
Sesampainya di kampus Bina Bangsa, Luke menoleh ke Embun sambil berkata, "Lekas turun. Aku ada rapat hari ini dan .........."
Grab! Embun meraih tangan Luke secara dadakan dan langsung mencium punggung tangannya Luke. Luke terlonjak kaget "Ka......kamu ngapain nyium punggung tanganku?"
Embun ikutan terlonjak kaget dan langsung melepaskan tangan Luke, lalu bergegas berucap, Maaf, Tuan. Ibu saya mengajarkan saya untuk mencium tangan orang yang lebih tua setiap kali saya pamit dan saya sudah terbiasa melakukannya" Embun lalu bergegas turun dari dalam mobil dengan rona malu di wajahnya.
Luke mematung dan dia terus menatap punggung tangannya. Hatinya berdesir hangat dan dia kembali mencengkeram dadanya, lalu bergumam sangat lirih, "Kenapa lagi, nih, jantungku?"
Luke mengalihkan pandangannya ke depan dan langsung mencengkeram erat kemudi mobilnya sewaktu ia melihat Embun mengobrol dengan lawan jenis.
Embun tersenyum, tertawa lepas, dan tampak asyik mengobrol dengan pria lain.
Luke semakin kencang mencengkeram kemudi mobil sembari menggeram, "Dia nggak pernah begitu kalau sama aku. Berani benar ia berikan senyum dan tawa dia yang cantik itu ke pria lain? Dia ajak anakku berhaha-hihi dengan pria lain selain Papanya?"
Saat Embun dan pria yang tidak Luke kenal itu masuk ke gedung Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan, Luke langsung tancap gas menuju ke gedung rektor. Dia parkirkan mobilnya dengan tidak sabar dan keluar dari dalam mobil dengan langkah lebar disertai wajah kusut.
Semua dosen yang ada di gedung tersebut langsung menyapa Luke, tapi Luke mengabaikan mereka semua. Luke langsung masuk ke ruang rektor dan berkata, "Sekarang juga kau singkirkan mahasiswa dari semua kelasnya Embun Sanjaya!"
"Mak....Maksud Anda bagaimana, Tuan?" Reyhan nama rektor Kampus Bina Bangsa langsung bangkit berdiri dengan wajah kebingungan.
"Aku nggak ingin ada pria di semua kelas yang Embun Sanjaya ikuti"
"Ta......tapi mana bisa seperti itu, Tuan. Semua sudah mengikuti jadwal dan........"
Brak! Luke menggebrak meja sambil berteriak, "Aku nggak mau tahu! Pokoknya sekarang juga dan untuk seterusnya, singkirkan semua makhluk yang bernama pria dari semua kelas yang Embun Sanjaya ikuti! Cepat kerjakan!"
"Ba.....baiklah. Saya akan kerjakan sekarang juga"
Reyhan selaku rektor kampus Bina Bangsa langsung menghidupkan mikrophone dan memberikan pengumuman, "Kegiatan kuliah ditunda selama dua jam. Semua kepala Progdi diharap datang ke ruang rektor untuk rawat akbar dadakan"
Luke duduk di kursi dengan menyilangkan kaki dan bersedekap.
"An.....Anda masih di sini, Tuan? Anda tidak bekerja? Tidak ada rapat hari ini?" Reyhan tersenyum canggung di depan Luke.
"Jangan ceriwis! Urus saja pekerjaanmu!"
Dua jam berikutnya, Semua pria yang memiliki jam kuliah sama dengan Embun, dipindahkan ke jadwal dan kelas yang lain. Jadwal dan kelas yang berbeda dengan Embun.
Para pria itu mendengungkan protes, tapi mereka tidak bisa berkutik, saat mereka tahu keputusan itu adalah keputusan dari pemilik Kampus Bina Bangsa.
Embun menautkan alisnya saat ia melihat semua pria di kelasnya keluar dari kelas. Lalu ia bergumam, "Kok aneh? Kenapa hanya pria yang disuruh keluar?"
"Sudah, Tuan. Anda sudah lihat sendiri, kan, dari CCTV. Semua pria sudah keluar dari kelas yang diikuti oleh Embun Sanjaya"
__ADS_1
"Bukan hanya kelas ini saja. Aku mau semua kelas yang Embun Sanjaya ikuti steril dari makhluk yang namanya pria" Like berkata dengan wajah serius dan nada suara yang sangat tegas.
