Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Mendung


__ADS_3

Embun memasak sayur gudeg yang bisa dimakan di malam hari dan bisa dipanasi esok hari untuk sarapan. Ia juga memutuskan untuk sekalian mengungkep ayam sehingga besok, ia tinggal menggorengnya. Setelah mencuci semua perabot yang dia pakai untuk memasak, Embun membawakan nasi dan sayur ke kamar untuk ibunya.


"Aku suapi ya, Bu" Embun membantu ibunya untuk duduk di tepi ranjang.


"Nggak usah. Ibu bisa makan sendiri. Kamu makan aja sana. Semua pasti menunggu kamu di meja makan"


Embun tersenyum dan menggelengkan kepala, "Aku sudah ijin sama Nenek kalau akan makan berdua dengan Ibu di kamar dan Nenek mengijinkan"


"Kok tumben?"


"Itu karena cek yang aku kasih ke Nenek nominalnya sangat besar, Bu"


"Kok kamu bisa dapat cek dengan nominal besar dari Grup Donovan?"


Embun menunduk. Dia tidak berani menatap kedua bola mata ibunya saat ia mengucapkan kebohongan, "Aku ikut lomba dan aku menang. Hadiahnya uang dalam bentuk cek"


"Ooooo, begitu. Syukurlah. Kamu memang anak yang cerdas" Ibunya Embun yang lugu memercayai kebohongan Embun.


Setelah membereskan meja makan dan mencuci semua perabot makan, Embun menyusul ibunya untuk tidur. Namun, Embun belum juga bisa memejamkan kedua matanya. Dia terus dibayangi kejadian saat kegadisannya direnggut oleh pria kejam. Embun lalu mengelus perut ratanya sambil bergumam di dalam hati, aku sudah minum pil KB dalam perjalanan aku ke kampus. Seharusnya aku tidak hamil. Jangan sampai aku hamil. Aku nggak mau mengandung anak pria kejam, arogan dan aneh itu. Aku nggak mau bertemu dan berurusan dengan pria itu lagi. Hiihhhhh! Amit-amit!


Keesokan harinya Luke Donovan memutuskan untuk pergi ke apartemen kekasihnya. Dia ingin melampiaskan semua stres yang menjerat jiwa dan raganya ke kekasihnya. Namun, Luke Donovan harus menelan kekecewaan dan malah bertambah lagi stresnya saat ia membaca selembar kertas yang di letakkan di atas meja sofa, "Maafkan aku Luke. Aku harus segera berangkat ke Italy. Masa karantina peserta lomba balet Internasional dimajukan tanggalnya. Maaf nggak sempat nelpon kamu. Yang selalu mencintaimu, Fransisca Yofie (Chika imut kamu)"


Luke meremas kertas itu sambil duduk lemas di atas sofa. Ia menyandarkan kepalanya di sofa sembari tersenyum lelah, lalu bergumam, "Cinta? Apa benar kau mencintaiku? Aku rasa kau hanya mencintai dirimu sendiri dan impianmu itu, Ka. Aku yang terlalu bodoh menjadi budak cinta kamu selama ini, Ka. Cih! Chika imut apa. Aku tidak melihatmu imut sama sekali saat ini. Kau tega meninggalkanku, dasar brengsek" Luke melemparkan suratnya Chika yang sudah ia remas membentuk gumpalan ke tembok dengan sangat kesal. Pria berparas sangat tampan itu lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan apartemen kekasihnya dengan wajah mendung.


Luke Donovan dihadang oleh Rendy, "Bos, Anda ditunggu di ruang rapat"


Luke masuk ke ruang rapat tanpa ekspresi dan wajahnya masih tampak mendung.


Luke mengikuti rapat dengan wajah mendung dan Rendy sudah menyiapkan antisipasi jika tiba-tiba mendung di wajah Luke berubah menjadi geledek yang menyambar.


"Bagaimana Presdir?" Tanya manajer perencanaan program peluncuran produk makanan kemasan terbaru.


"Hmm" Sahu Luke dengan wajah datar dan mendungnya.


"Maksudnya, hmm?"


Rendy langsung menyahut, "Presdir setuju dengan usulan dana dan program pemasaran yang Anda ajukan tadi, Pak Broto"


"Lalu, kita akan memakai model yang mana? Fransisca Yovie, kan, terbang ke Italy dan mengajukan cuti kerja sama dengan perusahaan ini mulai kemarin sampai......."


"Aku tahu!!!! Sial! Kenapa harus kau ingatkan lagi?!!!!!!!" Luke menyipitkan kedua kelopak matanya dan menggelegarkan suaranya.


