Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Bidadari


__ADS_3

Luke memandangi wajah wanita dengan rambut panjang bergelombang yang wajahnya tersentuh sinar mentari.


Wanita ini sangat cantik. Apakah dia bidadari yang turun dari sorga? Batin Luke.


Seketika itu, jantung Luke berdegup kencang, dug, dug, dug,dug! Hatinya berdesir hangat. Perutnya berasa ada beribu gelitikan sayap kupu-kupu. Wajahnya terasa panas dan Kelopak matanya mengerjap-ngerjap seolah ingin memotret wajah wanita itu sebanyak yang ia inginkan.


Tiba-tiba, pluk! Sebuah balon menimpa wajah Luke dan seketika itu, wanita itu bangun sambil berkata, "Maafkan aku, Mas Luke"


Lalu, wanita itu mengulurkan tangannya untuk membantu Luke bangun. Namun, alih-alih menyambut uluran tangan wanita itu, Luke memilih untuk bangun sendiri dan bergegas berbalik badan untuk berlari menjauhi wanita itu.


Embun mengernyit dan sontak bergumam, "Kenapa Mas Luke berlari seperti ketakutan begitu? Apa aku tampak mengerikan di pagi hari ini?"


Luke mengentikan langkahnya di samping mobilnya dan sebelum ia membuka pintu mobil, pria tampan itu membungkuk, menyentuh kedua lututnya untuk meredakan debaran abnormal di jantungnya.


Rendy yang tengah makan bubur ayam di dekat parkiran mobil itu, langsung meletakkan mangkok yang masih berisi separuh bubur ayam untuk berlari mendekati Luke. Rendy ikutan membungkukkan badan dan menyentuh lututnya untuk menatap wajah tuan mudanya sambil bertanya, "Anda kenapa Tuan? Apa Anda merasa pusing? Kita ke rumah sakit sekarang kalau gitu"


Luke sontak menegakkan badannya saat ia mendengar kata rumah sakit dan sambil membuka pintu mobil, dia berkata, "Aku baik-baik saja. Kita pulang sekarang"


"Baik, Tuan" Rendy bergegas mengitari mobil untuk masuk ke jok kemudi.


Di dalam perjalanan pulang, Luke tiba-tiba berkata, "Aku kejatuhan bidadari tadi"


"Hah?!" Rendy sontak menoleh ke Luke dan Luke sontak berteriak, "Perhatikan jalan!"


"Ah! Iya, maaf!" Rendy sontak mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Lalu, asisten berparas tampan berkacamata itu, bertanya tanpa menoleh ke Luke, "Kenapa bisa ada bidadari jatuh ke taman pagi ini?"


"Nggak tahu. Aku tiap hari joging di taman itu. Baru pagi ini tadi aku kejatuhan bidadari. Dia sangat cantik Ren. Rambutnya bergelombang, kulitnya berkilau saat matahari menerpanya. Indah banget" Jantung Luke kembali berdegup dan Luke kembali berkata sambil memegang dadanya, "Bidadari itu mampu membuat jantungku berdegup kencang. Aku tidak pernah merasakan jantungku berdegup kencang seperti tadi"


"Siapa namanya, Tuan?"


"Hei! Dia bidadari. Turun dari langit. Mana ada bidadari punya nama" Luke menoleh kesal ke Rendy.


Rendy hanya bisa menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, Yeeaahhh, terserah Anda saja, Tuan.


"Tapi, sepertinya wajah bidadari itu tidak asing. Aku pernah melihatnya. Tapi, aku lupa pernah melihatnya di mana"


Luke tidak mengenali Embun karena rambut Embun menjadi panjang dan bergelombang. Rambut Embun tidak lagi pendek sebahu dan lurus.


Rendy memilih diam dan tidak merespons ucapannya Luke itu.


"Nanti seperti biasa, ya, habis jam makan siang, aku nggak mau diganggu. Aku mau main PS selama dua jam" Ucap Luke.


"Baik, Tuan" Sahut Rendy.


"Kenapa kursi game yang aku pesan belum datang, Ren?"


"Hari ini pasti datang, Tuan. Agak siangan kayaknya"


"Kenapa lama banget? Aku pengen cepet main di kursi game itu" Luke langsung cemberut dan bersedekap.

__ADS_1


Rendy langsung berkata di dalam hatinya, selama tiga tahun belakangan ini, aku berasa mengasuh anak remaja yang bandel dan semau Gue. Huffttt! Kapan ingatan Tuan muda pulih?


"Dan seperti biasanya, Ren. Aku hanya mau makan burger, kentang goreng, dan cola dingin untuk menu makan siangku"


"Apa Anda tidak bosan makan siang itu melulu, Tuan?"


"Mana ada bosen? Itu makanan paling enak sedunia"


"Tapi, Anda yang dulu tidak menyukai makanan seperti itu. Kenapa sekarang justru sebaliknya?"


"Benarkah? Kita Chika itu menu makan siang favoritku"


"Itu karena wanita licik itu, malas masak dan malas ribet untuk menyediakan makan siang Anda, Tuan"


"Hei! Chika mengenalkan makanan enak padaku. Jangan sebut dia wanita licik lagi! Bagaimana pun, dia itu tunanganku"


"Maaf, Tuan. Baik" Sahut Rendy dengan wajah lelah. Dia lelah harus terus-menerus menolerir tingkah laku dan ucapannya Chika. Karena untuk saat ini, hanya Chika yang paling dipercayai oleh Luke Donovan.


Sesampainya di rumah, Luke langsung disambut dekapan hangatnya Chika dan di saat Chika mendongak minta dicium, Luke justru mendorong bahu Chika lalu berjalan meninggalkan Chika begitu saja.


Rendy langsung berkata dengan senyum mengejek ke Chika, "Emang enak dicuekin terus? Makanya cepat sadar diri dan pergi dari sini, Woooiiii!"


Chika mendelik ke Rendy dan langsung berteriak, "Kamu yang pergi! Dasar gila!!!!!"


Rendy meninggalkan Chika dengan tawa mengejek


"Sial! Aku harus cari cara untuk membuat Luke mau menciumku lagi. Tapi, cara apa itu? Aku sudah ajak dia bertunangan, tapi dia tetap saja belum mau menciumku. Huufftt! Cara apalagi yang harus aku pakai agar Luke terikat padaku dan tidak direbut lagi sama wanita lain?" Chika bergumam sambil mengacak-acak rambut lurus indahnya.


"Kau bilang apa?" Tanya Luke sambil menunduk.


Chika sontak menatap Luke dan langsung tergagap, "Oh, eh, itu, emm, anu"


"Kenapa kau sering tergagap setiap kali aku bertanya secara dadakan seperti ini?"


Chika mengusap jasnya Luke dan langsung berkata, "Itu karena kamu sekarang dingin, galak, dan selalu ketus sama aku" Kilah Chika."Padahal dulu kamu itu lembut, manis dan sayang banget sama kamu. Tiap perjumpaan kita selalu kau akhiri dengan ciuman. Sekarang kau tidak pernah menciumku. Padahal aku ini tunangan kamu dan......."


Luke langsung mendorong bahu Chika sambil berkata, "Maaf aku belum bisa melakukannya" Dia melangkah pergi meninggalkan Chika begitu saja.


Chika langsung menghentakkan kakinya di lantai dan bergumam, "Sial! Kenapa dia selalu berkata maaf aku tidak bisa, maaf aku tidak bisa terus!" Chika mulai menggertakkan gigi-giginya.


Embun mendapatkan telepon dari Gilang mantan pacarnya yang akhirnya menikah dengan gadis asli Jepang, "Halo, Mbun"


"Halo, ada apa?"


"Kamu udah balik ke tanah air, ya? Aku mampir ke rumah kamu dan kata para tetangga, kamu udah balik ke tanah air"


"Iya. Kenapa kamu masih ke rumahku? Ada masalah penting yang ingin kamu sampaikan ke aku?"


"Nggak ada masalah penting. Sebenarnya masalah penting yang aku katakan setiap kali aku ngajak kita ketemuan, itu hanyalah modus. Sesungguhnya, aku ingin selalu melihat wajah kamu, Mbun. Aku masih merindukan kamu"

__ADS_1


"Jadi, masalah keja sama kita, itu hanya modus agar kamu bisa sering ketemu sama aku?"


"Iya. Aku sedih saat kontrak kerja sama kita sudah berakhir"


"Kamu udah menikah, Lang. Jangan memikirkan aku lagi" Klik! Embun langsung mematikan sambungan telepon itu.


