
"Ponsel baru Anda akan diantarkan ke kantor Anda jam sembilan, Tuan" Ucap Rendy sembari fokus mengemudi.
Luke spontan menyentuh saku kemejanya dan langsung berkata, "Sial! Aku lupa membawa ponselku yang dari Chika. Embun nggak keluar hari ini. Kalau aku pengen lihat wajah Embun, gimana dong"
"Anda bisa melihatnya di internet, Tuan. Nyonya muda sangat terkenal saat ini. Foto dan iklannya Nyonya muda, tembus satu juta lebih like-nya" Sahut Rendy.
"Itu nggak membuatku bangga dan senang. Kau justru kesal"
"Lho, kenapa Tuan? Kok malah kesal lihat Nyonya muda mengukir prestasi dan sangat terkenal saat ini"
"Semua orang, kan, jadi ngelihat wajah cantiknya Embun. Itu yang membuatku kesal. Aku tidak bisa lagi menyimpan wajah Embun untuk diriku sendiri. Makanya aku males lihat video itu. Ditambah lagi itu karyanya si Alex Norman brengsek"
"Ooooooo" Sahut Rendy. "Kalau begitu, kita perlu putar balik untuk mengambil ponsel pribadi Anda dulu, Tuan?"
"Nggak usah. Kita langsung ke kampusnya Embun saja. Kau nggak ingin Istriku sampai telat mengumpulkan tugas-tugasnya"
"Baiklah, Tuan"
"Dokter yang tadi memeriksa kandungannya Embun, namanya siapa?"
"Oooooo, Dokter Heni. Emangnya kenapa, Tuan?"
"Setahuku namanya Niken. Kok, jadi Heni?"
"Oooooo. Dia adalah teman saya sewaktu kami masih duduk di Taman Kanak-kanak. Namanya Niken Heni Saputro. Saya terbiasa manggilnya Heni, Tuan, hehehehe. Kami satu TK. Tapi, kami beda nasib. Dia jadi dokter dan saya berakhir di sini"
"Apa maksud kamu berkahir di sini?"
"Ah! Nggak papa, Tuan, hehehehe. Lupakan saja omongan ngaco saya. Emm, ada apa Tuan menanyakan Dokter Heni, eh, Niken?"
"Buat dia jadi Dokter tetap kandungannya Embun. Kalau Embun butuh kontrol kandungan, buat jadwal dengan Dokter itu"
"Baik, Tuan"
Daniel Donovan datang ke kantor kakak laki-lakinya dengan wajah semringah. Dia membawa tiket undangan pameran lukisan hasil karyanya yang akan diselenggarkan sore hari di hari itu. Pria tampan yang sama sekali tidak memiliki wajah Italia seperti LUke Donovan, karena Daniel lebih mirip sama Mamanya itu, rela menunggu cukup lama di ruang kerja Kakak laki-lakinya.
Tiba-tiba masuklah seorang pelayan wanita ke kamar dan langsung berkata, "Maaf, Nyonya muda. Ada tamu di depan bernama Alex Norman. Ingin bertemu dengan Anda"
"Untuk apa dia ke sini?" Tanya Embun.
"Saya tidak tahu, Nyonya"
"Katakan kalau aku nggak ingin bertemu dengannya, Mbak" Sahut Embun ke pelayan wanita itu.
"Benar Nyonya. Jangan temui dia! Tuan muda sudah tahu soal pemotretan dan syuting yang diam-diam Anda lakukan selama dua hari ini. Tuan muda marah karena itu" Sahut Mona.
Embun langsung berkata, "Kalau gitu, Mbak Mona aja, ya, tolong temui dia dan katakan kalau jangan ke sini lagi dan jangan menghubungiku lagi!"
"Baik, Nyonya" Sahut Mona dan langsung bergegas berbalik badan untuk menemui Alex Norman.
Alex Norman langsung bangkit berdiri dan berkata, "Kok, kamu? Embun mana?"
"Nyonya muda nggak ingin bertemu dengan Anda untuk sekarang dan di hari-hari berikutnya" Sahut Mona.
Alex Norman merogoh kantong bagian depan celana kainnya dan menyerahkan sebuah amplop putih berukuran postcard.
"Apa ini?" Tanya Mona sambil menerima amplop tersebut.
"Itu cek yang kemarin Luke lempar ke mukaku. Itu gajinya Embun, jadi Embun berhak menerimanya. Embun sudah bekerja dengan sangat baik dan dia berhak mendapatkan reward. Aku kasih cek dan bonus dua tiket liburan ke resortku yang ada di Lombok"
"Baiklah, akan saya serahkan amplop ini ke Nyonya muda"
"Sampaikan juga permintaan maafku, karena kemarin aku nekat memeluk dia, menyatakan cinta, dan menyebabkan masalah di rumah tangga dia. Aku nggak tahu kalau dia sudah menikah"
"Akan saya sampaikan" Sahut Mona.
