Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Desir Hangat


__ADS_3

Sewaktu Luke bangkit berdiri, dengan cepat Embun mengusap kedua pipinya. Dia tidak ingin pria itu melihat dia menitikkan air mata dan pria itu menciumnya lagi seperti dulu.


Luke mengedarkan pandangannya ke segala arah dan Itu mengundang Embun untuk melemparkan tanya, "Anda mencari siapa, Tuan?"


Luke kembali menatap Embun untuk bertanya, "Kenapa kamu berjalan sendirian?"


"Ya, nggak papa, Tuan. Emangnya salah kalau saya berjalan sendirian"


Luke menunjukkan jari telunjuknya ke segala arah sembari berkata, "Tapi, aku lihat di sana dan di sana, tidak ada yang berjalan sendirian. Cuma kamu yang aku lihat berjalan sendirian"


Embun tersenyum dan berkata, "Saya bisa kuliah di sini karena mendapatkan beasiswa. Jadi, ya, dipandang rendah dan miskin. Lihatlah saya, Tuan!"


"Aku sedang melihatmu saat ini"


Embun langsung berdeham dan kembali berucap, "Penampilan saya, memperlihatkan ke semua orang kalau saya bukan dari kalangan orang berkelas tinggi. Jadi, nggak ada yang mau dekat dengan saya. Mahasiswa atau mahasiswi yang masuk ke sini karena mendapatkan beasiswa, harus siap mental"


"Kenapa harus siap mental?"


"Karena, bakal disingkiri, dipandang rendah, dan bakalan tidak punya teman. Harus mandiri juga, karena tidak akan ada yang mau membantu.


Luke seketika itu menggertakkan gerahamnya. Entah kenapa hati kecilnya merasa tidak terima Embun disingkiri. Lalu ia segera berbalik badan sembari berkata, "Masuk ke mobil! Aku akan bawa kamu ke optik"


Embun mengangguk, lalu berjalan ke mobil.


Luke menoleh ke Embun dan Embun langsung bertanya dengan wajah panik, "Ada apa, Tuan? Apa saya melakukan kesalahan?"


"Aku perhatikan dari awal kita berangkat tadi pagi, kamu tidak duduk dengan benar. Kamu tidak sandarkan punggung kamu di jok mobil. Apa kamu takut sama aku? Itu yang membuatmu tidak bisa duduk santai?" Luke berucap sembari terus mengamati wajah Embun yang masih dibingkai kacamata yang besar, tebal dan modelnya terlihat sangat kuno.


Embun memasang sabuk pengaman dan sambil menunduk ia menggeleng dan berucap, "Saya tidak....saya cuma........emm, itu......."


Luke langsung memegang kedua bahu Embun dan ia sandarkan Embun di jok mobil sambil berucap, "Duduk aja dengan santai! Sandarkan bahu kamu dengan nyaman. Aku nggak akan gigit kamu"


Embun tanpa sadar mendesis saat punggungnya menyentuh jok mobil, punggungnya terasa perih dan nyeri.


Luke sontak bertanya, "Kenapa? Apa aku terlalu kasar? Maafkan aku!" Luke melepaskan kedua bahu Embun dengan wajah bersalah.

__ADS_1


"Enggak, Tuan. Itu, emm, punggung saya.........."


Luke langsung memencet tombol dan saat Embun terbebas dari lilitan sabuk pengaman, Luke langsung berkata, "Tempelkan kening kamu ke kaca mobil!"


Embun menoleh dengan wajah bingung dan Luke langsung berteriak, "Cepat!"


Karena kaget, Embun langsung menempelkan keningnya ke kaca mobil dan tanpa ia duga, Luke menyobek blusnya.


"Kyaaaaaa!" Embun sontak berteriak dan menoleh ke belakang sembari menyemburkan protes, "Apa yang akan Anda lakukan?!!!!!"


"Diam dan kembali ke posisi semula! Aku nggak akan ngapa-ngapain kamu. Aku hanya ingin lihat punggung kamu kenapa"


Embun kembali menempelkan keningnya di kaca mobil dan Luke langsung berteriak, "Kenapa punggung kamu?!"


"I.....itu, hanya luka kecil dan .........."


"Luka kecil apa? Ada tiga goresan cukup dalam, merah meradang dan bengkak. Ini luka sabetan. Jangan bilang hanya luka kecil. Siapa yang melakukannya?" Luke mengelus kulit di sekitar luka dan jantung Embun seketika itu berdetak abnormal.


"Jawab! Siapa yang sudah melakukan ini padamu?!"


Luke melepas jasnya, lalu ia pakaikan jasnya dengan hati-hati ke tubuh Embun. Kemudian dengan perlahan dia menarik tubuh Embun untuk kembali tegak. Pria tampan itu memasangkan sabuk pengaman dan tanpa berkata apapun, dia menegakkan badan, memasang sabuk pengaman dan melajukan mobilnya.


Embun langsung tegang. Dia tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Namun, sesekali dia melirik Luke sambil bergumam di dalam hati, apa dia marah sama aku? Apa yang akan dia lakukan setelah ini?


