
Embun meraih blusnya dan dia pakai kembali blus itu. Wanita itu kemudian duduk bersandar di ranjang sambil bergumam, "Kenapa jantungku tadi berdegup kencang banget pas Mas Luke mengeksplore tubuhku? Apa ini hanya hormon dari wanita hamil atau aku sudah mulai menyukai Mas Luke? Tapi, bagaimana dengan Mas Luke? Apa Mas Luke juga sudah mulai menyukaiku? Ah! Mana mungkin. Aku ini, kan, cuma gadis kecil yang kurus dan kering. Aku tidak secantik dan seseksi wanita tadi. Nggak mungkin Mas Luke menyukaiku. Mas Luke hanya menyayangi anak yang ada di dalam kandunganku ini" Embun mengusap-usap perutnya yang masih terlihat rata.
Luke masuk kembali ke dalam kamar dan meletakkan nampan di atas nakas. Presdir berumur dua puluh tujuh tahun itu, naik ke atas ranjang sembari menopang piring berisi steak iga sapi. "Kemarin, kan, semua menu adalah makanan kesukaan kamu. Kali ini,aku minta chef pribadiku untuk memasak menu favoritku. Aku pengen lihat apakah anakku juga menyukainya? Aaaaaaa!" Luke mengarahkan satu sendok penuh daging iga sapi dan kentang yang disiram dengan saus barbeque.
Embun mengunyah makanan yang berhasil masuk ke dalam mulutnya dan Luke langsung bertanya, "Gimana? Enak nggak? Kamu merasa mual atau pengen muntah nggak?"
"Aman, Mas" Embun mengacungkan ibu jarinya dengan senyum ceria.
"Wah! Syukurlah kalau aman. Aku senang mengetahui anakku juga suka dengan steak iga sapi saus barbeque ini. Ini lengkap gizinya. Kalau makan nasi goreng Jawa terus, bisa-bisa kamu dan anakku kekurangan gizi. Aaaaaa!"
Embun kembali membuka mulut dengan wajah bahagia. Sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya, Embun berkata, "Anak kita suka sama makanan yang gurih dan lezat. Anak kita juga suka sama buah. Jadi, aku rasa anak kita nggak akan kekurangan gizi, Mas"
"Kalau kamu makan nasi goreng Jawa terus lama-lama anakku bisa kekurangan gizi. Harus diselingi makanan lengkap gizi kayak gini. Ada daging, sayuran lengkap dan setelah ini kamu harus minum susu"
"Iya, Mas"
"Makan nasi goreng Jawanya seminggu sekali aja. Jangan sering-sering!" Ucap Luke sembari terus menyuapi Embun.
"Mas, kok nggak makan? Kalau Mas nggak makan, anak kita protes nanti dan........"
"Aku makan nih" Luke langsung memasukkan sendok ke dalam mulutnya yang semula ingin dia arahkan ke mulutnya Embun.
Embun tersenyum senang dan Luke langsung mengecup sudut bibir Embun karena, gemas.
Embun tersentak kaget dan menatap Luke dengan canggung.
"Ada saus barbeque di sudut bibir kamu. Aku hanya mengusapnya"
"Ke......kenapa pakai bibir? Ada tissue, kan? Lagian aku bisa mengusapnya sendiri Mas"
"Kamu nggak bisa lihat dan karena dadakan maka aku kecup aja sisa saus itu tadi biar saus itu nggak menetes di blus putih kamu"
Embun hanya bisa mengulas senyum canggung.
Luke mengarahkan segelas susu rasa strawberry ke Embun setelah ia meletakkan piring yang telah kosong di atas nakas.
Embun menerima gelas susu itu dan langsung meminumnya sampai habis.
Luke meletakkan gelas itu di atas nakas lalu ia mengecup sudut bibir Embun sambil berucap, "Ada sisa susu di sudut bibir kamu" Lalu, pria tampan itu tidur di atas pangkuan istri mungilnya untuk menciumi perut ratanya Embun dan mengajak mengobrol janin yang ada di dalam perut Embun, "Papa malas kerja hari ini. Papa kangen banget sama kamu" Luke berucap sembari mengelus lembut perutnya Embun.