Rendy dan semua peserta rapat tersentak kaget.


Sewaktu semua peserta rapat dan Rendy menoleh ke Luke, Luke bangkit berdiri dan masih dengan kelopak mata yang menyipit, ia kembali menggelegarkan suaranya, "Aku melarang kalian semua membahas soal Chika lagi!!!!!!! Untuk model selanjutnya, biar Rendy yang milih" Luke langsung keluar dari ruang rapat tanpa permisi.


Dengan ekspresi kaget, Rendy menoleh ke punggung Luke, lalu menoleh ke peserta rapat dan langsung mengulas senyum canggung.

__ADS_1


Manajer tim perencanaan langsung bertanya ke Rendy, "Chika itu siapa, Pak Rendy? Seingat saya, tadi saya nggak sebut nama Chika"


Rendy semakin melebarkan senyum canggungnya, lalu berkata, "Chika itu nama panggilannya Fransisca Yovie dan kita lupakan saja soal Chika. Emm, untuk model selanjutnya, saya pilih Carolina B saja. Hubungi dia secepatnya dan suruh dia menemui saya secepatnya untuk membahas kontrak kerja sama kita"


"Baik"


"Oke. Kita tutup rapat kita hari ini. Untuk berkas yang perlu ditandatangani oleh Presdir, kalian kasih ke saya saja"


"Baik, Pak Rendy"


Embun memekik girang dan langsung meluncur ke butik. Dia diterima bekerja di butik mewah tempat para kaum Borjuis belanja baju, celana, rok, dress, blus, sepatu, tas, dan aksesoris lainnya. Embun bisa bernapas lega, karena tanpa harus menunggu lama ia mendapatkan pekerjaan baru.


Embun diijinkan bekerja di sore hari, karena ia harus kuliah di siang hari. Pemilik butik tersebut memberikan Embun jam kerja dari jam 6 perang sampai jam sebelas malam dengan gaji dua kali lebih besar dari gaji yang Embun diterima dulu saat ia masih bekerja menjadi pramusaji di sebuah klub mewah dengan jam kerja yang sama.


Luke yang stres dan butuh teman untuk melampiaskan stresnya, menelepon Douglas, "Kita party, yuk!"


"Kamu nggak marah sama aku? Aku, kan udah masukkan obat ke anggur kamu"


"Kamu,kan, disuruh orang. Orang itu yang salah bukan kamu. Untuk apa aku marah sama kamu"


"Makasih untuk pengertiannya, Bro. Tapi, maaf aku nggak bisa party selama setahun ini. Aku dan adikku masih dalam pengawasan polisi dan dalam pengawasan Nenek kamu"


Klik! Luke mendengus kesal dan mematikan begitu saja sambungan telepon itu. Lalu, ia menelepon Junior, "Kita party, yuk!"


"Aku nggak bisa. Aku dalam pengawasan Papaku. Nenek kamu juga mengawasi aku dengan sangat ketat. Aku nggak mau karena kebodohanku Papaku kehilangan pekerjaan dan kami jatuh miskin"


Klik! Luke membanting telepon genggam mahalnya di atas meja sambil mengumpat kesal, "Sial! Semua temanku masih dalam pengawasan. Lalu, aku harus gimana dan ke mana, nih?"


"Kamu di mana?"


"Di kantor"


"Belikan Nenek dress warna putih di butik M dan antarkan ke kantor Nenek segera"


"Lho, kok, aku?"


"Lalu siapa?"


"Kok bukan Daniel?"


"Daniel nggak tahu ukuran baju Nenek"


"Lho, emangnya aku tahu ukuran baju Nenek?"


"Cepat berangkat dan anter ke sini dress putih yang Nenek minta tadi atau Nenek akan........."


"Siap delapan enam, laksanakan!" Luke langsung mematikan telepon genggamnya dan langsung berangkat ke butik M.

__ADS_1


Luke langsung masuk melangkah lurus tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri saat karyawati butik M membukakan pintu untuknya. Karyawati itu terpesona dengan ketampanan Luke dan kedua bola matanya terus mengikuti arah perginya Luke, sampai-sampai temannya nyeletuk, "Hei! tutup kembali pintunya!"


Luke mengentikan langkahnya di depan meja kasir dan langsung berkata, "Ambilkan dress putih yang sesuai dengan ukuran Nyonya Maria Donovan"


"Ah, baik. Tunggu sebentar, Tuan" Karyawati yang berjaga di meja kasir, yang sudah berkerja cukup lama di butik M langsung masuk ke dalam untuk mengambilkan dress putih yang sesuai dengan ukuran dan kesukaan Maria Donovan. Dia hapal, karena ia sering melayani Maria Donovan yang merupakan pelanggan gold di butik M.


