
Kita selalu menjadi orang yang baik dimata orang yang mempercayai kita tetapi kita akan menjadi manusia terburuk dimata pembenci kita.
Jadi, Jarilah diri kita tidak perlu berusaha menyenangkan semua orang karena semua usaha tersebut sia - sia.
***
Dari kejauhan nampak Raya dan penjahat tengah dipotret oleh gadis yang menjadi korban preman.
" Apakah mereka masih hidup, Raya? kau tidak menghajarnya sampai mati kan? " Tanya Gadis itu takut - takut.
Pandangannya diedarkan, tidak ada satupun penjahat itu yang bangun kembali kecuali boss preman yang tengah dihajar Raya.
" Tidak kok! paling pingsan dan beberapa patah tulangnya hehehe sebentar aku akan menyeret beberapa lagi ke Gang ini biar mudah kubereskan..." Kata Raya tertawa kecil
Ketika akan melangkah secara tiba - tiba Raya tertegun ada satu hal yang sedari tadi terlewatkan dan baru disadarinya.
" Apa kau mengenalku?" Tanya Raya.
Gadis itu merasa tidak pernah memperkenalkan dirinya, namun korban tadi malah mengenalinya. Raya sudah punya satu jawaban saat gadis itu membenarkan dengan anggukan. Tidak ada orang yang mengenalnya jika tidak berhubungan dengan Alend.
" Jangan - jangan kau penggemarnya Kak Alend? " Tanya Raya menebak.
Gadis itu menunduk terdiam, dirinya memperlihatkan sesuatu diponselnya. Raya langsung paham mengapa tingkah gadis itu tiba - tiba canggung dengannya. Gadis itu adalah ketua dari perkumpulan pembenci dirinya dan ironinya justru orang yang dibencinya menjadi penolongnya disaat terancam tadi.
" Oh ternyata bukan cuma fansnya Alend Bagaskara, malah ketua hatersku...ckckckck " Kata Raya geleng - geleng kepala namun Raya tidak marah sama sekali, malah memikirkan dirinya yang dulu benar - benar hebat begitu banyak yang membencinya tetap saja tidak mundur untuk mengejar Alend.
" Sudah lapor polisi? Ditanganmu ada ponsel, kenapa tidak menelpon polisi dari tadi?" Tanya Raya heran
Gadis itu menggelengkan kepalanya, wajahnya nampak sedih bercampur ketakutan. Raya tidak mengerti mengapa gadis itu sangat keras kepala tidak mau melapor pada polisi.
" Orang seperti dia jika tidak dihukum, kedepannya pasti akan mencelakai orang lain, Seandainya hari ini aku tidak lewat disini, kau tidak pernah berpikir apa yang akan terjadi padamu? orang lain juga akan mengalami hal yang sama jika kau tidak melaporkan hal ini ke polisi, Kita harus segera menindak orang seperti mereka agar tidak timbul korban yang lain" Kata Raya.
__ADS_1
Diluar dugaan, gadis itu malah menangis ketakutan. Raya menatap tidak mengerti mencoba menenangkan.
" Aku tahu, tapi bagaimana nantinya nasibku, aku seorang pelajar jika hal ini sampai tersebar, aku akan...hiks..hiks.. Tolong jangan paksa aku Kak (mulai memanggil Raya dengan sebutan kakak), aku tinggal tidak jauh dari sini, bagaimana jika ada teman (preman) nya yang mau balas dendam, aku harus bagaimana? hiks..hiks..hiks.." Tangis Gadis itu semakin keras.
Raya termenung, dirinya hampir tidak memikirkan hal itu,
"Betul juga , bukan tidak berani menjadi saksi tapi gadis ini tidak mau mendapatkan bullian yang akan terjadi...hhmm aku paham..ini seperti melindungi diri sendiri dari pandangan mata masyarakat..." Kata Raya dalam hatinya.
Raya menarik napas sambil tersenyum, sepertinya tidak ada jalan lain selain membereskan masalah itu sendiri tanpa melibatkan gadis korban itu.
" Baiklah Aku mengerti, kau bisa pergi. Aku yang akan mengantar mereka ke kantor polisi" Kata Raya beranjak pergi.