Embun menunduk dan terus tersenyum.
"Kita dipingit selama sehari. Tapi, rasanya seperti setahun. Lama banget. Apa kamu juga rindu sama Papa?" Luke mencium perut Embun sambil mengelusnya lembut.
Embun sontak menyahut, "Iya, Pa"
Luke sontak menegakkan kepalanya untuk menatap Embun.
"Ada apa Mas?" Embun tersentak kaget melihat suaminya tiba-tiba menatap dirinya dengan penuh arti.
"Siapa yang rindu sebenarnya? Kamu atau anakku?"
"A.....anak kita, Mas. Tentu saja anak kita" Wajah Embun sontak merona malu.
"Benarkah? Lalu kenapa wajah kamu memerah kayak gitu?"
Embun menyentuh pipi kanannya sambil berkata, "Emm, ACnya kurang dingin, Mas. Habis makan dan minum susu, aku kegerahan"
Luke tersenyum penuh arti dan tangan pria itu langsung melingkar di dada Embun sebelah kiri, menyentuh puncaknya dan bibirnya memagut puncak dada Embun yang di sebelah kanan.
Embun tanpa ia sadari, melenguh dan menarik kerah bajunya Luke dengan kedua tangannya. Luke tersentak kaget lalu dengan segera mengulas senyum saat Embun mencium bibirnya.
Rasa susu strawberry di bibir Embun, membuat Luke menggila dan seketika memimpin.
Embun memilih untuk menyerah kalah, menikmati dan menyingkirkan semua pikiran yang ada di otaknya.
Luke mendorong pelan tubuh Embun hingga rebah telentang dan masih berlama-lama menikmati mulut Embun yang manis dengan lidahnya. Luke kemudian memulai gerakan lambat pada leher Embun dengan tangan bebas bermain-main pada pinggul ramping istri mungilnya.
Ciuman dan sentuhan Luke membangunkan setiap ujung sarafnya Embun di saat Luke terus mendaratkan impuls di sekujur tubuh Embun.
Luke kembali ke puncak dada Embun dan memagutnya.
Bagaimana Mas Luke bisa mengigit dari balik blus? Batin Embun dengan seluruh tubuh meremang.
Beberapa detik kemudian, Luke kembali melempar asal blusnya Embun dan menurunkan kepala untuk merasakan dada Embun sepenuhnya. Gesekan bakal janggut di dagu Luke menambah siksaan yang lidah itu lakukan di dada Embun. Menyiksa, meningkatkan denyut, menambah ritme detak jantung, dan memberatkan napas di diri Embun.
Dan di saat Luke hendak mencium kembali bibir Embun, telepon genggamnya berbunyi sangat nyaring. Luke meraup wajahnya dengan kesal lalu dengan sangat terpaksa dia bangun dan sambil mengancingkan beberapa kancing kemejanya yang terbuka, Luke menerima panggilan telepon itu dengan duduk di tepi ranjang dan masih menoleh ke Embun, "Halo, ada apa Ren?"
"Kapan Anda balik ke ruang rapat, Tuan? Saya dan Nona Alice Norman sudah selesai makan, nih"
"Sial! Kenapa aku bisa lupa kalau aku masih harus rapat" Luke kemudian mencium perut Embun, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya Embun dan setelah ia mencium cukup lama keningnya Embun dia berkata, 'Aku tinggal rapat sebentar"
Embun tersenyum dan mengangguk dengan ekspresi wajah yang kelelahan dan tampak kebingungan.
Luke berjalan meninggalkan kamar sembari memakai jas dan merapikan kemejanya. Luke sengaja tidak memakai kembali dasinya karena ia ingin memamerkan tanda kepemilikan yang tanpa sadar Embun daratkan di lehernya. Luke melangkah dengan terus mengusap lehernya dan bergumam, "Istriku makin ke sini makin liar. Tapi, aku menyukainya"
__ADS_1
Embun menatap langit-langit kamarnya dengan wajah yang masih memerah malu. Wanita yang maki. hari semakin terlihat cantik dan menarik itu, kemudian menghela napas panjang dan bergumam, "Kenapa Mas Luke suka banget menyiksaku kayak tadi? Aku seakan berputar-putar siap melompat, tapi Mas Luke malah pergi rapat dan tidak menyelesaikan siksaannya? Huffftttt!" Embun lalu meraih bantal dan dia letakkan bantal itu di atas wajahnya.
