
***
Abigail dan Raya saling bertatapan mengharap mendapatkan jawaban dari satu sama lain, sayangnya tidak ada satupun alternatif yang dapat mereka pikirkan.
Semenit saling pandang
" Selain ibuku...." Kata Abi masih mencoba mengingat.
" Haahh.... " Keduanya menghela napas bersamaan.
Sadar jika mereka adalah dua orang yang memiliki pertemanan yang sama, teman Abi adalah teman Raya juga dan satu-satunya teman Raya hanya Abi. Tidak ada alternatif lain untuk mendapatkan bantuan.
Raya tampak berpikir keras dan teringat sesuatu.
"Jika kau ada masalah, boleh mencariku..aku akan membantumu! "
Kata - kata Alend langsung terngiang dikepalanya.
Raya langsung meminta ponsel Abi. Sahabat Raya itu dapat membaca pikirannya
" Apa dia bisa dipercaya? Bukankah gara - gara dia kau diusir dari rumah?" Tanya Abi cemberut.
" Berikan saja"
Raya memencet nomor Alend yang entah mengapa telah dihapalnya diluar kepala. Lalu berusaha mengatur ekspresi seolah akan bicara dengan Alend secara langsung.
" Siapa ini?"
Tenyata Alend langsung mengangkat panggilan.
" Halo kakak Alend...apakah kau memikirkan aku? Aku sangat merindukanmu..." Ujar Raya centil dengan suara dibuat semanja mungkin.
" Ikh.." Abi memegangi tubuhnya sendiri saking merindingnya mendengar perkataan Raya itu. Dia tidak suka gaya Raya seperti itu, kali ini tidak bisa membantu Raya akhirnya terpaksa membiarkan saja Raya meminta bantuan Alend untuk kali ini.
" Bicara yang baik..." Terdengar suara Alend menegur Raya.
" Oke... Begini Kak! Maaf sudah mengganggu, tadi kak Alend bilang bisa mencari kakak jika aku perlu bantuan... Nah apakah kak Alend bisa membantuku mendapatkan pekerjaan?" Tanya Raya setengah memohon.
" Pekerjaan? "
Suara Alend terdengar ragu, Raya adalah putri dari keluarga kaya mengapa sekarang mencari pekerjaan, Mungkinkah untuk mendekatinya? ataukah hanya sekedar untuk menarik perhatian Alend saja?. Alend tidak bisa memikirkan hal lain. Raya tau Alend sedang meragukannya.
" Iya, aku ini pekerja keras, serba bisa! Satu perintah dari Kak Alend maka aku pasti akan melaksanakan! " Tegas Raya.
__ADS_1
" hmmm....ada apa dengannya? Baiklah...kita lihat saja apa tujuannya kali ini" Kata Alend dalam hati menatap layar ponselnya seolah Raya ada didalam genggamannya.
" Baiklah, besok siang datanglah ke perusahaan" Jawab Alend Akhirnya.
" Siap! Terima kasih Kakak Alend sayang...kakak yang paling baik! Kak Alend selamat malam! Mimpi Indah...Kak..."
TUT! Telepon Raya diputus begitu saja oleh Alend. Pemuda itu tidak ingin mendengar suara pujian Raya yang tidak akan berhenti. Sekarang dirinya tengah menonton sebuah berita diruangan tengah. Berita yang menyangkut pemakanan seorang juara bela diri sedunia yang meninggal secara misterius. Acara pemakaman sang juara dunia Karenina Puspita yang akan dilaksanakan tanggal 16 bulan ini.
"Berdasarkan informasi akurat para orang terkemuka dunia seni bela diri akan datang menghadiri, para penggemar Karenina di seluruh dunia akan datang ke lokasi pemakaman, untuk sementara pihak keamanan telah mengerahkan ratusan aparat kepolisian untuk mengamankan situasi yang akan terjadi nanti mengingat membludaknya tiket pesawat menuju indonesia dari seluruh dunia akibat berita pemakaman ini. Hotel dan penginapan full selama beberapa hari ini..." Lapor pembaca berita
Alend duduk menatap layar televisi yang menampilkan wajah Karenina, nampak sorot kesedihan dimata Alend.
