
Alice Norman berlari kecil sembari membawa cup yang berisi kopi hitam kental less sugar yang masih hangat ke ruang kerja kakak laki-laki tampannya.
"Ini kopinya" Alice meletakkan cup yang terbuat dari kertas yang aman untuk makanan dan minuman panas, di atas mejanya Alex Norman. Lalu, Alice duduk untuk bertanya, "Embun Sanjaya ternyata model yang menjadi pilihan Kakak dan cewek yang Kakak taksir.
Alex sontak mengalihkan wajahnya dari layar laptop kesayangannya untuk menatap adik perempuan cantiknya dan bertanya, "Kau kenal dengan Embun Sanjaya?"
"Hmm. Dia istrinya Luke Donovan" Sahut Alice dengan ekspresi wajah dan nada bicara yang sangat santai.
Alex sontak terhenyak di kursinya dengan memekik, "Hah?!"
Alice mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, "Itu benar"
Alex kemudian menautkan kedua alisnya dan bertanya, "Tapi, kalau Embun Sanjaya adalah Istrinya Luke, kenapa dia sepertinya sangat membutuhkan uang?"
"Entahlah" Alice berucap sembari mengangkat kedua bahunya. Lalu, gadis cantik itu bertanya, "Di mana Kakak bertemu dengan Embun?"
Alih-alih menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh adik cantiknya itu, Alex justru mencubit dagunya sendiri dan bergumam, "Pantas saja, sih. Dia dikepung banyak orang dan sepertinya hendak diculik. Dan aku sekarang baru sadar kalau cewek yang selalu ada di samping Embun, bukan Mbak Mona-nya Embun. Tapi, pengawal pribadinya Embun"
"Kak!" Alice memekik kesal.
Alex tersentak dari lamunannya dan langsung menatap adik cantiknya sambil bertanya, "Kenapa? Bikin kaget aja, teriak-teriak kayak gitu. Aku nggak tuli"
"Tapi, Kakak nggak jawab pertanyaanku"
"Pertanyaan apa?" Tanya Alex.
"Tuh, kan, katanya nggak tuli. Tapi, kenapa nggak dengar pertanyaanku tadi"
"Aku lagi banyak pikiran. Sori. Kamu pergi aja sana! Pulang dan jangan ganggu aku!" Alex berucap sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
"Belum jawab pertanyaanku malah sekarang ngusir" Alice mengerucutkan bibirnya di depan kakaknya, lalu bangkit berdiri dengan kesal dan pergi meninggalkan kakaknya.
Alice duduk di belakang kemudi mobil sedan mewah keluaran terbaru miliknya sambil terus menatap layar telepon genggamnya dan bergumam, "Kenapa Luke nggak balas pesan text dariku? Kenapa dia nggak berterima kasih untuk video yang aku kirimkan ke dia? Dasar cowok sok tampan, sok keren, cih!" Alice, lalu melemparkan telepon genggamnya ke jok samping begitu saja dan langsung tancap gas dengan wajah kesal.
"Luke, kan, berpacaran dengan Chika selama ini. Tapi, Chika ada di luar negri, lalu Luke selingkuh gitu? Atau gimana? Kenapa mendadak Luke bisa menikah dengan Embun Sanjaya?" Alex masih menautkan kedua alis, mencubit dagu dan bergumam di atas kursi kerjanya.
Rendy berdiri di depan pintu kamar tuan mudanya cukup lama. Dia ingin mengetuk, tapi ragu. Asisten pribadi yang selalu bisa diandalkan oleh seorang Luke Donovan itu, takut kena semprot tuan mudanya. Untuk itulah ia hanya bisa berdiri mematung di depan pintu kamar tuan mudanya.
Asisten pribadinya Luke Donovan itu kemudian memilih mencantolkan tas nyonya mudanya di pegangan pintu kamar tuan mudanya. Lalu, sambil menghela napas panjang, ia berbalik badan pergi ke kamarnya. Luke menyediakan kamar khusus untuk Rendy karena terkadang, Rendy diharuskan menginap di kediaman mewahnya Luke Donovan.
Namun, Rendy tidak bisa duduk dengan tenang. Akhirnya, pria berparas tampan lokal itu, memutuskan untuk pergi keluar menghirup udara segar.
Rendy memutuskan untuk pergi ke restoran siap saji dan di sana ia dikagetkan dengan tamparan keras di pipinya.
Rendy sontak bangkit berdiri dan sambil mengelus pipinya, ia mendelik ke gadis cantik yang berdiri di depannya dengan mendelik.
"Kenapa kau tiba-tiba menamparku?"
"Kau yang bernama Pram, kan? Pria yang sudah meninggalkan adikku setelah meniduri adikku?"
"Hei! Tunggu sebentar! Namaku Rendy dan....."
"Bohong!"
"Oke! Tunggu Sebentar!" Rendy mengambil dompetnya dan memperlihatkan kartu pengenalnya ke gadis cantik itu sambil berkata, "Nih, kartu pengenalku. Benar, kan, namaku Rendy"
Lalu, datanglah seorang gadis yang lain dan gadis itu langsung berdiri di depan Rendy dengan kata, "Maafkan Kakak saya. Kakak saya salah mengenali orang"
__ADS_1
Gadis yang tadi menampar Rendy menoleh kaget ke gadis yang ada di sampingnya dan sontak menatap Rendy untuk berkata, "Maafkan saya. Saya salah menampar Anda. Emm, sebagai tanda permintaan maaf saya, saya akan bayar semua makanan dan minuman Anda"
"Okelah. Aku maafkan kamu kalau kamu sudah punya niat baik dan sudah meminta maaf dengan tulus" Sahut Rendy sembari duduk kembali.
Setelah membayar makanan dan minumannya Rendy, gadis itu kembali ke mejanya Rendy untuk berkata, "Ini kartu nama saya. Kalau ada keluhan nanti, silakan hubungi saya. Sekali lagi, maaf" Lalu gadis itu pergi meninggalkan Rendy begitu saja.
Rendy menatap kartu nama di depannya dan bergumam, "Monalisa Johan. Hmm, seorang pengacara, tapi, main tuduh dan main tampar sembarangan, tzk!" Rendy lalu memasukkan kartu nama itu ke dalam saku kemejanya dan melanjutkan makan burger beef kesukaannya.
Gadis yang bernama Monalisa menoleh ke adiknya sembari memasang sabuk pengamannya, "Lalu, pria brengsek yang sudah meniduri kamu dan meninggalkan kamu, yang bernama Pram itu mana? Kakak baca pesan text di ponsel kamu, kalian akan ketemuan di restoran itu. Dan di jam ini, pria satu-satunya yang ada di dalam restoran itu hanyalah pria yang aku tampar tadi"
"Pram, tidak datang, Kak. Dia sudah terbang ke laut negeri" Sahut adik dari gadis yang bernama Monalisa Johan itu.
Gadis yang bernama Monalisa Johan langsung berteriak kaget, "Apa?!"
"Kenapa harus dimandikan seperti ini? Kenapa harus pakai sabun khusus dan shampo khusus? Bahkan ada taburan rempah dan bunga juga di bathtub" Embun bertanya ke semua pelayan yang tengah menggosok lembut punggung, tubuh bagian depan, tangan, dan kakinya.
Salah satu dari kelima pelayan yang memandikan Embun menjawab pertanyannya Embun, "Ini permintaan khusus dari Tuan muda, Nyonya. Kami juga tidak tahu kenapa harus memandikan Nyonya dengan sabun dan shampo khusus ini, juga taburan rempah dan bunga-bunga ini, Nyonya"
"Mungkin Tuan muda menginginkan Nyonya muda memiliki wangi yang beda malam ini" Sahut pelayan yang lain.
"Tapi, untuk apa? Dia ingin aku memiliki wangi beda malam ini, untuk apa? Dia bahkan sangat dingin sama aku, tadi. Kalian juga lihat, kan?" Tanya Embun sembari memainkan busa yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Mungkin itu karena, Tuan muda lelah, Nyonya" Sahut pelayan yang satunya lagi.
"Tapi, kenapa aku harus dimandikan di sini? Kenapa nggak dimandikan di kamar Mas Luke?"
"Kami juga tidak tahu, Nyonya" Sahut semua pelayan dengan kompak.
Embun masih menautkan kedua alisnya dan hanya bisa menghela napas panjang sambil terus bertanya-tanya di dalam benaknya, hal apa atau kejadian apa yang telah membuat suaminya bersikap aneh dan kembali dingin kepadanya.
Tiba-tiba, braaaakkk!!!!! Terdengar bunyi pintu didobrak dan suara Luke langsung menggelegar bak petir di siang hari, "Sudah selesai?!"
"Be....belum Tuan" Sahut semua pelayan yang tengah memandikan Embun dengan serentak.
