
***
Raya dengan penuh perhatian mencatat poin penting yang dikatakan oleh Alend. Wajahnya sangat serius. Sejenak keduanya lupa jika sedang berduaan dalam kamar.
Alend membuka lembaran Naskah yang dibawa Raya.
" Coba lihat ini ( menunjukkan poin yang hendak dibahasnya dengan Raya) Contoh peran tokoh ini. peran pria ini menyukai tokoh utama wanita tetapi karena cinta bertepuk sebelah tangan, membuat psikologis pemeran pria ini perlahan berubah menjadi orang yang bertentangan dengan pemeran utama Wanita... Bagaimana dia menunjukkan perasaan ini? " Tanya Alend.
" Hmmm... Kesedihan cinta bertepuk sebelah tangan, kemarahan karena diabaikan perlahan-lahan menjadi orang yang mudah mengamuk akan menghancurkan segala yang menyakitinya termasuk pemeran Utama Wanita" Kata Raya mencoba menganalisa.
Alend menggeleng,
" Masih tidak cukup, ini terlalu luas. Kau melewatkan semua sumber perasaannya! atau begini saja kita beradu akting, kau akan menjadi pemeran utama wanita? " Tawar Alend.
Raya langsung gugup mendapatkan kesempatan untuk beradu akting dengan Alend. Dadanya berdebar aneh namun ditepisnya cepat - cepat.
" Baik! Baik! hmm..hmm.. (memulai Naskah dalam dialog) Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? APa salahku?" Tanya Raya dengan nada bergetar (gugup soalnya)
Alend membaca naskah sebentar, lalu menutupnya. Dia menyiapkan diri untuk memberi contoh pada Raya. Pria itupun memulai aktingnya.
" CK... Apa salahmu?" Tanya Alend dengan mata mendelik.
Raya langsung merasakan tekanan yang berbeda. Raya merasa tertelan oleh aura Alend.
Alend melangkah maju mendekati Raya (masih dalam kondisi berakting)
" Jelas - jelas kau tidak menyukaiku, kenapa masih terus mendekatiku? Kau seharusnya tidak membantuku, mendengarkan curahan hatiku! Kau juga tidak seharusnya menarikku keluar dari kegelapan ini! " Kata Alend terus mendekati Raya.
Gadis itu terpukau melihat akting Alend, seolah- olah Alend yang mengalami kondisi demikian. Raya mundur secara otomatis hingga terpojok didinding kamar. Alend tidak berbenti
" Bahkan kau seharusnya tidak tersenyum padaku" Ujarnya menegaskan.
Tangan Alend memegang pipi Raya sementara gadis itu masih saja larut dalam suasana. Tubuh Alend terasa gemetar, punggungnya agak berguncang.
" Sebenarnya kenapa? Kenapa kau tidak menyukaiku? Apakah kau tahu demi mendekatimu apa yang sudah kukorbankan? Meskipun dihina seluruh dunia, aku tidak akan pernah menyesalinya... Mungkinkah kau tidak menyadarinya atau kau sengaja mengabaikannya? " Tanya Alend dengan wajah yang sangat sedih sekali.
Raya saja sampai merasa terpukul melihatnya, tanpa disadari bulir -bulir air matanya jatuh , pikirannya kosong.
Jelas - jelas aku tahu ini hanya akting tapi aku malah seperti menjadi wanita pemeran utama yang tidak mengerti keadaannya dan terus saja menyiksanya, menjatuhkan dirinya dalam penderitaan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan akhirnya malah membuat tokoh yang dibenci malah menjadi dikasihani.
Rasa Benci dan cinta saling bercampur aduk, ternyata aku telah mengabaikan poin penting dalam peran tokoh ini yaitu cinta.
Raya masih menatap Alend dengan tatapan kosong.
" Kenapa? Apa kau lupa dialog selanjutnya? " Tanya Alend telah kembali menjadi dirinya sendiri.
Sebenarnya adegan berikutnya adalah kissing antara dua pemeran, setengah berharap adegan itu akan berlanjut.
__ADS_1
" Aku..aku lupa" Jawab Raya terisak sedih.
" Lalu mengapa kau menangis? " Tanya Alend mengelus puncak kepala Raya.
" Bukan, ini karena rasa yang kudapatkan dari akting kak Alend sangat nyata, Kak Alend hebata sekali, hanya dalam sedetik aku langsung terbawa masuk dalam suasana ini, tadi aku merasa semua ini begitu nyata" Jawab Raya menghapus air matanya.
Perasaannya berangsur kembali baik.
" Untung saja ini hanya akting kak. Andai saja didunia ini yang ada yang begitu! Tidak mengerti kamu berarti dia bodoh atau sudah buta! " Umpat Raya.
Alend tertawa, gadis didepannya ini seperti tengah mengumpat dirinya sendiri.
Mungkin betul kau bodoh atau sudah buta Raya!
Alend menatap Raya dan membantunya menyeka airmatanya, pipi Gadis itu terasa lembut dan dingin ditangannya.
" Sudahlah, lap airmatamu, nanti mereka (orang yang ada di rumah kediaman utama Bagaskara) akan mengira jika aku menindasmu!" Kata Alend.
