
***
Hari yang cerah, Matahari muncul dengan riangnya (entah mengapa jadi ingat adegan Teletabis). Raya libur kuliah dan pelatihan.
Hal itu dimanfaatkannya dengan berolahraga. Pagi itu dirinya sudah jogging lari sejauh 10KM. Kakinya melangkah mengarahkannya ke sebuah bukit tempat biasa digunakan orang untuk mengambil gambar pemandangan kota dari atas.
(digambar ini setidaknya tapak sepatunya mirip , hehehe. Author maksa!)
Raya juga ikut ke bukit itu, sekalian melihat keramaian yang ada disana. Kabarnya disana banyak orang yang suka olahraga juga bahkan ada tempat khusus untuk para lansia untuk berolahraga disana atau sekedar melakukan senam pagi sambil menghirup udara sekitar.
" Hosh..hosh... Udara pagi ini segar sekali... Belakangan ini aku sudah terlalu sibuk dengan pelatihan dan kuliah... tempat ini cocok untukku melakukan pelatihan teknik dasar (bela diri) sambil meningkatkan stamina Raya, tubuhnya punya stamina yang lemah...akan menyulitkan untukku bergerak bebas" Kata Raya dalam hatinya.
Tidak jauh dibelakangnya sebuah bis berhenti. Bis itu terlihat sangat mewah darimanapun dilihat bentuknya. Dari pemilihan warnanya hingga isi didalamnya jelas itu bis punya konglomerat.
Dari bis tersebut turun seorang kakek yang dipapah oleh pengawalnya turun.
" Pelan-pelan sedikit.. hari ini kita akan latihan disini" Kata seorang pria yang membelakangi Raya.
Si kakek diam saja tidak berkomentar apapun. Didekat kakek ada pria berwajah mirip monyet dengan tampang liciknya tersenyum mendekati orang tua itu.
Si kakek tidak sendirian, dirinya bersama temannya (sama - sama lansia) mengikuti perkataan pria berwajah mirip monyet tersebut.
" Para tuan besar, aku akan mengajari teknik berpedang taici yang diwariskan oleh Master Zhang yan terkenal itu, asalkan rajin berlatih maka akan menyehatkan badan, panjang umur adalah hal yang kecil, kalian kan tahu jika master zhang tersebut hidup sampai berusia hampir 200 tahun" Kata pria itu.
Perkataan pria bertampang licik itu tertangkap oleh telinga Raya. Master Zhang?
Rasanya familiar ditelinganya.
Apa master Zhang yang diceritakan oleh pria tadi adalah master Zhang yang dikenalnya?
" Guru Kai, aku tidak ingin panjang umur tapi aku ingin menjadi pendekar ahli silat... Kira-kira bisa kah impianku itu terwujud?" Tanya si Kakek.
" Jangan khawatir Tuan Bagaskara, Pedang Taici yang akan aku ajarkan ini banyak manfaatnya dan sangat kuat" Kata Pria yang disebut guru Kai.
Para kakek sangat antusias mendengar perkataan orang yang mereka panggil Guru Kai (Pria bertampang monyet dan punya senyum licik). Mereka sudah membayangkan diri mereka saat sudah menjadi ahli pedang.
__ADS_1
" Aku sudah membuktikan keahlianku dengan mengalahkan pengawal anda! Jangan meragukanku lagi..." Kata Guru Kai menyombongkan dirinya.
Si Kakek melirik sang pengawal yang berdehem menyamarkan rasa tidak enaknya karena kalah dengan guru Kai.
" Baguslah..kalau begitu aku mendaftar menjadi muridmu, ajari aku untuk menjadi master" Kata Kakek Bagaskara.
" Aku Juga! "
" Aku Juga!"
Sahut yang lain turut ingin diajari.
" Baiklah..biaya pendaftarannya 40juta dan biaya tiap bulannya 12juta..kita akan berlatih keras satu minggu dua kali di tempat ini, sebentar aku kebetulan membawa mesin EDC ku...aku ambil sebentar di mobilku" Kata Guru Kai.
( Note: mesin EDC adalah salah satu mesin yang berguna bagi kamu untuk melakukan pembayaran dengan kartu debit atau kredit yang kamu miliki dengan sekali gesek. Bentuk dari EDC tergolong kecil dan dilengkapi dengan beberapa tombol dan tempat gesek kartu. Dengan begitu, kamu dapat lebih mudah membayar),
Rombongan kakek itu nampaknya bukan orang biasa, mereka tidak keberatan sama sekali dengan nominal yang disebutkan. Tidak ada tanda- tanda kekagetan dengan biaya yang disebutkan.
" Tenang saja paling lambat satu dua tahun paling lama lima tahun kalian pasti akan mendapatkan hasil" Kata Guru Kai
" Busyet! Dapat uang 100jutaan dalam sekali daftar..." Serunya dalam hati.
Penghasilan guru Kai lebih dari yang dibayangkannya. Bukan main andaikan dirinya juga menjual kemampuan bela dirinya mungkin akan lebih dari itu yang didapatkannya. Sayangnya siapa yang akan percaya Raya hingga mau berguru padanya.
" Tapi..aku tidak pernah ingat di Perguruan Wudang ada orang seperti ini... " Raya memperhatikan kembali siapa Guru Kai.
Raya memiliki kenalan di perguruan Wudang, sebagai salah satu bagian dari cabang bela diri Raya juga mempelajari Pedang Taiji, yang mengajarkannya juga senior dimasanya itu.
" Aku akan mencoba orang ini....Hei! Aku ingin menantang pedang Taicimu" Tantang Raya
"hah?"
Bukan hanya Guru Kai yang terkejut mendengar perkataan Raya, rombongan kakek itu juga ikutan kaget. Raya terlihat sangat percaya diri dengan tantangannya.
" Bocah dari mana yang datang membuat keributan ini, Kami dari Wudang pantang memukul wanita" Elak Guru Kai berdehem.
Raya mendekati Guru Kai lalu memegang pundaknya. Sedkit kekuatan digunakannnya untuk menekan pundak itu agar Guru Kai Waspada padanya. Dugaannya benar, guru Kai langsung bereaksi dengan tekanan itu.
__ADS_1
" Gadis muda, jangan terlalu berlagak, Guru Kai ini sangat hebat. Sopirku saja yang sabuk hitam dikalahkan olehnya (apalagi kau)" Tegur Kakek Bagaskara.
" Gadis kecil masih polos, seni bela diri adalah ilmu yang dalam... bukan orang sembarangan bisa mendalaminya " Bujuk satu kakeknya lagi.
" Iya gadis kecil...Guru Kai adalah orang yang sudah berlatih puluhan tahun " Kata Kakek lain hendak membatalkan tantangan Raya.
Mereka takut jika Guru Kai serius maka gadis itu akan terluka.
" Oh? Pendekar? Atau orang yang hanya menyamar mengaku - ngaku sebagai ahli pedang taici" Ejek Raya tertawa kecil.
Ejekan itu membuat Guru Kai marah.
" Jangan sembarangan bicara! Siapa yang menyamar? Kau punya bukti?? " Tanya Guru Kai secara tiba - tiba emosi dan hendak melayangkan tamparan pada Raya.
Gadis itu menghindar dengan mudah, setelah itu dirinya tampak sibuk mencari sesuatu sebagai pengganti pedang.
" Pedang taici ku tidak terkalahkan! Lagipula kau tidak punya senjata...masih berani menantangku!! " Seru Guru Kai.
Pri itu harus menjaga harga dirinya didepan calon pelanggan kayanya, dirinya tidak boleh kehilangan kepercayaan mereka karena kemunculan gadis tidak jelas ini. Biarpun harus membuat gadis didepannya terluka dirinya tidak peduli setidaknya dirinya harus membuktikan kemampuannya. Toh Gadis itu yang salah karena menantangnya!
" Mengalahkanmu adalah bukti yang paling kuat! Satu Ranting pohon sudah cukup..." Sindir Raya.
" Bocah Sialan!!" Guru Kai kali ini sudah tidak mau menahan diri lagi.
" Hari ini aku akan memberimu pelajaran " Seru Guru Kai langsung menyerang Raya tanpa ampun lagi.
Raya bukannya diam, dirinya sudah siap dari tadi. Pedang tajam mengarah langsung lurus didepan wajahnya.
Gadis itu dengan mudah menjepit pedang itu dengan kedua tangannya, senyum diwajahnya memberitahu lawan untuk tidak main - main dengannya.
" Tidak ...Tidak bisa bergerak! "
Guru Kai tidak bisa menggerakkan pedangnya yang terjepit dua jari Raya. Gadis itu tampak tenang membuat lawan berpikir dua kali.
Raya membalas dengan ranting kecil ditangannya langsung mengarah ke arah Dada Guru Kai. langsung menjadi serangan mematikan untuk guru Kai.
Pria itu tidak bisa menghindari serangan terkejut dengan ranting yang mengarah tepat didadanya.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG