Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
episode 72 - Kediaman Bagaskara


__ADS_3

***


" Raya! Ikut AKU!! " Panggil Tantri  bersama Bima yang muncul dibelakang Raya.


Dari Ekspresi wajahnya terlihat sesuatu, Bima juga terlihat tidak enak.


" Aku? " Tanya Raya bingung.


" Auranya saja kelihatan mau mengamuk...aku salah apa ya? "


Raya ikut dengan Tantri dan Bima. Ternyata mereka menuju mobil di Parkiran gedung. Bima yang akan menjadi sopir kali ini. Raya dan Tantri duduk dibelakang sopir.


" Kakek Bagaskara ingin bertemu denganmu, beliau menelponku dan memintamu untuk datang ke kediaman Bagaskara." Kata Tantri.


Raya heran dengan perkataan Tantri.


Untuk apa kakak Bagaskara menemuinya? 


" Kakek Bagaskara?" Tanya Raya membeo " Tapi untuk apa?"


" Kakek Tidak mengatakan alasannya tadi saat menelpon, beliau hanya meminta untuk membawamu saja ke diaman utama Bagaskara " Kata Tantri.


Tidak lupa Tantry juga menegaskan jika sebelumnya Kakek Bagaskara turun tangan langsung dalam pembatalan kontrak nikah Alend dan Raya dengan demikian campur tangan dari kakak tertua Alend tidak lagi diperlukan. Tantri terlihat lega saat mengatakan hal itu seolah kakak Tertua Alend itu sangat menakutkan.


Lebih menakutkan dibanding kakek Bagaskara.


" Sebenarnya jika dipikir lagi keputusan membatalkan perjanjian nikah kalian itu hal yang bagus... ke depannya kau juga tidak akan lagi diserang haters, Alend juga bisa melakukan hal yang disukainya" Kata Tantri.


Hati Raya masih terasa pedih saat mendengar perkataan Tantri. Raya belum sepenuhnya mengendalikan hatinya


" Iya aku tahu... " Jawab Raya tersenyum (agak dipaksakan)


" Untung saja sebelumnya sudah membahas ini dari hati ke hati dengannya hingga Raya tidak perlu merasa menderita sekarang ..Cara berpikirnya sudah lebih dewasa sekarang... " Kata Tantri dalam hati.


Hati wanita itu simpati melihat Raya dengan tegar berpisah dengan Alend mengingat dulunya Raya sangat obsesif dengan keberadaan Alend.


***


Kediaman Utama Bagaskara

__ADS_1


Kakek Bagaskara tampak tegang dalam posisi duduknya. Sudah setengah jam setelah menelpon Tantri, Kakek Bagaskara menjadi gelisah.


" Ini kenapa lagi? Sedang menunggu siapa? " Tanya Nenek melihat tingkah suaminya.


" Tunggu cucu menantu! " Jawab Kakek dengan tegas.


Mulut nenek terbuka lebar, menganga tidak percaya.


Cucu menantu? Apa si pak tua ini sedang mimpi di siang hari?


" Akhirnya kau memikirkan masalah cucumu itu! Aku mengira kau sama sekali tidak mempedulikannya" Sindir Nenek.


Pakaian nenek sudah tampak rapi, Hari ini nenek ada acara diluar.


" Siapa yang tidak peduli!! " Bantah Kakek


Nenek menghela napas, tidak mengerti dengan suaminya yang tiba - tiba saja berubah. Dulu sama sekali tidak terlihat jika Kakek memperhatikan cucunya.


" Andai saja kau peduli, dengan hubunganmu dengan Ketua KONI dan MEMPORA (Menteri Pemuda dan Olahraga) begitu dekat, kenapa tidak membantu Alend? Padahal kau tau betapa cucumu menyukai Karenina " Nenek masih saja tidak percaya dengan kepedulian suaminya.


" Mana buktinya kalau aku tidak membantu? aku yang berusia 70 tahun membawa Alend untuk bertemu Karenina, langsung mencari gadis itu tapi dia begitu sombong dan angkuh tidak mempedulikan kami!! " Jawab Kakek Marah sambil menghentak tongkatnya.


"Alend ku yang begitu sempurna tidak mungkin tidak bisa menarik perhatian Karenina!! Ini semua gara - gara kau! Gara - gara perjanjian nikah yang sembarangan kau buat dengan Kakek tua Wijoyo (Nama keluarga Ibu Raya) Andai kau tidak menyetujui punya cucu menantu seperti Raya itu! Karenina tidak mungkin akan menolaknya!! " nenek malah balik memarahi suaminya.


