Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
Episode 73 - Alend dan Raya


__ADS_3

***


" Dengar baik - baik Raya! Nanti saat sudah didalam jangan sembarangan bicara...aku tidak ingin kau berbuat kesalahan walaupun satu katapun.." Kata Tantri dengan seriusnya.


Raya mendadak tegang mendengar perkataan Tantri. Kegelisahan mulai merayap sehingga terlihat diwajahnya.


Sekali lagi Tantri berbalik pada langkah ke 3..


" Ingat ya! ini mungkin berhubungan dengan masa depanmu!" Kata Tantri mengingatkan.


Wanita itu khawatir dengan sikap Raya yang suka keceplosan.


" Hah? Masa depan? Tunggu dulu! Apa jika aku salah sedikit akan dipotong gaji? " Tanya Raya semakin gugup.


Dibelakang Bima sudah bersorak gembira. Pria ini tahu alasan mengapa Raya diundang ke kediaman Utama Bagaskara.


" hehehe, akhirnya Raya akan kembali single... "


Hati Bima bersorak gembira.


" Bu Tantri silahkan masuk, kakek Bagaskara sudah menunggu kalian" Kata Paijo muncul.


" Baik.." Jawab Tantri.


Lain halnya dengan Raya yang larut dalam lamunannya sendiri,


" Pot..potong Gaji.."Desisnnya gemetar sendiri.


Ketiganya berjalan mengikuti Paijo, Raya berjalan sambil melamun. Tidak ada lagi yang diperhatikannya selain langkah kakinya seolah takut gajinya akan dipotong kalau dirinya salah melangkahkan kakinya.


" Nona Raya, Kakek ada di ruang Baca, anda diminta untuk menunggu sebentar disini " Kata Salah satu pelayan rumah yang mendekati Raya.


" Oh iya baik" Jawabnya singkat.


Raya menoleh kiri kanan tidak menemukan Tantri dan Bima. Nampaknya tadi dirinya terlalu asyik mengkhayal hingga tidak memperhatikan kemana kedua orang itu pergi.


Raya dibimbing masuk ke dalam suatu ruangan yang ternyata sebuah kamar. Kamarnya luas didekat pintu ada lemari kaca besar penuh dengan piala.


" ini kamarnya siapa ya? " Tanya Raya melirik sini sana.


Raya mengagumi jumlah piala yang ada disitu.


" Bukan main, banyak sekali piala..eh tunggu! Segala jenis piala kategori musik dan film...jangan - jangan ini kamar Kak Alend? "


Raya menduga seperti itu, dalam hatinya muncul kekaguman.

__ADS_1


" Jika seperti ini..biarkan aku menghirup hawa keberuntungan senior! Semoga aktingku bisa meningkat dengan cepat" Kata Raya menempelkan pipinya di lemari kaca yang penuh dengan piala Alend.


Tanpa disadari ada langkah seseorang masuk ke dalam kamar.


" Hah? "


Raya terkejut begitu berbalik mendapati Alend baru keluar dari kamar mandi.


" Astaga... " Seketika wajah Raya menjadi merah merona


Pemandangan didepannya sungguh menimbulkan Petir dan badai dalam dirinya. Alend muncul dengan hanya memakai handuk. Pria itu baru selesai mandi.


" Kak Alend? "


Raya ketar ketir sendiri tidak tau harus keluar lewat mana. Saking terkejutnya Raya sampai lupa dimana pintu keluarnya.


" Aku tidak melihat! Tidak melihat apapun! Sungguh!! Ahhhhhh.... " Seru Raya berbalik dan menutup wajahnya.


" Raya jangan memalukan diri sendiri! Itu hanya daging-daging yang berbaris rapi seperti roti, Sadarlah!! "


Raya berusaha untuk menetralkan hatinya. Godaan Alend terlalu kuat untuk ditangkalnya dengan cepat. Rasanya mata masih ingin melihat sekumpulan roti sobek yang terpampang gratis didepannya.


" Aduh reaksi tubuh ini berlebihan sekali, Raya kamu ini seberapa tergila - gila sich sama Alend?"


Raya mengutuk dirinya sendiri terus saja tergoda dengan pesona Alend. Dia harus secepatnya menguasai dirinya. Sifat Raya yang dulu muncul kepermukaan hampir tidak bisa ditangkal oleh Karenina.


" Ya?" Raya menengok tapi berbalik dengan cepat lagi.


" Sini kuperiksa, ada luka ga? " Tanya Alend mendekat.


Raya merasa dirinya terbang ke awan perlahan karena perlakukan Alend padanya. Pria itu memang tidak sadar seberapa mempesonanya dirinya.


" Hemmm Sudahlah..lagipula aku sudah terlanjur malu.. kepalang basah malu sekalian.. "


Raya menolak Alend agar tidak mendekatinya mumpung kesadarannya masih bisa dikuasainya.


" Kak Alend, pakailah baju terlebih dahulu... " Kata Raya dengan wajah merah.


Alend terkekeh melihat tingkah Raya. Sikap gadis itu terlihat imut dimatanya.


" Hmm? Bukannya kau bilang tidak melihat apapun? " Tanya Alend tidak dapat menyembunyikan tawanya.


" WHAAT?? Kamu bercanda...Roti sobek berbaris begini, buta mataku jika tidak melihatnya!! "


Raya menelan ludah, dirinya masih saja sibuk komat kamit sendiri. Dia tidak boleh terus melihat "pemandangan alam" didepannya ini.. Bisa merusak kebersihan pikirannya.

__ADS_1


" Sudahlah.. aku tidak akan bercanda lagi... " Alend tidak tega melihat gadis didepannya ketar ketir sambil bertanya - tanya mengapa Raya bisa masuk ke dalam kamarnya.


Pria itu mendekati lemari pakaiannya dan dengan cueknya berganti pakaian tidak jauh dari Raya. Gadis itu memalingkan wajahnya takut dikira mengintip. Apa Alend sengaja melakukannya? Untuk mengetes sejauh mana keimananya atau bagaimana ini?


" Nama baikku hampir saja hancur karena ketampananmu ini! Menakutkan sekali" Kata Raya sambil melirik sebentar ke arah Alend yang sudan memakai bajunya.


" Kenapa kau ada disini? " Tanya Alend.


Nah itu dia, mengapa dirinya bisa ada dikamar Alend sekarang itu karena pengawal mengarahkannya ke sini.


" Hah? Kakek Bagaskara katanya menyuruhku datang, katanya ada urusan mencariku. " Jawab Raya lancar.


Alend menghembuskan napasnya. Ternyata sang kakek adalah biang keroknya. Setelah sebelumnya Kakek memintanya untuk membawa ke rumah utama, karena tidak mendapatkan apa yang diinginkannya dari Alend maka Kakek meminta melalui Tantri.


" Oh Pantas saja, Paijo menelpon mendadak dan mengatakan jika kakek tua itu pingsan"


Alend hanya bicara dalam hati saja. Dirinya seharusnya sudah bisa menduga kemunculan Raya hari ini karena campur tangan kakeknya. hanya saja dirinya masih mencari alasan mengapa kakeknya tiba-tiba melakukan hal ini.


" Omong-omong Kak, pialamu begitu banyak, hebat sekali bisa terkumpul sampai sebanyak itu! kau pasti pandai mengajari orang berakting secara kau sangat pandai berakting... Kakak yang paling baik padaku, pasti akan memperhatikan juniormu yang sedang belajar ini.. " Kata Raya secara tiba- tiba memuji Alend


Alend langsung menebak isi kepala gadis didepannya ini. Kebanyakan Raya memujinya jika ingin sesuatu atau sedang menyembunyikan sesuatu.


" Apa kau bawa buku Naskah? " Tanya Alend.


Raya mengangguk cepat. Dirinya memang selalu membawa kertas Naskah latihan dan alat tulis kemana - mana.


" Horeee!!! "


Raya bersorak gembira Alend bersedia mengajarinya teknik berakting. Gadis itu tampak gelisah dan panik saat Alend membaca naskah cerita dengan serius.


" Kau tau apa yang dimaksud dengan masuk menjiwai peran? " Tanya Alend.


Alend tidak berniat mengatakan jika dirinya pernah melihat Cara Raya berlatih malam hari.


" Iya, Menjiwai peran itu menyatukan perasaan ke dalam peran yang ada dalam film" Jawab Raya cepat seolah menghapalkan buku pelajaran.


" Menyatukan masih tidak cukup. Kau harus menjadi peran tokoh tersebut, berdasarkan informasi dan gambaran yang ada dalam naskah, kau harus melebut ke dalam segala yang berhubungan dengan peran tokoh tersebut, membayangkan dia orang seperti apa, bagaimana kehidupan dia, akan punya sifat seperti apa.. Naskah mungkin tidak menulis itu semua tapi kau yang harus menyempurnakannya sendiri " Kata Alend duduk sambil menjelaskan.


Raya dengan penuh perhatian mencatat poin penting yang dikatakan oleh Alend. Wajahnya sangat serius. Sejenak keduanya lupa jika sedang berduaan dalam kamar.


***


BERSAMBUNG.


Bagaimana dengan rencana kakek?

__ADS_1


Episode depan ya ..


Pelatihan Naya belum selesai, cuma mencuri waktu saja


__ADS_2