
***
Situasi dalam rumah hening sejenak,
Pak Mahesa kehabisan kata untuk membantah, tatapan Raya seperti orang lain yang hendak menghakimi perbuatannya.
" Tapi jika Alend menyukaimu ini tidak akan termasuk mencelakainya, sekarang coba kau telepon Alend ajak bertemu, sebagai sesama pria aku bisa melihat jika malam ini dia cukup tertarik padamu..." Ujar Pak Mahesa beralasan
Raya menepuk dahinya, Ya Ampun Rubah Tua ini! Belum kapok juga menjodohkanku dengan Alend? Haahhh....tidak ada gunanya Capek - capek kujelaskan....
Raya menghela napas. Ibu Rika mengawasi dari bawah sambil memeriksa seberapa fatal luka Naura. Kenzo tadi benar - benar menghajarnya. Nyonya Paramitha (Ibu Kenzo) Marah besar dan mengiriman makian lewat pesan dan tidak ingin Naura jadi menantunya lagi. Dari sisi lain Ibu Rika lega tidak harus memaksa anak gadisnya menikah dengan lelaki yang tidak disukainya, masih ada harapan untuk menjodohkan Naura dengan Alend katanya dalam hati.
" Kau secantik ini asal bisa membuka dirimu pada Alend, dia pasti akan menyukaimu." Kata Pak Mahesa melunak.
" Keras kepala sekali...lebih terbuka apa maksudnya itu? aku tidak yakin bisa membayangkan hal yang positif jika kata itu keluar dari mulut pak tua ini..."
Raya menatap dalam - dalam Pak Mahesa, " Aku tidak perlu membuatnya menyukaiku, yang aku perlukan hanyalah kehidupan mandiri dan bermartabat, bukan kehidupan yang dikendalikan oleh seorang pria".
" Hahahaha...Mandiri dan bermartabat? dari kecil hingga sekarang, kamu bisa apa selain minta uang padaku? sekarang malah mengatakan ingin mandiri? Kau! Kalian juga ( menunjuk Ibu Rika dan Naura) kalian menganggap diri kalian sebagai sosialita, kaum atas...Jika kalau bukan karena aku, Mahesa!! Kalian bukan siapa - siapa!!"
Naura dan Ibu Rika nampak tersentak mendengar bentakan Pak Mahesa, Raya tidak peduli. Tubuhnya terlalu lelah untuk berdebat.
" Jika kau punya kemampuan, keluar dari rumah sekarang dan jangan pernah meminta uang sepeserpun dariku!! Jika kau tidak ingin hidup susah! Pikirkan kembali statusmu sebagai putriku!!" Teriak Pak Mahesa menggema diseluruh ruangan.
Para pelayan hanya bisa mengintip dari balik ruangan, tidak berani komentar apapun saat majikan lelaki mereka sedang mengamuk. Raya tidak peduli, langkah kakinya tetap menuju kamarnya.
" Hmmpt... Beraninya membangkang!! Dari kecil hidup mewah, kalau tidak ada aku memangnya kau bisa apa!!" Pak Mahesa masih menumpahkan kekesalannya.
" Dan kalian berdua!! Ini peringatan terakhir dariku!!! Jika kedepannya masih berani merusak urusanku, jangan salahkan aku jika aku tidak berperasaan, Terutama kau Naura! Aku tidak akan segan mencoretmu dari kartu keluarga!! " Bentak papanya.
Naura memeluk ibunya saking ketakutan. Papanya mengetahui jika dirinya telah mengacaukan rencana papanya.
" Iya kami tahu" Jawab Ibu Rika gugup.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian....
Krak...Pintu kamar Raya terbuka dari dalam. Raya keluar kamar dengan Pakaian olah raga,
(contoh pakaian Olahraga)
" Kenapa kau keluar kamar? Bukannya aku menyuruhmu untuk instrospeksi diri didalam kamar?" Kata Pak Mahesa melihat Raya turun tangga.
" Gaun tadi sudah aku letakkan di kamar dan semua barang yang kau belikan juga sudah ada dalam kamar" Kata Raya tampak sibuk dengan ponselnya.
Raya meletakkan ponsel itu setelah menghapus semua data dalam benda itu.
" Dan hape aku letakkan disini" Ujarnya pelan.
Pak Mahesa terpana sejenak terkejut dengan apa yang dilakukan putrinya.
Raya menatap jengah ke pak Mahesa lalu melirik Ibu Rika, dia tahu sekali buka mulut ibu Rika akan menghentikannya bicara. Membesarkan? Merawat? Kau bercanda? Raya agak sinis mendengarkannya, sejauh yang dilihat dalam ingatannya, Raya selalu tertindas oleh sang Ibu tiri dan semua penghuni rumah itu.