"Iya, Tuan. Semua sudah saya atur sesuai dengan keinginan Anda"
Luke berkata, "Kerja bagus" Lalu ia berbalik badan dan pergi tanpa mengucapkan kata terima kasih.
Luke kemudian memutuskan untuk ke butik ponsel terlebih dahulu. Dia ingin membelikan ponsel yang paling canggih dan paling cocok untuk istrinya.
"Hidupkan ponsel ini! Lalu, ambilkan ponsel yang cocok untuk wanita dan pindahkan semua data di ponsel jelek ini ke ponsel yang baru! Tapi, hidupkan dulu ponsel ini! Aku ingin lihat ada apa saja di dalam ponsel jelek ini. Kenapa dia sangat sayang sama ponsel jelek ini?" Luke berkata ke karyawan yang bekerja di salah satu anak cabang butik ponsel milik Grup Donovan.
"Baik, Tuan"
Beberapa menit kemudian, "Ini Tuan, sudah hidup ponselnya"
Luke menatap layar ponsel dan dia sontak menggeram kesal, "Siapa pria ini?!" Luke sontak menyipitkan kelopak matanya sewaktu ia melihat layar depan ponsel jadul itu memperlihatkan Embun tengah dirangkul pundaknya oleh seorang pria dan wajah Embun tampak sangat bahagia.
Luke kemudian memainkan ibu jarinya di layar ponsel jadul (Jaman Dulu) itu dan kembali menggeram kesal, "Siapa Gilang? Kenapa yang namanya Gilang nelpon Embun sebanyak dua puluh kali?"
Luke lalu bergegas mengecek pesan text yang ada di ponsel jadul itu dan saat ia membaca pesan text dari yang namanya Gilang, dia membanting ponsel itu di atas meja.
Semua karyawan yang ada di ruang khusus butik ponsel salah satu anak cabang Grup Donovan, di pagi hari itu, langsung terlonjak kaget dan semuanya sontak menoleh ke Luke.
Luke mengabaikan tatapan semua orang yang mengarah ke dia. Alih-alih meminta maaf ke semuanya karena ia sudah membuat kegaduhan, Luke berkata ke karyawan yang masih duduk di depannya, "Pindahkan semua data di ponsel ini ke ponsel yang baru. Tapi, hilangkan nomernya orang yang bernama Gilang ini. Hapus juga semua foto yang ada cowok ini. Hapus juga semua pesan text dari yang namanya Gilang ini!"
"Baik, Tuan"
"Ini ponselnya, Tuan. Saya udah lakukan semua perintah Anda, tadi"
"Kerja bagus" Luke langsung menenteng paper bag yang berisi ponsel baru dan ponsel jadulnya Embun lalu pergi tanpa pamit.
Luke masuk ke dalam ruang kerjanya dan dikagetkan dengan sapaannya Mentari, "Pagi, Tuan"
"Ngapain kamu di sini?" Ucap Like sembari berjalan ke meja kerjanya.
"Saya bikin kopi dan camilan khusus untuk Tuan. Saya bikin sendiri camilannya. Tolong dicicipi, ya, Tuan" Mentari memberikan senyumnya yang paling menawan untuk Luke, namun Luke sama sekali tidak memandangnya.
Luke mengangkat wajahnya untuk bertanya, "Kenapa kau masih ada di sini?"
"I...itu, emm, kemarin saya beli oleh-oleh untuk Nenek Tuan. Apa saya boleh mengunjungi beliau untuk memberikan oleh-olehnya ke beliau nanti sepulang kerja, Tuan?"
Luke menyahut, "Hmm. Sekarang keluarlah dan bawa makanan ini!" Luke berucap sembari membuka-buka berkas.
"Itu camilan yang saya buat khusus untuk Tuan. Saya ingin Tuan mencicipinya"
__ADS_1
"Aku nggak terbiasa makan camilan buatan orang lain. Bawa pergi saja! Atau kasih ke Rendy saja. Rendy masih dalam masa pertumbuhan, dia butuh banyak camilan" Luke berucap sembari menatap layar laptopnya.
Mentari keluar dari ruang kerjanya Luke sambil membawa camilan yang dia buat sejak pagi buta. Dia kecewa Luke tidak mau mencicipinya, tapi tiba-tiba dia tersenyum semringah saat ingat nanti sore dia akan menemui neneknya Luke. Dia bertekad kalau nanti, dia akan mulai merayu neneknya Luke dan membuat neneknya Luke menyukainya dengan harapan, neneknya Luke akan menikahkan dia dengan Luke.
Rendy masuk sambil mengunyah pisang karamel yang diberikan oleh Mentari. Lalu, Rendy berucap, "Bos, laporan tentang Nyonya muda sudah lengkap"
Luke langsung melekatkan semua berkas dan menatap Rendy dengan semringah. Kemudian dengan wajah penuh antusias ia berucap, "Cepat laporkan!"
Rendy duduk sembari memasukkan potongan pisang karamel ke dalam mulutnya dan berucap, "Nyonya muda punya pacar namanya Gilang. Gilang dapat beasiswa kuliah di Jepang. Cowok itu masih di Jepang saat ini. Gilang lumayan tampan dan dia cowok baik, lembut dan........"
Plak! Sebuah bolpoin mendarat di punggung tangannya Rendy.
"Aduh! Kenapa saya kena pukul?"
"Nggak usah bilang kalau Gilang itu tampan dan bla, bla, bla! Aku nggak peduli Gilang itu seperti apa. Lanjutkan soal Embun saja!" Luke mendelik ke Rendy.
Rendy mengelus punggung tangannya sambi berkata, "Maaf, Tuan. Emm, soal Nyonya muda, emm, Nyonya muda pernah beli pil setelah Anda............."
Luke langsung bangkit berdiri, "Sial! Dia ingin menggugurkan kandungannya, ya? Sial! Aku juga yang suruh dia untuk........" Luke langsung berlari meninggalkan Rendy.
Rendy menatap punggung Luke dengan wajah bingung dan langsung bergumam, "Pil untuk mencegah kehamilan, Tuan. Bukan untuk menggugurkan kandungan. Dan ke mana Anda pergi, Tuan? Kenapa Anda meninggalkan saya sendirian lagi di sini, hiks, hiks, hiks"
Luke memarkirkan mobilnya di depan gedung Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan dengan wajah panik. Dia bergegas keluar dari dalam mobil dan saat ia melihat Embun berjalan sendirian sambil memasukkan sesuatu ke dalam mulut, Like langsung berlari mendekati Embun dan sontak berteriak, "Keluarkan! Cepat keluarkan yang barusan kamu masukkan ke dalam mulut kamu! Aku akan bertanggung jawab atas kehamilan kamu. Kenapa kamu masih mau menggugurkan kandungan kamu? Apa kurang buktinya kalau aku akan bertanggung jawab, hah?! Aku sudah nikahi kamu, aku suapi kamu dan aku........."
"Ini permen, Tuan. Saya makan permen rasa jeruk untuk mengurangi rasa mual" Embun memperlihatkan bulatan kecil berwarna kuning cerah yang ia keluarkan dari dalam mulutnya.
Luke mengambil bulatan kecil berwarna kuning cerah yang ada di atas telapak tangannya Embun lalu memasukkannya ke dalam mulutnya, karena dia tidak percaya kalau itu beneran permen.
Embun mengernyit dan refleks berkata, "Permen itu sudah masuk ke mulut saya, Tuan. Ke.....kenapa Anda makan?"
"Kenapa? Nggak masalah, kan? Kita ini suami istri. Makan permen yang sama, kan, nggak maslahat. Lagian aku tadi spontan memasukkannya ke dalam mulutku, karena aku nggak percaya kalau ini beneran permen" Luke berkata sembari mengunyah permen itu.
"Beneran permen, kan?"
Luke hanya mengangguk.
"Saya nggak pernah ada niat menggugurkan kandungan, Tuan. Saya menyayangi anak ini" Embun mengelus perutnya yang masih rata.
Luke seketika mematung saat ia mendengar kata Embun menyayangi anaknya dan sewaktu ia melihat Embun mengelus perut, Luke langsung berjongkok.
Embun tersentak kaget dan langsung berkata, "Tuan, ngapain Tuan berjongkok di depan saya?"
Luke mengelus perut Embun dan berkata, "Papa juga sayang sama kamu. Kamu dengar suara Papa, kan?"
__ADS_1
Tanpa Embun sadari ia menitikkan air mata.