Penjaga kasir itu menepuk pelan bahu Embun sambil berkata, "Tolong bawa dua dress putih ini ke depan! Kasih ke pria tampan yang berdiri di depan meja kasir! Aku harus menerima telepon dari Bos"


Embun tersenyum dan menganggukkan kepala sembari menerima dua dress putih yang masih terlipat rapi dan masih berada di dalam kemasan plastik edisi khusus.


Embun berjalan ke depan dan setelah sampai di meja kasir, ia seketika mematung sewaktu ia bersitatap dengan pria yang dikatakan tampan oleh teman kerjanya.


Luke pun seketika mematung dan bergumam lirih, "Sial! Bahkan bayangannya mengikutiku sampai ke sini"


Embun kemudian memutuskan untuk bersikap santai dan berdiri diam di balik meja kasir sambil meletakkan dua dress putih secara perlahan di depan pria itu. Embun berdiri mematung dan menunggu pria itu mengucapkan sesuatu, karena dia merasa pria itu aneh dan dia tidak ingin terkena masalah lagi kalau dia duluan yang membuka suara


Alih-alih mengucapkan sesuatu, Luke menusukkan jari telunjuknya ke bahu kanannya Embun, tuk, tuk, tuk, sambil bergumam lirih, "Kok aku bisa merasakan tubuhnya dan ia nggak hilang?"


Embun melirik pundaknya dan masih diam mematung.


Lalu, Luke segera menarik tangannya, memejamkan mata dan bergumam dengan irama yang sangat cepat, "Kingkong badannya besar, tapi aneh kakinya pendek. Lebih aneh binatang bebek lehernya panjang, eh, kakinya kok pendek"


Embun langsung menautkan kedua alisnya dan membatin, emang aneh, nih, orang. Sebenarnya dia ini dukun atau apa, kok, merapalkan kata-kata aneh kayak gitu?


Luke membuka kedua matanya dan sontak berteriak kaget, "Hei! Kamu, Kok belum hilang?!" Luke bergidik ngeri dan langsung mengambil dress putih di depannya, berbalik badan dengan cepat, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan butik M dengan ekspresi ketakutan.


Embun langsung berteriak, "Hei! Anda belum membayarnya!"


Pundaknya Embun langsung ditepuk pelan oleh teman seniornya, "Nyonya Maria Donovan adalah Nenek dari pria tampan itu itu. Beliau udah deposit di butik ini dan jika depositnya udah habis, Nyonya Maria Donovan akan deposit lagi. Nyonya Donovan nggak pernah belanja baju di mana pun soalnya. Beliau hanya belanja di butik ini"


"Oooooo" Sahut Embun.


Teman seniornya Embun langsung bertanya, "Tapi, kenapa cucunya Nyonya Maria sepertinya ketakutan banget tadi? Kamu apakan dia?"


"Saya nggak ngapa-ngapain. Saya cuma berdiri diam di depan dia. Entahlah kenapa ia langsung ngacir ketakutan. Apa karena saya ini jelek banget, ya, Kak, jadi ia ketakutan sewaktu ia melihat wajah saya?"


"Hush, ngaco kamu. Kamu nggak jelek, kok. Kamu cantik, hanya saja kamu kurang memperhatikan penampilan kamu" Sahut temannya Embun sambil menepuk pelan bahunya Embun.


Luke mengentikan mobilnya di depan mall milik Neneknya dan berlari masuk ke dalam lift. ia mengelus dadanya dan berkata, "Gila! Kenapa bayangan cewek itu selalu mengikuti aku ke mana pun aku pergi"


Sewaktu Maria melihat Luke datang terengah-engah dan wajah Luke pucat pasi, ia langsung menangkup pipi cucu kesayangannya sambil bertanya, "Kau kenapa? Kau sakit?"


Luke mengglengkan kepala.


"Kenapa kau terengah-engah dan wajah kamu pucat kayak gini?"


"Aku habis melihat hantu kucing liar, Nek"

__ADS_1


"Aish! Mulai ngaco, nih, anak" Maria langsung mengambil dua dress dari tangan Luke dan masuk ke dalam kamar pribadinya untuk berganti baju.


Luke langsung meluncur ke lemari es dan menenggak habis satu botol kecil air mineral dingin, lalu ia bersandar di pintu lemari es untuk meredakan degup jantungnya.


__ADS_2