
***
" Alend? Sejak kapan kau disitu?" Tanya Tantri gugup.
Alend sebenarnya telah duduk cukup lama diruangan itu. Sejak Tantri menerima telepon, pria itu telah duduk di sofa dan ikut mendengarkan percakapan Tantri. Hari itu Alend ingin mengetahui pekerjaan yang diterima Raya.
Ada hal yang mengejutkannya, Tantri memberi pekerjaan yang beresiko pada Raya. Alend tahu persis jikaTantri termasuk dibarisan depan orang yang tidak menyukai Raya.
" Stuntman bela diri? Mengapa kau menyuruhnya untuk melakukan hal itu? " Tanya Alend dingin.
" Dia yang memilih sendiri, bukan aku... " Bantah Tantri.
Tatapan Alend semakin tajam saja, memangnya siapa yang bisa percaya perkataan Tantri saat ini? Siapapun pasti akan mengira jika Tantri memang sengaja mempersulit Raya.
" Jangan salah sangka Alend..." Pinta Tantri.
Baru akan membela diri, Bima dan Raya telah masuk ke dalam ruangannya.
" Kak Tantri!! Kami lolos!! " Seru Raya dengan gembira.
Bima juga membenarkannya, rasanya seperti memenangkan kejuaraan sedunia. Sama halnya dengan Tantri, Bima juga langsung membeku melihat kehadiran Alend diruangan itu. Raya tidak menyadari hal itu karena berada dibelakang Bima.
" Sutradara sangat puas! Aku sudah mengatakan padaku kalau aku pasti..." Raya tidak dapat melanjutkan kata-katanya.
Bruk! Raya menabrak Punggung Bima.
" Kak Alend kau sudah kembali?" Tanya Bima ketar ketir.
" Iya.." Jawab Alend singkat.
Jujur Saat ini Bima ingin sekali menghilang dari Hadapan Alend. entah apa yang dipikirkan oleh pemuda itu sekarang.
" Aura kak Alend hari ini sangat menakutkan... dulu aku selalu merasa dirinya begitu bercahaya sekarang yang kulihat malah seperti meredup, tadi kak Bima sempat bilang jika hari ini Kak Alend menghadiri acara pemakaman, mungkin yang meninggal adalah orang penting baginya makanya dia murung " Raya melirik Alend. Ingin menyapa namun segan. Alend terlalu suram hari ini untuk disapanya. Apalagi lengkap dengan pakaian serba hitam.
" Kemari cepat tanda tangan kontrak" Suruh Tantri mencairkan suasana.
Raya mengangguk, dirinya mendekati meja Tantri
" Baca baik - baik kontraknya dulu kalau tidak ada masalah, segera tanda tangani dan cepat pulang sana! "
" Baik" Raya sibuk membaca kontraknya. Alangkah gembira hatinya mengetahui jika gaji pertamanya sebesar 45juta selama syuting diluar asuransi kecelakaan dan akomodasi selama dalam proses syuting. Wajah Raya sangat excited melihat angka gajinya.
" Wah kalau begini sewa rumah dan makan selama beberapa bulan sudah terselesaikan..." Ujar Raya tersenyum gembira.
" Baik! aku akan segera tanda tangan..."
__ADS_1
Saking bahagianya, Raya hampir menulis nama aslinya pada lembar kontrak.
" Hmm Kak Tantri, bisakah aku mendapatkan kontrak yang baru, aku salah tulis..." Pintanya memelas.
Bima langsung terpikat dengan keimutan Raya saat itu.
" Nama pun bisa salah? Otakmu bermasalah ya? " Sindir Tantri.
" Mengapa? Apa mendiskriminasi orang yang otaknya bermasalah? " Tanya Raya murung.
" Astaga malah bangga pula!! " Tantri jengah melihatnya. Lain halnya Bima langsung tidak dapat menyembunyikan tertawanya.
Alend mendekati Raya, " Berikan saja dia yang baru"
" Terima kasih kak Alend" Jawab Raya.
Bima menatap Keduanya, Ekpresi murung Alend terlihat berkurang saat berada disamping Raya, " mungkin sudah terobati dengan keimutan Dek Raya, baguslah kalau begitu...Ekh..apa yang kupikirkan! Ini Tidak benar!! Aku tidak akan mendukung Raya dengan Kak Alend..Hmpf! " Ujar Bima dalam hati.
****
Hari sudah larut malam. Raya telah sampai didepan rumahnya. Dari dalam terdengar suara televis sedang menyiarkan berita terbaru mengenai pemakaman Karenina. Tampak Abi sedang duduk menonton dengan piyamanya. Kali ini Abi memakai Piyama Dinosaurus.
" Eh..Abi? Kukira kau sudah pergi" Kata Raya melihat Abi sibuk menonton.
