Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
Episode 33 - Biar kuatasi sendiri!


__ADS_3

***


Napas Raya tersengal - sengal padahal hanya naik ke lantai 2, kondisinya mulai kacau. Obat yang diberikan papanya sudah mulai menunjukkan reaksinya.


" Panas sekali, rasanya ini sangat asing..."


Raya mulai merasa kepanasan dari dalam tubuhnya, tidak pernah dirinya merasa seaneh ini.


" Rasa panas ini mudah membuat orang terangsang... Rubah Tua (papa Raya) ini! Tidak tahu malu, demi menjual anaknya bisa melakukan trik ini..."


Raya berusaha mengendalikan dirinya, semakin lama semakin sulit entah berapa banyak obat yang ditaruh dalam jus wortel tadi. Rasanya kontrol terhadap tubuhnya semakin berkurang.


" Kau baik - baik saja? " Tanya Alend.


Raya hampir lupa jika dirinya sedang bersama tunangannya ini saking sibuknya mengontrol dirinya.


" Huhff...aku baik - baik saja, hanya sedikit merasa panas..." Jawab Raya berusaha susah agar suaranya terdengar normal.


Saking tidak tahannya, Raya jatuh kehilangan kesadaran dirinya. Tepat sebelum jatuh, Alend dapat menangkap tubuhnya.


" RAYA!! "


Alend menahan tubuh Raya, kondisi gadis itu bisa dibilang tidak normal, wajah memerah dan napas mulai mendesah.


" Suara dan ******* tadi? suhu badannya tidak normal...apa jangan - jangan..." *


Alend tidak bodoh, dirinya juga tahu jika telah terjadi sesuatu dengan tunangannya. Pria itu menyeka keringat yang muncul disekitar wajah Raya. Dugaan pria itu mulai menemukan pembenaran, gelagat Raya seperti gelisah saat tersadar kembali.


" Di acara seperti ini, mengapa kau sembarangan meminum minuman yang diberikan orang lain? " Marah Alend pada Raya yang perlahan mendapatkan kesadarannya.


Raya tidak peduli dengan perkataan Alend, dirinya masih fokus pada dirinya.


" Bukan aku yang mau minum tapi aku dipaksa untuk minum sama si tua itu! "


Raya hanya bisa bicara dalam hati, masih perlu tenaga untuk mengontrol dirinya. Alend hendak beranjak tapi ditahan Raya.


" Tolong jangan pergi... jangan tinggalkan aku... Panas sekali, badanku rasanya mau terbakar..." Desah Raya menahan Alend.


" Badanmu dingin... dan nyaman...aku ingin...aku mau..." Raya semakin meracau tidak jelas mengelus wajah Alend.

__ADS_1


" Aku menginginkan dia...dia begitu tampan, bersamamu juga tidak akan rugi...malah untung..." Raya tidak hampir dibatas kesadarannya.


" Aku ingin.." Kata Raya.


Alend menutup mata Raya agar tidak fokus padanya. Tapi Raya malah mulai menyosor hendak menciumi Alend


" Masuk ke kamar dulu..." Ajak Alend menarik Raya menuju suatu ruangan. Tidak boleh ada yang melihat kondisi kacau Raya sekarang ini.


Raya diajak Alend menuju kamar, ketika tangan Alend sudah mencapai pintu.


" Jangan!! " Tolak Raya menarik tangannya. " Kumohon tidak..." Desis Raya tidak mau melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


Gadis itu tidak ingin rencana papanya terjadi. Sesuatu yang harus dilakukannya sekarang adalah menghindari situasi berdua bersama Alend.


Alend melihat perjuangan Raya menahan dirinya, tidak tega rasanya. padahal rencananya setelah Raya masuk ke dalam kamar, Alend akan menghubungi dokter untuk menolong Raya.


" Tenang Raya, bukan aku yang terkena obat ini tapi kau... jangan khawatir aku tidak akan melakukan sesuatu hal yang tidak kau inginkan! " Kata Alend menenangkan Raya.


Raya menatap dengan tatapan tidak bisa diartikan oleh Alend.


" Aku tidak mengkhawatirkan apa yang akan kau lakukan, Justru yang aku khawatirkan adalah saat aku tidak mampu mengontrol diriku, kaupun tidak akan bisa kabur..."


