnya? Ada Api dalam dirinya tengah membakar hatinya. Dirinya tidak suka.... Lebih tepatnya Tidak Rela...


***


BERSAMBUNG


Hai semua semoga kalian sehat selalu, Mohon Maaf masalah kesehatan tidak bisa diprediksi. Hari ini sudah mampu mengetik lagi ... Masa panca roba harus lebih kuat lagi apalagi dengan kedatangan virus wkwkwk keep strong.


Salam hangat

__ADS_1


Nayaka.



__ADS_2