
"Kapan cewek ini memiliki tubuh sebagus ini? Kapan juga dia terlihat begitu menggoda?" Luke mencengkeram dadanya dan bergumam, "Kenapa dadaku berdentum sekencang ini?"
Luke langsung menjitak sendiri kepalanya sambil bergumam, "Aish! Dasar otak mesum. Apa yang kau pikirkan, hai otak?!" Lalu, dengan kesal Luke menyelimuti Embun sambil berkata, "Ini juga, hmm! Cewek kok, tidurnya nggak ada sopan-sopannya sama sekali"
Karena kesal, Luke justru keluar dari dalam kamar alih-alih memeriksa remote AC.
Luke membuka pintu kamarnya dan sontak berteriak kencang, "Aaaaaaaa!!!!"
Maria terlonjak kaget dan ikutan berteriak kencang, "Aaaaaaa!!!!"
Luke langsung menautkan kedua alisnya dan dengan masih mematung ia berucap pelan, "Nenek, ya? Itu beneran Nenek, bukan?"
Maria bangkit berdiri sambil mendengus kesal dan langsung menyembur, "Iya! Ini Nenek. Kenapa kau teriak? Kau kira Nenek ini apa, hah?!"
"Fiuuhhh, syukurlah kalau Nenek. Aku kira aku melihat hantu. Lalu, kenapa Nenek ikutan teriak tadi?"
"Nenek kira pas kamu teriak kencang tadi, kamu lihat hantu di belakangnya Nenek. Nenek kira ada hantu di belakangnya Nenek"
"Habisnya Nenek juga sih, kenapa duduk di gelap-gelapan dengan rambut terurai dan rambut Nenek putih semua kayak gitu"
"Rambut Nenek emang udah putih semua, huffttt sabar!" Maria langsung berkacak pinggang dan kembali menyemburkan, "Kenapa kau keluar dari dalam kamar? Mau ke mana kamu?"
"Nenek duduk di situ untuk mengawasi aku?"
"Iya. Sekarang kamu mau ke mana?"
"Mau pindah ke kamar atas"
"Nggak boleh! Masuk lagi ke dalam! Kamu udah punya Istri. Nggak boleh tidur pisah kamar. Ayo masuk ke dalam lagi!" Maria melangkah lebar dan langsung mendorong Luke yang masih berdiri di depan pintu kamar yang masih terbuka lebar.
Luke menahan kakinya dengan sekuat tenaga sembari berkata, "Di dalam dingin banget, Nek"
Maria melepas dorongannya sambil berkata, "Kalau wanita hamil emang bawaannya gerah terus. Itu karena ia, bawa anak kamu di dalam perutnya"
Luke langsung berucap, "Itu karena, anakku? Anakku yang bikin ia kegerahan?"
"Iya. Makanya kamu harus lebih peka dan peduli sama Istri kamu. Kasihan, kan, dia harus kegerahan, mual dan muntah, lalu pegal-pegal, demi anak kamu"
__ADS_1
"Lalu, aku harus gimana? Dingin banget, Nek, di dalam"
"Kamu peluk aja Istri kamu"
"Ih! Nenek kok mesum, sih?"
Maria langsung mencubit pelan pinggang Luke sambil berucap, "Mesum apa? Sama Istri sendiri, nggak papa, kan, kalau kamu main peluk"
"Carikan ide lain saja, Nek. Jiwa dan ragaku masih belum mengijinkan tanganku meluk dia"
"Katanya kamu udah gede. Maka pikir aja sendiri sana!" Maria mendorong tubuh Luke dan langsung menutup pintu.
Luke mendengus kesal. Dia kembali menggigil kedinginan. Lalu, dengan setengah berlari ia masuk kamar ganti untuk segera memakai baju hangat musim dingin yang biasa ia bawa kalau dia pergi ke Eropa pas musim dingin.
Luke kembali melangkah ke balik tembok untuk kembali tidur di atas sofa. Sofa tersebut membelakangi tembok di mana di balik tembok itu terpasang TV LED berukuran sangat besar. Sofa itu berhadapan dengan pintu geser ala Jepang yang menghadap langsung ke taman bunga dan kolam ikan.
Luke akhirnya tidur dengan mengenakan jaket bulu khusus untuk musim dingin.
Embun yang terbiasa bangun jam empat pagi, membuka mata tepat saat jam di dinding menunjukkan pukul empat. Embun bangun, menata kasur, melipat selimut, lalu ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berganti baju. Dia risih dan merasa tidak percaya diri memakai baju tidur seksi. Setelah keluar dari dalam kamar ganti dengan mengenakan dress yang kemarin sore ia pakai, Embun berjalan ke balik dinding untuk melihat seperti apa ruangan di balik dinding itu.
