
***
Raya tersenyum manis, Dia mendapatkan ide yang bagus untuk mengerjai sang pelayan. Siapa suruh mengancamnya!
“ Pelayan tadi melototiku! Pasti itu salah satu Fans Kak Alend, Nati lapor ke Manajer ya untuk memecatnya” Kata Raya membuat suaranya semanja mungkin.
Pelayan yang mendengarkan perkataan Raya, wajahnya menjadi merah kuning hijau karenanya. Takut dipecat sekaligus takut mendapatkan kesan buruk sang idola.
“Hehehe…fans juga bisa berguna, aku bisa lebih dekat dengannya” Tawa Raya dalam hatinya.
“ Waktu itu pas ditelpon bukannya kamu seorang pemberani? “ Akhirnya bisa mendengarkan Alend bicara Panjang lebar.
Peristiwa ini sangat langka membuat Raya terkejut. Suara Alend pun sangat indah ditelinganya. Ya Ampun mengapa bisa ada orang sesempurna dia sich? Masa semua karunia yang baik bisa didapatkan Alend Bagaskara? Dikehidupan yang lalu, Alend ini pasti orang yang sangat berjasa kalau tidak mana mungkin nasibnya sekarang begitu beruntung. Maafkan jika aku sangat iri padanya Tuhan! Lagi – lagi Raya merasakan perbedaan yang luar biasa jauh dalam segi keberuntungan. Orang ini terlalu sempurna bahkan tanpa berlatih.
“Kemarin berani sekarang mengapa jadi penakut?” tanya Alend sambil mengambil udang dengan sumpitnya.
Raya langsung memeluknya dengan sangat erat. Mendekatkan wajahnya ke dada sang tunangan.
“ Maaf kakak, jangan mengungkitnya lagi! Waktu itu aku sedang mabuk, otakku juga kosong… kakak jangan marah ya! Please….” Pinta Raya dengan sangat kasihan.
Alend secara perlahan mendorong kepala Raya yang terlalu dekat dengannya. Lelaki itu tidak suka disentuh namun masih menolak dengan halus tanpa menyakiti Raya. Ini poin plus Alend, Lelaki itu tidak kasar dengan perempuan seterdesak apapun dirinya.
Raya langsung tersinggung berat, setelah mendorong dahi Raya dengan kedua ujung tangannya dengan segera pria itu mengambil tisu basah dan mengelap tangannya. Tisu basah tersebut langsung dibuangnya dalam tong sampah.
“ Orang ini minta kuhajar! “ Marah Raya namun berani dalam hati. Dirinya sedang dalam misi sekarang, tidak boleh ada emosi yang menghancurkan tujuannya.
“Dasar, aku tidak bisa menebak isi hatinya… Raut wajahnya dingin! Terlalu datar” Hati Raya terus saja menjerit marah. Dirinya tidak pernah sesusah payah ini untuk meyakinkan orang. Lingkup sosialnya dulu sangat berbeda dengan kehidupan barunya.
“ Hari itu setelah sadar aku sangat menyesal! Hari ini aku datang minta maaf dan membantumu mengupas kulit udang, Begini – begini aku ini calon istri yang baik, Kak Alend tidak rugi menikah denganku, kupastikan untuk menjaga kakak dengan sebaik – baiknya….kujamin kakak pasti akan menjadi orang paling Bahagia di dunia ini! “ Kata Raya berusaha merayu bukan untuk membujuk Alend agar suka padanya sebaliknya Raya berharap jika Alend akan semakin tidak nyaman dengannya.
“ Inikah Impianmu?” Tanya Alend.
Raya tersenyum tetapi hatinya mulai ragu jangan sampai Alend bukannya muak malah akan suka padanya. Apalagi Alend mulai membalas perlakuannya.
“ Iya! Apakah Kakak bersedia mewujudkan impian ini? “ Tanya Raya kebat kebit.
Dengan berani gadis itu menyuapi Sang tunangannya berharap Alend menolak, siapa sangka Alend malah membuka mulutnya dan menerima suapan darinya.
__ADS_1
“ Aku bersedia” Jawab Alend dengan cepat setelah mengunyah udang yang disuapkan padanya.
Raya terpana, tidak tahu harus memasang wajah seperti apa. Dirinya mulai kehilangan akal. Sikap Alend diluar dugaannya. Apakah Alend sebenarnya mencintai Raya? Lagipula hanya Raya saja satu – satunya Wanita yang diizinkan Alend untuk berada didekatnya selain Tantri sang manajer.
“ Sebelum menikah, seharusnya kita memupuk perasaan dulu…” Kata Alend mulai mendekati Raya.
Pria itu memeluk pinggang Raya dengan erat membuat gadis itu kelimpungan.