Saat itu memang Kakek Bagaskara meminta Alend untuk menemaninya ke pusat pelatihan atlit, berkat kedekatannya dengan beberapa oknum pejabat olahraga hingga lini atas. Kakek Bagaskara mengetahui jika Alend menyukai Karenina sejak pertemuan pertama.


Namun sayangnya Karenina terlalu sibuk dengan dunianya sehingga selalu menolak bertemu dengan siapapun dan fokus pada latihannya. Karenina pernah bertemu dengan Alend namun Gadis itu tidak mengingatnya. Hanya Alend saja yang mempunyai kesan terhadap Karenina.


" Sudahlah, orangnya juga sudah meninggal tidak mungkin akan hidup lagi, Keduanya tidak berjodoh dikehidupan ini... " Ungkap nenek dengan nada sedih.


" Sekarang harus mencari kesempatan yang baik untuk membicarakan hal ini dengan Raya agar bisa membatalkan perjanjian Nikah mereka, agar hatiku bisa tenang... "


" Siapa yang ingin membatalkan perjanjian ini? Menurutku Rayalah yang terbaik...." Potong Kakek dengan cepat.


Lagi - lagi nenek terpana. Suaminya memang sedang kerasukan sesuatu. Sekuat tenaga dirinya melempari sebuah bantal sofa yang ada didekatnya ke arah suaminya.


" Dasar Pak Tua!! Apa kau sudah melupakan perkataanmu padaku dan Aryasatya (nama kakak pertama akhirnya telah ditentukan) apa kau percaya jika aku bisa membuat Aryasatya mengirimmu ke kutub selatan? " Pekik Sang nenek.


" Jika didalam perut Raya ada anak Alend, bayi itu akan menjadi cicit kita, bagian dari keluarga Bagaskara" Jawab Kakek malah ngawur kemana - mana.

__ADS_1


" Alend bukan pria seperti itu! Dia tidak akan tertarik pada penampilan luar, seberapa cantik Raya juga tidak ada gunanya" Bantah Nenek.


Sepasang suami istri itu masih saja bertengkar, kakek menutup telinganya tidak mau mendengar komentar Nenek mengenai Raya calon cucu menantunya. Baginya Sekali Raya tetap Raya (MERDEKA!!)


" Sudahlah..bertengkar denganmu semakin membuat kulitku keriput, hari ini aku masih ada open ceremony museum seni, tidak mau lagi meladenimu bertengkar! " Kata Nenek.


Kakek membuang muka, Paijo didekat mereka tidak terpengaruh (ini bukan pertama kali sepasang lansia itu bertengkar heboh namun baliknya mesra lagi).


" Hati - hati nyonya besar! " Ujar Paijo Saat Nenek melewatinya.


Nenek balas buang muka pada Paijo sebagai balasan pada Kakek.


" Kemarilah Pajio! " Panggil Kakek.


Paijo mendekati kakek, Nenek hanya menatap dari kejauhan sang suami dan pengawalnya sedang berbisik - bisik.


" entah apa lagi rencana pak tua ini..hmmm"


Sementara itu Kakek tampak gembira sekali mengetahui Tantri sudah didepan dan tengah membawa Raya bersamanya.


" Orangnya sudah datang..biar kuberitahu..psst psst.. (tidak bisa didengar ya soalnya kakeknya berbisik sampe authorpun tidak bisa mendengarnya)"


***


Kediaman utama Bagaskara tampak sangat besar dimata Raya. Gadis itu kagum dengan rumah itu lebih besar dari kediaman Mahesa.


" Halo siapa? " Terdengar suara dari dalam.


" Ini aku, Tantri! Aku sudah punya janji bertemu dengan Kakek Bagaskara"


" Ah Bu Tantri.. tunggu sebentar,.." Kata suara itu dari dalam.


Itu adalah prosedur masuk pada kediaman Bagaskara. Sebelum akan melangkah masuk, Tantri berbalik pada Raya.


" Dengar baik - baik Raya! Nanti saat sudah didalam jangan sembarangan bicara...aku tidak ingin kau berbuat kesalahan walaupun satu katapun.." Kata Tantri dengan seriusnya.


Raya mendadak tegang mendengar perkataan Tantri. Kegelisahan mulai merayap sehingga terlihat diwajahnya.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


Lanjutnya sebentar ya.. masih diketik lagi..


__ADS_2