
Luke pergi ke rumah sakit milik Neneknya dan berkata ke bagian pendaftaran, "Aku ingin bertemu dengan psikiater terhebat di sini"
"Ada. Silakan Anda berjalan lurus dan belok kanan di pertigaan kedua. Anda.ketuk aja pintu bertuliskan dr. Johny Setiawan, SpKJ.
"Hmm" Like langsung melangkah ke arah yang ditunjuk oleh petugas pendaftaran tersebut.
Luke langsung bertanya ke dokter Johny, setelah ia duduk berhadapan dengan dokter tersebut, "Aku terus berhalusinasi melihat gadis yang sangat aku benci"
"Kenapa Anda membencinya, Tuan?"
"Kenapa? Yeeaaah, emm, sejujurnya, aku nggak tahu kenapa aku membencinya. Tapi, yang pasti aku tidak suka dibayang-bayangi terus oleh gadis itu"
"Anda tidak membencinya. Kenapa Anda benci dibayang-bayangi terus oleh sosok gadis itu?"
"Karena ia jelek, berambut pendek bergelombang. Asal kau tahu, aku tidak suka cewek berambut pendek apalagi bergelombang. Emm, parahnya lagi, rambut jeleknya itu ia warnai menjadi merah menyala. Nggak pantas sama sekali dengan wajahnya yang dibingkai kacamata tebal"
"Hanya karena itu?"
"Hmm"
"Saya rasa masih ada yang belum Anda ceritakan ke saya. Kalau Anda terus dibayangi bayangan yang sama secara terus menerus, maka Anda memiliki rasa bersalah pada orang tersebut. Bukan karena ia jelek dan Anda tidak menyukainya"
"Aish! Ceriwis juga kau. Mirip banget sama Rendy. Katakan saja, aku ini waras atau gila? Kalau aku gila cepat kasih obatnya! Titik nggak pakai koma"
"Anda waras, Tuan. Tapi, Anda itu........"
Luke langsung bangkit berdiri dan berkata, "Syukurlah aku masih waras" Lalu ia pergi begitu saja meninggalkan dokter spesialis kejiwaan yang melongo menatap punggungnya Luke.
Satu Minggu tanpa terasa berlalu dengan cepat. Selama satu Minggu penuh, Luke terus dihantui bayangannya Embun, namun ia tidak berniat untuk menemui Embun. Bagi pria tampan pewaris Grup Donovan, dirinya masih waras. Untuk itulah Luke kemudian membiasakan dirinya dengan bayangannya Embun yang terus menghantuinya. Sedangkan Embun, terus menjalani hari-harinya seperti biasa.
Di pagi hari buta, Embun dikejutkan dengan bunyi gedoran pintu. Gedoran itu sangat keras dan tanpa jeda. Embun bangun dan berjalan ke pintu sambil melirik jam di dinding. Jam di dinding menunjukan pukul tiga pagi.
__ADS_1
Embun membuka pintu dan langsung tersentak kaget dan berteriak kesakitan, "Aduh, Nek! Sakit! Kenapa Embun dijambak?!"
Mendengar teriakan putrinya, ibunya Embun langsung terbangun dan bergegas menggelung rambutnya yang panjang sambil berlari ke pintu. Wanita berwajah lembut itu langsung menarik Embun ke dalam pelukannya sambil berteriak, "Jangan sakiti Embun! Dia juga cucu Anda"
Neneknya Embun yang membawa kemoceng,.menggebukan kemoceng ke pantat Embun berulangkali sembari berteriak, "Dasar pezinah! Berani benar kau mencemarkan nama Sanjaya. Dasar gadis hina kurang didikan!!!!!"
Ibunya Embun menyelamatkan Embun di balik badannya dan berkata ke neneknya Embun, "Apa yang sudah Embun lakukan? Kenapa Anda menyebutnya pezinah?"
"Nih! Lihat sendiri di ponselku ini? Lihat baik-baik apa yang sudah anakmu lakukan di tempat kerjanya!" Neneknya Embun melotot ke ibunya Embun.
Ibunya Embun melihat rekaman video di telepon genggam itu dan langsung menutup mulutnya yang ternganga. Dia menoleh ke Embun dengan tatapan tidak percaya.
Embun terus menggelengkan kepala. Dia terisak menangis sambil berkata, "Itu tidak seperti yang Ibu bayangkan. Tidak seperti yang Nenek bayangkan. Aku diperko........."
"Keluar kau dari rumah ini! Pergi dan jangan kau injakan kaki kamu lagi di rumah ini! Pergi sekarang juga!!!!!!"Neneknya Embun berteriak sangat kencang sambil melotot.
Ibunya Embun hanya bisa diam membisu, namun air matanya terus jatuh berderai.