Luke kembali ke ruang rapat dengan wajah semringah. Dia duduk sangat jauh dari kursinya Alice Norman dan langsung berkata, "Sampaikan keluhan atau pendapat Anda, Nona Alice Norman" Luke berkata sembari mengelus-elus lehernya.
Alice dan Rendy spontan bertanya secara bersamaan, "Ada dengan leher......."
Di saat Alice dan Rendy bersitatap kaget, karena mereka bisa menanyakan hal yang sama secara kompak, Luke menyahut dengan wajah semringah, "Istriku sangat liar tadi. Aku masih bisa merasakan keliarannya di sini" Luke masih mengelus-elus lehernya.
Rendy sontak berdeham cukup keras dan berkata ke Alice Norman yang tengah mendelik ke Luke, "Silakan Anda sampaikan pendapat Anda sekarang juga Nona! Sebelum Tuan muda kami membuat ulah yang lebih parah lagi"
"Ah! Iya" Alice kemudian berucap, "Papaku kurang menyukai model yang kamu pilih, Luke. Parfum kita bertemakan Hati yang suci dan nama parfum kita adalah 'Pure Heart', kan? Tapi, kenapa model yang Anda pilih berwajah garang dan judes?"
Luke langsung menatap Rendy karena model itu, Rendy yang memilihnya.
"Saya yang memilih model itu. Saya pikir untuk iklan dengan wangi tajam dan unik seperti Pure Heart, model berwajah tegas akan cocok" Sahut Rendy.
"Tapi, Papa saya tidak sependapat" Alice menoleh tajam ke Rendy.
"Begini saja, mumpung proses pembuatan iklannya belum berlangsung lama. Baru dua hari ini, maka aku sarankan Papa kamu besok hadir di sini untuk rapat pemilihan modelnya. Kita ganti modelnya"
"Tapi, model yang sekarang sudah kita bayar penuh, Tuan" Sahut Rendy.
"Kau alihkan dia ke produk permen kopi kita saja. Kalau orang ngantuk lihat wajah model itu pasti melek" Sahut Luke.
Rendy mengangguk dan berkata, "Baiklah, Tuan"
"Oke. Aku akan balik lagi ke sini. Emm, apa kita masih bisa berteman? Kan, kita tidak mungkin berpacaran karena kamu sudah menikah dan punya anak. Tapi, berteman boleh, kan?" Alice berkata sembari bangkit berdiri.
Luke ikutan bangkit berdiri dan berkata, "Di antara wanita dan pria tidak pernah ada kata berteman. Jadi, kita hanya bisa menjadi partner bisnis aja"
Alice mendengus kesal dan langsung berkata, "Baiklah. Aku akan pergi dan balik lagi besok. Dasar menyebalkan!"
Luke lalu menoleh ke Rendy, "Kau sudah sterilkan bazar di kampus Embun sore nanti?"
"Sudah Tuan. Sore nanti, Anda bisa menikmati bazar di sana berduaan saja dengan Nyonya muda. Saya sudah katakan ke pihak kampus dan rektornya kalau Anda ingin menikmati bazar bersama dengan istri Anda, privately"
"Bagus! Aku akan ajak Embun pulang kalau gitu. Aku dan Embun perlu bersiap-siap untuk pergi ke bazar itu"
"Tunggu sebentar, Tuan"
"Ada apa?"
"Ada masalah di bagian produksi terbaru minuman jahe kopi, Tuan"
"Oke. Kita ke sana dulu" Sahut Luke sembari melangkah lebar mendahului Rendy. Rendy sontak berlari kecil untuk menyusul tuan mudanya.