Alex menghela napas panjang, lalu berkata, "Oke. Aku pamit. Oh, iya, satu lagi"
"Apa itu?" Tanya Mona.
"Katakan juga ke Embun, kalau aku tidak marah sama dia. Aku tetap menganggap dia spesial di hatiku. Katakan ke dia, kapan pun dia butuh pertolongan, aku akan selalu siap menolongnya"
"Baik, akan saya sampaikan"
"Terima kasih. Aku pamit"
Sepeninggalnya Alex Norman, Mona kembali ke kamar.untuk menyerahkan amplop pemberian dari Alex Norman ke Embun.
"Apa ini" Tanya Embun sambil menerima amplop itu.
__ADS_1
"Kata Alex Norman, amplop itu berisi cek dan dua tiket liburan di resortnya Alex Norman yang ada di Bali"
Embun diam membisu menatap amplop itu.
"Kenapa Anda diam, Nyonya?"
"Aku telah membohongi suamiku untuk cek ini" Embun menghela napas panjang kemudian tiba-tiba kedua mata Embu membulat cerah dan langsung berkata, "Aku ingin pergi ke kantor Suamiku. Aku ingin menemui Suamiku dan menjelaskan semuanya, lalu meminta maaf"
"Kalau demi kebaikan dan perdamaian dunia, saya mau mengantarkan Anda ke kantornya Tuan Luke" Sahut Mona dengan senyum senang.
"Benarkah?" Embun langsung bangkit berdiri dan menoleh ke kepala pelayan di kediamannya Luke Donovan.
Kepala pelayan itu langsung tersenyum dan berkata, "Kalau demi perdamaian dunia, saya akan dukung Anda, Nyonya muda"
"Benarkah? Mbak, mengijinkan saya pergi ke kantornya Mas Luke?" Embun berkata dengan wajah semringah.
"Iya, Nyonya" Sahut kepala pelayan itu dan Embun refleks memeluk erat tubuh kepala pelayan itu sambil berkata, "Terima kasih banyak, Mbak. Kalau gitu, tiket liburan gratis di resortnya Alex Norman, untuk Mbak dan suami Mbak saja"
"Sa....sama-sama Nyonya dan terima kasih banyak untuk tiketnya ini" Sahut kepala pelayan itu dengan ekspresi kaget.
Luke duduk di ruang rektor menunggu Reyhan datang dengan tidak sabar. Luke beberapa kali melihat arloji mahal yang menghiasi pergelangan tangan kirinya sambil berkata, "Setengah delapan belum datang? Hmm, manajemen waktu rektor kampus ini perlu dibenahi. Seorang Rektor, kok, datangnya kalah pagi sama staf kantor"
"Hah?! Tuan Luke? Kenapa Anda ada di kantor saya sepagi ini?"
Luke menoleh tajam ke asal suara."Kenapa baru datang? Kenapa staf kantor kamu udah pada datang dan kamu baru datang sekarang?"
Reyhan meletakkan ras kerjanya di kursi, laku duduk dan berkata, "Saya biasa datang jam segini, Tuan. Saya, kan, harus memberikan pembekalan dulu ke semua dosen di ruang sebelah, setelah selesai baru lah saya ke sini"
"Oooooo. Aku kira kamu males dan suka datang mepet waktu" Sahut Luke dengan wajah datar.
"Ada Tuan datang sepagi ini?"
Luke menyerahkan du lembar map mewah berwarna merah ke Reyhan.
Reyhan menerima semua map tersebut sambil bertanya, "Ini apa, Tuan?"
"Itu tugasnya Embun Sanjaya. Embun Sanjaya adalah Istriku. Dia hari ini tidak aku ijinkan kuliah. Jadi, aku bawakan tugas-tugasnya Istriku yang harus dikumpulkan hari ini ke kamu"
"Kenapa diserahkan ke saya? Kenapa nggak anda serahkan ke dosennya langsung? Kenapa Anda tidak ke kelas Istri Anda saja, Tuan?" Reyhan meletakkan kedua map itu di atas meja kerjanya dengan menarik masuk kedua alisnya.
"Tentu saja harus di kamu. Istriku tidak mengijinkan aku mendatangi kelasnya lagi"
"Istriku nggak ingin wajah tampan Suaminya ini dikagumi oleh wanita lain" Luke berucap sambil bangkit berdiri dan langsung pergi meninggalkan Reyhan begitu saja.