" Meskipun Karenina memiliki sikap dingin dan sombong namun dirinya telah menjadi perhatian semua orang sejak menjadi juara dunia 5 kali berturut - turut, diusia muda telah berhasil mengukir prestasi yang begitu tinggi dalam sejarah bela diri, kematiannya yang tiba - tiba banyak memancing spekulasi dari berbagai pihak, ada yang meyakini jika juara muda ini dibunuh, hal ini dibantah oleh medis yang tidak menemukan kandungan racun dalma tubuh Karenina, gara-gara itu ada sebagian kecil yang meyakini jika Karenina mendapatkan santet... " Pembaca berita malah terlihat seperti sedang membacakan sebuah gosip saja.
Alend terpana, " Sombongkah..?? "
Dalam ingatan Alend saat remaja, dirinya pernah bertemu dengan Karenina Remaja,
"Sombongkah?... Yang kuingat adalah Karenina memiliki sepasang mata yang paling bercahaya dan polos...Eh? Kok aku malah membayangkan Raya disaat aku mengingat Karenina? jelas - jelas kedua orang ini tidak ada hubungannya,,, huff"
Alend menggelengkan kepalanya, " Apa yang sedang aku pikirkan sich?"
Pria itu meraih remote TV dan segera mematikan TV lalu beranjak ke kamar. Esok dirinya harus terbang ke luar negeri untuk syuting iklan bersama artis di sana.
***
" Hoaam..." Abi menguap beberapa kali.
Pemuda itu masih sangat mengantuk.
" Hai kau sudah bangun? " sambut Raya nampak baru kembali dari luar. Gadis itu bangun subuh untuk berolahraga dan sekalian singgah membeli makanan.
Abigail sesaat terdiam, hampir saja lupa jika Raya menginap semalam.
" Aku sudah beli sarapan, ayo makan sama-sama" Ajak Raya.
" Raya sudah dewasa, mulai bisa menjadi istri yag baik" Gumam Abi tersipu memerah.
" Ini..."
Raya menyodorkan sebungkus nasi yang masih hangat. Abi melihatnya bingung
__ADS_1
" Mengapa kau mendadak membeli sarapan rakyat jelata seperti ini? ... sudahlah, aku tidak terbiasa makan makanan seperti ini..." Tanya Abi heran menolak makan.
Tanpa diduga oleh Abi, Raya langsung menjitak kepala pria itu, " LIHAT, APAKAH ITU KATAKAN INI KATA-KATA MANUSIA??" Marahnya.
Abi terpaksa memakannya karena takut Raya akan menjitaknya dua kali.
" Negara kita merdeka selama ini, kita hidup dalam negara yang sosialis! Apa itu rakyat jelata!! Kita semua adalah tuan dari negara ini!! " Sembur Raya berapi - api menggenggam kaleng susu Beruangnya.
" Dulu bukannya kau yang bicara begitu..." Potong Abi komat - kamit
" Apa kau bilang?" Tanya Raya.
Abi tidak melihat wajah Raya, tatapanya fokus pada kaleng susu Beruang yang penyok akibat digenggam erat Raya.
" Tidak apa - apa..." Jawab Abigail dengan cepat. dirinya tidak ingin bernasib seperti kaleng susu tadi.
Raya menyiapkan sarapan dengan menggebu - gebu, mulai hari itu dirinya bertekad untuk hidup mandiri dikakinya sendiri.
" Dulu aku kaya, sekarang aku sudah melarat, mengerti?" Tanya Raya.
Abi hanya mengangguk saja. " Mengerti...Asal aku tidak dibuat seperti kaleng itu" Lanjut Abi dalam hatinya.
" Enak?" Tanya Raya saat melihat Abi menyendok nasi bungkus yang dibelinya tadi.
" Enak! Enak sekali..." Jawab Abi ketakutan.
" Kalau begitu habiskan! "
Abi mendesah tidak percaya jika harus menghabiskan seluruh makanan yang dibeli Raya pagi ini. Raya ke kamarnya bersiap - siap untuk pergi ke perusahaan Alend bagaskara. Hari ini mungkin akan menjadi hari yang sibuk, Abigail tidak bisa menemani Raya karena menyiapkan kebutuhan Raya, drai ponsel hingga baju. Pemuda itu turun tangan langsung untuk membeli semua keperluan sahabatnya.
***
BERSAMBUNG
Selamat siang pembaca, Nayaka mengupdate disela Naya hbis UAS. Alhamdulillah semua terlaksana dengan lancar walaupun rempong pagi-pagi karena si kakak juga Ujian semester di TK wkwkwk...
Terima kasih atas dukungan pembaca sekalian...maaf ya komentar belum sempat dibalas. tapi percaya deh... membaca komentar dan menghitung jumlah Like itu ngangenin hehehe
Salam hangat Nayaka.
__ADS_1