" Beberapa tahun ini orang lain memperhatikan mengenai berita pertunanganku dengan Alend, hal itu tentu saja sudah memberikanmu banyak keuntungan cuma tidak kau manfaatkan dengan baik" Ujar Raya dengan nada enteng.
Pak Mahesa sama sekali tidak menduga jika putrinya ini lebih memilih pergi tidak bisa melepaskan begitu saja.
" Berhenti kau..!! Awas!! Jika kau berani melangkahkan kakimu keluar rumah maka selamanya jangan pernah kembali lagi!!! " Ancam Pak Mahesa.
Tangan Raya tidak ragu membuka gagang pintu dan keluar. Ancaman Papanya tidak lagi dipedulikannya. Keluarga itu telah kehilangan kesempatan untuk menjadi keluarga yang diimpikan Raya. Gadis itu sudah bukan Raya yang dulu.
" Aneh sekali...mengapa aku malah merasa diluar rumah lebih hangat dari yang didalam" Gumam gadis itu menengok kebelakang.
"Rumah yang tidak ada kehangatan, tentu siapapun ingin kabur. Sebelumnya karena masih kecil dan merasa tidak ada kemampuan makanya hanya bisa mengandalkan mereka untuk bertahan hidup... Raya yang sebenarnya sudah meninggal, orang - orang ini yang mendorongnya ke jalan kematian.... AKu tidak suka rumah ini! Aku tahu kamu juga tidak suka...."
Raya terus saja bicara pada dirinya sendiri. Ada rasa gemuruh mendalam yang terus saja ditahannya. Raya berbalik berjalan setelah menatap pagar rumah cukup lama.
__ADS_1
"Tidak apa - apa... Kali ini aku akan membawamu pergi..."
Raya menyapu dadanya seolah sedang berkomunikasi dengan jiwanya sendiri, mulai berjalan menyusuri jalan dengan pikiran kosong. Hari semakin larut, hingga kelar dari komplek perumahan dirinya berjalan dijalan Raya. Rumah besar Keluarga Mahesa terletak dipinggiran kota , hari itu aktivitas diluar tidak terlalu ramai.
Raya berjalan sesuai dengan langkah kakinya. Dirinya akan ke rumah Abigail satu - satunya sahabatnya kini karena tidak ada uang akhirnya gadis itu hanya bisa berjalan kaki. Rumah Abi berjarak 15Km dari rumahnya, klu naik mobil bisa sampai 10 menit namun Raya harus berjalan kaki untuk menempuhnya.
Berjalan hampir 30 menit, pikiran Raya masih kacau akibat perbuatan papanya. Langkah kakinya terhenti oleh seekor burung didepannya. Raya memperhatikan burung itu terbang melintasinya menuju sebuah pohon. Dipohon itu ada sarang burung tersebut.
Melihat Adegan induk burung memberi makan anak - anaknya membuat dada Raya sesak, kasih sayang ibu burung itu memukul nuraninya yang paling dalam. Dirinya yang dulu tidak memiliki ibu begitu pulan dirinya yang sekarang. Dulu yatim piatu sekarang pula bernasib Sama. Entah ini perasaan Raya atau Karenina, bercampur menjadi satu.
huff...huff Cuaca diluar semakin larut semakin dingin, Adegan burung dan anak - anaknya terasa menyakitkan untuk dilihat. Anak - anak burung itu sungguh beruntung, tidak semalang dirinya.
Raya berlari untuk mencoba melepaskan sesak didadanya, berlari terus menembus kegelapan dan dinginnya malam. Tidak tahu kapa harus berhenti, asal tidak lagi mengingat kesedihannya di rumah itu. Rumah yang memiliki kenangan yang paling menyakitkan untuknya.
" Tidak apa - apa Raya! Sekarang kau adalah Karenina! Jangan bersedih lagi yak... Kau tidak tahu sehebat apa Karenina Puspita! Aku juara kompetisi bela diri sedunia lima kali berturut - turut! "
Raya komat kamit sepanjang jalan menggumamkan sesuatu yang dirasanya bisa menghibur dirinya sendiri. Hatinya semakin sesak, dadanya terasa mau pecah.
***
BERSAMBUNG.
Terima kasih para pembaca sekalian atas dukungan like dan komentarnya. Maaf kemari Ga Up. Ga bisa tahan ngantuk, habis Vaksin efeknya Naya mulai Ga kuat begadang, ini aja karena Anak baru saja tidur. Maaf esok baru Up lagi yak...
salam hangat Nayaka.
Semoga kita selalu diberi kesehatan dan rejeki yang melimpah, Ammin.
__ADS_1