Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Kenapa?


__ADS_3

"Sejak kapan kamu duduk di situ?" Luke mendelik.


"Sejak jaman penjajahan Belanda, Tuan. Hehehehe" Rendy meringis.


"Mau ku potong bonus kamu, hah?!"


"Nggak, Tuan" Rendy langsung mengunci mulutnya.


"Aku ada tugas untuk kamu"


"Apa, Tuan?"


"Cari info soal keluarganya Embun dan hadirkan pria yang namanya Gilang di hadapanku!"


"Kapan, Tuan?"


"Nunggu Belanda datang ke sini"


"Ah! Tuan bercandanya nggak asyik"


Luke langsung menghela napas berat dan saat Luke hendak membuka mulut, Rendy langsung ngacir.


"Kenapa dia bisa segila itu? Siapa coba yang dia contoh? Hmm, Rendy, Rendy" Luke menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mentari memekik senang saat ia mendapatkan tugas dari Rendy untuk mengantarkan berkas ke kantornya Maria Donovan.


Mentari sampai bertanya berulangkali, "Apakah saya akan menemui Nyonya besar? Nyonya Maria Donovan secara langsung? Face to face"


"Kamu kesambet Wewe Gombel, ya? Nanya kok nggak ada berhentinya. Iya. Kamu akan menemui Nyonya besar. Face to face" Rendy berkacak pinggang di depan Mentari.


Mentari langsung melompat keluar dari balik mejanya dan melesat pergi meninggalkan Rendy dengan berlari kecil.


Rendy menatap punggung Mentari dengan bergumam, "Dasar wanita aneh. Ketemu Nyonya besar aja bisa seriang itu. Aku ketemu Nyonya besar hampir tiap hari, biasa aja tuh"


Rendy kembali masuk ke ruang kerjanya Luke dan dengan hanya menyembulkan wajahnya di daun pintu, Rendy berucap, "Tuan, rapat sudah siap"


"Ah! Iya, ada rapat mengenai produk baru kita, ya?" Luke berjalan keluar dari dalam meja kerjanya dengan langkah santai.


Selama mengikuti rapat, Luke terus melihat ke layar telepon genggamnya. Karena Luke masih ingin melihat kegiatan Embun di rumah melalui CCTV yang terhubung dengan telepon genggamnya.


Luke tiba-tiba bangkit berdiri dengan wajah kaget dan panik saat ia melihat Embun berdiri dari meja makan dan berlari menuju ke wastafel dan muntah-muntah di sana. Luke langsung berputar badan lalu pergi meninggalkan rapat tanpa sepatah kata pun.


Rendy kembali berdiri di depan semua peserta rapat dan dengan senyum canggung ia berkata, "Kita lanjutkan rapatnya tanpa Tuan. Hehehehe, Tuan muda ada urusan dadakan yang sangat penting, jadi harap maklum, hehehehe"


Luke sampai di ruang makan dengan wajah penuh keringat dan napas terengah-engah.

__ADS_1


Embun dan semua pelayan menoleh ke Luke dengan kaget. Mereka semua menatap Luke yang masih mencuci tangan di wastafel, dengan wajah penuh tanda tanya


Luke kemudian melangkah lebar dan segera duduk di kursi makan sambil berkata, "Maafkan aku! Aku telat datang di jam makan siang. Aku lari secepatnya dari ruang rapat ke sini. Aaaaaa!" Luke langsung mengarahkan sesendok sup tomat ke mulutnya Embun. Lalu, mencuil roti bawang dan mengarahkan ke mulut Embun sembari mengeluarkan suara, "Aaaaaa!"


Semua pelayan tersenyum bahagia melihat kemesraan Tuan dan Nyonya muda mereka.


Setelah selesai menyuapi Embun di menu penghabisan, Luke mencubit dagunya. Dia tampak berpikir keras.


Embun tergelitik untuk bertanya, "Tuan? Apa yang Tuan. pikirkan?"


"Sepertinya, aku harus mengajak kamu ke kantor. Kalau kayak gini terus, bisa tepar aku"


"Ta.....tapi, saya nggak papa, Tuan. Saya bisa makan sendiri. Saya akan usahakan tidak akan muntah dan........"


Luke bangkit berdiri sambil bertanya, "Mau ikut dengan rela hati atau mau aku bopong?"


Embun langsung bangkit berdiri dan berkata, "Saya akan ikut dengan rela hati"


Mentari duduk di depan meja kerjanya Maria Donovan dan sambil meletakkan berkas di atas meja, ia berucap, "Saya bawa oleh-oleh untuk Nyonya"


"Oh! Oleh-oleh? Apa Luke yang menyuruh kamu untuk membelikan oleh-oleh ini?"


"Tidak, Nyonya. Saya berinisiatif sendiri membelikan oleh-oleh ini untuk Nyonya" Mentari langsung mengulas senyum bangga. Bangga pada dirinya sendiri.


Alih-alih tersenyum senang, Maria justru menautkan kedua alisnya, lalu bertanya, "Kenapa? Untuk apa?" Maria yang sudah mengetahui siapa Mentari dan bagaimana karakter Mentari yang sebenarnya, menatap Mentari dengan tatapan penuh dengan kecurigaan.