"Nggak usah berkemas! Kelamaaan! Pergi saja bawa diri kamu yang hina itu!!!!!! Cepat pergi!!!!!!!"
Embun menoleh ke ibunya dan dia semakin terisak sewaktu ia melihat wajah ibunya kecewa kepadanya. Embun mengambil telepon genggam dan dompetnya, lalu ia memeluk tubuh ibunya yang berdiri kaku sambil berkata, "Embun pergi, Bu. Jaga diri Ibu baik-baik"
Neneknya Embun langsung menarik Embun sampai ke teras depan dan mendorong tubuh Embun sampai Embun jatuh tersungkur di atas rumput. Bukannya menolong Embun, neneknya Embun justru menutup pintu rumahnya degan sangat keras di depan Embun.
Embun bangkit berdiri dan dengan linangan air mata, ia melangkah keluar dari pekarangan rumah neneknya. Dia menangis karena ia sedih mendapati ibunya tidak percaya padanya, mendapati ibunya kecewa padanya, dan membiarkan dirinya pergi begitu saja.
Embun membuka dompetnya dan hanya menemukan tiga lembar uang berwana merah, satu lembar uang berwana biru, dan selebihnya adalah uang recehan. Embun menutup kembali ritsleting dompet kecilnya sembari bergumam, "Aku cari kost di mana dengan uang segini? Apa aku ke rumahnya Bidan Estu saja, ya? Aku minta ijin tinggal di sana sampai bulan depan. Kalau aku udah terima gaji, aku bisa cari kost" Embun menghela napas panjang beberapa kaki sambil terus mengusap matanya. Lalu, ia melangkah ke halte bus.
Embun duduk cukup lama di halte bus itu, karena di jam setengah empat pagi belum ada bus yang beroperasi.
Embun melihat sebuah mobil mewah berhenti di seberang jalan.
__ADS_1
Neneknya Luke bertanya ke Dona yang menyetir mobil mewahnya, "Di mana rumah gadis itu? Apakah udah dekat? Kok kamu berhenti di sini? Apa tidak berbahaya?"
"Sebentar Nyonya. Kenapa mendadak sinyalnya hilang? Mapnya jadi ngacak, nih, Nyonya. Sebentar saya turun dulu untuk nanya ke penduduk sekitar"
"Jangan turun! Ini masih gelap. Berbahaya Dona"
Namun, Dona terlanjur turun dari mobil.
Dona yang cantik, langsung menjadi sasaran empuk pria hidung belang yang nongkrong di sana. Dona digoda dan hendak dilecehkan oleh pria-pria pemabuk itu. Namun, Dona yang pandai beladiri bisa dengan mudahnya mengalahkan pria-pria pemabuk itu.
Sayangnya Dona lengah. Salah satu pria yang luput dari perhatiannya Dona, berlari ke mobil. Pria itu bermaksud mengambil harta berharga yang ada di dalam mobil mewah itu. Saat pria pemabuk itu hendak membuka paksa pintu mobil, Embun memukul kepala pria itu dengan sebilah kayu sampai pria itu jatuh terkapar di atas tanah.
Dona menoleh kaget ke belakang dan langsung berlari ke mobil. Dona seketika mematung saat ia bersitatap dengan Embun. Maria langsung turun dari dalam mobil dan memeluk Embun sambil berkata, "Terima kasih kamu muncul di sini dan terima kasih sudah menyelamatkan Nenek"
Embun berkata, "Sama-sama" Lalu ia mendorong pelan tubuh nenek cantik dalam balutan baju mewah, sambil berkata, "Maafkan saya, saya tiba-tiba mual dan pengen muntah"
Embu. berlari ke pojokan dan muntah-muntah di depan sebuah pohon besar.
Dona dan Maria langsung bersitatap penuh arti sewaktu mereka berdua melihat Embun muntah-muntah.
Embun mengusap bibirnya, lalu melangkah ke wanita paruh baya yang cantik dan elegan itu untuk berkata, "Maafkan saya. Saya masuk angin, mungkin. Karena, kelamaan duduk di halte bus. Nenek nggak papa, kan?"
"Nenek nggak papa. Emm, kamu ikut Nenek, ya. Nenek akan antarkan kamu ke rumah sakit"
"Nggak usah, Nek. Saya baik-baik saja, kok"
"Biarkan aku berterima kasih dengan benar padamu. Kamu udah menolongku. Sekarang ijinkan aku menolongmu. Oke?"
Embun tersenyum dan berkata, "Baiklah"
Maria memekik bahagia dan langsung menoleh ke Dona, "Ayo berangkat sekarang juga!"
__ADS_1
"Baik, Nyonya" Sahut Dona sembari bergegas masuk ke jok kemudi.