"Kenapa Gilang masih nekat ngejar Anda, Nyonya. Padahal dia tahu Anda udah punya anak. Dia juga sudah menikah" Sahut Mona sembari menikmati teh di lobi hotel bersama dengan Embun.


"Makanya itu, Mbak. Aku sendiri juga heran"


Sahut Embun sambil melirik ke dalam untuk melihat putra tampannya yang tengah asyik menonton film kartun sambil terus memegangi balon berbentuk pesawat.


"Lalu, Tuan Alex Norman gimana, Nyonya? Saya lihat, Tuan Alex Norman juga beberapa kali nekat menyatakan perasaannya ke Nyonya"


"Terkahir kali dia menyatakan perasaannya ke aku, aku langsung bilang ke dia, kalau dia masih nekat menyatakan perasaannya lagi, aku akan memutuskan kerja samaku dengan dia begitu saja dan dia seketika itu ia berjanji akan berusaha sekuat tenaga dan hati untuk merubah perasaannya ke aku hanya sebagai seorang Kakak"


"Syukurlah kalau begitu" Sahut Mona.


"Mbak, makasih banyak, ya, Mbak Mona sudah menemani saya selama saya hidup di Jepang. Maaf kalau sudah merepotkan, Mbak. Mbak harus sering bolak-balik Jepang-Jakarta setiap Sabtu untuk menengok Suami dan anak Mbak"


"Nggak papa, Nyonya. Makasih juga Karena Nyonya sudah memberikan gaji yang lebih dari cukup bagi saya"


"Sama-sama, Mbak. Kita, kan, Kaka adik, hehehehe"


"Iya, Nyonya. Saya akan terus menyayangi Nyonya dan Tuan Dino seperti kerabat saya sendiri" Sahut Mona dengan senyum tulus.


"Makasih udah masu bersabar selama ini sama adik kamu yang bandel ini, Mbak" Sahut Embun.


Mona dan Embun kemudian menggemakan tawa mereka ke udara bebas secara bersamaan.


Chika berbelok ke bagian pemotretan dan Luke masuk ke lift pribadinya. Wanita cantik itu kembali dikontrak eksklusif oleh Grup Donovan atas permintaannya Luke dengan syarat, Chika harus menggantung sepatu baletnya. Grup Donovan dan Luke Donovan secara pribadi merasa keberatan kalau Chika membagi waktu dan perhatiannya di dua bidang. Akhirnya, demi meraih cita-citanya menjadi Nyonya muda Luke Donovan, Chika rela untuk menggantung sepatu baletnya.


Chika duduk di depan meja rias dan perias langsung merias wajah Chika sambil menebarkan gosip, "Kata para eksekutif, akan ada produk parfum terbaru. Parfum hasil kreasi dari Nyonya besar Maria Donovan sendiri. Jadi, parfum ini adalah parfum eksklusif. Siapa yang jadi modelnya, otomatis akan langsung melejit namanya kalau model itu diminta membawakan produknya Nyonya besar Maria Donovan"


"Pasti aku yang akan jadi modelnya" Sahut Chika dengan senyum penuh percaya diri.


"Iya. Tentu saja kamu, Neng! Kamu, kan, tunangannya Tua muda. Kalau Tuan muda bilang harus kamu, ya, harus kamu. Iya, kan, Neng" Sahut perias berwajah cowok, tapi lemah gemulai itu.


"Nah! Itu kamu tahu. Kamu memang cerdas" Chika terkekeh senang.


Alex Norman masuk ke lokasi pemotretan itu dan langsung menyapa Chika, "Hei! Neng cantik"


Chika sontak menoleh ke asal suara dengan menyemburkan, "Lho! Kamu, kok, ada di sini?"


"Aku kembali dikontrak eksklusif oleh CEO Grup Donovan secara langsung" Sahut pria tampan yang setia dengan rambut gondrongnya itu, dengan acuh tak acuh sembari memasang peralatannya.


"Untuk produk parfum baru itu, ya?" Tanya Chika.


""Hmm" Sahut pria tampan dengan nama keluarga Norman itu, tanpa menoleh ke Chika.

__ADS_1


"Berarti kita akan bekerja sama lagi setelah sekian purnama kita nggak bekerja sama, Lex"


"Kita lihat saja nanti" Sahut Alex masih dengan sikap acuh tak acuh.


__ADS_2