Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Tawa Lepas


__ADS_3

Sepeninggalnya Luke, Gilang langsung menyandarkan kepalanya di sofa sembari bergumam, "Pria macam apa aku ini? Aku sudah menukarkan kekasihku dengan harta. Kenapa aku mencintai Embun di saat yang tidak tepat. Kenapa aku belum sukses saat ini dan......arrrghhhhhhh!!!!!!" Gilang berteriak kencang sembari menendang kasar meja sofa


Rendy menunjukkan telepon genggamnya ke Luke dalam perjalanan mereka menuju ke parkiran sembari berkata, "Tuan, Nyonya muda sudah meminum susunya"


Luke menggerakkan ibu jarinya di atas layar ponsel itu dan sembari tersenyum ia berkata, "Dia manis banget. Syukurlah dia berhasil meminum susunya sampai habis tanpa mual dan muntah"


Luke mengembalikan ponselnya Rendy sembari berkata, "Kita harus sampai di kantor secepatnya. Ini hampir jam makan siang. Aku harus suapi Embun"


"Baik, Tuan"


Saat pintu lift yang berada di dalam ruang kerjanya Luke terbuka, Luke melihat Embun tengah membelakanginya. Pria itu langsung memberikan kode ke Mona dan chef pribadinya untuk masuk ke dalam lift sambil berkata lirih, "Aku ingin berduaan saja dengan Istriku"


Mona dan chef pribadinya melangkah masuk ke dalam lift dengan membungkukkan badan mereka sampai pintu lift menutup sempurna.


Luke menautkan kedua alisnya saat ia melihat Embun masih menatap layar laptop di atas meja kerjanya dan tidak menyadari kedatangannya. Luke melangkah pelan sembari bergumam lirih, "Apa yang dia lihat, kenapa ia serius banget?"


Luke memajukan wajahnya dari arah belakang dan bertanya, "Kau lihat apa?"


Embun tersentak kaget dan sontak menutup laptop sembari berteriak, "Astaga!"


Luke menegakkan badan dan terus menatap laptop yang sudah tertutup dengan penuh kecurigaan.


Embun berbalik badan untuk berucap, "Maafkan saya. Saya sudah membuka laptop Anda tanpa ijin"


Luke menggelengkan kepala sembari berucap, "Nggak papa. Kalau mau pakai laptop pakai aja. Semua milikku adalah milikmu sekarang, karena kamu adalah Istriku. Tapi, apa yang kamu lihat? Kenapa langsung kamu tutup laptopnya saat aku datang?"


Embun hanya bisa mengerjapkan kelopak matanya sebanyak dua kali dan mematung. Dia tidak malu untuk mengatakan yang sebenarnya bahwa ia mencari tahu soal tanda kepemilikan.


Luke menyipitkan kedua kelopak matanya dan menatap Embun sambil bertanya, "Apa yang kau lihat barusan? Embun? Kenapa diam?"


Embun langsung menurunkan matanya ke bawah dan saat ia melihat buku-buku tangan Luke tampak merah tampak sedikit lecet, Embun langsung meraih tangan Luke sambil bertanya, "Tuan, kenapa tangan Anda? Apa yang terjadi?" Embun mengangkat wajahnya dan seketika itu ia melihat lebam di pipi kiri Luke. "Astaga! Kenapa dengan pipi Anda? Apa yang sudah terjadi, Tuan?"


Luke merona malu saat ia melirik tangannya masih digenggam Embun dengan sangat erat dan ia langsung berdeham untuk bertanya, "Ka...kau mengkhawatirkan aku?" Luke langsung lupa soal laptop.


"Iya" Ucap Embun sembari menarik tangan Luke untuk ia ajak duduk di sofa.

__ADS_1


"Tuan, duduk dulu sebentar, ya?! Saya akan ambil obat di kotak obat di dalam kamar sekalian ambil salep"


Saat melihat Embun berlari kecil menuju ke kamar, Luke langsung berteriak, , "Jangan lari! Ingat, kamu lagi hamil" Dan Embun langsung mengerem laju larinya lalu melangkah dengan santai.


Luke tersenyum senang dengan sendirinya lalu bergumam lirih, "Istriku mengkhawatirkan aku. Dia juga mau mengobati lukaku. Baru kali ini ada wanita selain Nenek yang mau ngobati lukaku"


Saat Embun keluar dari dalam kamar, Luke sontak memasang kembali wajah kakunya.


Embun duduk di sofa dan saat ia hendak mengambil obat, Luke langsung bangkit berdiri, membungkuk untuk membopong Embun.


Embun sontak berteriak, "Kyaaaa! Kenapa Anda malah menggendong saya, Tuan?"


