
Silvia menyeringai senang saat ia melihat Embun diusir dari rumah keluarga Sanjaya.
Silvia adalah sahabatnya Gilang. Silvia dan Gilang berteman sejak mereka masih duduk di bangku SMP. Silvia sudah jatuh hati pada Gilang sejak SMP. Namun, kesabarannya menunggu Gilang tidak berbuah manis. Gilang justru berpacaran dengan hadis lain dan itu adalah Embun.
Silvia bersikap manis di depan Embun dan Gilang. Namun, di belakang ia menyusun rencana untuk memisahkan Gilang dan Embun.
Silvia yang memberikan pekerjaan di klub malam mewah itu, karena ia sudah bekerja terlebih dahulu di sana. Ia membantu Embun masuk di sana saat Embun butuh pekerjaan.
Beberapa kali Silvia merancang rencana agar Embun tampak murahan di depan Gilang, tapi selalu gagal. Maka dari itu, saat keberuntungan menghampirinya, saat ia melihat Embun dari balik gordyn yang ada di private room VVIP tengah dinikmati oleh seorang pria, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merekammya.
Silvia mengirimkan rekaman video itu ke keluarga Sanjaya agar Embun mengalami penderitaan. Kecemburuan yang semakin bertumpuk membuat wanita itu sangat membenci Embun dan ingin melihat Embun menderita di titik yang paling rendah. Silvia juga mengirimkan rekaman video itu ke Gilang.
Gilang yang tengah mengerjakan proyek ilmiahnya di sebuah kampus di Jepang, langsung melongo melihat video itu. Dia terhenyak lemas di kursinya dan seketika mematung cukup lama di sana.
Silvia menyeringai puas di atas sepeda motornya, lalu bergumam, "Ada untungnya juga aku disuruh Bos membetulkan gordyn di private room itu. Aku bisa merekam Embun yang tengah berasyik-asyik ria dengan pria hidung belang itu dan dari video ini, aku bisa mendapatkan semua yang aku mau"
Ibunya Embun memasak dengan terus berlinang air mata. Dia ingin memercayai Embun, tapi semua hal yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri membuatnya enggan untuk memercayai putrinya tunggalnya itu.
Embun menoleh ke wanita paruh baya yang berwajah cantik dan lembut itu untuk bertanya, "Nenek bukan penculik anak di bawah umur, kan? Nenek beneran akan membawa saya ke rumah sakit? Nenek nggak akan menjual saya, kan?"
Maria tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku bukan penculik anak dan bukan penjahat, Nak" Lalu, ia memegang tangan Embun dan dengan ekspresi kaget dia sontak menyemburkan, "Astaga! Kenapa tangan kamu dingin banget, Nak? Memangnya udah berapa lama kamu duduk di halte bus? Dan kenapa kamu duduk di halte bus sepagi ini?"
__ADS_1
"Saya ingin pergi ke rumah kerabat saya, Nek" Sahut Embun.
Maria lalu mengelus pipi Embun, "Pipi kamu juga dingin banget. Kenapa mata kamu sembab dan pipi kamu ada jejak air mata? Kamu habis menangis?"
Embun menggelengkan kepala dan sambil tersenyum ia berkata, "Tidak Nek. Saya hanya menguap terus tadi. Saya masih ngantuk berat, jadi menguap terus"
"Oooooo" Maria tersenyum tulus ke Embun.
Mentari sangat bahagia, karena di pagi itu dia sudah berada di sebuah vila megah dan mewah bersama sang pujaan hati, yaitu Luke Donovan.
Luke ada pertemuan bisnis dengan kliennya di Malang-Jawa Timur. Dia memutuskan untuk menginap di vilanya sendiri. Luke pergi bersama Rendy selaku asisten pribadi dan Mentari selaku sekretaris pribadi. Rendy mengurusi semua berkas dan jadwal hariannya Luke Donovan. Mentari mengurusi semua keperluan hariannya Luke seperti, makan, minum, baju ganti, dan hal-hal lain yang bersifat harian juga bersifat pribadi.
Itulah kenapa, Mentari nekat mencuri berlian milik neneknya, supaya ia bisa tampil eye catching dan layak dipandang oleh orang lain kala ia berada di sampingnya Luke Donovan.
