
Luke duduk di tepi ranjang dan meletakkan dua gelas berisi susu cokelat dan susu strawberry di atas nakas, lalu menatap Embun untuk bertanya, "Kamu lebih suka rasa apa?"
"Saya suka rasa buah, Tuan. Saya suka rasa masam. Ada ceritanya kenapa saya suka rasa masam. Tuan mau mendengarnya?"
"Iya. Aku mau mendengarnya" Luke berkata dengan wajah datar yang serius.
Embun tersenyum dan berkata, "Terima kasih Tuan mau mendengar cerita saya. Emm, Itu Karena sejak kecil, tetangga sebelah rumah sering ngasih mangga. Ada beberapa mangga masih mentah dan saya sering dikasih mangga yang mentah sama Nenek saya. Jadi, saya terbiasa dengan rasa masam dan lama kelamaan saya suka rasa masam"
"Kenapa dikasih yang mentah?"
"Karena, yang matang untuk Kakak, Kakek dan nenek saya"
Luke tanpa sadar kembali menggertakkan gerahamnya. Lalu, ia mengambil gelas yang berisi cairan berwarna pink. Dia tengah fokus memikirkan anaknya yang butuh susu Dia menyendok susu rasa strawberry itu sambil berkata, "Kalau gitu kamu langsung coba aja yang rasa strawberry. Aku yakin kamu nggak akan muntah lagi. Aaaaaa!"
Embun memencet hidung dan membuka mulutnya.
"Aman, kan? Kamu nggak muntah, yesss! Luke memekik senang. Lalu ia berkata, "Ah! Anakku memang perhatian sama kamu. Dia jaga kamu agar tidak muntah lagi" Luke spontan mengusap perut Embun sambil berkata, "Anak pintar, habiskan susunya, ya?! Biar kamu tumbuh sehat dan tinggi kayak Papa"
Embun menunduk untuk melihat tangan Luke yang bergerak ke kanan dan ke kiri di atas perutnya yang masih terlihat rata. Seketika jantungnya kembali berdegup kencang abnormal.
Luke menarik tangannya dari perut ratanya Embun, lalu menyendok lagi susu rasa strawberry dan berkata, "Aaaaaaa!"
Embun langsung meraih sendok dan gelas dari tangan Luke sambil berkata, "Sa.....saya akan minum sendiri, Tuan"
"Oke" Luke melepaskan sendok dan gelas ke tangan Embun.
Embun memasukkan sendok ke dalam gelas dan menatap Luke sambil bertanya, "Kenapa Anda masih duduk di sini?"
"Aku akan tungguin kamu minum susu. Anakku kalau makan atau minum tanpa aku tungguin akan marah dan bikin kamu mual lalu muntah, kan? Maka kau akan tungguin kamu minum susu. Ayo buruan minum susunya! Harus habis!"
Kenapa harus ditungguin? padahal aku berniat membuang susu ini di kamar mandi. Aku memang nggak muntah minum susu rasa strawberry ini, tapi aku masih eneg habis muntah-muntah banyak sekali tadi. Batin Embun.
"Kenapa malah diam mematung? Ayo buruan diminum! Nanti esnya keburu habis dan susu itu jadi nggak enak" Luke tersenyum ke Embun.
Deg! Jantung Embun menjadi tambah tidak karuan saat ia melihat Luke mengulas senyum. Senyum yang belum pernah Embun lihat sebelumnya dan senyum itu membuat Luke tampak seribu kali lebih tampan dari biasanya.
__ADS_1
"Lho, kok masih melamun? Ayo cepetan diminum susunya"
Embun langsung memencet hidungnya dan meminum susu rasa strawberry itu sampai habis.
Luke kembali mengelus perut Embun tanpa permisi sambil berucap, "Anak pintar. Kamu ternyata punya selera yang sama dengan Ibu kamu. Kamu suka yang rasa buah, ya? Mulai sekarang Papa akan belikan susu rasa strawberry yang sangat banyak untuk kamu dan ........."
Pluk! Luke tersentak kaget saat ia merasakan sesuatu yang berat menimpa bahunya.
Luke menoleh dan seketika tersenyum. Luke melepas pelan kacamata Embun dan meletakkannya di nakas setelah itu, lama sekali, Luke hanya menatap wajah Embun.
Lalu, dengan perlahan ia meletakkan kepala Embun di atas pahanya. Rambut Embun yang sudah lurus jatuh tergerai indah di atas paha Luke. Tanpa Luke sadari, ia membelai rambut itu.
Luke senang mengamati ekspresi Embun yang terlihat tenang dan damai.
Seraya memperhatikan setiap jengkal wajah Embun, Luke menyadari kalau kulit Embun yang halus dan lembut itu terlihat pucat, bulu matanya yang ternyata lentik dan panjang meninggalkan bayangan di kedua pipi, dan bibirnya Embun yang sedikit terbuka membuat jantung Luke seketika itu berdegup kencang, hatinya berdesir hangat dan perutnya kembali merasakan berjuta sayap kupu-kupu.
Luke tidak mampu melepaskan tangan dari pipi Embun saat tangannya beralih mengelus pipinya Embun. Kehangatan dan kelembutan pipi itu, juga kehalusan rambutnya, membuat Luke merasa tersiksa.