Luke kemudian berkacak pinggang dan kembali menggelegarkan suara, "Keluar kalian semua!!!! Tinggalkan aku dan Istriku!!!!"
Kelima pelayan wanita langsung bangkit berdiri dan berlari kencang meninggalkan tuan dan nyonya muda mereka.
Embun memberanikan diri untuk berkata, "Mas, ada apa sebenarnya?"
Luke diam membisu dan dia berjongkok untuk membuka tutup air di bathtub. Saat air di dalam bathtub terkuras habis, Luke langsung memakaikan jubah mandi ke Embun dan membopong Embun.
"Mas, kenapa Mas dingin begini sama aku?"
"Aku akan menghukum kamu malam ini. Jadi, diamlah!" Luke berucap sambil melangkah lebar keluar dari dalam kamar mandi dan tanpa menatap Embun.
"Tapi, kenapa aku harus dihukum malam ini? Apa salahku? Dan apa hukumannya, Mas?" Embun menatap suaminya dengan ekspresi was-was.
Alih-alih menjawab pertanyannya Embun, Luke merebahkan Embun dengan pelan di atas kasur, lalu menarik lepas jubah mandi di tubuh Embun dan dia lemparkan jubah mandi itu begitu saja ke sembarang arah.
Embun spontan memekik kaget dan langsung menggerakkan kedua tangannya untuk menutupi tubuh polosnya, Luke langsung berteriak, "Jangan gerakan tangan kamu!"
Embun kembali meletakkan tangannya di samping badan dan diam mematung dengan tubuh polos tanpa selembar kain pun.
Luke membuka kaosnya dengan cepat dan melemparkan kaos itu ke sembarang arah, lalu ia segera melompat ke atas ranjang saat ia melihat Embun berani bergerak untuk tidur miring dan memunggunginya.
Luke langsung mencium seluruh jengkal tubuh bagian belakangnya Embun yang tengah tidur miring. Kemudian pria tampan itu memutari tubuh istrinya dengan cepat untuk mencari bibir ranum istri imutnya dengan cara menyusurkan kecupan di kulit polosnya Embun yang terasa manis semanis madu sampai ia menemukan bibir Embun. Namun, Luke mengindari tekanan di bagian perutnya Embun.
__ADS_1
Presdir muda super tampan itu kemudian menarik bahu Embun hingga Embun tidur terlentang dan dia langsung menarik kedua tangan Embun ke atas, melampaui kepala Embun dan menahan kedua tangan itu di sana, karena ia ingin bisa menikmati bibir ranum istri mungilnya dengan lebih leluasa tanpa menekan perutnya Embun.
Lalu dengan pelan, Luke meletakkan kedua tangannya di dada Embun. Ia mengelus dada itu dengan gerakan memutar dan meremas yang lembut. Luke semakin menggila saat ia merasakan degup jantung Embun ada di genggaman tangannya.
Luke kemudian menyusupkan wajahnya ke leher Embun untuk menghirup aroma tubuh Embun yang sangat memikat di malam itu dan berbisik di sana, "Kalau kau berteriak ingin aku berhenti, aku tidak akan berhenti. Kau dengar itu?!"
Embun diam membisu dan mulai bergidik ngeri.
Luke kemudian kembali menciumi setiap sudut tubuh polos istri imutnya di bagian depan dan bermain cukup lama di lembah kenikmatan. Embun tersentak kaget lalu berteriak, "Mas! Aku lagi hamil muda" Namun, suami tampannya itu mengabaikan teriakannya dan masih meneruskan keasyikannya bermain di lembah kenikmatan. Embun terus merintih dan akhirnya menyerah kalah di cumbuan manis suaminya itu.
Napas wanita cantik yang masih berumur dua puluh tahun itu, menderu menahan gairah, melenguh menikmati setiap sentuhan bibir dan telapak tangan suami tampannya dan kenyataan ia tidak bisa menggerakkan tangannya sama sekali karena kedua tangannya di tahan oleh Luke, membuat Embun kembali memohon, "Mas, aku hamil dan kandunganku belum ada tiga bulan. Bukankah kalau Mas nekat melakukannya, itu akan berbahaya untuk anak kita?"
Luke berbisik di telinga Embun, "Kalau kau peduli dengan kehamilan kamu, maka jangan bikin gerakan apapun! Diam saja! Aku harus melakukannya agar kau selalu ingat kalau kau hanyalah milikku! Kau hanyalah wanitaku! Kau dengar itu?!!!!"