Sedangkan Luke, sama sekali tidak pernah memperhatikan Mentari kecuali untuk masalah kerjaan.
Luke Donovan masih berada di dalam vila. Pria tampan berdarah Italy itu, masih asyik mempelajari berkas kerjasama dengan klien baru di ruang kerja sebelum kliennya datang.
Mentari mengetuk dua kali pintu ruang kerja Luke, lalu ia masuk sambil membawakan kopi hangat dan satu rangkap roti tawar yang diolesi mentega dan diberi taburan meises kesukaannya Luke.
Mentari melihat Luke masih asyik membaca berkas dan tidak menyadari keberadaanya.
__ADS_1
Wanita cantik cucu sulung keluarga Sanjaya itu, berdiri di depan meja Luke dengan wajah semringah. Tanpa ia sadari ia senyum-senyum sendiri di depan meja kerjanya Luke. Mentari terus senyum-senyum sendiri sembari bergumam di dalam hati, Dia tampan sekali dan semakin lama dipandang malah semakin tampan.
Cukup lama berdiri di tengah ruang kerjanya Luke sambil terus memandangi wajah bosnya yang sangat tampan, Mentari lalu mencoba menarik perhatiannya Luke dengan berkata, "Tuan, saya bawakan kopi hitam tanpa krim dan roti tawar mentega meises kesukaan Tuan"
Luke tidak menyahut dan masih tetap asyik membaca berkas.
Melihat Luke belum mengangkat wajah dari tumpukan berkas, Mentari yang ingin dipandang oleh Luke, karena ia merasa sangat cantik di pagi itu, mencoba kembali untuk menarik perhatian Luke dengan berkata, "Tuan, kalau tidak segera diminum kopinya akan dingin dan rotinya juga akan mengeras kalau terlalu lama dibiarkan di udara terbuka"
Luke tidak menyahut lagi dan masih asyik membaca berkas. Pria tampan itu tidak mengangkat wajahnya sedikit pun.
Mentari langsung merengut. Namun, dia tidak kehilangan semangat. Cinta yang sangat dalam membuatnya terus gigih untuk mendapatkan perhatiannya Luke. Gadis cantik cucu sulung keluarga Sanjaya itu, kemudian mengangkat pelan cangkir kopi dan dengan sengaja ia tumpahkan sendiri sedikit kopi di atas blusnya sambil berteriak kencang, "Ouch! Panas, panas banget!" sembari ia letakkan kembali cangkir kopi di atas meja.
Karena kaget, Luke spontan mengangkat wajahnya dan jantung Mentari sontak berdegup sangat kencang saat ia mendapati dirinya bersitatap dengan Luke di jarak yang sangat dekat.
Luke menautkan alisnya dan dengan santainya ia bertanya, "Kenapa kau malah bengong di sini? Blus kamu kena kopi, tuh, dan kau teriak kepanasan, kan? Kenapa nggak langsung keluar dan ganti baju?"
"Ah, oh, emm, itu apa, Tuan?" Mentari mendadak Kelu dan membeku. Dia tidak rela bergerak untuk menjauhkan wajahnya dari wajah Luke Donovan.
Luke langsung menarik wajahnya sambil berkata, "Kenapa kau masih di sini?" Luke kemudian menyentuh cangkir kopinya dan menautkan alisnya, "Kau sudah berada di sini cukup lama, ya? Cangkir kopiku udah agak dingin, nih" Luke mulai menyipitkan kelopak matanya dan memandang Mentari dengan ekspresi kesal, "Lain kali setelah naruh kopi dan roti, langsung keluar dan jangan berdiri terlalu lama di depan mejaku! Cepat Keluar dan ganti baju sana! Ganggu aja!"
Mentari langsung menegakkan badannya Kemudian melangkah keluar dari ruang kerjanya Luke Donovan dengan wajah kesal dan kecewa.
__ADS_1
Mentari masuk ke kamarnya dan berganti baju dengan bergumam kesal, "Kenapa Tuan Luke tidak pernah mau memperhatikan aku? Aku udah pakai setelan baju mahal, sudah pakai parfum dan make up mahal, eh, masih saja ia cuekin. Apa yang salah dengan diriku coba? Aku cantik, banyak orang mengatakan kalau aku cantik, tapi kenapa Tuan Luke tidak pernah memperhatikan aku"