Manajer itu menoleh dan Luke sontak menautkan alisnya, "Kau?! Kau yang ingin merebut Embun dariku, kan?"
Manajer dengan nametag John itu, sontak menyahut "Saya sudah melupakan Embun Sanjaya, Tuan dan saya sudah bertunangan dengan wanita lain. Saya mana berani merebut wanita Anda. Maafkan kelancangan saya dan Mama saya kemarin. Kami tidak tahu kalau........."
"Kalau kamu sudah bertunangan dengan wanita lain, maka aku lupakan masalah kemarin. Sekarang ada masalah apa di sini?"
"Entah apa yang salah di mesinnya atau isinya terlalu banyak? Kemasannya menjadi kurang pas"
Luke melangkah ke mesin produksi dan langsung berkata sambil memencet salah satu tombol di mesin itu, "Sekarang kau coba lagi jalankan mesin ini!"
Mesin berjalan dan kemasan produk minuman jahe kopi itu meluncur di depan John dengan tampilan sempurna.
"Kau salah memprogramnya. Kau mikir apa sebenarnya? Kenapa bisa salah program kayak gini?"
"Maafkan saya Tuan"
"Ada berapa kemasan yang gagal?"
"Untungnya hanya ada sepuluh kemasan saja yang tidak sempurna, Tuan"
"Kau bilang hanya? Enak saja! Kalau kau tidak bisa menjual sepuluh kemasan yang tidak sempurna itu, maka aku akan potong gaji kamu" Luke mendelik dan berkacak pinggang di depan John.
"Baik, Tuan"
"Makanya kerja yang bener jangan melamun terus!" Ucap Luke sembari melangkah meninggalkan John.
John menatap punggung Luke dan bergumam lirih, "Saya nggak bisa fokus bekerja karena Mama saya masih bersikeras ingin merebut Embun dari Anda, Tuan. Mama saya terlanjur suka banget sama Embun dan ingin saya tetap menikah dengan Embun"
"Aku akan pilihkan baju buat kamu kali ini" Luke berucap sambil memilih baju dengan wajah penuh semringah yang bersemangat.
"Ini saja. Kau pakai ini" Luke menyerahkan dress hitam dengan motif bunga-bunga kecil berwarna hijau terang. "Kau akan sangat cantik memakai dress ini"
"Baiklah, Mas"
Luke menunggu di depan Embun.
"Mas, kok masih di sini? Aku akan ganti baju, Mas"
"Memangnya kenapa? Aku Suami kamu dan aku sudah melihat semuanya. Kenapa kamu masih malu? Ayo buruan ganti baju"
__ADS_1
Embun terpaksa berganti baju di depan Luke dengan canggung.
Luke kemudian tersenyum dan sambil membantu Embun merapikan dress itu, ia berkata, "Sesuai dengan perkiraanku. Kau cantik pakai dress ini. Lalu, emm, kamu harus pakai topi ini dan masker"
"Lho kenapa harus pakai topi dan masker?"
"Karena, aku adalah Luke Donovan dan kamu adalah Istriku. Kalau kamu hanya ingin dikawal oleh Rendy dan Mona, maka kita harus pakai topi dan masker biar tidak ada yang mengenali kita"
"Mas, juga pakai topi dan masker?"
"Iya. Aku akan temani kamu pakai topi dan masker. Rendy dan Mona juga aku haruskan memakai topi dan masker"
"Baiklah" Embun akhirnya memutuskan untuk menuruti kemauan suaminya.
Beberapa jam berikutnya, Luke menggandeng tangan Embun memasuki area bazar buku yang diselenggarkan pihak Kampus dalam rangka Hari Buku sedunia.
Mona dan Rendy mengekor dengan jarak agak jauh.
"Kok sepi? Padahal ini udah jam tujuh? Bazar dibuka jam enam tadi. Tapi, kok masih sepi?"
"Mungkin karena masih hari pertama, jadi sepi" Sahut Luke sambil menciumi punggung tangan Embun yang ia genggam erat.
"Tapi, kok aneh? Biasanya di hari pertama yang datang pasti banyak dan......."
"Kita fokus menikmati bazar aja. Jangan mikirin sepi atau nggak" Sahut Luke dengan masih menciumi punggung tangannya Embun.
Embun tiba-tiba menarik lepas tangannya dan berlari kecil meninggalkan Luke.
Luke sontak berteriak, "Hei! Jangan lari!" Luke bergegas berlari kencang menyusul Embun dan sambil merapikan topinya Embun dia bertanya, "Kenapa berhenti di kedai ini?"
"Aku pengen makan ayam goreng. Boleh, ya, Mas?"
"Minyak di sini selalu baru, kan?" Luke langsung menoleh ke penjaga kedai ayam goreng itu.
"Iya. Minyak kami selalu baru"
"Boleh aku lihat minyak dan wajannya?"
"Boleh. Silakan lihat sendiri! Minyak kami masih jernih dan kami pakai minyak kualitas tertinggi"
Luke menghela napas lega lalu menoleh ke Embun, "Oke. Boleh. Minyaknya jernih dan wajannya bersih dan baru"
Embun langsung tersenyum lebar dan berkata, "Terima kasih, Mas"
"Ini" Like menyerahkan kartu hitam ke penjaga kedai ayam goreng itu.
"Maaf, kami hanya menerima uang tunai" sahut penjaga kedai ayam goreng itu.
"Tapi, aku tidak bawa uang tunai. Kamu harus gesek kartu ini. Aku tidak mau tahu pokoknya aku akan bayar pakai kartu ini"
"Tapi, di sini tidak ada mesin gesek kartu" Sahut penjaga kedai ayam goreng itu dengan wajah sedikit kesal.
"Kenapa nggak ada? Wah! primitif betul kalian ini, ya. Aku nggak mau tahu! Cari sampai dapat mesin EDC untuk gesek kartu ini. Cepat!" Luke mulai melotot.
Saat Rendy hendak berlari ke tuan mudanya, Mona menahan lengan Rendy dan berkata, "Jangan ganggu Tuan muda dan Nyonya muda! Biarkan mereka selesaikan masalah itu sendirian dulu. Kalau Tuan menoleh minta bantuan, barulah kamu ke sana"
"Ah! Iya, kamu benar" Sahut Rendy.
"Anda emangnya siapa? Main perintah aja seenaknya dan......."
Rahang Luke mulai berkedut dan wajahnya berubah dingin sedingin es, Luke kemudian menggeram, "Sial! Aku adalah......"
"Saya akan bayar, Mbak. Maafkan suami saya. Berapa semuanya?"
Luke sontak menoleh tajam ke Embun, "Kapan kamu ambil uang? Aku tidak lihat kamu ambil uang di ATM tadi?"
"Aku masih ada uang, Mas. Uang hasil kerjaku dulu"
"Semuanya dua puluh lima ribu rupiah" Sahut penjaga kedai ayam goreng itu"
"Ini, Mbak. Terima kasih dan maafkan suami saya!"
"Tapi, aku tetap nggak suka. Aku akan minta rektor kalian, mulai besok, setiap kedai harus ada mesin EDC" Luke berucap sembari mengekor Embun.
"Aaaaaa!" Embun menoleh ke Luke untuk memberikan sepotong sayap ayam goreng ke Luke.
Luke menggeleng dan berkata, "Aku tidak pernah makan makanan di luar dan......."
"Dikunyah Mas! Enak kok" Embun berhasil memasukkan secuil ayam goreng ke dalam mulutnya Luke.
Seketika itu Luke mematung di depan Embun.
Rendy sontak menghentikan langkahnya dan Mona langsung menoleh ke Rendy dengan tanya, "Ada apa?"
"Aku harus bersiap berlari ke sana untuk menyelamatkan Nyonya muda dari ledakan amarahnya Tuan muda. Karena Tuan muda, tidak pernah makan makanan di luaran kayak gini dan Nyonya muda barusan memasukkan makanan itu ke mulut Tuan muda tanpa permisi"
__ADS_1
"Waduh!" Sahut Mona dengan ekspresi panik.