Reyhan menatap punggung Luke Donovan yang menjauh dengan bergumam, "Arrghhh! Sok cakep. Tapi, emang iya, sih, dia cakep. Tapi, kenapa setiap kali dia datang, selalu saja kasih tugas yang aneh-aneh ke aku"
Saat Embun mencangklong tas, ia mendengar ada bunyi dering ponsel yang masih asing di telinganya. Embun langsung mencari di mana asal suara dering ponsel tersebut dan setelah membuka bantal, baru lah Embun menemukan sebuah ponsel yang tampak asing baginya. "Apa ini ponselnya Mas Luke? Kalau, iya, kenapa aku baru tahu kalau Mas Luke ternyata punya dua ponsel?"
Embun menatap layar ponsel itu yang menyala terang dan ada tulisan My Love. "Siapa My Love?" Gumam Embun.
Karena risih mendengar dering ponsel dan merasa penasaran juga siapa itu my love, akhirnya Embun menggeserkan ibu jarinya ke kanan di layar ponsel itu, lalu ia bergegas menempelkan ponsel itu di telinganya.
Seketika itu, Embun mendengar suara seorang perempuan yang nyerocos terus tanpa jeda, "Luke! Aku sangat merindukanmu Sayang. Aku rindu belaian kamu, pelukan kamu, ciuman liar kamu, dan kehangatan kamu di ranjang. Empat bulan lagi aku akan pulang. Aku menang lomba baletnya dan aku akan merayakan kemenanganku ibu bersama kamu. Tunggu kedatanganku, ya, Sayang. Chika selalu merindukan dan mencintaimu. Aku juga menunggu janji kamu untuk melamar dan menikahi aku. Setelah aku pulang, aku akan serahkan diriku ke kamu sepenuhnya dan aku siap jadi Istri kamu, Luke"
Klik! Saking geramnya, Embun tanpa sengaja mematikan sambungan telepon itu dan wanita itu langsung menonaktifkan telepon genggam suaminya dengan napas menderu penuh kecemburuan. Embun kemudian berjalan keluar dari dalam kamarnya sambil menjejalkan telepon genggamnya Luke ke dalam tasnya.
Embun sampai di ruang kerjanya Luke dan langsung tersentak kaget, "Kok, Anda ada di sini?"
"Hai, Kakak ipar" Daniel langsung bangkit berdiri dan memberikan senyum cerianya ke Embun.
"Hai. Mas Luke di mana?"
"Entahlah. Biasanya Kakak nggak jam setengah sembilan sudah sampai kantor. Tapi, sampai jam segini, Kakak belum sampai sini" Sahut Daniel.
"Oh, baiklah. Silakan duduk kembali! Saya akan menyiapkan makan siang untuk Mas Luke"
"Baiklah" Sahut Daniel sembari duduk kembali. Tapi, belum sampai pantatnya menyentuh sofa, lift terbuka dan Luke melangkah keluar dari dalam lift bersama dengan Rendy. Daniel kembali berdiri tegak dengan senyum ceria.
"Kau?! Kenapa kau ada di sini dan........" Luke menoleh ke dapur bersih yang ada di sudut timur ruang kerjanya yang super luas itu
"Kakak ipar baru saja datang. Kalau aku udah dari tadi" Sahut Daniel.
Luke menoleh ke asal suara dan langsung menautkan alisnya, "Ada keperluan apa kamu ke sini?"
"Menyerahkan undangan. Nanti sore, galeri seniku udah digelar. Kakak datang, ya"
"Hmm" Sahut Luke sembari menerima dua tiket masuk dari Daniel.
Lalu, Daniel duduk kembali dan Luke langsung melotot, "Kenapa kamu duduk lagi? Kamu udah kasih undangannya, kan? Kenapa nggak pergi?"
__ADS_1
"Ini udah hampir jam makan siang dan aku ingin mencicipi masakan Kakak ipar. Aku ingin makan siang di sini bareng sama kalian dan........"
"Nggak boleh! Ini perdana Istriku masak untuk aku. Aku nggak akan biarkan orang lain ikut mencicipi masakannya"
"Tapi, kok, Kakak pelit banget. Aku pengen mencicipinya"
"Pergi atau aku akan........"
"Iya, iya, aku pergi. Sampaikan salamku untuk Kakak ipar"
"Hmm" Sahut Luke dengan acuh tak acuh.
Rendy langsung mengantarkan Daniel keluar dari dalam kamarnya Luke.
Luke langsung meraih remote dan mengunci pintu ruang kerjanya. Dia menunggu Embun selesai masak sembari membaca berkas di sofa.
Beberapa detik kemudian Embun datang dan duduk di sebelahnya. Embun langsung berkata, "Mas, makan yuk! Aku masak. nasi goreng seafood dan ada potongan mangga yang kemarin aku petik dari kebun yang ada di kampus"
Luke diam membisu.
"Mas, aku ke sini mau kasih ini ke Mas" Embun meletakkan sebuah amplop di tas pangkuannya Luke.
"Apa itu?" Luke bertanya dengan masih membaca berkas.