Tadi pagi Abi mengatakan akan pindah hari itu dan pulang ke rumahnya sementara ini sampai mendapatkan rumah yang nyaman. Abi tidak menjawab karena sibuk menonton jalannya berita. mau tidak mau Raya akhirnya ikut melihat pemakaman "dirinya"
REPORTER KAMI BERKESEMPATAN UNTUK MEWAWANCARAINYA, INFORMASI YANG BISA DIDAPATKAN ADALAH TERNYATA LEON DAN KARENINA PERNAH SATU PERGURUAN. KEPERGIAN MENDADAK KARENINA MEMBUAT LEON TERPUKUL, LEON TIDAK BANYAK MEMBERIKAN KOMENTAR HAL YANG LEBIH DETAIL LAGI.
Raya menatap layar kaca yang menampilkan sosok Leon, Raya atau Karenina mengenalnya sebagai senior diperguruan bela diri. Pria itu sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri dan merupakan orang yang paling baik padanya selain gurunya. Disaat berusia 15 tahun, Karenina memutuskan untuk keluar dari perguruan, Leon selalu mendatanginya setiap tahun baru dengan membawa beraneka macam benda sebagai hadiah tahun baru untuk Karenina. Leon mengetahui jika adiknya ini berkonflik dengan sang guru dan beberapa kali datang mencoba untuk mendamaikan keduanya. Sayangnya hal itu tidak pernah terwujud.
Sorot mata Raya terlihat sedih, gadis itu tidak ingin menangis jika menonton berita itu lama - lama. Diraihnya remote dan segera mematikan saluran TV.
" Sudah jangan dilihat lagi.." Ujar Raya.
" Hei jangan dimatikan!!" Seru Abi mencoba merampas remote dari tangan Raya dan berhasil.
"Kau juga tidak mengerti seni bela diri, jadi untuk apa menontonnya?" Sindir Raya.
Abi menatap Raya dengan tatapan kecut, " Memangnya kenapa? dia adalah Karenina, orang yang dikagumi seluruh pria didunia ini, kamu seorang wanita jadi mungkin tidak akan paham dengan hal seperti ini, setiap tahun akan diadakan bela diri internasional, tidak peduli kau pria atau wanita tidak ada pembatasan dari aliran manapun, karate, kempo, silat, tinju, gulat...pokoknya siapa yang paling hebat yang akan mendapatkan juara, ini adalah kompetisi yang paling mengerikan juga didunia, setiap juaranya akan dicatat dalam buku rekor dan akan menjadi pendekar kelas tinggi...dan Karenina menjuarai kompetisi tersebut 5 kali berturut - turut! Dia bukan lagi manusia!! Karenina itu Master Bela diri!! Sayangnya...umurnya pendek" Ujar Abi murung.
Raya tercenung mendengar perkataan Abi, sahabatnya ini ternyata mengidolan dirinya yang dulu.
" Bukankah ini sudah jelas..karena punya tubuh lemah dan sering ditindas makanya anak ini mengidolakan orang yang dianggap lebih kuat darinya dan berharap akan lebih kuat..." Kata Raya dalam hatinya
Abi mendekati televisinya untuk melanjutkan tontonannya. Raya tersenyum langsung mengacak - caka rambut Abi.
__ADS_1
" Sudah lah sehebat apapun dia tidak akan sehebat kau, kau kan kaya raya! " Hibur Raya.
" Hahaha betul juga ya! " Tawa Abi
Keduanya tertawa bersama. Abi lebih lega.
" Oh ya, Raya! Kau ke lokasi syuting kerja, aku akan jadi managermu ya... "Pinta Abi.
Padahal pemuda itu sudah menyiapkan berkas sebagai manager hingga tim kuasa hukumnya.
" Manager? Aku mana ada uang untuk menggajimu" Kata Raya ragu membayangkan berapa gaji yang harus diberikannya pada Abi, apa Abi akan menerima hanya mendapatkan gaji yang bahkan tidak sampai satu persen uang jajannya?
" Utang dululah... Setelah kamu terkenal baru bayar aku, gajiku murah kok! "
Raya menatap ragu " Harus menunggu sampai kapan itu? Jangan deh...kasihan dengan waktumu" Tolak Raya.
" Kau harus percaya diri, sekarang ini kamu sangat viral, kau tau foto - fotomu di gala amal sudah tersebar luas di sosmed, apa kau tidak menghitung seberapa banyak pria yang terpesona! Mereka mengatakan asalkan kau mau memanfaatkan kecantikanmu, pasti akan langsung terkenal" Ujar Abi berapi - api.
Raya tertegun, sambil mengelus wajah halusnya muncul perasaan aneh dan agak bertentangan dengan selama ini yang dilakukannya.
" Tidak kusangka aku juga akan mengandalkan wajahku untuk bertahan hidup! " Gumamnya dalam hati.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1