Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Jangan Tidur!


__ADS_3

Luke tersentak kaget dan spontan melepaskan pelukannya saat ia mendengar pintu kamar diketuk dan suara Rendy mengiringi ketukan itu, "Bos! Eh, Tuan, Nyonya besar meminta Anda kembali ke ruang tamu"


Luke langsung menggandeng tangan Embun dan membuka pintu. Dia berjalan keluar dari dalam kamar dengan terus menggandeng tangan istrinya. Rendy langsung mengekor dengan senyum senang. Rendy senang, junjungannya bisa menemukan cinta sejati dan Rendy berharap di dalam hatinya, semoga tuan mudanya tidak pernah bertemu lagi dengan Chika.


Mentari yang keluar dari dalam kamarnya, meradang melihat Luke menggandeng tangan Embun dan terus menoleh ke Embun tanpa menghiraukan sekelilingnya.


Kapan Embun ketemu dengan Tuan Luke? Kenapa mereka bisa tiba-tiba menikah? Batin Mentari sembari melangkah menuju ke ruang tamu. Dan kenapa Nyonya Maria memanggil semuanya kembali ke ruang tamu? Males banget kembali ke ruang tamu. Mentari ngedumel kesal di dalam hatinya.


Luke duduk dan saat ia menatap neneknya Embun, dia langsung teringat dengan kotak berisi satu set perhiasan berlian. Luke langsung menoleh ke Rendy dan Rendy langsung tanggap, asisten pribadinya Luke yang sangat setia itu, menyerahkan kotak perhiasan ke Luke.


Luke menerima kota perhiasan itu dan langsung berkata ke ibunya Embun, "Ibu, ini khusus saya berikan ke Ibu. Ibu simpan baik-baik, ya"


Neneknya Embun langsung bertanya, "Apa itu?!"


Ibunya Embun memangku kotak perhiasan itu dan menatap Luke dengan wajah penuh tanda tanya.


Luke mengabaikan teriakan neneknya Embun dan berkata ke ibunya Embun, "Ibu buka saja!" Luke tersenyum.


Mentari menatap senyum Luke dan sontak berkata di dalam hatinya, selama aku bekerja dengan Tuan Luke, Tuan Luke tidak pernah tersenyum seperti itu.Sial! Ibunya Embun beruntung banget dapat senyuman itu dari Tuan Luke.


Saat kotak perhiasan itu terbuka lebar, Ibunya Embun, Mentari, dan Neneknya Embun membeliak kaget.


Neneknya Embun langsung berteriak, "Wah! Kalian ternyata bersekongkol mencuri satu set perhiasan berlianku. Dasar munafik dan .........."


"Diam!" Luke menoleh tajam ke neneknya Embun. Dan saat Luke hendak bangkit berdiri dengan wajah meradang, Maria Donovan langsung berkata, "Luke, ingat! Jangan pakai kekerasan!"


Luke menegakkan badan kembali dan duduk tenang di kursinya sambil merogoh saku kemejanya untuk mengeluarkan telepon genggamnya.


Mentari sontak menoleh dan berkata ke neneknya dengan tubuh bergetar hebat ketakutan, "Nek, jangan bicara lagi!"


"Tapi, mereka........"


"Jangan memfitnah orang lain sebelum kamu melihat kenyataannya. Lihat ini!" Luke menyerahkan telepon genggamnya ke neneknya Embun.


Mentari membeliak kaget saat ia mendengar suaranya tiba-tiba menggema di ruangan itu. Dia sontak menoleh ke neneknya yang masih melihat layar telepon genggamnya Luke.


Neneknya Embun langsung menoleh ke Mentari. Dia bangkit berdiri untuk mengembalikan telepon genggamnya Luke dan setelah itu ia menoleh tajam ke Mentari dan menampar Mentari sembari berteriak, "Tega bener kau mencuri perhiasannya Nenek! Kurang baik apa Nenek sama Kamu selama ini, Hah?!"


Ibunya Embun tersentak kaget dan saat ia ingin menolong Mentari, Maria langsung menahan lengan ibunya Embun sambil berkata, "Jangan bela anak nakal itu! Biar ia dididik dengan benar oleh Neneknya sendiri!"


Mentari membeliak kaget. Dia langsung merosot turun dari kursi untuk memeluk kaki neneknya. Dengan derai air mata ia berucap, "Maafkan aku, Nek! Maafkan aku!"


Neneknya Embun menampar Mentari sekali lagi sambil berteriak, "Nenek malu punya cucu berjiwa pencuri kayak kamu!"


Mentari semakin erat memeluk kaki neneknya dan menangis sesenggukkan.


