Kehidupan Yang Kedua

Kehidupan Yang Kedua
episode 45 - Diremehkan


__ADS_3

Aku hanya punya dua tangan, tidak cukup untuk menutup mulut semua orang yang tengah membicarakanku,


tapi aku masih bisa menggunakannya untuk menutup kedua telingaku sehingga aku tidak akan memdengar apa yang kalian bicarakan tentangku.


Raya


***


Raya terus saja berkeliling, Bima menghilang entah kemana. Gadis itu hanya bisa berkeliling sambil mencari asistennya.


Tidak lama Bima muncul di belakang Raya.


" Oh orang itu pemeran utama pria namanya Steven, meskipun mulanya dia terkenal dengan syuting stripingnya tapi dengan latar belakang sekolah militer, gerakan bela diri nya dianggap cukup profesional, pembimbing bela diri juga sangat memujinya... Nanti aku akan mencoba mencari pelatih untukmu, sesekali Dek Raya harus latihan bersama Steven itu karena kalian disaat syuting perlu saling memberi isyarat gerakan" Kata Bima dengan panjang lebar.


" Latihan? Kalau hanya selevel dia latihan bersamaku takutnya dia yang akan terluka" Jawab Raya dengan santainya.


" Astaga Dek Raya apa kamu sadar dengan yang kau katakan?" 


Bima seperti terkena setrum kejut tiba-tiba mendengar perkataan Raya yang  tidak disangkanya.


" Ta- Tapi..asalkan kamu bahagia saja...katakan apapun yang kau suka" Ujar Bima dalam hatinya. sejak video make up kemarin Bima menjadi penggemar Raya diam - diam. Baginya sekarang apa yang dikatakan Raya adalah bentuk kepolosan seorang gadis muda.


" Eh Lihat itu? Bukankah dia Raya Maharani kan? " Tunjuk salah satu kru.


" Iya sedikit mirip tapi kenapa dia datang ke lokasi syuting kita ya? "


Ketika Raya dan Bima benar-benar melewati mereka barulah ketahuan jika itu Raya yang asli.


" Eh beneran Raya! beberapa hari yang lalu fotonya terkenal, banyak temanku yang tidak tahu dunia entertaiment mengenalnya!" Kata gadis A


" Aslinya cantik sekali tapi sayangnya otaknya bermassalah...! " Komentar gadis B


" Jangan - jangan dia ke sini untuk syuting film? memangnya masih kurang pemeran wanita? " Tanya Gadis A melotot melihat Raya lewat begitu saja didepannya.


" Ah sudah tidak kurang orang kok! Mana mungkin ada bagian untuknya, mungkin saja dia kesini mau mencari temannya, lagipula putri dari keluarga kaya seperti itu, punya harta melimpah,mana mungkin datang untuk syuting film!! " Bantah yang lain.


Suara - suara sumbang dari para kru terdengar hingga di telinga Bima dan Raya. Bima tidak tega membiarkan Raya dicecar orang gerah luar biasa.

__ADS_1


" Ayo dek Raya, kita ke mobil saja" Ajaknya.


" Ayook..." Jawab Raya mengangguk.


Raya mengikuti dari belakang. Dirinya sudah terbiasa diremehkan orang, walaupun rasanya tidak enak lama-lama Raya sudah mampu berteman dengan rasa sedih diremehkan.


***


Pukul 19.00 WIB


Suasana sudah gelap. Raya belum juga ada tanda akan memulai syutingnya.


" APA?? MAU PULANG? BUKANNYA DIA SUDAH ISTRAHATA DUA JAM?? " Kata Sutradara setengah berteriak.


Hari ini pria itu rasanya ingin menelan apa saja didepannya saking geram dengan tingkah Clarisa. Topi kesayangannya dicampakkan begitu saja dilantai.


" Alasannya tadi sore latihan berpedang, kakinya keseleo sampai sekarang masih sakit, minumlah air sedikit pak! redakan amarahnya dahulu" Bujuk sang Asisten sutradara dengan sabar.


" SEKARANG DIA PERLU SYUTING TAMPAK DEPAN, BEGITU BANYAK ORANG YANG MENUNGGUNYA, ADA DIA TIDAK TAHU??? AMBIL PEDANG BISA KESELEO? MEMANGNYA DIA MENGGUNAKAN KAKI UNTUK MENGAMBIL PEDANG?? " Teriak sutradara hampir mengamuk.


Tampaknya sang asisten telah tahu cara menangani emosi sang sutradara. Sutradara terdiam, muncul lagi rasa tidak sukanya karena akan menghadapi Raya.