Luke melangkah lebar menuju ke meja makan sembari berkata, "Lukaku bisa menunggu, tapi anakku nggak bisa menunggu"


Embun menggelungkan kedua lengan di leher Luke sembari bertanya, "Apa maksud Anda?"


Luke menurunkan Embun dengan pelan di atas kursi sembari berkata, "Anakku perlu makan saat ini. Dia pasti laper banget. Iya, kan, Nak?" Luke mengelus perut Embun dengan tangan kanan dan tangan kirinya menarik kursi. Dia kemudian duduk di dekat Embun untuk menyuapi Embun.


"Nasi goreng Jawa!" Embun memekik senang saat ia menatap makanan yang ada di atas meja. "Wah! Ada rujak juga" Embun lalu menoleh ke Luke untuk berkata, "Terima kasih, Tuan"


Embun langsung membuka mulutnya dan makan dengan cepat dan sangat lahap tanpa mual dan muntah


Embun lalu bangkit berdiri sambil berkata, "Sekarang giliran Anda ikuti kemauan saya" Embun lalu menarik tangan Luke.


Luke bertanya dengan wajah semringah, "Lalu, rujaknya? Kau belum makan rujaknya"


Embun terus menarik Luke sambil berkata, "Rujaknya bisa menunggu, tapi luka suamiku tidak bisa menunggu lagi. Aku harus obati segera"


Luke terkekeh geli dan dengan pasrah ia membiwrka. tangannya terus ditarik oleh Embun sampai ia duduk kembali di atas sofa.


Embun duduk di sebelahnya Luke dan mulai mengolesi salep di buku-buku tangan Luke sambil sesekali meniup buku-buku tangan Luke


Luke menatap Embun dengan senyum semringah.


Lalu, Embun mengoleskan salep jerawat yang diberikan oleh neneknya Luke saat ia selesai berganti baju tadi pagi.

__ADS_1


"Lho! Jangan jerawatnya! Bukankah kamu suka sama jerawat ini?" Luke menahan tangan Embun.


Embun terus mendorong maju tangannya sambil berkata, "Saya udah nggak merasa suka lagi sama jerawat ini. Jadi, saya harus segera obati jerawat ini agar Anda terlihat tampan lagi sepeti biasanya"


Luke berdeham dan sambil tersenyum lembar dia bertanya, "Me......menurutmu aku tampan?"


"Iya" Sahut Embun acuh tak acuh sambil terus mengoleskan salep jerawat di pucuk hidungnya Luke.


Dan saat Embun berlatih ke pipinya Luke, dia kesulitan menempatkan diri.


Luke langsung mendudukkan Embun di atas pahanya sambil berkata, "Duduk begini lebih mudah untuk mengolesi salep di pipiku, kan?"


"Ah! Anda benar, Tuan" Embun yang masih fokus pada luka di pipi Luke menyahut dengan acuh tak acuh.


Luke mulai merasakan jantungnya berdebar kencang. Untuk meredakan debaran jantung itu, ia bertanya, "Menurutmu, ketampananku ini ada di level berapa?"


Embun yang masih asyik mengolesi salep di pipi Luke, menyahut masih dengan acuh tak acuh, "Di level sembilan"


"Kok, nggak sepuluh?" Protes Luke.


"Karena, level sepuluh hanya ada di dewa-dewa Yunani, Tuan"


Luke seketika tertawa lepas dan berkata di sela tawanya, "Kau lucu juga, ya?"


Embun tersentak kaget mendengar tawa suaminya dan refleks ia menoleh. Seketika itu Embun membeku.


Luke pun langsung menghentikan tawa lepasnya.


Keduanya bersitatap dengan deg-degan, jantung mereka berdua berpacu sangat cepat. Perasaan mereka berdua pun tak menentu, Pasangan pengantin baru itu juga bisa merasakan aliran darah merasa terasa berdesir tak seperti biasanya,


Embun merasa canggung saat Luke menatap bibirnya dengan cukup lama.


Luke kemudian memegang tangan Embun untuk ia letakkan di bahunya. Lalu, pria tampan itu menggerakkan tubuh sehingga ia berada lebih dekat dengan Embun. Pria berdarah campuran Italia itu, menyentuh rambut lalu wajah Embun untuk memberitahukan ketertarikannya. Luke kemudian menyentuh hidung Embun dengan jari telunjuk dan tersenyum pada Embun.


Embun seketika itu mematung.

__ADS_1


Luke kemudian mencoba memeluk pinggang Embun dengan lengan kirinya dan telapak tangannya mengelus pipi Embun. Kemudian, pria berparas sangat tampan itu, mencondongkan tubuh ke depan untuk berkata, "Mbun, aku ingin melakukannya"


__ADS_2