Embun tersentak kaget mendapatkan bentakan sangat keras dari suaminya dan seketika itu air mata menetes di kedua pipinya.
Mendengar isak tangis istrinya, Luke menghentikan sejenak gerakannya untuk mengusap air mata di kedua pipi Embun dengan lembut.
Kemudian, Luke menyusupkan wajah di belakang telinga. Pria tampan itu menggunakan lidah dan sedikit menggigit bagian atas cuping telinga, dan menarik napas dalam-dalam di belakang telinga untuk meredakan tangisannya Embun dan memberikan rasa nyaman untuk Embun. Di tengah kemarahan dan rasa cemburu yang membakar seluruh hatinya, Luke masih memikirkan kenyamanan bagi istri mungilnya.
Di detik berikutnya, Luke memberikan kecupan di bagian depan leher Embun. Kemudian pria tampan itu memberikan pijatan sensual di bagian bahu. Dia melakukan semua itu untuk membuat istrinya relaks.
Kemudian dengan perlahan, Luke mengganti posisi tidur istrinya dengan membuat wanita kesayangannya itu berbaring di tepi tempat tidur. Lalu, Luke menekuk pelan kedua lutut Embun. Dia kemudian berdiri di hadapan Embun dan langsung menyatukan raga dengan istrinya.
Embun tersentak kaget, namun ia hanya bisa pasrah menuruti kemauan suaminya.
Setelah puas, Luke menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya sambil menarik ke atas celana kolornya, lalu pergi meninggalkan Embun begitu saja.
Luke kembali ke kamarnya dan dia menautkan alisnya saat ia melihat ada tas Embun di pegangan pintu kamarnya. Luke mengambil tas itu dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Luke meraup kasar wajah tampannya dan setelah duduk dengan nyaman di tepi ranjangnya, pria berumur dua puluh tujuh tahun itu, mengecek isi tasnya Embun. Benda yang pertama yang ia ambil adalah telepon genggamnya Embun. Pria tampan itu langsung mengecek ponsel Embun dan kecemburuannya semakin meradang saat ia menemukan ada panggilan masuk dari Alex.
Lalu, Luke melempar asal ponselnya Embun ke belakang dan menumpahkan semua isi tas Embun di atas kasurnya.
Luke menemukan lembaran kertas yang aneh dan dia langsung membuka kertas itu dan membuka lipatan kertas itu, "Cek? Seratus juta rupiah? Dari Alex Norman?" Luke langsung bangkit berdiri dan tanpa berganti baju, ia berlari keluar dari dalam kamarnya setelah meraih kunci mobil dan dompetnya.
Rendy melangkah masuk ke kediamannya Luke dan bertanya ke salah satu pelayan yang berdiri di ruang tamu, "Tuan muda dan Nyonya muda di mana saat ini?"
"Nyonya muda masih ada di kamar tamu dan Tuan muda pergi baru saja"
"Apa?! Tuan muda pergi? Sendirian?"
"Iya"
"Sial! Kenapa Tuan nggak ngajak aku, sih?" Rendy menghela napas panjang.
Mona berlari tergopoh-gopoh mendekati Rendy dan bertanya, "Nyonya muda di mana? Nyonya muda baik-baik saja, kan?"
Rendy menoleh ke Mona dengan ekspresi kaget dan langsung bertanya, "Ada apa ini?"
"Ada kesalahpahaman. Sebelum Nyonya muda kenapa-kenapa, antar aku ke Tuan muda! Aku akan meluruskan semuanya. Maaf aku telat datang. Sepupuku kecelakaan tadi dan aku harus mengurusinya dulu" Sahut Mona.
Tanpa menunggu lama, Rendy langsung mengeluarkan ponselnya sambil berkata, "Tuan muda ada di luar saat ini. Aku sudah temukan lokasinya Tuan muda. Ayo kita susul Tuan muda dan kamu harus ceritakan semuanya ke aku dalam perjalanan kita ke sana"
"Oke" Sahut Mona.
Luke menekan peda gas dalam-dalam dan langsung menuju ke lokasi pertemuannya dengan Alex Norman.
__ADS_1
Alex Norman langsung bangkit berdiri saat ia melihat Luke melangkah lebar mendekatinya dengan wajah dingin sedingin es.
Luke lalu melemparkan cek bertuliskan seratus juta rupiah ke wajah Alex dengan menyemburkan, "Apa yang sudah Istriku lakukan untukmu sampai kau memberikan cek senilai seratus juta rupiah itu ke Istriku?! Jawab!!!!!!"