
Jangan menilai orang dari apa yang didengar karena apa yang didengar belum tentu benar. Jadilah bijak!
Raya.
***
"Jika dia masih ingin mengandalkan latar belakang keluarganya untuk mencari pekerjaan lantas mengapa dia masih datang mencariku? " Kata Tantri
Bima hanya bisa menarik napas, berharap dia akan selalu disisi Raya untuk membantu. Gadis itu tampak sangat tenang, tidak terlihat lagi kesan dulu dirinya penah urakan dan menor. Yang ada dihadapan Bima sekarang adalah seorang gadis cantik natural dengan tampilan alami dan seherhana.
" Kak Bima ada masalah apa? " Tanya Raya.
Terlalu asyik melamun membuat Bima tidak menyadari jika Raya sudah menutup buku dan tengah menatapnya.
" Ah Tidak apa-apa" Bima gugup sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Perhatian mereka teralih pada suara ketukan pada kaca jendela mobil mereka. Asisten sutradara mendekati mobil mereka
" Sutradara menyuruh kalian test Syuting..." Ujar asisten itu singkat.
Bima merasa jengkel mendengar perkataan itu, mereka sudah dari pagi menunggu dan baru dipanggil sekarang.
" Oh.. ( Sudah semalam ini masih berani menyuruh kami! Hmmpth.).." Bima melotot.
Raya tidak komentar apapun melainkan langsung membereskan tas dan bukunya. Si asisten sadar diri tengah mendapat pelototan dari Bima menjadi salah tingkah.
" Baik aku akan segera pergi..." Kata Raya membuka pintu mobilnya. Suaranya begitu lembut tidak tampak ada kekesalan akibat menanti lama.
Si asisten tadi nampak terkejut, dirinya tidak menyangka jika Raya masih ada dalam mobil itu. Tadi dalam perjalanan dirinya mengira jika Raya sudah pergi karena saking kesal menunggu apalagi melihat wajah Bima yang agak jengkel melihatnya.
" Eh...? Ah...kau! Maaf aku tidak melihatmu" Si Asisten malu sendiri.
" Tidak apa-apa.." Raya menjawab dengan sopan.
Sang asisten tambah kaget mendengar jawaban Raya, dirinya tidak menyangka jika Raya tengah duduk dalam mobil sambil membaca buku dengan tenang. Sama sekali tidak seperti dalam bayang asisten.
" Kudengar isu, Raya sangat bodoh, temperamental, tidak ada sopan santun sama sekali, banyak sekali gosip jelek mengenai dirinya tapi aku melihat dengan mataku jika gadis didepanku ini pintar dan sangat Ramah..."
" Ayo " Raya bersiap mengikuti langkah sang asisten.
Setelah Berjalan 3 menit, mereka tiba dilokasi syuting, Bima mengikuti dari belakang.
__ADS_1
" Sebelah sini, nanti disini akan diadakan test syutingnya..." Terang Asisten ramah.
Kesibukan masih nampak dilokasi Syuting, orang sibuk beres-beres untuk pulang. ada yang lalu lalang membawa properti syuting.
" Sutradara, Raya sudah datang" Kata Asisten.
Sutradara menengok ke arah Raya. Bertepatan dengan itu, sebuah gunting melayang jatuh ke bawah menuju Raya.
" HATI-HATI! " Seru Kru itu tidak sempat menangkap guntingnya.
Raya tidak bergerak seolah tidak mendengarkan perkataan itu. Dengan tanpa melihat, tangan Raya begitu lincah sudah memegang gunting tersebut. Orang biasa pasti sudah akan terluka sabetan gunting tersebut.
Sedetik...dua detik semuanya terpana dengan ketangkasan Raya.
" Maaf aku tidak hati - hati..." Ucap kru buru-buru turun meminta maaf.
" APA kau tidak tahu jika ini sangat membahayakan hah!! " Marah Bima menarik kerah kru yang lalai tersebut.
" Ma-maaf.."
" Kak Bima, aku baik - baik saja! Lain kali lebih hati - hati lagi..." Kata Raya menyerakan gunting tersebut.
" Awass lain kali hati-hati...jika sampai terulang aku tidak akan segan menuntutmu!" Ancam Bima.