"Cek, Mas. Aku pengen mencari uang sendiri untuk pengobatan Ibu. Karena, aku nggak ingin membebani Mas lagi dan lagi. Mas udah banyak membantu masalah keluargaku selama ini. Aku minta maaf kalau aku bohong selama ini. Itu karena, Mas tidak ijinkan aku bekerja. Aku sungguh-sungguh minta maaf, Mas. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Ke depannya, aku tidak akan pernah berbohong lagi"
Luke masih diam membisu dan membiarkan amplop itu tetap berada di atas pangkuannya.
Embun lama-lama merasa kesal karena dicuekin terus. Akhirnya wanita itu berkata, "Kalau misalnya yang meminta maaf saat ini adalah Chika, apa Mas akan tetap cuek seperti ini?"
Luke langsung meletakkan berkas di sampingnya dan mengambil amplop dari pangkuannya dan meletakkan. amplop tersebut di atas meja sofa, lalu menoleh ke Embun untuk bertanya, "Apa maksud kamu?"
"Tadi Chika kamu nelpon, Mas. Ponsel kamu ketinggalan di rumah. Kamu kenapa nggak bilang kalau punya dua buah ponsel. Kamu juga nggak bilang kalau kamu masih menyimpan nama Chika di ponsel kamu dengan nama Mu Love. Cih! So sweet sekali, ya?!" Embun bersedekap dan nyerocos tanpa henti sambil melotot ke Luke dengan napas menderu penuh amarah.
"Lho, hei! Harusnya siapa yang marah di sini?! Kamu udah bikin aku kesal dan........"
"Aku udah jelaskan permasalahannya secara jujur dan aku udah minta maaf. Tapi, Mas terus cuekin aku. Kalau saat Chika yang ada di depan Mas, apa Mas juga akan bersikap sama?"
"Tapi, aku tidak......."
"Jawab dengan jelas! Kedudukan aku di hati Mas itu seperti apa? Dan kedudukan Chika di hati Mas itu seperti apa? Jelaskan!"
Luke menelan air liurnya dengan susah dan kemudian berkata, "Tentu saja beda. Kamu Istriku dan Chika sudah nggak ada sama sekali di hatiku"
"Bohong! Kalau Chika sudah nggak ada di hati Mas, kenapa masih ada nama My Love di ponselnya Mas. Lalu, kenapa ponsel Mas ada dua dan aku baru tahu"
"Yang sering kamu lihat adalah ponselku yang baru. Aku beli ponsel couple sejak kamu masuk ke dalam pikiranku. Lalu, ponsel yang ada nama My love, adalah ponsel pemberiannya Chika. Kemarin, ponselku aku banting, pas aku terima rekaman video kamu dipeluk sama Alex Norman dan Alex Norman menyatakan cinta ke kamu dan ........"
"Aku menolaknya. Aku bahkan menamparnya, Mas"
"Aku sudah tahu itu dan aku lega ternyata kamu nggak selingkuh. Lalu, kemarin malam ponsel dari Chika itu aku aktifkan kembali untuk menelepon klienku. Aku malas menemui klienku semalam dan aku jadwalkan ulang pertemuan bisnisku dengan klienku jam sembilan hari ini"
"Sekarang, di mana ponsel itu?"
"Ada di dalam tasku"
"Ambil dan bawa kemari! aku akan tunjukkan sesuatu ke kamu"
Embun mengambil ponsel tersebut dari dalam tasnya dan memberikannya ke Luke.
Luke mengaktifkan ponsel tersebut dan menunjukkan layar depan, "Kau lihat foto siapa ini?"
"Fo.....fotoku, pas tidur kemarin? Mas mengambil fotoku semalam?"
"Iya. Aku tidak tidur bareng kamu, karena kesal. Untuk menggantinya, aku foto diri kamu dan aku memeluk ponsel ini sebagai gantinya kamu"
"Tapi, kenapa masih ada nama My love di situ"
"Kamu blokir dan hapus saja nomer itu. Atau kalau kamu mau, kamu kasih aja ponsel itu ke Mona atau siapa pun terserah kamu" Luke menyerahkan kembali ponsel itu ke Embun.
"Lalu, kenapa Chika ngomong kalau dia akan pulang dan akan menikah dengan Mas dan......"
"Aku sudah menikah. Aku nggak akan menikah lagi"
"Benarkah?"
Salah satu tangan Luke menarik tengkuk istri imutnya dan mulai memagut bibir ranum dengan penuh gairah yang menggebu tanpa kelembutan seperti yang ia lakukan semalam sambil berkata, "Aku hanya menikah sekali dan itu sama kamu"
"Mas, ini di ruang kerja. Mas! Ah! nanti aja ya di rumah." Embun berucap sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan dan ciuman suami tampannya.
__ADS_1