Raya mendekati para penjahat itu dan menumpuk mereka disatu tempat. Dari jauh si Gadis korban tadi yang belum ketahuan siapa namanya sedang menghapus foto yang barusan diambil lewat kamera ponselnya. dalam dadanya ada rasa lega yang tidak bisa dikatakannya.
"Maaf dan... Terima kasih padamu Kak..." Kata gadis itu.
***
Alangkah terkejutnya Abi saat melihat Raya baik - baik saja dan disampingnya terdapat preman - preman yang terikat dalma kondisi tidak sadar.
" Kau..kau yang melakukannya? " Tanya Abi dengan wajah ngeri.
" Yups...tenang saja, tidak ada yang mati kok, hanya kupukul saja dibagian yang dapat membuat mereka kesakitan..tidak dibagian vital kok" Jawab Raya dengan santai.
" Sepertinya aku kedepannya harus berhati - hati biar tidak dihajar juga seperti ini...tidak boleh sembarangan lagi" Kata Abi dalam hati melirik Raya.
" Terus gadis yang dilukai tidak ingin menjadi saksi, bagaimana caranya melapor ke kantor polisi? Bisa - bisa kita yang kena pasal penganiayaan kalau begini..." Kata Abi.
Nampaknya Raya sudah punya rencana sendiri, ditangannya sudah ada pemukul dari besi. Dirinya berjalan menuju mobil mewah Abi. Sebuah Lamborghini seri Veneno dibanderol dengan harga 4,5 juta USD, atau setara dengan 64 miliar rupiah. Mobil ini adalah seri Lamborghini yang dirilis secara terbatas oleh pabrikan asal Italia tersebut. Lamborghini Veneno juga merupakan seri yang dikeluarkan untuk merayakan ulang tahun Lamborghini ke 50 tahun.
" Bagaimana jika kita laporkan jika mereka merusak mobil ini saja..." Kata Raya akan mengayunkan pemukul besi itu.
__ADS_1
Abi bergidik, sedetik kemudian dirinya langsung mengetahui maksud dari temannya mendekati mobil barunya. Pemuda itu langsung pasang badan melindungi mobilnya.
" Jangan Raya! Ampuni aku! ini mobil pemberian kakekku... amukan beliau lebih menakutkan daripada mamaku! Kita bilang saja penjahat ini mau mencuri mobil dan mencoba merusak mobilku" Kata Abi sambil memohon agar mobilnya tidak diapa-apakan Raya.
Kakeknya memberikan mobil itu sebagai hadiah karena Abi mengubah penampilannya dari yang ala - ala celana berpopok menjadi normal dan stylish. Kakeknya sangat bahagia cucunya mulai berpakaian selayaknya remaja normal, Ada - ada saja orang kaya ya..memberikan hadiah untuk alasan yang sepele.
" Iya juga ya... kau benar" Sahut Raya tidak jadi merusak mobil Abi.
Abi memegang dadanya, Ya ampun jantungku hampir mau keluar rasanya.
" Tenang saja aku akan jadi saksi, sekarang laporlah ke polisi.." Suruh Raya dengan wajah riangnya.
" Kau tidak usah terlibat, di media sosial banyak yang sedang mengintai kesalahanmu, jika kau terlibat..entah apa yang akan mereka lakukan dan reputasimu akan semakin buruk.." Kata Abi mengambil alih.
Raya tersenyum, Abi begitu perhatian tentang dirinya. Mungkin di dunia ini hanya Abi saja yang masih mempedulikan dirinya.
" Aku juga tidak peduli dengan apa yang akan mereka katakan.." Jawab Raya.
Abi mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan sesuatu pada Raya dengan wajah serius.
" Aku sarankan padamu, lihat dulu ini baru buat keputusan" Katanya dengan nada misterius.
Raya mengambil ponsel Abi dan memutar video menyaksikan saudara tirinya Naura Mahesa tengah menjawab pertanyaan wartawan.
" Saat aku kembali berjumpa dengannya, perubahannya memang sangat besar, sebagai saudara, aku saja hampir tidak mengenalnya" Kata Naura dengan wajah tersenyum.
Seketika emosi Raya naik hingga ubun - ubun. Naura Mahesa tidak henti - hentinya menambah masalah untuknya. Gadis itu berjanji akan memberi pelajaran pada Naura.
" NAURA! KAU BENAR - BENAR SUKA CARI MASALAH YA! " Gumam Raya.
***
BERSAMBUNG.
__ADS_1