Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
Episode 39 - Berpura - pura


__ADS_3


Tidak usah terus melihat ke belakang karena kita akan sulit maju ke depan.


Mudah memang berpikir Sulit tetapi sulit berpikir mudah


Nayaka


 


***


Raya berlari untuk mencoba melepaskan sesak didadanya, berlari terus menembus kegelapan dan dinginnya malam. Tidak tahu kapan harus berhenti, asal tidak lagi mengingat kesedihannya di rumah itu. Rumah yang memiliki kenangan yang paling menyakitkan untuknya.


" Tidak apa - apa Raya! Sekarang kau adalah Karenina! Jangan bersedih lagi yak... Kau tidak tahu sehebat apa Karenina Puspita! Aku juara kompetisi bela diri sedunia lima kali berturut - turut! Tidak ada orang yang berani mengganggunya, kedepannya juga tidak akan ada orang yang akan mengganggumu...aku janji"


Raya komat kamit sepanjang jalan menggumamkan sesuatu yang dirasanya bisa menghibur dirinya sendiri. Hatinya semakin sesak, dadanya terasa mau pecah. Aneh juga seperti ada satu jiwa namun dua ingatan yang berbeda, entah Raya atau Karenina.


Sedari kecil Karenina (Raya yang sekarang) tidak pernah merasakan kasih sayang orangtua, Dirinya telah yatim piatu tetapi dirinya tidak pernah merasa sedih, sering kali dirinya mendengar cerita temannya mengenai kedua orangtua mereka, orang tua sangat menyebalkan, mengatur semua hal, bahkan untuk memakai pakaian apapun orangtua akan ikut campur, Mereka sering sekali mengoceh dan memarahi anak mereka. Yang paling parah adalah mereka sangat suka mengurangi uang jajan, makan junkfood dilarang. Betapa tidak enaknya punya orangtua


" Mengingat perkataan temanku sepertinya sendirian memang lebih baik....Hoss...hos...hos..." Raya masih terus berlari terus saja menghibur dirinya.


Dulu itulah tameng diri yang dibangun Karenina sejak kecil agar tidak merasa iri dengan temannya. Prinsip Karenina Tidak akan mengharap sesuatu agar tidak merasa kecewa.


Secara kebetulan Mobil Alend tengah melintasi jalan itu, Pemuda itu langsung mengenali Raya dari jauh. Dia melihat angka di Jam tangan.


" Sudah hampir tengah malam, mengapa dia sendirian diluar, apa yang sedang dilakukannya diluar dicuaca dingin selarut ini" 


Alend memelankan mobilnya dan mengawasi Raya dari kaca mobilnya. Gadis itu tampak masih saja sibuk komat kamit tidak jelas.


Dalam pelariannya, Raya tidak memperhatikan apapun selagi perasaannya masih galau dirinya terus sibuk menghibur hatinya. Perasaan Karenina dan Raya malam itu seperti satu.


" Tidak usah bersedih, tidak apa-apa, ada aku disini kau tenang saja..."


Gadis itu akhirnya tidak dapat menahan rasa lelah akhirnya berhenti sejenak sambil menunduk. Rasa sedih menyeruak seketika saat dirinya memutuskan untuk berhenti berlari, Karenina tidak menyangka akan merasakan perasaan Raya yang begitu sangat mendalam. Harapan gadis itu  untuk mendapatkan kasih sayang ternyata hanya sia-sia.


" Iya tidak apa - apa...sudahlah lagipula disini tidak ada orang...jika kau ingin menangis...menangis saja sebentar..." Kata Raya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Tanpa diminta air mata mengalir begitu saja dengan deras, Raya masih dapat menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan suara. Alend melihat itu memutuskan untuk mendekat. Mobilnya berhenti disamping Raya.


Pemuda itu menurunkan kaca mobil dan menoleh ke arah Raya.


" Apa yang kau lakukan disitu? " Tanya Alend pura - pura tidak melihat airmata Raya barusan.


Mudah baginya untuk menutupi kekhawatirannya dengan wajah coolnya. Dengan cepat Raya menghapus airmatanya. Alend tidak boleh tahu apa yang sedang terjadi. Raya langsung memasang wajah ceria seolah tidak terjadi sesuatu padanya.


" KAK ALEENNDD...." Sambut Raya dengan gembira.


Gadis itu langsung mendekati mobil Alend.


" Kak Alend, kenapa kau ada disini? Kebetulan sekali!! Apa ini yang dinamakan Jodoh?" Tanya Raya memasang wajah seceria yang biasa dilihat Alend.


" Naik" Suruh Alend Singkat memberi kode agar Raya masuk dalam mobilnya.


Raya masuk dan duduk disamping Alend. Suasana diantara keduanya terasa canggung. Raya sampai merinding Saking tenangnya situasi tapi untungnya berkat itu, sejenak gadis itu lupa dengan kesedihannya.


Hatchiu...


Secara tiba - tiba Raya bersin, Alend langsung memberinya Tissu.


" Sudah larut malam, sendirian diluar sangat membahayakan, aku antar kau pulang ke rumah..." Ujar Alend.


" Aku tidak mau pulang..." Seru Raya dengan cepat.


Alend tertegun, Raya tersadar dan mengubah gaya bicaranya menjadi manja kembali, " Aku tidak mau kembali lagi ke rumah itu! Aku harus mencari alasan."


" EH sebenarnya aku sudah janji dengan temanku, dirumahnya ada pesta, sudah susah payah keluar rumah, jadi...." Jawab Raya tidak mau menatap langsung mata Alend takut ketahuan sedang berbohong.


Alend melirik gadis disampingnya itu. "Sudah tahu aku bisa melihat akting buruknya masih saja berbohong padaku"


" Kau yakin pergi ke pesta dengan pakaian seperti ini? " Tanya Alend mencoba menguji kebohongan Raya, penasaran dengan reaksi orang disampingnya.


Raya berusaha terlihat senatural mungkin menjaga agar tidak terjadi perubahan diwajahnya.


" Pesta Dresscodenya pakaian Olah raga!!! "Jawab Raya

__ADS_1


Alend menghela napas saja, tampaknya Raya tidak ingin Alend mengetahui arti tangisannya tadi. Walaupun ingin tahu tapi Pria itu tidak memaksa Raya untuk menceritakan beban yang  tidak ingin diketahui orang lain. Alend kini tidak lagi memiliki arti dimata Raya, gadis itu tidak ingin Alend masuk dalam hidupnya.


" Huff... "


Alend mengarahkan mobilnya menuju Rumah Abigail. Alen tahu hubungan Abi dan Raya bagaikan magnet saling tarik menarik dimanapun mereka berada, Raya akan secara otomatis mencari Abigail  jika sedang sedih atau mau curhat begitu pula Abi, pemuda itu akan melakukan hal yang sebaliknya. Alend tahu pasti tentang kedekatan dua sahabat itu. Sama selera dan sama-sama kesepiannya.


Kalau kedua sahabat itu sedang bersama tidak ada yang dapat mengganggu mereka, keduanya saling menyayangi dan saling support (walaupun Abi secara terpaksa mendukung Raya dengan Alend). Abi tidak suka melihat sahabatnya selalu sedih setiap kali menatap foto wajah Alend, padahal gadis itu begitu memuja Alend namun selalu saja mendapatkan perlakuan dingin dari orang yang dikatakan tunangannya.


***


10 menit kemudian, mereka sampai didepan rumah Abi. Suasana rumah sangat sunyi tidak ada tanda - tanda pesta.


" Sudah kuduga, kau sedang berbohong padaku" kata Alend dalam hati.


Entah mengapa lagi - lagi Alend merasa sesuatu dalam hatinya dengan tingkah Raya seperti itu. Sayangnya untuk mengungkapkan perasaannya Alend memilih untuk diam saja.


Raya terlihat melamun disaat Alend sedang fokus menyetir namun berulang kali berpura - pura untuk ceria setiap kali Alend menengoknya.


 


***


BERSAMBUNG


 


Maaf ya baru UP, Malam ini akan UP lagi episode 40 dalam waktu berdekatan... Makasih ya semua atas komentar dan like nya..apalagi yang telah memberikan dukungan dalam bentuk poin hehehe alhamdulillah semakin semangat untuk mengetik.


Komentnya tetap Naya baca satu per satu dan akan memberikan like sebagai tanda sudah dibaca dan sebisa mungkin akan membalas komentar.


Salam hangat Dari Nayaka


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2