" Terima kasih ...Maaf..." Ujar Kru itu merasa bersalah.
" Tidak apa-apa kak Bima..aku baik-baik saja kok! tidak perlu merasa bersalah begitu" Kata Raya tersenyum lebar.
Dari kejauhan kejadian itu tampak menjadi perhatian sutradara, matanya bersinar " Pak Han apa kau lihat itu tadi?"
" Tidak begitu kuperhatikan, mungkin saja hanya kebetulan..." Ujar Pak Han biasa saja.
Pak Han termasuk orang yang tidak menyukai Raya berdasarkan gosip yang beredar diinternet. Benar tidaknya berita didunia maya semua sama saja baginya...hanya dua cara untuk menjadi terkenal..SENSASI dan PRESTASI...Raya terkenal melalui SENSASINya hingga Pak Hak tidak suka padanya.
" hehehehe... ini mulai menarik perhatianku! " Ujar sutradara melupakan kekesalannya tadi.
Raya sedang memilih pedang yang akan digunakan. Dulu saat hidup sebagai Karenina, memegang pedang adalah hal yang biasa untuknya. tanganya meraih pedang pada properti syuting.
" Ringan sekali..beda jauh dengan benda aslinya..(Raya menggenggam sebuah pedang) meskipun teknik pedang tidak terlalu mahir tapi sebelumnya setiap ada waktu luang aku selalu berlatih dengan ketua lama, Christian, seharusnya aku masih menguasainya sedikit..." Raya mencoba memainkan pedang itu dengan tangan kanannya.
Wajah gadis itu tersenyum kecil, dirinya tengah membayangkan sedang memainkan pedang tersebut bersama teman bertarungnya. Dirinya mencoba mengayunkan pedang itu ke kiri dan ke kanan. Sejauh yang diketahuinya belum ada yang pernah lawan yang bertarung serius dengannya selain ketua lamanya terdahulu.
" Kira - kira bagaimana ya pertarungan dalam syuting nanti ya? aku penasaran" Ujarnya dalam hati.
__ADS_1
***
Di lain tempat Abi sedang menyiapkan beberapa keperluannya, dirinya telah mengklaim dirinya sebagai manager Raya. Setelah Bima pulang nnati mengantarkan Raya dari test syuting maka karir resmi Abi sebagai manager akan dimulai.
Abi langsung meminta pengacaranya untuk menyiapkan dokumen resmi untuk melindungi sahabatnya dari siapapun yang akan mencelakainya,
" Raya kini hanya punya aku disisinya, aku tidak akan melindunginya...Halo Ma..." Abi menelpon mamanya.
***
Di tempat yang berbeda.
Tantri tengah merasakan kegelisahan yang tidak bisa dijelaskannya. bagaimana dirinya harus mengatakan pada Alend mengenai pekerjaan yang dipilih tunangannya dan mengapa Tantri membiarkan Raya untuk menerima pekerjaan sebagai stuntman yang penuh resiko itu. Walaupun tidak menyukai Raya, Alend selalu melindungi tunangannya itu dari masalah apapun. Alend punya kepedulian pada Raya sejak pertama kali mereka bertemu, Pemuda itu pernah melihat Raya yang menangis tersedu - sedu akibat ditinggalkan ibunya.
Tantri tahu jika hati Alend sudah menjadi milik gadis lain semenjak remaja. Tidak ada yang bisa menggoyahkan perasaan Alend pada gadis itu. Kini Alend tengah patah hati akibat kepergian gadis itu secara tiba - tiba. Mood Alend tidak bisa ditebak disituasi yang sekarang dan Tantri mesti memberitahu mengenai pekerjaan Raya.
" Aduh pusing deh! Sudah terlanjur...siap salah saja deh! " Keluh Tantri. " Kira - kira apa yang terjadi di lokasi Syuting ya? Apa Raya mengacaukan pekerjaannya? Aku tidak mendapatkan kabar apapun dari Bima sejak tadi dia memarahiku di telepon tadi"
Tantri mencoba menelpon BIma namun ponsel pria itu dalam keadaan silent sehingga tidak bisa menerima telepon.
" Semoga semua berjalan dengan lancar..." Doanya dalam hati.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1