Luke kemudian bergumam lirih, "Aku senang dia bisa tidur dengan damai dan nyaman di dekatku. Aku senang ia tidak takut lagi sama aku. Mulai sekarang, aku tidak akan pernah menyakitinya dan aku balas semua orang yang telah menyakitinya" Luke lalu merebahkan Embun dengan pelan di atas bantal. Lalu, ia mencium perutnya Embun dan berbsisik di sana, "Anak pintar, jaga Ibu kamu dengan baik, ya?! Papa akan kerja dulu"
Luke kembali bergumam sembari mengusapkan pelan ibu jarinya di atas bibirnya Embun, "Bibir Chika aja kalah menarik jika dibandingkan dengan bibir ini"
Luke tanpa sadar terus memajukan wajahnya ke wajah Embun dan saat bibirnya hampir menyambar bibir Embun, dia langsung menegakkan wajahnya sambil mengumpat, "Sial! Apa yang aku pikirkan barusan? Aku nggak akan menyentuhnya tanpa ijin darinya" Seketika itu juga wajahnya terasa panas, jantungnya berdetak sangat kencang dan hatinya kembang kempis tidak karuan. Luke langsung bangkit berdiri dan menenggak habis es susu cokelat yang masih utuh untuk meredakan rasa panas yang ada di sekujur tubuhnya. Lalu, pria tampan itu mengangkat dua gelas yang telah kosong dan berlari keluar dari dalam kamar dengan dada yang masih naik turun tidak karuan.
Luke menyerahkan dua gelas yang telah kosong ke karyawatinya sambil berkata, "Bawa keluar gelas ini dan jangan biarkan siapa pun masuk ke sini! Aku ingin menenangkan diri dulu"
"Baik, Tuan" Sahut karyawati tersebut.
Karyawati itu keluar dari dalam ruang kerjanya Luke dan sambil menenteng dua gelas yang sudah kosong, ia bergumam bingung, "Siapa wanita muda yang ada di ruang kerjanya Tuan? Kenapa dia dikasih susu? Dan kenapa Tuan tampak sangat menyayanginya? Apa dia keponakannya Tuan?"
Luke duduk di kursi kerjanya dan langsung menyandarkan kepala sambil berulangkali menghirup napas dalam-dalam.
"Tuan, apa Anda perlu dipanggilkan dokter?"
Luke langsung menegakkan badannya sambil memekik kaget, "Astaga! Kenapa kamu ada di sini?"
__ADS_1
"Saya ada di sini sejak Anda memijit tengkuk Nyonya muda di toilet, lalu Anda membopong Nyonya Muda ke kamar, lalu Anda membawa susu cokelat dan strawberry ke kamar, dan sekarang Anda berakhir di sini dengan sesak napas. Anda sakit? Perlu saya panggilkan dokter, Tuan?"
Luke langsung membuka berkas sambil berkata, "Aku nggak papa"
"Anda yakin? Wajah Anda merah dan Anda terengah-engah. Itu gejala sakit jantung tahap awal, lho Tuan. Jangan dianggap sepele dan......"
"Aku bilang aku nggak papa!" Luke mendelik ke Rendy dan Rendy langsung mengunci mulutnya.
"Bagaimana hasil rapat yang tadi?" Luke menatap Rendy dengan wajah serius.
"Semua udah beres. Kita udah mulai syuting. Model yang saya pilih juga sangat profesional dan kooperatif. Dia juga udah setuju dengan honor yang kita tawarkan. Tapi, Anda harus datang ke lokasi syuting karena ini syuting perdana, Tuan"
"Tapi, Embun ada di kamar. Aku nggak mau meninggalkan dia sendirian di sini. Dia belum pernah ke sini. Dia akan ketakutan dan kebingungan kalau aku nggak ada di sini pas dia bangun nanti"
"Saya akan tinggalkan pesan untuk Nyonya muda" Rendy langsung membuka notebook-nya dan menulis pesan untuk Nyonya mudanya di sana.
"Aku akan ke kamar untuk naruh pesan ini" Luke bergegas berlari ke kamar.
Luke menindih kertas berisi pesan, aku harus meninjau lokasi syuting. Tunggu aku pulang. Aku akan pulang cepat, dengan paper bag yang berisi telepon genggam baru yang dia beli untuk Embun.
Luke kembali menatap wajah Embun dan dia nekat mendaratkan kecupan di kening Embun.
Beberapa menit kemudian, Luke sudah berada di lantai satu di ruang 01. Ruang tersebut khusus diperuntukkan untuk keperluan syuting produknya. Luke duduk di kursi dan beberapa kali dia melirik jam tangan lalu menoleh ke Rendy untuk bertanya, "Berapa lama lagi syutingnya kelar? Ini udah hampir sore. Embun butuh makan sore dan aku harus menyuapi anakku makan"
"Sabar, Tuan. Lima belas menit lagi kelar"
"Aku udah nanya empat kali dan kenapa jawabanmu sama terus? Lima belas menit lagi kelar? Tapi, kenapa belum kelar-kelar juga sampai sekarang?"
"Sabar, Tuan. Kali ini beneran lima belas menit lagi kelar" Rendy mulai kewalahan menghadapi bosnya yang mulai rewel.
Embun keluar dari dalam ruang kerjanya Luke setelah membaca kertas yang Luke tinggalkan di kamar. Embun memutuskan keluar dari ruangannya Luke, karena dia teringat Mentari berkerja di Grup Donovan. Embun berniat mencari ruang kerjanya Mentari untuk menanyakan soal perhiasan berlian milik neneknya dan kalung emas dengan liontin giok berbentuk kura-kura berwarna hijau pemberian papanya di hari ulangtahunnya yang kelima, sebelum papanya meninggal dunia.
Embun yang cerdas mengira-ngira sambil bergumam, "Kakak ruangannya pasti tidak jauh dari ruang kerjanya Tuan Luke. Kakak pernah bilang kalau dia sering menghadap Tuan Luke"
Embun tersenyum senang, saat ia mendapati kakak tirinya masuk ke sebuah ruangan. Dengan setengah berlari, Embun menyusul masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
Mentari tersentak kaget dan sontak menyemburkan tanya, "Kenapa kau bisa ada di sini?! Kenapa kau bisa tahu ruang kerjaku?!"