Embun menautkan alisnya saat ia melihat Luke meringkuk di atas sofa dengan jaket bulu tebal, Embun tersenyum geli dan bergumam lirih, "Dia emang aneh. Kenapa dia tidur pakai jaket setebal itu di cuaca sepanas ini? Tapi, yang lebih aneh, tuh, aku. Harusnya aku benci, kan, sama dia. Dia udah buat aku kehilangan kegadisanku, kehilangan keluargaku, tapi entah kenapa aku nggak bisa membencinya" Embun lalu mengelus perutnya, "Apa karena kamu. Kamu sayang sama Papa kamu, ya? Jadi, kamu buat Mama nggak bisa benci sama Papa kamu"
Embun lalu berputar badan dan memutuskan untuk keluar dari dalam kamar. Embun langsung dikejutkan dengan ucapan selamat pagi dari pelayan wanita yang berbaris berjejer di depan pintu kamar, "Selamat pagi, Nyonya muda"
Embun menyahut dengan senyum canggung, "Selamat pagi semuanya"
Salah satu wanita dengan seragam yang tampak berbeda dengan pelayan yang lain, maju menghadap Embun, "Nama saya Marni. Saya kepala pelayan di rumah ini. Saya siap melayani Nyonya muda"
"Ah! Iya, hehehehe" Embun masih berdiri dengan senyum canggung.
"Anda kenapa bangun sepagi ini, Nyonya? Anda butuh apa?"
"Sa....saya nggak butuh apa-apa. Saya memang terbiasa bangun pagi, bersih-bersih rumah, dan memasak"
"Tapi, Anda tidak boleh melakukan itu semua di sini"
"Kalau begitu, saya masak aja boleh? Saya ingin masak nasi goreng. Entah kenapa saya pengen makan nasi goreng pagi ini"
__ADS_1
"Baiklah. Kami akan siapkan nasi goreng untuk Anda. Silakan Anda masuk kembali ke dalam kamar"
"Nggak. Emm, saya duduk saja di ruang makan, boleh?"
"Boleh. Tentu saja boleh. Silakan Nyonya. Kami akan siapkan nasi goreng untuk Nyonya"
Embun duduk di meja makan dan bertanya ke pelayan yang berdiri di dekatnya, "Kenapa Mbak berdiri terus di sebelah saya? Mbak duduk aja sini temani saya ngobrol"
"Saya nggak berani, Nyonya muda"
"Tapi, saya nggak enak duduk di sini sementara Mbak berdiri terus di sebelah saya"
"Itu memang tugas dia, Nak" Suara Maria terdengar lembut memenuhi ruang makan.
Semua pelayan yang berdiri di ruang makan langsung membungkukkan badan ke Maria dan Embun langsung bangkit berdiri dan menyapa, "Selamat pagi, Nek"
"Kenapa bangun pagi banget? Luke gangguin kamu terus, ya? Luke Nakal, ya? Hehehehe" Maria terkekeh senang sembari duduk di kursi makan berhadapan dengan Embun.
Embun hanya mengulas senyum manis di depan neneknya Luke. Dia tidak mungkin mengatakan kalau dia dan Luke tidur terpisah. Dia di ranjang dan Luke di sofa.
"Kalau kamu mau berangkat kuliah, berangkat aja"
"Tapi, saya belum ambil tas dan semua buku saya, Nek. Saya keluar dari rumah Nenek saya, kan, tidak bawa apa-apa. Charger telepon genggam saja, saya lupa membawanya. Ponsel saya mati saat ini, Nek, jadi saya juga nggak bisa menghubungi teman kuliah saya untuk tanya tugas kuliah dan pinjam buku kemarin. Saya rasa, saya akan ijin nggak masuk kuliah dulu dan ........"
"Udah datang aja ke kelas kamu. Nenek udah urus semuanya"
"Tapi, Nek........."
Maria menggenggam tangan Embun, "Ganti baju sana! Lalu, sarapan bersama dan berangkat kuliah"
Saking senangnya, Embun langsung bangkit berdiri dan memeluk Maria sambil berucap, "Terima kasih banyak, Nek.
Maria terkejut untuk sepersekian detik. Lalu, wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu mengelus punggung Embun sambil berkata, "Sama-sama"
Embun sontak menarik diri dan berkata sambil menunduk, "Maafkan saya, Nek. Saya sudah lancang memeluk Nenek"
"Nggak papa. Nenek justru senang kamu peluk. Udah sana ganti baju dan segera balik ke sini untuk sarapan. Bangunkan Luke juga, ya?!"
__ADS_1
"Baik, Nek"
Embun langsung tersentak kaget dan seketika mematung saat Luke berdiri di depannya dan berkata, "Bantu aku mandi!"