" Dia masih belum pergi?" Tanya sutradara.


" Belum, dia terus menunggu tanpa mengeluh, sepertinya dia tipikal sabar" Jawab Sang asisten.


Sutradara naik pitam lagi, belum habis Clarissa sekarang harus menghadapai Raya?


" Apa gunanya itu? Dizaman sekarang siapapun ingin jadi artis film! " ejek sang sutradara.


" Tapi dia adalah orang dari Direktur Tantri, tidak mungkin kita akan terang - terangan menolaknya" Tegur sang asisten.


Sutradara semakin kesal sambil meminum teh pemberian dari asistennya, pria tua itu menyuruh Asisten untuk memanggil Raya dalam 10 menit.


" Direktur Tantri... Galaxy Entertaiment, ..huh lagi - lagi seseorang yang bergantung pada harta dan relasi (membicarakan Raya) Huh! " Sutradara masih komat kamit.


" Pak Han! Kemari sebentar! " Panggilnya pada seorang bapak yang tidak jauh darinya.

__ADS_1


Orang yang dipanggil mengangguk dan mendekat.


" Nanti Raya akan kesini, Tidak perlu sungkan padanya biarpun dia wanita, Bu Tantri sudah mengatakan padaku jika tidak puas tentang Raya kita boleh menolaknya! Nanti kau beri pelajaran pada gadis itu, katakan padanya jika ingin masuk dunia entertaiment itu tidak mudah! Ini bukan pekerjaan yang mudah! " Perintah Sutradara.


Pak Han adalah stuntman sekaligus pelatih beladiri, dekat dengan sutradara. Pria itu langsung paham maksud sutradara


" Tenang saja aku mengerti, aku tidak akan melukainya tapi akan membuatnya merasa jika dunia ini sangat keras" Jawab Pak Han.


Kedua pria yang tengah kesal gara-gara Clarisa itu akhirnya memutuskan untuk melampiaskan kekesalan mereka pada Raya. Sambil menunggu kedatangan gadis itu mereka telah bersiap untuk mempermalukan sang gadis didepan umum.


Sang Asisten hanya mendesah, membayangkan betapa kasihannya Raya jika sampai harus menerima sesuatu yang bukan kesalahannya.


***


Didalam mobil, Bima sibuk bicara dengan Tantri lewat telepon.


" Kak Tantri tolong mempersulitnya lagi....baik..aku tahu..tapi kami sudah seharian diabaikan, kami dianggap sebagai udara disini tidak kelihatan, ini keterlaluan...Hmmm Raya? Dia tidak diam menunggu, dia sedang belajar, tadi pagi kami jalan - jalan ke lokasi syuting melihat keadaan, sorenya dia membaca buku didalam mobil, iya...iyaa..aku tahu! Sampai jumpa! " Bima mengakhiri pembicaraannya ditelepon.


" Mengapa orang tidak ada yang melihat perubahan dirimu, dek Raya" Batin Bima menjerit kasihan. Tantri tidak memberi kompensasi apapun dari perlakuan orang pada Raya. Bima merasa Gadis itu sungguh - sungguh ingin mengubah dirinya.


" Bima aku tahu latar belakangmu tidak seburuk Raya, makanya rasa simpati langsung mempengaruhi penilaianmu...Kau tidak pernah merasakan bagaimana usaha yang harus dikeluarkan orang pada umumnya untuk mendapatkan pekerjaan... aku tidak mempersulit dia..ini adalah hal umum yang harus dilalui orang pada umumnya...yah boleh dikatakan ini masih dalam kategori wajar..betapa mengerikannya dunia entertaiment kau seharusnya sudah mengetahuinya...lagipula aku sudah memberikannya kesempatan, apakah dia bisa memanfaatkan atau tidak itu tergantung padanya..." 


Tantri bicara panjang lebar ditelepon. Bima merasa sangat kasihan pada Raya baru sehari bekerja harus mendapatkan pengabaian.


" Semenjak dia mengatakan ingin mandiri dan mencari pekerjaan..dirinya tidak akan lagi seperti bunga yang dirawat didalam rumah kaca.. Jika dia masih ingin mengandalkan latar belakang keluarganya untuk mencari pekerjaan lantas mengapa dia masih datang mencariku? " Kata Tantri


Bima hanya bisa menarik napas, berharap dia akan selalu disisi Raya untuk membantu gadis itu.


 


***


BERSAMBUNG


 


 

__ADS_1


__ADS_2