Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Alice Norman


__ADS_3

Gilang menghela napas berat dan bergumam sambil berjalan menuju ke pelataran parkir, "Apakah aku terlalu serakah jadi orang kalau aku meminta waktu mempertemukan aku dengan Embun lagi dan aku bisa peduli padanya lagi layaknya seorang kekasih?"


Embun menjawab, "Pertemuannya lancar,.Mas. Saya dan Gilang udah putus"


Luke tersenyum lebar lalu berkata, "Baguslah. Aku sudah lega sekarang ini"


Wah, sok-sokan nanya gimana pertemuannya? Padahal Tuan tadi udah dengar semuanya. Batin Rendy dengan mengulum bibir menahan geli.


Sewaktu Luke mendelik ke dia, Rendy langsung ngacir sambil berteriak, "Saya harus kerjakan laporan dulu"


Embun menoleh ke arah perginya Rendy dengan wajah kebingungan lalu menoleh ke Luke untuk bertanya, "Kenapa Pak Rendy kayak ketakutan gitu?"


"Rendy emang kurang satu ons kewarasannya, biarkan saja. Sekarang duduk di sofa dulu" Like berucap sembari bangkit berdiri lalu berjalan menuju ke sofa sembari membawa sebuah map.


Luke kemudian duduk di samping Embun dan meletakkan map itu di atas pahanya Embun sambil berkata, "Semua yang ada di map ini untuk kamu"


"Apa ini, Mas?"


"Buka aja!"


Embun membuka map itu dan langsung menoleh ke suaminya, "Buku tabungan, kartu ATM dan kartu berwarna hitam? Untuk apa ini, Mas?"


"Buku tabungan itu tiap bulan akan aku isi seratus juta rupiah untuk gaji bulanan kamu dan kamu bisa ambil uangnya lewat ATM itu. Lalu, kartu hitam itu adalah kartu kredit sakti. Kamu bisa belanja di mana saja kapan saja tanpa batas waktu dan tanpa dibatasi jumlahnya. Unlimited"


"Untuk apa semua ini? Saya rasa saya nggak perlu semua ini" Embun menutup map tersebut dan meletakkan map tersebut di atas pangkuannya Luke.


Luke mengembalikan map itu ke pangkuannya Embun sambil berkata, "Aku seorang suami sekarang ini. Aku wajib menafkahi Istriku. Itu kewajiban sebagai seorang suami dan kamu wajib menerimanya"


"Tapi, Saya........."


"Kamu boleh pakai kata aku dan kamu. Kira suami istri, kan? Nggak perlu pakai bahasa formal. Lagian kita sudah mengenal satu samal lain dengan ebih dalam semalam" Luke mengedipkan mata.


Embun menepuk pelan bahu Luke dan dengan rona malu di wajah ia berucap, "Jangan diingat-ingat terus soal semalam, Mas! Saya, eh, aku malu"


Luke terus menatap Embun dan sambil merangkul bahunya Embun ia berkata, "Aku senang melihatmu merona malu"


Embun kembali menepuk pelan bahu Luke dan Luke sontak terkekeh geli. Lalu, pria tampan itu berkata, "Masukkan isi map itu ke tas kamu!"


"Emm, tapi saya, eh, aku, kan, udah dicukupi sama Mas. Udah dikasih tempat.tinggal, baju, makan. Saya, eh, aku nggak perlu semua isi map ini, Mas"


"Itu beda. Pokoknya kamu harus terima itu semua. Kalau nggak, aku akan bilang sama Nenek. Biar Nenek yang bujuk kamu untuk terima semua itu"


"Baiklah, iya, aku akan masukan semuanya ke dalam tas dan terima kasih Mas"" Sahut Embun sambil.memasukkan semua isi map ke dalam tasnya.


"Nah, gitu kan pinter" Luke lalu merebahkan kepalanya di pangkuannya Embun dan langsung memejamkan kedua kelopak matanya.

__ADS_1


Embun mengusap kening dan rambut Luke dengan lembut sambil berkata, "Mas,.nggak kerja?"


"Aku ingin mengisi daya dulu. Aku pengen rebahan kayak gini sebentar saja. Aku masih kangen banget sama anakku"


Embun tersenyum senang. Lalu ia bertanya, "Apa Mas punya waktu luang?"


Luke sontak membuka matanya dan langsung berkata, "Kalau kamu minta aku sediakan waktu luang untuk kamu, aku akan sediakan. Kenapa? Anakku pengen ke mana?"


"Saya, eh, aku, pengen berkencan sama Mas"


Luke langsung bangun dan menatap.Embun.u untuk bertanya, "Kamu ingin berkencan? Sama aku?"


Embun menunduk malu dan berkata, "Iya. Kalau boleh"


Luke langsung memeluk Embun dan berkata, "Boleh. Tentu saja boleh. Aku akan suruh Rendy booking restoran dan pesan makanan yang super........"


"Bukan di restoran.Aku nggak pengen berkencan di restoran. Tapi, lupakan saja omongan ngelanturku tadi, Mas"


"Eh, kenapa harus dilupakan? Aku juga mau dan pengen kencan sama kamu. Emangnya kamu pengen kencan di mana?"


"Nanti.malam di kampusku ada bazar buku. Akan ada banyak buku dan banyak makanan di sana. Aku pengen kita jalan-jalan di sana. Makan di sana dan.........." Embun menghentikan ucapannya saat ia melihat Luke menautkan alis dan merengut. Embun kemudian bertanya, "Mas, nggak suka pergi ke tempat kayak gitu ya?"