" Ayo apalagi yang ditunggu? Kamar sudah didepan, berpura - puralah sedikit agar Alend lebih kasihan lagi ..." Bujuk sisi Jahat Raya.


" Jangan Raya... Ingat yang salah disini adalah dirimu, mengapa meminum jus wortel itu, Alend tidak ada hubungannya dengan ini " Bisik Sisi baik Raya tidak kalah semangatnya.


Raya tidak menghiraukan perang batin yang tengah terjadi dalam dirinya. Gadis itu tidak mau dikalahkan begitu saja dengan keadaan.


" Demi keperjakaanmu, aku rela menahan diriku! Akh...aku ini orang baik tahu...."


Sempat - sempatnya Raya memikirkan hal itu. Kakinya menuntunnya berbalik, situasi sudah mulai darurat dirinya tidak boleh berada dengan Alend lebih lama lagi, bisa - bisa tanpa sadar Raya akan menerkam Tunangannya itu seperti buruan.


" Aku akan ke kamar mandi ...sebentar...." Pamit Raya berjalan sempoyongan.


Alend tidak bisa mencegahnya, Raya memilih menulikan telinganya hingga suara Alend tidak dihiraukannya.


" Tidak apa - apa! Aku...bisa menyelesaikannya sendiri, tidak usah khawatir denganku" Sahut Raya tanpa menoleh lagi.


Alend hanya bisa terdiam menatap kepergian Raya, dalam kepalanya masih terbayang wajah Raya yang tengah mabuk,

__ADS_1


" Hmmm... apa sebenarnya yang kusesalkan?" desahnya dengan wajah bersemu merah.


Tadinya  Alend sudah siap dengan segala konsekwensi yang ada saat mengajak Raya ke kamar. Dirinya ingin membantu Raya untuk lepas dari jebakan obat. Entah siapa yang sedang menjebak tunangannya yang jelas Raya akan lebih aman bersamanya disaat yang seperti ini. Tidaklah aneh jika keduanya bersama, lagipula semua orang tahu jika mereka telah bertunangan meski pesta pertunangan tidak pernah diadakan. Alend juga bukan pria yang mudah tergoda namun tadi sesaat nyaris saja goyah dengan Raya. Mana gadis itu nyosor melulu!


Diluar dugaan Raya memilih menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa merengek manja padanya seprti biasanya. Entah mengapa dalam hati Alend ada sedikit rasa kesal.


***


Tidak jauh dari tempat itu Kenzo yang sedang dalam kondisi mabuk dan meminum obat perangsang dari Naura tengah menemani Naura mencari Raya. Kenzo mencari Raya dengan tidak sabar, pikiran kotor sudah merasuk dalam jiwanya.


Naura melihat bayangan Raya lewat masuk ke kamar mandi wanita.


" Ketemu"


Dengan senyuman liciknya dirinya mendekat pada Kenzo,


"Kak Kenzo aku akan ke sebelah kiri, kau cek disebelah kanan... " Tunjuk Naura.


Sudah jelas tadi Raya mengarah ke sebelah kanan (kamar mandi ada disebelah kanan). Saudara tiri Raya itu menatap Kenzo dengan senyuman puas, malam ini akan ada berita yang menghebohkan lagi antara Raya dan Kenzo.


Dirinya sudah tidak sabar menanti kejadian yang akan terjadi. Sambil bersiap dengan ponselnya, dirinya mengetik beberapa pesan dan menyebarkannya pada messanger beberapa tamu yang dikenalnya.


" Tunggu Raya, malam ini reputasimu akan hancur dan tidak akan lagi Alend yang selalu membantumu menutupi mulut media..." Desis Naura tertawa kecil


 


***


BERSAMBUNG


 


Banyak yang menunggu cerita ini UP, naya akan usahakan UP berdekatan episode ini dan selanjutnya... terima kasih atas komentar dan likenya. Naya akan membacanya satu-satu jika sudah menyelesaikan tugas naya untuk UP episode ini.


 


Happy reading ya semuanya...


Naya sedang sibuk ngetik episode selanjutnya....Siap kebut...

__ADS_1


__ADS_2