
***
Pak Mahesa bergegas keluar dari kamar Naura untuk menyambut putrinya yang lain.
" Sudah pulang, putriku?" Sambut Pak Mahesa.
Terus terang seluruh bulu ditubuh Raya berdiri mendengar sambutan ramah dari papanya itu
" Papa menonton Siaran langsung tadi, kau melakukannya dengan baik, papa turut senang...Kau ingin hadiah apa?" Tanya Pak Mahesa tertawa gembira melupakan salah satu putrinya yang tengah berduka akibat hujatan netizen.
" asalkan papa bahagia, aku tidak mengharapkan apapun lagi" Kata Raya tersenyum manis.
Dalam hatinya tidak sekata dengan mulutnya. Untung wajah Raya sangat manis saat tersenyum sehingga tidak terlihat sedang berbohong.
" Ah..putriku, kau semakin lama semakin dewasa saja ..." Puji Pak Mahesa tidak menyadari kehadiran sang istri dibelakangnya.
Tatapan ibu tiri sangat menusuk tidak suka dengan Raya.
" Awalnya dia hanya cantik, isi hatinya mudah sekali ditebak tapi sekarang, aku sama sekali tidak bisa melihat isi kepalanya...Raya..."
" Biarpun kau tidak punya permintaan, papa jadi meminta sebagai putri papa kau harus tampil elegan dan cantik! Agar kau tidak diremehkan orang lain! " Kata Papa Raya.
Dari Nada bicaranya terdengar sangat senang. Pria paruh baya itu memberikan kartu debitnya tanpa ragu pada Raya. Gadis itu menatap kartu yang diberikan padanya, ada tanda tanya dikepalanya.
"Tumben"
" Besok papa akan menyuruh Samin (Supir) mengantarmu pergi jalan jalan, beli lah beberapa pakaian yang cantik, perhiasan pokoknya apa yang kau suka...Ini Ambil kartu Debit ayah, jangan takut untuk menghabiskannya"
Raya menatap lekat kartu itu, dirinya mencium sesuatu (bukan bau gosong ya..hehehe) dari sikap baik papanya itu.
" Kenapa begitu baik hati....hmmm"
Raya melihat wajah ibu tirinya sedang menatapnya tajam. Lucu melihat ada keirian dari raut wajah wanita itu, selama ini sebagai istri dirinya hanya mendapatkan kartu kredit dengan limit yang sudah ditentukan. Pak Mahesa tidak bodoh memberikan kartu kredit unlimited pada istrinya. Pria itu tetap mengawasi uangnya (makanya dirinya bertahan menjadi pengusaha sukses sampai sekarang).
" Terima kasih papa! Eit! Ada yang datang...maaf aku tidak melihatnya, halo..." sapa Raya
Dengan wajah cerah, Raya menghampiri Naura.
" ckckck Mata bengkak! Harus dirawat baik - baik ...apalagi hasil operasi (bisik kecil)...Besok mau ikut jalan denganku?" Tanya Raya mencibir saudaranya.
Naura menatap tajam ke arah Raya seolah berharap tatapan tajam itu bisa melukai Raya.
" Oh iya aku lupa, diliuar sana banyak orang yang mengatakan kau operasi plastik! Jika ada yang mengenalimu akan gawat! Sebaiknya kau dirumah saja!! " Sindir Raya pura - pura khawatir.
" Kau!! " Saking marahnya Naura tidak tahu harus bicara apa. Seluruh tubuhnya diselimuti kemarahan.
" jangan marah! Akan mudah kerutan, keriput aja membuat kulit lebih kaku...lalu kau harus operasi lagi ( lagi - lagi Raya berdesis kecil) " Raya tertawa tanpa takut papa Mahesa melihatnya terang - terangan mengejek saudaranya.
__ADS_1
" RAYA!! " Jerit Naura.
Raya tertawa tidak peduli, semakin marah Naura semakin senanglah dirinya.
" Raya!! Tunggu saja aku membuat reputasimu hancur!! " Kata Naura.
Raya mengangguk saja sambil tertawa, gadis itu menengok lalu pergi kekamarnya....aku menantikannya babe...
***
Raya masuk ke dalam kamar, ditangannya kini ada sebuah kartu debit. Raya mencoba meraba apa yang direncanakan papanya.
" Tidak peduli apa rencananya, aku pasti tidak akan membiarkan hal ini terjadi" Desis Raya dalam hati.
***
Pandangan Raya diedarkan ke seluruh Mall. Hari ini dirinya dikawal oleh Pak Samin dan beberapa pelayan dirumahnya. Dirinya mendapatkan tugas untuk belanja demi mempercantik dirinya. Raya tidak lupa mengajak Abi agar bisa bersamanya.
Raya masuk ke semua toko tanpa memilihnya lagi untuk mendapatkan hal yang disukainya.
" Mumpung disuruh jadi sekalian borong saja... Toh tidak akan habis juga uangnya papa.."
" Silahkan Nona, ini adalah produk keluaran terbaru bulan ini..." Kata mereka dengan ramah.
" SIAP!! AKU MAU SEMUANYA!!! " Seru Raya disambut dengan senyuman puas para pramuniaga.
Jarang ada yang datang memborong seperti ini, jika ada pelanggan yang melakukannya maka mereka akan mendapatkan bonus besar dari perusahaan. Para pramuniaga mengerubunginya dan yang lain berlari sana sini menyiapkan ukuran Raya.
Semua toko yang disinggahi Raya hampir semua barang baru diborong. Para pramuniaga sangat bahagia saat gadis itu keluar dari toko.
Dibelakangnya, Abi dan pelayan dari rumah Mahesa melotot. Bukan main Raya sedang kalap belanja! gadis itu seperti kerasukan menunjuk apa yang disukainya. Bagi Abi itu wajar karena Raya paling jarang belanja tapi dirinya adalah tuan muda tidak pernah seumur hidupnya membawakan barang belanjanya sendiri dan sekarang harus membawa barang belanjaan Raya yang terus saja bertambah. Semua pelayan juga punya bawaan masing - masing.
Dalam rombongan itu ikut juga kepala pelayan yang baru, mulutnya terus menganga.
" Bos kali ini akan rugi besar! Putrinya ini bodoh sekali...Memberikan kartu debit padanya sama saja dengan membuat bangkrut dalam sehari" Kata Kepala pelayan itu menggelengkan kepala.
" Berat sekali... aduh mau jatuh lagi.."
Abi sibuk keluhannya sendiri.
***
Perusahan Mahesa.
__ADS_1
Didalam ruangan presiden Direktur, pak Mahesa terkejut melihat notifikasi dari kartu debitnya. Melihat nominalnya rasanya penyakit jantungnya akan kambuh.
Pak Mahesa menelpon sang putri dengan maksud agar segera berhenti belanja sebelum saldonya habis. Pria tua itu tidak menyangka Raya begitu cepat menghabiskan uang 600 juta dalam beberapa jam saja.
" halo!"
" Halo papa! Hari ini aku sangat bahagia"
Terdengar suara Raya nada gembira. Sang Ayah jadi tidak berani untuk menyuruh belanja.
" Aku sudah membeli banyak barang, semuanya aku suka! Terima kasih papa..padalah sebelumnya aku tidak rela membelinya saking mahalnya tapi kali ini papa mendukungku jadi aku bisa membeli barang yang kusuka! " Kata Raya sambil melihat sebuah berlian yang terpasang di jarinya.
Dilihat dari harganya berlian itu setara dengan mobil fortuner. Pak Mahesa tidak punya jalan lain selain mengarahkan Raya ke suatu tempat. Kebetulan pria itu tahu jika istrinya mengajak Naura untuk perawatan disebuah salon kecantikan. Lelaki itu menggunakan itu sebagai alasan. Setelah menelpon Raya, dirinya akan menelpon Rika istrinya agar tidak terkejut dengan kehadiran Raya disalon tersebut.
" Raya sayang... Aku menyuruh mama Rika memesan paket perawatan tubuh, waktunya sudah mau tiba, kau harus cepat pergi ke sana jika kelewatan waktu maka harus pesan ulang..." Katanya setenang mungkin agar Raya tidak tahu pria itu sedang mengutuk pengeluarannya hari itu.
" Ohh..tapi aku tidak suka dengannya...yah baiklah aku mendengarkan kata papa saja, setelah membeli berlian besar ini aku akan kesana..." Jawab Raya.
" Sampai Jumpa Papa! Aku menyayangimu! " Seru Raya.
Pak Mahesa tidak bisa mencegah Raya untuk membeli sebuah cincin berlian yang mahal didepannya. Raya teringat sesuatu dan memanggil kepala pelayan yang ikut bersamanya.
" Pak Edy tolong kemari,,," Panggil Raya.
Pria yang dipanggil mengangguk dan mendekat dengan perlahan.
" Papa hari ini ada rencana apa? " Tanya Raya.
" Ada nona! Malam ini ada janji pergi ke sebuah acara gala amal, semuanya termasuk nona juga harus ikut" Jawab Pak Edy.
Raya langsung dapat menebak rencana papanya lewat perkataan Pak Edy.
" Tamu yang akan menghadiri ini bukan orang sembarangan nona! semua pebisnis didunia akan menghadirinya bahkan Tuan muda Bagaskara juga akan ikut hadir, tuan Alend yang anda rindukan akan datang jadi anda harus mempersiapkan diri sebaik - baiknya" Kata Pak Edy lagi,
Raya menatapnya dengan kening satu terangkat.
"aku paham...mana mungkin papa membiarkanku belanja tanpa tujuan...hmmm...Si rubah tua licik ini memang pasti ada maunya, harus berjumpa lagi dengan Kak Alend, kali ini akan banyak tamu yang punya status tinggi, semoga tidak akan ada berita heboh lagi...aku harus hati - hati dalam bertindak"
Raya melihat cincin yang melingkar dijarinya sambil berpikir.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1