
Gilang duduk di sofa setelah menutup pintu kamar hotel. Dia terpana melihat interior di dalam kamar itu, karena ia belum pernah masuk ke kamar hotel VVIP sebelumnya. Gilang lalu mencoba menghubungi Embun dan dia kembali menghela napas panjang saat ia mendengarkan suara merdu operator yang menjawab panggilan teleponnya alih-alih Embun.
Gilang bergumam, "Aku yakin kalau kamu dipaksa, Mbun. Aku nelpon kamu, karena aku ingin kamu tahu, aku siap bertanggung jawab kalau kamu hamil"
Maria Donovan menatap wanita muda yang berdiri di depannya dengan kepala tertunduk.
Maria Donovan kemudian bertanya, "Siapa nama kamu?"
"Silvia, Nyonya" Silvia masih belum berani mengakar wajah.
"Kenapa kau bisa punya video di private room ini?" Maria melirik telepon genggam Silvia yang ada di genggamannya.
Masih dengan menunduk, Silvia menjawab, "Sa.....saya kebetulan ada di situ. Saya pikir, saya akan dapat sesuatu yang menarik kalau saya share video itu, Nyonya"
Maria Donovan mulai mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan wajah penuh amarah.
Silvia semakin menundukkan kepalanya dan sekujur tubuhnya mulai bergetar ketakutan.
"Kamu kenal dengan Luke Donovan?"
Silvia menggeleng dengan masih menundukkan kepalanya.
"Kalau dengan Embun Sanjaya?"
"Saya kenal dengan Embun, Nyonya. Pacar Embun, teman saya sejak SMP" Sahut Silvia tanpa mengangkat wajahnya.
"Angkat wajah kamu dan lihat aku!" Maria mulai menggeram.
Silvia sontak mengangkat wajahnya dan langsung bersimpuh sambil berkata, "Maafkan saya Nyonya. Saya cuma membagikan video itu ke Neneknya Embun dan Gilang. Saya nggak bagikan video itu ke sosial media manapun"
"Berarti kamu berkata bohong saat kamu bilang kalau kamu ingin mendapatkan sesuatu yang menarik dengan video ini. Lalu, kenapa kamu hanya bagikan video ini ke Neneknya Embun dan pria yang bernama Gilang"
"Maafkan saya. Hal menarik yang saya bilang bukanlah uang. Tapi, saya ingin Embun menderita"
"Kenapa begitu? Apa salah Embun sama kamu?"
"Ka ...karena Gilang lebih memilih jadian dengan Embun. Padahal saya yang duluan dekat sama Gilang. Saya yang duluan mencintai Gilang"
"Cih! Kau bilang cinta?" Maria langsung menggebrak meja dan berteriak, "Bawa wanita egois, jahat dan keji ini keluar dari ruanganku! Bawa dia ke kantor polisi dan ......."
__ADS_1
Silvia langsung bangkit berdiri dan langsung mengatupkan kedua tangan di depan dada sembari menangis dia memohon, "Maafkan saya, Nyonya! Saya nggak akan mengulanginya lagi. Saya, kan, tidak melakukan kejahatan yang sampai membunuh orang. Kenapa saya harus dibawa ke kantor polisi?"
"Cih! Kejahatan kamu lebih dari sekadar membunuh orang. Kalau Embun tidak bertemu denganku, apa jadinya Embun di luaran sana tanpa uang, tanpa rumah untuk tempat tinggal. Kau pikir itu bukan kejahatan yang keji? Bawa dia ke kantor polisi dan pakai telepon genggamnya ini sebagai bukti kejahatannya. aku tuntut dia seberat-beratnya" Maria menggertakkan giginya
Silvia terus berteriak, "Maafkan saya Nyonya!!!!!" Saat dirinya dibawa pergi secara paksa oleh Dona.
Mentari duduk di ruangan yang penuh dengan orang. Ruang administrasi lebih sempit dari ruangannya yang dulu. Dulu dia bisa sendirian di ruangannya, namun di bagian administrasi, dia harus berada di satu ruangan dengan sepuluh orang.
Karyawan dan karyawati yang berada di ruang administrasi langsung menatap Mentari dengan tatapan menusuk, mereka juga saling berbisik dengan asumsi mereka masing-masing. Mencari jawaban atas pertanyaan kenapa sekretaris pribadinya Tuan Luke Donovan yang terkenal angkuh dan galak, dipindahkan ke bagian administrasi. Ibaratnya Bangsawan kelas atas turun tahta dan berakhir di desa terpencil menjadi rakyat jelata.
Mentari mendengus kesal dan bergumam lirih, Lihat aja nanti! Aku akan balas semua perlakuan kamu ini Embun"
Luke tersenyum melihat Embun ternganga melihat berbagai macam makanan tradisional tersaji, berjejer rapi dan cantik, di atas meja makan yang bercokol di pojok ruang kerjanya Luke yang sangat luas.
Embun menoleh ke suami tampannya untuk bertanya, "Ada acara apa, Tuan? Perusahaannya Tuan ulang tahun atau apa? Kenapa ada banyak makanan di sini?"
"Aku lihat dan aku perhatikan, kamu nggak begitu bersemangat dengan menu yang ada u rumah. Lalu, aku suruh Rendy mencari tahu makanan favorit kamu. Ibu kamu kasih tahu ke Rendy dan taraaaaaa!!!!! Ini semua makanan favorit kamu"
Embun tanpa sadar memegang pergelangan tangan Luke dan dengan kedua mata berkaca-kaca, ia berkata, "Terima kasih banyak Tuan. Saya memang merindukan makanan ini. Saya tidak begitu menyukai makanan western seperti yang selalu tersaji di rumah Anda. Maaf"
Luke menunduk untuk melihat pergelangan tangannya yang digenggam oleh Embun. Embun langsung melepaskan pergelangan tangan Luke sambil berkata, "Maaf. Saya lancang memegang pergelangan tangan Anda"
"Ini semua dimasak oleh chef rumah juga. Aku minta chef rumah datang ke sini dan masak di sini. Aku nggak mau anakku makan makanan di luaran sana yang kena debu dan pasti dihinggapi sama lalat. Aaaaaa! Cobalah enak tidak?"
Embun membuka mulutnya saat Luke mengarahkan satu sendok gado-gado ke mulutnya.
"Enak tidak?" Luke bertanya dengan serius, karena dia tidak ingin Embun muntah dan lemas.
Embun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu ia memberanikan diri berkata, "Tuan bisa coba sendiri. Enak tidak kalau menurut Anda?"
"Aku tidak pernah makan beginian. Lagipula aku pergi kacang tanah. Makanan ini mengandung kacang tanah, kan?"
"Iya. Makanan ini gado-gado mengandung kacang tanah. Kalau Anda secara tidak sengaja makan kacang tanah, apa yang akan terjadi, Tuan?"
"Aku akan sesak napas dan kalau tidak segera ditolong, aku bisa mati"
Embun langsung membungkam mulut Luke dan dengan cepat menariknya Kembali saat Luke menatapnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba membungkam mulutku?"
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya cuma tidak suka mendengar kata mati. Saya tidak ingin hal buruk tejadi pada Anda, Tuan"
Luke sontak mengulas senyum semringah. Lalu, ia bertanya ke Embun dengan senyum semringah itu, "Kenapa kamu tidak ingin hal buruk terjadi pada diriku?"
Luke berharap Embun menjawab, karena saya menyukai Anda, Tuan.
Namun, jawaban yang keluar dari mulutnya Embun adalah, "Karena Anda, Papa dari anak saya. Anak kita"
Luke tersenyum dan dengan perasaan sedikit kecewa dia kembali berkata, "Aaaaaa! Ayo habiskan! Makan yang banyak biar anakku gendut dan tumbuh sehat di dalam perut kamu"
Embun meraih sendok dari tangannya Luke dan berkata, "Saya bisa makan sendiri. Saya suka makanan ini dan saya nggak akan muntah, Tuan. Anda silakan makan. Temani saya makan, Tuan"
"Itu kemauan kamu atau kemauan anakku?" Luke bertanya dengan harapan Embun menjawab, itu kemauan saya, Tuan.
Namun, Embun menjawab, "Saya rasa, anak kita yang minta makan ditemani sama Papanya"
Luke kembali tersenyum dengan perasaan sedikit kecewa. Lalu, ia berucap, "Baiklah. Aku akan makan. Emm, enaknya aku makan yang mana, nih?"
"Anda nggak kenal dengan semua makanan tradisional ini? Makanan yang biasa dijajakan di kaki lima ini, Tuan?"
Luke tersenyum dan sambil mengelus tengkuknya ia berkata, "Aku bahkan nggak tahu nama semua makanan ini, hehehehe. Aku tahunya gado-gado aja karena Rendy pernah makan gado-gado"
"Emm, ada mie kethoprak, batagor, sate ayam, itu semua ada kacang tanahnya. Yang mana, ya, yang aman untuk Anda makan? Ah! Ini, ada empek-empek. Anda pasti pernah makan, kan?"
Luke menggelengkan kepala dan berkata, "Aku nggak pernah jajan di luar dan nggak pernah makan empek-empek, bakso, mie ayam, dan semua makanan yang ada di meja ini"
"Yang benar, Tuan?"
"Hmm"
"Tapi, kenapa? Kalau Tuan bertemu klien dan makan di restoran, Anda pesannya apa?"
"Cake dan kopi. Karena, aku udah cukup kenyang dengan makanan yang aku makan di rumah"
Embun menatap Luke dengan tatapan prihatin. Dia bertanya dalam hati, lalu masa kecilnya kayak apa, ya, kalau dia nggak pernah jajan di luar?
Luke kemudian berkata, "Suapi aku empek-empek ini! Aku juga ingin merasakan makan disuapi sama kamu" Luke dengan santainya membuka mulut di depan Embun.
Embun langsung tersedak dan meminum air saat ia melihat Luke membuka mulut minta disuapi.
__ADS_1