"Bukannya tidak suka. Cuma, aku trauma aja pergi ke tempat ramai kayak bazar atau taman hiburan"


"Kenapa,.Mas?"


"Astaga! Maafkan aku, Mas. Aku telah membuat Mas teringat kembali peristiwa pahit itu" Embun menggenggam tangan Luke.


"Nggak papa. Kita udah jadi suami istri sekarang. Kita harus saling terbuka, kan?" Luke mengelus pipi Embun dengan ibu jari tangan kanannya.


"Iya, Mas. Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"


"Aku berhasil kabur dari tempat ku disekap berkat pertolongan seorang anak perempuan kecil. Waktu itu aku berumur dua belas tahun dan anak perempuan itu berumur lima tahun, tapi dia anak yang pemberani. Namun, di saat aku dan anak perempuan itu berhasil berlari cukup jauh dari tempat aku disekap dan berhasil sampai di tepi jalan besar, aku dan anak perempuan kecil itu, melihat Mamaku dibunuh"


"Astaga! Aku ikut prihatin,.Mas" Embun langsung memeluk Luke dan sambil mengusap punggung Luke yang gemetar, ia berkata, "Ada aku sekarang ini, Mas. Ada anak kita juga,.Mas nggak perlu takut lagi"


Luke mencium pundak Embun lalu berkata, "Terima kasih sudah hadir di hidupku. Terima kasih sudah bersedia mengandung anakku"


Embun berkata sembari terus mengusap punggung suaminya, "Apa aku boleh mengunjungi makam Mamanya, Mas?"


"Boleh. Aku akan atur waktu untuk mengenalkan kamu dengan Mamaku"


"Kalau gitu, kita nggak jadi aja pergi ke bazar. Mas. Karena, pergi ke keramaian yang mirip dengan taman hiburan, hanya akan membuat Mas teringat lagi akan masa lalu yang pahit itu"


Luke langsung menarik diri dari pelukannya Embun untuk menatap Embun dan berkata, "Kita akan pergi ke bazar itu. Aku akan temani kamu ke sana. Nanti malam, kan?"

__ADS_1


Embun sontak bertanya, Mas serius? Mas yakin?"


"Aku serius. Jam berapa bazar dibuka?" Tanya Luke.


"Jam enam sore bazarnya sudah dimulai"


Luke mengusap pipi Embun dan berkata, "Oke. Kita akan pergi ke bazar di kampus kamu nanti malam"


Embun langsung menggenggam tangan Luke dan berkata, "Terima kasih, Mas. Tenang aja, Aku akan jagain Mas baik-baik"


Luke sontak terkekeh geli mendengar Embun mengucapkan kata-kata itu dan di saat ia menunduk ingin mencium bibir istri mungilnya, pintu diketuk tiga kali. Luke menoleh ke pintu dan dengan wajah kesal dia berteriak, "Masuk!"


Rendy membuka pintu dan masuk kedalam. Rendy langsung berkata sebelum ditanya, "Nona Alice Norman, CEO dari Grup Norman, sudah datang dan menunggu Anda di ruang rapat, Tuan"


"Alice Norman? Siapa dia?" Luke sontak menautkan alisnya sembari memainkan jari jemarinya Embun yang ada di genggaman tangannya.


"Wanita yang mengajak Anda ketemuan di Malang dan yang mengajak Anda mengunjungi Gunung Bromo"


"Sial! Kenapa dia bisa ada di sini?"


"Anda yang mengundang dia sewaktu di Bromo" Sahut Rendy dengan wajah tak berdosanya.


"Sial! Kenapa kau ingatkan aku soal itu? Ada Embun, nih"


"Rapat aja, Mas. Penting, kan?"


"Kamu nggak keberatan aku rapat dengan. klien wanita? Klien wanitaku ini sangat cantik dan sangat seksi. Dia terang-terangan bilang ke aku kalau dia suka sama aku"


"Aku percaya sama Mas. Pergi aja, nggak papa"


"Ren, suruh sekeretaris baru kita memesan makana dan minuman dari restoran langganan kira dan siapkan di ruang rapat. Aku akan makan siang dengan wanita itu"


"Baik, Tuan" Rendy langsung ngacir.


Luke menoleh ke Embun dengan sorot mata heran.


"Ada apa, Mas?"


Ada apa? Justru aku yang seharusnya bertanya, Kenapa kamu nggak cemburu sewaktu kamu mendengar bahwa suami kamu akan bertemu dengan wanita muda yang sangat cantik dan seksi? Batin Luke.


Luke lalu menarik pelan tangan Embun yang masih ia genggam dengan sangat pelan dan hati-hati, lalu ia berkata, "Kamu harus ikut ke ruang rapat"


"Tapi, untuk apa? Aku nggak ngerti soal bisnis, Mas. Lagian aku di ruang rapat harus ngapain?"


"Kamu catat semua yang aku ucapkan di ruang rapat nanti. Rendy akan kasih kamu buku dan pulpen. Pokoknya kamu harus ikut rapat. Ayo!" Luke menarik pelan tangannya Embun.

__ADS_1


Embun akhirnya mengangguk dan menuruti permintaan suaminya ikut ke ruang rapat.


Aku akan ajari kamu apa itu cemburu. Batin Luke.


__ADS_2