Saat mobilnya hampir sampai ke kediaman pribadinya, Barulah Luke mengeluarkan suara, "Aku bawa kamu pulang. Karena punggung kamu luka, aku tidak jadi bawa kamu ke optik. Aku akan panggil dokter mata ke rumah untuk memeriksa mata kamu dan membawakan kontak lensa yang cocok untukmu"


Embun menyahut singkat, "Baik, Tuan" Dan hatinya langsung bergumam lega, syukurlah aku dibawa pulang.


"Cepat masuk ke rumah, tapi jangan lari!" Luke menoleh ke Embun dengan wajah penuh amarah.


Embun bergegas keluar dari dalam mobil dan dengan langkah lebar ia langsung masuk ke dalam rumah dan belok ke kamar.


Embun tersentak kaget saat ia melihat Luke berjalan mendekatinya sambil membawa kotak obat. Luke berkata, "Duduk dengan benar!"


Embun duduk di tepi ranjang dengan bertanya, "Anda mau apa, Tuan?"

__ADS_1


Luke duduk di belakangnya Embun sambil berkata, "Aku akan obati punggung kamu"


"Ti.....tidak usah, Tuan!" Embun sontak menoleh ke belakang dan kembali berucap, "Saya akan obati sendiri punggung saya. Tinggalkan saja kotak obatnya dan........."


"Diam! Atau aku akan panggil Nenek"


Embun terpaksa menghela napas panjang dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan.


Luke membuka pelan jas yang dia pakai untuk menutupi punggung Embun. Lalu, dengan perlahan ia mengoleskan salep yang mengandung antibiotik dan khusus digunakan untuk segala luka di punggung.


Saat Embun mendesis menahan sakit, Luke meniup lukanya Embun.


Seketika itu, hati Embun berdesir hangat, jantungnya berdetak abnormal dan ada sensasi aneh di perutnya. Seperti ada berjuta getaran sayap 'kupu-kupu di perut'.


Luke terus meniup pelan kulit punggung Embun yang terluka dan saat ia mengusap kulit di sekita luka itu, Luke merasakan ada sensasi aneh di perutnya. Seperti ada berjuta getaran sayap 'kupu-kupu di perut' Luke langsung menegakkan badan, membereskan kotak obat dan bergegas berlari pergi meninggalkan Embun tanpa kata apapun.


Embun menatap punggung Luke yang menjauh dan dengan wajah kebingungan, ia bergumam sangat lirih, kenapa ia tiba-tiba berlari meninggalkan aku? Apa aku terlihat menjijikkan di mata dia? Dan kenapa dengan diriku? Kenapa aku mengalami sensasi aneh kayak gini? Aku belum pernah merasa aneh seperti ini sebelumnya"


Luke menutup pintu kamar dan bersandar di sana sambil mengelus-elus dadanya. Dia berkata di dalam hatinya, kenapa aku mengalami sensasi seaneh ini? Aku nggak pernah mengalami sensasi seaneh ini sebelumnya.


"Tuan, Tuan kenapa? Tuan sakit? Mau saya ambilkan minuman hangat?" Seorang pelayan menyapa Luke.


Luke langsung menyerahkan kotak obat ke pelayan itu dan tanpa mengucapkan kata apapun dia berlari pergi.


Sesampainya ia di ruang kerjanya, Luke langsung bersandar di kursinya dan menyalakan CCTV. Dia memantau rumahnya. Entah kenapa ia ingin terus melihat Embun. "Kenapa dia nggak ada di kamar? Dia ke mana?" Luke langsung panik dan spontan mengerakkan mouse untuk mencari keberadaannya Embun. Dia bernapas lega saat ia melihat Embun yang sudah berganti baju, tengah duduk di teras belakang.


Alih-alih bekerja dan menggeluti berkas seperti biasanya, Luke justru asyik menatap layar laptopnya. Luke memajukan wajahnya ke layar laptop sewaktu ia melihat Embun memungut anak burung Pipit yang jatuh di atas rumput halaman belakang rumahnya.


Luke bergumam, "Mau ia apakan anak burung itu?"


Luke melihat Embun mencari kardus. Saat Embun mendapatkan kardus dari salah satu pelayan, Embun meletakkan anak burung Pipit itu ke dalam kardus.


Luke tersenyum melihat layar laptopnya, lalu ia bergumam, "Ibu dari anakku ternyata wanita yang berhati hangat dan baik. Dia menolong burung kecil itu dan merawat lukanya"


Rendy yang sejak Luke membuka laptop sudah hadir dan duduk di depan meja kerjanya Luke, menatap Luke dalam diam. Rendy terus mengerutkan keningnya saat ia melihat bosnya sesekali, meraup wajah dengan canggung, lalu tersenyum semringah dan bergumam lirih. Lama kelamaan, Rendy tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melemparkan tanya, "Tuan sedang melihat apa? Film beradegan dewasa, ya? Kenapa nggak ajak-ajak?"

__ADS_1


Karena kaget, Luke sontak menutup layar laptopnya dan menoleh ke Rendy dengan sorot mata mematikan.


__ADS_2