Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Indah Banget


__ADS_3

Daniel berhasil menggiring Chika menjauh dari Luke dan Embun.


Chika mendelik ke Daniel, "Mau kasih tahu hal penting apa, sih?! Kita lumayan jauh dari tempat pesta. Kalau Luke mencariku gimana?"


"Kak Luke masih sibuk sekarang ini"


"Lalu, kamu mau kasih tahu apa? Buruan bilang"


"Aku cuma ingin mengenang masa kita sekolah dulu. Kita kan sekelas. Kita beda umur tiga tahun dengan Kak Luke dan........"


"Aku pikirin hal penting apa. Kalau cuma mengenang masa kita sekolah dulu, males aku" Chika mendengus kesal dan langsung melengos pergi meninggalkan Daniel.


Daniel langsung berlari dan berhasil mencekal lengan Chika.


Chika sontak menoleh ke Daniel dan menyemburkan, "Lepaskan aku!"


Daniel cuma bisa berkata, "Temani aku sebentar aja di sini. Aku butuh menyendiri sejenak dan aku butuh teman. Please?!" Daniel langsung memasang tampang memelas.


Chika yang pernah berpacaran dengan Daniel dari kelas satu SMA sampai kelas dua SMA itu akhirnya menghela napas panjang dan berkata, "Tampang memelas kamu itu masih saja kau andalkan untuk menarik perhatianku"


"Hahahaha. Tapi, masih manjur, kan. Hahahahaha" Daniel sontak tertawa terbahak-bahak.


Chika mendengus kesal dan sambil duduk di atas rumput, wanita mantan penari balet Internasional itu berkata, "Oke, aku temani kamu. Tapi, sebentar aja"


Daniel duduk di samping Chika dan berkata, "Iya. Sebentar saja. Sepuluh menit aku rasa cukup"


Kepergian Chika dengan Daniel membuat Luke leluasa melancarkan aksinya mendekati Embun. Entah kenapa, Embun bagaikan magnet bagi dirinya. Selepas mereka berdansa, Luke terus mengekor langkah Embun.


Embun menghentikan langkahnya dan memutar badan, "Kenapa Mas terus mengikuti aku?"


"Siapa yang mengikuti kamu?" Luke berkata sembari mengedarkan pandangannya ke segala penjuru taman.


"Kalau nggak mengikuti, lalu ini apa namanya?"


Luke berucap tanpa menatap Embun, "Aku ingin ke mejanya Nenek. Aku ingin menemui Dino. Tadi siang, kan, aku cuma sebentar bertemu dengan anakku yang sangat tampan itu"

__ADS_1


"Aku juga mau ke sana"


"Nah! Terbukti, kan, kalau aku tidak mengikuti kamu. Kita cuma kebetulan aja satu arah"


Embun menghela napas panjang lalu memutar badan untuk melangkah meninggalkan Luke dan Luke langsung mengekor.


Luke melihat rambut Embun dari arah belakang. Tangannya terasa sangat gatal ingin meraih rambut itu, memainkannya di ujung jari jemarinya, dan menciumi wanginya sampai puas. Hingga pria tampan itu tanpa sadar berucap, "Indah banget"


Embun sontak mengerem langkahnya dan berputar badan untuk bertanya ke Luke, apa yang indah. Kening Embun langsung membentur dada bidangnya Luke. Saat keningnya menempel di dada bidang suami yang sangat ia rindukan, Embun seketika mematung.


Tangan Luke terangkat naik dan mengelus rambut indahnya Embun. Rambut bergelombang yang belum pernah ia jumpai sebelumnya itu, benar-benar menghipnotis Luke. Pria tampan itu kembali berucap di luar kesadarannya, "Indah banget"


Mendengar kata indah banget di kedua kalinya, Embun mendorong pelan dada bidang Luke untuk menatap kedua bola mata Luke yang sedikit berwarna kecokelatan, dan bertanya, "Apa yang indah, Mas?"


Sial! Kenapa dia menatapku sedekat ini? Sial! Kenapa dia sangat wangi dan cantik banget malam ini? Luke membatin sambil menyusuri wajah Embun mulai dari mata hingga turun ke bibir.


Dug, dug, dug, dug, dug!!!!! Jantung keduanya seketika beradu kencang.


