
Luke melakukan kontak mata yang mengesankan. Pria tampan itu melihat jauh ke dalam mata Embun, Seolah-olah Embun bisa melompat ke dalamnya. Wajah Embun memerah karena malu, saat suaminya berkata, "Bolehkah aku melakukannya? Selama ini aku melakukannya karena ingin menenangkan kamu pas kamu nangis. Kali ini aku ingin melakukannya sebagai seorang suami"
Tatapan dalamnya Luke, membuat Embun merasa sebagai satu-satunya wanita paling berharga di dunia ini.
Melihat Embun diam, Luke mendaratkan bibirnya secara perlahan di bibir Embun. Dan saat ia melihat Embun menutup mata rapat-rapat, Luke tersenyum dan langsung menyapukan bibirnya di bibir Embun secara perlahan, menangkup pipi Embun, memiringkan sedikit kepala ke kiri, lalu memejamkan mata.
Luke bisa merasakan kalau Embun menikmati ciumannya dan ia membiarkan Embun mengikuti naluri Embun selanjutnya.
Embun tersentak kaget saat Luke berucap, "Jangan tahan napas! Atur napas kamu dengan benar! Kalau begini terus, kau bisa masuk IGD, karena sesak napas" Luke mengelus pipis Embun sambil tersenyum geli.
Embun bertanya dengan canggung, "La....lalu, bagaimana cara bernapas yang benar itu, Tuan?"
Luke masih mengusap pipi Embun dengan ibu jarinya dan berkata, "Bernapaslah lewat hidung dan saat aku mencium kamu, buka saja mulut kamu sedikit untuk mengambil napas. Cobalah untuk santai. Jangan takut dan jangan tegang!"
"Ba.....baik. Sa......saya akan mencobanya, Tuan" Embun mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu, ia memberanikan diri bertanya saat ia melihat Luke senyum alih-alih menciumnya, A.....apakah Anda akan mencium saya lagi, Tuan?" Wajah Embun memerah malu setelah ia mengucapkan pertanyaan itu.
Luke spontan mengulum bibir menahan geli, lalu pria itu bertanya untuk menggoda Embun, "Apa kau mau aku melakukannya lagi? Wah! Apa ciumanku sangat hebat sampai membuatmu ketagihan?"
Embun refleks menunduk dan tangan Luke spontan menahan dagu Embun dengan cubitan mesra dan berkata, "Mulai detik ini, jangan manggil Tuan lagi!" Luke masih menahan dagu Embun dengan jepitan jari telunjuk dan ibu jari.
"Sa.....saya tidak berani. Sa......saya harus tetap memanggil Anda dengan Tuan, Tuan"
"Kamu ini Istriku atau pegawaiku?" Tanya Luke.
"Sa.....saya, is......istri Anda, Tuan"
"Kalau gitu coba panggil aku suamiku" Luke berkata sembari mengusap lembut bibir Embun dengan sisi samping jari telunjuknya.
"Sa.....saya nggak bisa. Maaf, Tuan"
"Kalau gitu kamu pilih! Panggil aku Mas atau suamiku. Harus milih sekarang! Kalau nggak........."
__ADS_1
"Kalau nggak apa, Tuan?"
"Kita nggak jadi pergi ke rumah Nenek kamu. Kamu kemarin malam ngigau ibu, ibu. Kamu rindu sama Ibu kamu, kan?"
"Ma....mana bisa begitu?"
Luke mengecup bibir Embun lalu berkata, "Ayo panggil aku Mas atau panggil aku dengan panggilan suamiku"
"Ma......mas"
"Mas siapa?" Luke tersenyum semringah.
"Mas Luke Donovan" Embun mengerjapkan kedua kelopak matanya sebanyak dua kali lalu memandangi wajah Luke dengan malu-malu.
"Astaga! Kenapa kamu sangat menggemaskan Istriku" Luke tersenyum semringah dan kembali memagut bibirnya Embun dengan gemas.
Ciuman keduanya Luke bersifat intim dan jujur pada diri sendiri mengenai apa yang ia rasakan terhadap Embun. Pria tampan berhidung mancung itu, menuangkan perasaannya tersebut dalam ciuman dan tidak terlalu banyak berpikir. Dia hanya mengikuti instingnya.
Di saat ciumannya semakin terasa menggairahkan, Luke mulai menggerakkan tangannya. Ia membelai pipi Embun dengan tangan kanan dan menarik pakaian Embun dengan tangan kiri agar tubuh Embun semakin mendekat,
Embun masih belum bisa memercayai kenyataan kalau ia benar-benar berciuman dengan suaminya. Ciuman itu mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuh Embun dan meningkatkan aliran darah yang membuat perutnya menegang.