Raya membiarkan Alend menyentuh pipinya. Tatapan polosnya berbanding lurus dengan pikirannya.
" Itu tidak mungkin Kak! Mereka tahu kalau kau tidak akan bisa menindasku..Secara aku lebih kuat darimu" Jawab Raya.
" Iya kah? " Tanya Alend mencubit kedua pipi Raya.
gadis itu menjerit merasakan remasan dipipinya dan menjauhkan diri dari Alend. Pipinya tampak merah.
Alend tertawa melihat sikap Raya itu, menggemaskan! Ingin rasanya dirinya mengulangi kembali namun gadis itu terlanjur waspada.
" Kak Alend, bukannya kakek Bagaskara mengatakan ingin bertemu denganku? Kenapa dia malah mengantarku ke kamar ini? " Tanya Raya bingung.
" Aku tidak tahu, tanyakan saja padanya (akupun ditipunya hingga datang ke sini) " Kata Alend menyambung katanya dalam hati.
Dirinya heran dengan telepon sang kakek beberapa jam yang lalu, yang ingin agar dirinya membawa Raya ke rumah utama. Apa yang ingin dilakukan oleh kakeknya, Alend tidak bisa menebak yang jelas dirinya tidak ingin Raya terseret dalam urusan kakeknya.
Raya terdiam lama.
" ada apa? " Tanya Alend.
" Hemm...sudah lah..tidak usah... " Ujar Raya terlihat agak segan.
" Kenapa? Di dunia ini masih orang yang kau takuti? " Tebak Alend.
Dalam pikiran Alend, Raya akan menjawab jika Raya takut dan meminta Alend akan melindunginya.
Ternyata...
" Tidak! Aku tidak takut! Hanya saja aku ini adalah orang yang harus membungkukkan diri demi uang, aku tidak bisa menyinggung bos besar..gajiku nanti... " Jawab Raya dengan ekspresi menggebu - gebu.
__ADS_1
Hancur harapan Alend, Raya bahkan tidak menunjukkan sisi lemah sama sekali.
" Sudahlah...aku bawa kau turun saja menemui kakek" Kata Alend menuju Pintu.
Raya mengikuti dari belakang. Alend memegang gagang pintu lalu mencoba membukanya.
" Astaga pintunya terkunci dari luar..."
" Hah? Kenapa? " Raya mengintip dibalik punggung Alend.
Mencoba untuk membuka pintu namun gagal juga. Raya bisa membuka pintu itu dengan paksa dalam hal dobrak mendobrak Raya cukup jago namun Raya teringat ancaman Tantri sebelum masuk rumah untuk menjaga tingkahnya. Salah sedikit maka gajinya akan dipotong.
" Siapa yang melakukannya kak? ' Tanya Raya.
" Siapa lagi? kalau bukan orang yang menyuruhmu datang ke sini" Jawab Alend masuk lagi dan duduk disofa putih panjang.
" Kakekmu? Memang kenapa dia... "
Secara tiba - tiba terlintas sesuatu dalam pikiran Raya.
" Tunggu! Wanita dan pria berada dalam satu ruangan terkunci, apakah yang akan terjadi? Kakek kau sungguh luar biasa mempersembahkan cucumu yang tampan ini padaku"
Lamunan Raya langsung terbang hingga langit, wajahnya langsung memerah. Bayangan Alend tidak pakai baju dengan genit menggoda imannya kembali. Dadanya bergetar saking gilanya dirinya mengkhayal.
" Anu.. tenang saja kak Alend, kali ini aku tidak meminum obat peransang seperti yang waktu di Gala amal itu, aku memiliki prinsip sendiri, aku tidak akan memanfaatkan keadaan ini untuk mencelakai orang apalagi memaksanya untuk melakukan hal yang tidak dinginkannya" Jelas Raya.
" Memangnya siapa yang mencelakai dan dicelakai sich? Aduh kau ini, aku sudah dapat membaca pikiranmu...."
Alend menatap lurus ke arah mata Raya yang tengah membola seolah menunjukkan keseriusannya. Terus terang keadaan mereka ini membuat Alend agak kepanasan. Bibir Raya yang sejak tadi tidak pernah berhenti bicara membuatnya ingin mendiamkannya.
tapi Alend tidak ingin mendiamkannya dengan teguran, Alend sejak tadi sudah berusaha menahan diri. Suasana sunyi dan hanya berdua apalagi bersama dengan orang yang menarik hatinya, sejak tadi hati dan pikiran Alend sudah tidak sinkron.
Makanya hati - hati berdekatan dengan orang yang ada Rasa, berduaan begini kan jadinya kepanasan! hehehehe
***
BERSAMBUNG dulu ya pembaca sekalian.
Alhamdulillah pelatihan telah selesai, tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan dapat sertifikat pelatihan. Naya berharap lulus agar bisa nambah penghasilan. Ammin.
Doakan lancar ya!
Makasih sudah mampir membaca. Sampai ada yang memberikan dukungan. makasih banget.
Dukungan, like dan komentarnya sangat Naya nantikan, Apapun itu.
Salam hangat Nayaka.
__ADS_1