"Dan aku rasa, kau perlu meminta maaf sama Ibunya Embun" Ucap Luke.


Neneknya Embun tersentak kaget dan seketika mematung.


"Ayo minta maaf!"


Neneknya Embun berbalik pelan dan berkata dengan pelan, "Maafkan aku!"


"Minta maaf yang benar! Aku aja nggak dengar suara kamu. Apalagi Ibunya Embun" Sahut Luke.


"Maafkan, aku! Lastri" Teriak Neneknya Embun.


"Saya sudah memaafkan Ibu, dari dulu"


Neneknya Embun diam membisu.


Maria Donovan langsung bangkit berdiri dan berkata, "Kami pamit dulu. Kalian selesaikan sendiri masalah keluarga kalian. Kami ajak Ibunya Embun dan untuk lusa, kalian semua harus hadir di acara resepsi pernikahannya Luke dan Embun"


Mentari masih menangis sesenggukan di tempatnya.

__ADS_1


Semua langsung bangkit berdiri dan mengekor langkahnya Maria Donovan. Embun merangkul ibunya dan membantu ibunya naik ke mobilnya Maria Donovan. Dan Embun langsung ditarik oleh Luke untuk masuk ke dalam mobilnya Luke.


Beberapa jam kemudian, mereka sampai di sebuah rumah mewah berlantai dua.


Setelah semuanya duduk di sofa, Maria Donovan langsung berkata, "Kalian berdua harus menjalani pingitan. Makanya Nenek antarkan Embun ke sini. Embun malam ini sampai acara resepsi pernikahan digelar, tidur di sini dan tinggal di sini dengan Ibunya"


"Pingitan? Apa itu pingitan, Nek?" Luke menatap neneknya dengan kerutan di dahinya.


"Pingitan adalah saat calon pengantin perempuan dilarang keluar rumah untuk bertemu dengan calon pengantin pria dan begitu juga sebaliknya" Jawab Maria Donovan.


Luke sontak memeluk Embun dan berteriak, "Nggak bisa! Aku nggak mau pisah dengan Embun. Aku nggak mau menjalani pingitan"


Ibunya Embun sontak menunduk dan mengulum senyum menahan geli.


Embun menoleh ke suaminya dan langsung mengulum senyum.


"Luke, jangan kayak anak balita! Malu sama Ibunya Embun, tuh" Maria Donovan mendelik ke Luke.


Luke semakin erat memeluk istri mungilnya dan berkata, "Pokoknya aku nggak mau dipingit"


"Cuma sehari, Luke. Biar kamu bisa belajar bersabar dan biar nanti pas acara resepsi, kalian bisa merasakan debaran jantung yang ......."


"Jantungku masih berdebar-debar, kok. Jadi, nggak perlu dipingit" Luke berucap dengan dagu ia letakkan di atas pundaknya Embun.


Embun sontak tersenyum geli.


"Tuh, Istri kamu tersenyum geli, tuh"


Luke langsung mengerucutkan bibirnya.


"Pokoknya harus ada acara pingitan agar kalian, emm, khususnya Luke, bisa belajar bersabar dan biar bisa merasakan tambah kangen pas sama sekali nggak boleh ketemu. Ponsel kalian berdua juga harus nenek sita"


"Nek! Kalau disita, Luke kerja pakai apa?" Luke semakin mengerucutkan bibirnya.


"Selama dipingit, kamu nggak boleh kerja. Kan, kamu nggak boleh keluar rumah. Biar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, maka kalian harus dipingit. Kamu ingat sama kandidat terakhir pemilihan Presdir kemarin, kan?"


"Kandidat Presdir itu dan calon Istrinya kecelakaan dan saat ini mereka masih terbaring koma di ICU. Itulah kenapa Nenek ingin kalian dipingit dulu untuk menghindari hal buruk yang mungkin terjadi sebelum hari H"


"Baiklah. Aku setuju dipingit. Cuma sehari, kan?"


"Lha iya. Kan, lusa acara resepsi pernikahan kalian sudah digelar" Sahut Maria.


"Baiklah" Luke berucap sembari memainkan rambutnya Embun.


"Ayo kita makan malam dulu. Nenek sudah sediakan makan malam di sini. Mari Bu Lastri, kita makan malam bareng" Neneknya Luke menggandeng lengan ibunya Embun.


Ibunya Embun mengangguk dengan canggung.


Luke menyuapi Embun dan berkata ke Ibunya Embun, saat ibunya Embun menatapnya dengan heran, "Embun nggak bisa makan kalau nggak saya suapi, Bu. Nah, lho! Kalau dipingit, terus yang nyuapi Embun siapa dong?"


Maria menghela napas panjang, "Embun dijaga sama Ibunya. Lagian cuma sehari, Luke. Nenek rasa, Embun akan baik-baik saja"


"Saya akan baik-baik saja, Mas" Embun menoleh ke suami tampannya.


Luke hanya diam dan menatap Embun dengan mengerucutkan bibirnya kembali.


"Luke, ayo pulang. Ini sudah malam" Maria menarik tangan Luke yang masih memeluk Embun.


Embun diam dengan terus mengulum bibir.


"Nek! Kalau anakku kangen sama aku gimana? Kemarin malam, anakku manggil aku untuk meluk dia, lho"


"Aish! Mana ada kayak gitu. Anak kamu masih ada di perutnya Embun. Mana bisa manggil kamu untuk meluk"


"Dibilangin, kok, nggak percaya" Luke masih bekum melepaskan pelukannya dan Embun langsung mengusap punggung suaminya, "Mas, anak kita bilang, Papanya harus nurut sama orangtua"

__ADS_1


Luke langsung berjongkok dan setelah mencium perut ratanya Embun berulangkali, ia berucap, "Nak, Papa nggak meluk kamu semalam aja. Lusa, Papa akan kasih pelukan dan ciuman yang banyak banget buat kamu" Luke mencium sekali lagi perutnya Embun dan setelah bangkit berdiri, dia memeluk Embun sekali lagi untuk berkata, "Baik-baik jaga diri dan jaga anakku, ya?!"


"Iya, Mas"


"Bye-bye" Luke akhirnya melambaikan tangannya ke Embun.


"Bye-bye" Embun membalas lambaian tangannya Luke dengan senyum geli.


Ibunya Embun berpelukan sebentar dengan neneknya Luke dan berkata, "Terima kasih banyak, Nyonya"


Sesampainya di rumah, Luke langsung menelepon Rendy, "Ren, ke rumahku sekarang!"


"Saya udah ada di depan rumah Anda, Tuan. Nyonya besar menyuruh saya menemani Anda selama Anda dipingit"


"Cepat masuk! Temani aku main catur!"


Dua jam kemudian, Rendy berkata, "Tuan, saya bosan kalah. Kita ganti permainan aja, Tuan. Jangan catur terus, Tuan!"


"Lalu, apa? Main apa?"


"Kartu. Saya bawa kartu"


"Oke" Sahut Luke sembari menyalakan rokok


"Tuan, masih merokok?"


"Hmm" Sahut Luke sembari menghisap dalam-dalam rokoknya.


"Saya kira Tuan sudah berhenti merokok" Ucap Rendy sembari membagikan kartu.


"Aku nggak merokok selama ini, karena ada Embun. Aku nggak ingin anakku menghisap asap rokok"


"Oooooo" Sahut Rendy sembari menata kartu yang ada di dalam genggaman tangannya


"Kita main apa, nih?" Luke menatap kartu di tangannya.


"Empat satu, Tuan. Bisa, kan?"


"Bisa. Cuma ngumpulin kartu K,Q,J, sama As, kan?"


"Iya, Tuan"


Tiga jam kemudian, "Tuan, saya lelah kalah terus. Kenapa Tuan jago juga main kartu. Kita tidur aja, yuk! Ini sudah jam satu dini hari, Tuan"


"Nggak boleh tidur. Besok kita, kan, nggak ngantor. Jadi, nggak perlu bangun pagi, kan?"


"Lha terus?" Rendy menatap Tuan mudanya dengan wajah bengong.


"Kita main lagi"


"Tapi, saya lelah. Lagian, saya nggak pernah menang melawan Tuan dalam permainan apapun"


"Kamu paling jago main apa?"


"Billiard" Sahut Rendy.


"Kenapa nggak bilang dari tadi" Luke bangkit berdiri dan melangkah ke kolam renangnya. Di samping kolam renangnya, ada meja Billiard.


"Hah?! Tuan serius mau main Billiard?"


"Iya. Aku nggak bisa tidur malam ini" Ucap Luke sembari menyalakan rokok keenamnya.


"Kenapa Tuan nggak bisa tidur? Emangnya tuan nggak capek? Padahal saya capek banget, lho Tuan. Kita tidur aja, yuk"


"Mana bisa aku tidur. Nggak ada Embun dan anakku di sini" Luke berkata sembari mengusapkan kapur stik di ujung stik Billiardnya.

__ADS_1


Rendy menjerit di dalam hatinya, astaga! Besok pagi aku pasti jadi kungfu Panda, nih. Kelopak mata menghitam dan perut menggendut kemasukan angin, hiks, hiks, hiks.


__ADS_2