Kedua pasangan itu mulai melepaskan adrenalin. Hati mereka berdua menjadi berdebar-debar, napas mereka berat, dan telapak tangan mereka mulai berkeringat. Pada saat yang sama, bagian tubuh lain yakni otak, mulai mematikan emosi negatif.
Mengunci dua bibir membuat mereka berdua tanpa mereka sadari, sudah membentuk ikatan emosional suami istri yang sangat dalam.
Ciuman intens mereka berdua tanpa mereka.bedua sadari juga bisa mengurangi ketegangan dan meningkatkan kebahagiaan.
Luke kemudian mencoba untuk membuka mata secara perlahan. Dia ingin melihat reaksi Embun. Saat ia melihat Embun sudah bisa mengatur napas dengan benar dan menikmati ciuman mereka, Luke memberikan sedikit senyuman di atas bibir Embun.
Luke kembali memejamkan mata dan berniat untuk melanjutkan ke tahap berikutnya. Ia memberikan tanda melalui belaian tangan pada wajah lalu bersambut ke leher dengan benar-benar lembut.
__ADS_1
Luke kemudian memberikan ciuman yang lebih intens dan lebih panas. Pria berparas tampan itu, mulai mengajak istri mungilnya membuka mulut sedikit dan ia sambut bibir istrinya dengan lembut dan mendalam untuk beradu lidah saat berciuman. Luke bisa merasakan kalau istri imutnya menikmati ciuman bersensasi basah ini. Sama halnya dengan dirinya, dia sungguh tidak menduga kalau sikap malu-malu yang ada di Embun, memberikan sensasi yang luar biasa bagi Luke.
Saat ritme ciuman pasangan pengantin yang masih terbilang sangat baru itu mulai memanas, Luke memposisikan tangannya di sekitar rambut Embun. Kemudian, ia tarik sejumput rambut istrinya dan mulai meremas tubuh Embun di bagian bawah gundukan.
Embun merintih pelan dengan jantung yang berdegup abnormal dan kepala mulai pening. Dia seolah kehabisan napas, namun tak ingin lepas dari ciuman itu. Tanpa ia sadari, Embun menyukai ciuman yang lama.
Ciuman Luke menjanjikan ciuman panjang yang mendebarkan dan penuh gairah. Seperti prangko dan amplop, Luke dan Embun enggan menarik diri dan tak mau lepas. Untuk itulah, sebagai pria yang jantan, Luke berinisiatif untuk mengakhiri ciuman panasnya dengan cara memperlambat gerakan lidahnya. Lalu, secara perlahan ia lepaskan dekapannya di tubuh Embun dan ia tatap mata istrinya.
Embun menatap Luke dan dengan keluguannya dia bertanya, "Kenapa berhenti?"
Luke tersenyum geli, lalu ia mencium kening Embun dan menatap Embun untuk berkata, "Aku akan teruskan kalau kamu nggak hamil"
Luke tertawa lepas saat Embun merona malu dan langsung membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Luke memeluk erat Embun dan berkata, "Terima kasih sudah menghiburku. Terima kasih sudah memaafkan aku. Terima kasih sudah memanggilku, Mas"
Embun mengangguk-angguk di atas dada bidang suaminya.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya Luke terbuka lebar dan suara Maria Donovan langsung menggelegar, "Maaf, Nenek masuk tanpa ketuk pintu dulu" Maria lalu menutup mulutnya yang ternganga.
Embun langsung bangkit berdiri dari atas pangkuannya Luke dan Luke pun sontak ikutan bangkit berdiri sambil melempar tanya ke neneknya, "Nenek kenapa kemari?"
Maria Donovan berlari kecil dan langsung memeluk bahunya Embun, lalu berkata, "Wah! Ada banyak kemajuan, nih. Nenek suka, Nenek suka"
Embun langsung menunduk malu.
Luke menoleh ke Neneknya dan kembali bertanya, "Nek, kenapa kemari?"
"Oh, iya! Ayo kita pergi sekarang!" Maria langsung menarik tangan Luke dan Embun.
Luke mengikuti langkah neneknya dengan pasrah sembari bertanya, "Ke mana Nek?"
__ADS_1
"Ke rumah Neneknya Embun. Kita kirim lamaran kita ke keluarganya Embun malam ini. Harus malam ini" Sahut Maria Donovan tanpa melepaskan tangan Luke dan Embun.
Luke dan Embun bersitatap dan sontak berkata, "Malam ini?"