Tangan Luke bergerak maju dari punggung Embun dengan menjumput rambut bergelombangnya Embun untuk ia cium.


Luke mencium beberapa helai rambut Embun yang ada di jari jemarinya dengan sangat dalam, lalu berkata dengan menatap lekat kedua bola mata Embun, "Ini yang indah. Rambut kamu begitu indah dan wangi"


Embun sontak kesulitan menelan air liurnya sendiri. Wajahnya spontan merona malu.


Luke menangkap rona merah di pipi Embun yang membuatnya tida bisa menahan dirinya lagi untuk mencium pipi Embun dan berkata di sana, "Kau semakin cantik dan menarik saat merona malu"


Dan di saat bibirnya bergerak mencari bibir Embun, terdengar suara, "Ayah, Bunda, Dino juga mau dicium"


Embun langsung mendorong cukup keras dada Luke dan dengan linglung ia menoleh ke asal suara dan langsung meraih Dino dari gendongan Maria, lalu ia ciumi wajah tampan putra tunggalnya itu sambil berkata, "Bunda kasih kamu hujan ciuman, nih"


Dino tertawa riang di dalam dekapan bundanya dan Luke melihatnya dengan senyum bahagia, lalu pria tampan itu mengusap kepala Dino dan berkata, "Dino mau Ayah gendong?"


Dino menoleh ke Luke dan langsung menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.


Embun menyerahkan Dino ke Luke dan tanpa sengaja, bibir Luke kembali menyentuh pipinya. Hati keduanya seketika itu berdesir.

__ADS_1


Luke langsung mencium wajah Dino dan meniru ucapannya Embun, "Ayah kasih kamu hujan ciuman"


Dino tertawa dua kali lebih riang dan dua kali lebih keras saat ia berada di dalam dekapan ayahnya.


Embun melihatnya dengan wajah penuh syukur.


Maria tersenyum bahagia melihat akhirnya Luke bisa bersatu dengan anak dan istrinya. Lalu, CEO Grup Donovan itu berkata, "Maaf kalau Nenek terpaksa menginterupsi kalian. Tapi, kita harus pulang. Dino udah kecapekan"


"Aku mau tidur bareng Ayah dan Bunda malam ini" Dino memekik spontan sambil menatap ayah dan bundanya secara bergantian.


Luke dan Embun sontak saling berpandangan dengan ekspresi canggung.


"Iya, Nenek buyut setuju. Tentu saja malam ini Dino harus tidur sama Bunda dan Ayah. Untuk itu ayo kita cepat pulang" Maria berucap dengan wajah semringah sembari menarik pergelangan tangan Embun dan Luke.


Daniel mengajak Chika kembali ke taman dan wanita mantan penari balet tingkat Internasional itu, sontak berkata, "Kok Luke dan Nyonya besar sudah nggak ada? Mereka ke mana?"


"Aku akan bertanggung jawab karena mengajak kamu melipir sebentar tadi. Aku akan antarkan kamu pulang. Apartemen kamu masih di........."


"Antar aku ke rumah Luke"


"Hah?! Kenapa ke rumah Kak Luke?"


"Kau tidak tahu kalau selama ini aku tinggal di rumah Kakak kamu?"


Daniel menggeleng dengan cepat sambil mengajak Chika untuk berjalan ke parkiran mobil.


"Aku tunangannya Luke. Tentu saja aku harus tinggal di rumahnya Luke. Eh! Mobil Luke udah nggak ada di parkiran. Apa dia sudah pulang? Kenapa dia bisa lupa sama aku? Kok bisa-bisanya ia tinggalin aku?" Ucap Chika di depan mobilnya Daniel.


"Kak Luke pasti ada kerjaan dulu makanya ia melupakan kamu. Oke. Aku antarkan kamu ke rumah Kak Luke. Kamu masuk dulu ke mobilku. Aku akan nelpon dulu sebentar"


Chika langsung masuk ke dalam mobilnya Daniel dengan wajah cemberut.


Daniel melangkah menjauhi mobilnya untuk menelepon Maria Donovan, "Nek, Chika minta diantar pulang ke rumah Kak Luke"


"Antar aja. Luke pulang ke rumah Nenek"

__ADS_1


"Oke, Nek!"


__ADS_2