"Bawa balik aja, Nak. Aku berterima kasih untuk niat baik kamu. Tapi, maaf aku tidak bisa menerimanya"


"Sa.....saya beli oleh-oleh itu khusus untuk Nyonya"


"Oke, aku berterima kasih untuk ketulusan kamu, tapi aku tidak bisa menerima oleh-oleh dari seseorang yang tidak aku kenal dengan baik. Maaf, ya, Nak" Maria Donovan menatap Mentari dengan penuh arti.


Mentari langsung tersenyum canggung dan di dalam hatinya langsung mengutuk Maria Donovan, dasar wanita tua tidak tahu berterima kasih. Aku udah rogoh kocek dalam-dalam untuk oleh-oleh ini, kamu malah menolaknya.


"Nak, kenapa kamu masih duduk di sini?"


Mentari yang masih duduk sembari memangku papar bag yang berisi buah tangan, tersentak kaget dari lamunannya dan spontan ia berucap, "Saya ingin mengenal Anda lebih dekat"


Maria tersenyum geli dan langsung bertanya, "Kenapa kamu ingin mengenalku lebih dekat? Kita baru bertatap muka hari ini. Lalu, kenapa tiba-tiba kamu berkata ingin mengenalku lebih dekat. Kamu bukan karyawanku. Kamu bukan asisten pribadiku dan bukan sekretarisku. Kenapa? Apa alasannya?"


Sial! Kenapa wanita tua ini cerewet sekali? Batin Mentari dengan kesal.


"Nak? Kenapa malah diam mematung?"


Mentari langsung tersenyum canggung dan sambil bangkit berdiri dia berkata, "Saya kembali ke kantor saja, Nyonya. Maaf sudah mengganggu Anda" Mentari lalu pergi meninggalkan Maria Donovan dengan menenteng buah tangannya.

__ADS_1


Luke masuk ke kantornya lewat lift pribadi yang mana pintunya langsung terbuka di ruang kerja Luke Donovan. Embun seketika menarik rahang bawahnya lebar-lebar saat ia melihat ruang kerjanya Luke.


Luke menoleh ke Embun dan saat ia melihat Embun tengah mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan melongo, Luke tersenyum geli dan bertanya, "Kenapa kamu melongo kayak gitu?"


Embun langsung mengatupkan rapat-rapat rahang bawahnya saat ia tersentak kaget Lalu, ia menatap Luke dengan canggung.


"Kamu duduk di kursi itu! Atau duduk di sofa! Atau di mana saja terserah kamu. Yang penting kamu dan anakku nyaman" Luke berucap sembari berjalan menuju ke meja kerjanya.


Embun kemudian duduk di sofa.


Beberapa detik kemudian, Embun dikejutkan dengan hadirnya seorang wanita berseragam kantor dan meletakkan segelas susu berwarna putih di atas meja sofa.


Embun sontak menoleh ke belakang dan langsung bersitatap dengan Luke.


Luke berkata dengan santainya, "Anakku dan kamu butuh minum susu. Cepat minum susunya!"


"Tapi, saya nggak suka minum susu, Tuan"


"Ayo minum susunya! Kamu nggak ingin anakku kurang gizi, kan?"


Embun memencet hidungnya dan mencoba menyesap gelas. Tanpa menunggu lama, Embun langsung berlari dan muntah-muntah di toilet.


Luke menepuk jidatnya dan berkata, "Ah! Aku kok lupa nggak menyuapinya minum susu"


Saat Embun duduk kembali di sofa dia terkejut melihat Luke mengarahkan gelas sambil berkata, "Ayo coba minum lagi! Aku akan menyuapi kamu minum susu ini pelan-pelan"


Namun, satu sendok saja Embun langsung bangkit berdiri dan berlari ke toilet. Dia kembali muntah-muntah di sana.


Luke berlari menyusul Embun dan memijit pelan tengkuk Embun.


Rendy yang tiba-tiba masuk, terkejut melihat Luke mengijinkan orang lain masuk ke toiletnya dan Luke bersedia memijit tengkuk wanita lain selain Chika.


Rendy bergumam di dalam hatinya, apa Tuan udah mulai jatuh cinta lagi?


Embun terkejut saat Luke tiba-tiba membopongnya. Setelah muntah-muntah, ia terlalu lemas untuk melemparkan protes.Jadi, ia pasrah saja dibopong oleh suaminya.


Luke mengabaikan keberadaannya Rendy dan langsung membawa Embun ke kamar. Ia merebahkan Embun di atas kasur dengan perlahan sambil berkata, "Kenapa pas minum susu, sudah aku suapi, kamu tetap aja muntah. Padahal anakku butuh susu"


Embun langsung mengucapkan kata, "Maafkan saya, Tuan"


Luke bangkit berdiri sambil berucap, "Nanti kita coba rasa lain. Sekarang istirahatlah dulu!" Luke lalu melangkah keluar dari kamar.


Kata nanti yang Luke ucapkan, Embun pikir itu untuk besok atau lusa. Namun, hanya dalam hitungan menit, Luke masuk kembali ke dalam kamar sembari membawa dua gelas berisi cairan berwarna cokelat dan pink.


Embun sontak bertanya, "Apa itu, Tuan?"

__ADS_1


"Susu rasa cokelat dan susu rasa strawberry"


Embun tersenyum dengan terpaksa dan berkata di dalam hati, kenapa harus minum susu lagi? Hiks, hiks hiks.


__ADS_2