”Tunggu! Ini berbeda dengan alur cerita yang seharusnya…bukannya seharusnya kau menolak, lalu aku menangis lari keluar ruangan dan the end..selesai…Jangan mendekatiku!! “
Raya mencoba menjauhkan Alend dengan mencoba mengelap tangannya yang ada bekas minyak udangnya. Namun Alend tidak peduli kelihatannya malah semakin mempererat pelukannya.
“ Maukah kau pulang denganku malam ini?” Desis Alend berbisik ditelinga Raya.
Gadis itu merinding setengah mati langsung mendorong tunangannya sekuat mungkin dan mengelap kupingnya. Wajahnya sangat merah seperti udang rebus. Belum pernah ada satupun lelaki yang memperlakukannya seperti ini.
“Astaga! Tidak kusangka kau adalah orang seperti itu!” Kata Raya dalam hati.
Melihat Tunangannya salah tingkah, Alend tidak dapat menahan tawanya.
“ Raya…aktingmu sudah ketahuan, masih berani berakting dengan level anak SD denganku seorang actor sesungguhnya? Apa kau bodoh?” Tanya Alend menatap dengan penuh ejekan.
“ Orang yang suka berdandan tebal, tidak mungkin kukunya begitu rapi dan bersih tanpa kuku palsu…tidak pedikur? “ Tanya Alend.
Rupanya sejak tadi diamnya Alend adalah mengamati tingkah laku Raya. Dirinya menganggap jika Raya agak berlebihan hari ini. Raya langsung menyembunyikan kukunya. Dirinya lupa untuk menghias kukunya sebelum bertemu Alend. Siapa sangka dirinya akan ketahuan berkat kukunya. Cih! Alend sungguh teliti.
“ Perbanyak Latihan lagi! “ Suruh Alend berdiri lalu menatap Raya dengan dingin.
“ Memalukan! “ Katanya dengan sangat jelas.
BRUK! Raya menggebrak meja, dirinya tidak suka dikatai seperti itu, walaupun bukan Raya yang asli dirinya juga terhina dengan perkataan seperti itu.
“ TUNGGU!!” Serunya marah.
Raya mendekati Alend dengan wajah marah. Ketika mendekati, Raya baru sadar ada perbedaan tinggi yang jelas diantara keduanya. Dirinya harus menatap ke atas dan Alend melihat ke bawah untuk bertemu tatapan.
Raya berjinjit agar tatapannya sama rata namun tidak bisa, Alend masih jauh lebih tinggi.
__ADS_1
“ Apa?” Tanya Alend.
“ Jika kau (menggunakan Bahasa tidak resmi) sudah mengetahuinya, mari kita bahas masalah pernikahan kita, aku juga tahu kalau kau tidak ingin menikah denganku! Bagaimana jika kau membatalkan pernikahan ini, aku juga tidak takut dengan reputasiku” Seru Raya.
Akhirnya, merasa tidak berguna untuk berakting lagi, maka Raya menjelaskan tujuannya.
“ Oh?” Alend menatap langsung dimata Raya.
“ Tidak perlu curiga! Kali ini aku serius” jawab Raya balas menatap mata Alend.
Alend merasakan jika Raya berbeda dengan yang dulu. Raya yang sebelumnya tidak berani membantah perkataannya, tidak pernah berani menatap Alend langsung ke matanya.
“Benar– benar berbeda dengan yang dulu…” gumam Alend dalam hatinya.
Dalam balutan penampilan menor yang biasanya aura Raya terasa berbeda, Alend merasa harus menguji dulu perubahan Raya sebelum mengambil keputusan. Toh tidak ada ruginya buat dirinya.
“ Pernikahan ini, tidak akan kubatalkan! “ Ujarnya tersenyum.
“ APA? KENAPA?” Jerit Raya tidak percaya dengan telinganya.
Dalam hati Alend tertawa dengan tingkah panik tunangannya membuat dirinya untuk semakin mengerjainya.
“ Bukankah kau mengatakan jika kau adalah istri yang baik? Kebetulan aku suka dengan istri yang baik! “ Jawab
Alend menahan tawanya.
Pria itu mengenakan kacamata dan jaketnya lalu beranjak pergi.
“ Tunggu! Kita belum selesai…” Seru Raya.
“ Kau makan saja pelan – pelan, aku masih ada pekerjaan” Ujar Alend bicara tanpa menengok lawan bicaranya.
“Tidak seperti ini..Kau salah paham…” Raya tidak bisa menahan kepergian Alend.
Rencana yang sudah disusunnya berantakan. Raya tidak menyangka jika dirinya ketahuan hanya gara – gara cat kuku.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG