Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Ada apa?


__ADS_3

"Kapan hasil tes DNA-nya jadi?" Tanya Maria Donovan ke asisten pribadinya yang cantik dan tangguh.


"Tiga hari, lagi Nyonya" Sahut Dona.


"Huufftt! Berarti aku harus menyiapkan diri sendiri mulai dari sekarang. Aku harus mulai menata hati untuk berjaga-jaga kalau ternyata Daniel bukan cucu kandungku" CEO berumur lima puluh enam tahun itu, menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya.


"Anda harus kuat, Nyonya. Apapun hasilnya, Anda harus kuat. Anda nggak boleh jatuh sakit. Sebentar lagi Anda akan punya cicit" Sahut Dona.


"Iya, kau benar"


Luke tersentak kaget saat ia mendengar pintu ruang kerjanya dibuka dan Daniel tiba-tiba muncul di depan meja kerjanya. Daniel menatap dalam kedua bola mata kakaknya untuk berkata, "Kak! Kakak bisa bantu aku?"


Luke langsung menautkan kedua alisnya dan bertanya, "Bantu apa? Tumben kamu ke sini dan meminta bantuan Kakak kamu ini"


"Karena, aku udah frustasi dengan sikap Mama" Daniel langsung melancipkan bibirnya di depan Luke.


"Memangnya kenapa?" Tanya Luke.


"Aku menyukai seni. Aku suka melukis. Aku ingin mengadakan pameran lukisan hasil karyaku. Itu adalah impianku, Kak. Tapi, Mama nggak menyetujuinya. Mama nggak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk pameran lukisan yang ingin aku gelar. Kakak mau, kan, membantuku mewujudkan impianku?" Daniel menatap wajah tampan kakaknya dengan sorot mata penuh harap.


"Kamu ternyata nggak menyukai bisnis?"


"Nggak" Daniel menggeleng mantap.


"Jadi, Mama kamu yang memaksa kamu selama ini untuk bersaing denganku?"


"Sejak kecil, Mama selalu menyuruhku bersaing dengan Kakak. Padahal aku sadar banget dengan kemampuanku yang pas-pasan ini, aku nggak akan pernah menang melawan Kakak dan terbukti,kan, aku nggak pernah menang melawan Kakak"


"Gitu, ya?" Luke manggut-manggut.


"Lalu, gimana Kak? Apa Kakak mau membantuku?"


"Tentu saja aku mau. Kalau harus melawan Mama kamu, aku sangat antusias dong" Sahut Luke.


Daniel terkikik geli dan langsung memekik senang, "Benarkah?! Kakak mau membiayai pameran lukisan karya-karyaku?"


"Hmm" Sahut Luke dengan senyum tulus.


"Kenapa Kakak bisa berubah seperti ini? Kakak biasanya cuek sama aku dan nggak pernah peduli denganku"


"Entahlah. Aku juga nggak tahu kenapa aku bisa berubah menjadi peduli sama orang lain termasuk sama kamu. Tapi, nggak kalau sama Mama kamu. Aku masih belum bisa menerima Mama kamu dan peduli padanya. Maaf"


"Hah?! Kakak bahkan mengucapkan kata maaf ke aku?" Daniel sontak mengangkat kedua alisnya ke atas dan mulutnya ternganga lebar.


"Memangnya aku nggak pernah bilang maaf selama ini?" Luke langsung menautkan kedua alisnya.


Daniel menggelengkan kepala sembari mengatupkan kembali mulutnya yang ternganga lebar.


"Begitu, ya? masak sih?" Luke merasa heran dengan dirinya sendiri. Lalu, ia berucap, "Berapa yang kau butuhkan untuk menggelar pameran lukisan-lukisan hasil karya kamu?"


"Agak banyak, Kak" Sahut Daniel.


"Sebutkan aja! Aku udah bersedia bantu kamu, jadi, nggak usah sungkan. Sebutkan saja nominalnya!" Luke berucap di depan buku cek yang siap ia isi dengan tulisan tangannya.


"Berapa pun itu?" Daniel bertanya dengan ragu.


"Hmm" Sahut Luke dengan wajah serius.


"Aku ini nggak minta, Kak. Tapi, minjam. Lima ratus juta rupiah, terlalu banyak tidak? Atau setengahnya aja, Kak. Emm, aku merasa nggak enak dan ......."


"Nih!" Luke menyerahkan selembar cek ke Daniel.


Daniel menerima lembaran cek itu dan saat ia melihat nominalnya, Daniel sontak menatap Kakaknya untuk berkata dengan wajah semringah, "Makasih, Kak! Aku akan kasih undangan spesial buat Kakak dan Istri Kakak di acara pembukaan pameran lukisan-lukisanku, nanti. Dan kalau ada yang laku, aku akan langsung kembalikan uang Kakak"


"Nggak usah dikembalikan. Pakailah uang lima ratus juta rupiah itu dengan cermat dan bijak dan mulailah menata hidup kamu di bidang yang sesuai dengan bakat dan minat kamu. Jangan pedulikan impian Mama kamu, tapi pedulikan impian kamu sendiri!"


"Makasih, Kak. Apa aku boleh memeluk Kakak?"


"Nggak boleh! Cepat pergi sana! Aku masih punya banyak pekerjaan"


Daniel menatap kakaknya dengan senyum semringah, lalu segera berkata, "Siap, Kak! Aku sayang Kakak"


"Hmm" Sahut Luke.


Daniel pergi meninggalkan ruang kerja kakaknya dengan wajah semringah dan bergumam, "Aku akan balas Budi dengan baik karena kemurahan hati kamu ini, Kak dan karena Kakak udah mau mendukung impianku"


Alex Norman menelepon Embun, "Halo, Apa benar ini Embun?"


"Iya. Ini aku"


Alex Norman langsung mengulas senyum bahagia di wajah tampannya dan langsung bertanya, "Apa kamu bisa datang lebih awal hari ini? Sutradara meminta syuting dimulai jam dua belas siang"


"Bisa. Aku selesai kuliah jam sebelas" Sahut Embun sambil berjalan dari kantin menuju ke kelasnya.


"Oke. Bagus. Aku tunggu kedatangan kamu" Sahut Alex Norman dengan wajah semringah.


Alice langung bertanya ke kakaknya, "Dia bisa datang lebih awal?"

__ADS_1


"Bisa. Aku nggak nyangka dia pekerja keras juga selain cantik. Dia mampu kuliah sambil bekerja"


"Yeeaahhh, namanya lagi naksir, ya, tentu saja cewek itu selalu tampak sempurna di mata Kakak"


Alex menjulurkan lidahnya ke Alice, "Yeeeee! Ngiri, ya?"


"Emang kenapa kalau ngiri?" Alice mencebikkan bibirnya.


"Jangan ngiri terus, harus nganan juga. Kalau nggak nabrak nanti" Alex kembali menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi meninggalkan Alice untuk menyiapkan peralatan syuting.


Embun keluar dari kelasnya dan bergegas masuk ke dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman dan Mona menjalankan mobil, Embun menelepon suami tampannya, "Halo, Mas?"


Luke menjawab degan wajah semringah, "Ya, tumben nelpon di jam segini? Kamu udah rindu, ya?"


"Nggak, Mas"


"Nggak?!" Luke bertanya dengan nada kaget.


Mendengar suaminya kaget, Embun sontak berkata, "Ah, iya"


"Iya apa maksud kamu? Kamu udah rindu?" Luke menautkan kedua alisnya.


"Iya" Sahut Embun dengan cepat untuk melegakan suaminya.


Luke kembali memasang wajah semringah, "Wah! Senang mendengar kata rindu dari kamu"


Siapa yang bilang rindu, sih? Bukannya Mas yang mengeluarkan kata rindu? Batin Embun


"Mas, baru apa ini?"


"Aku baru terima telepon kamu" Luke tersenyum lebar dengan sorot mata penuh cinta.


"Mas lucu juga, ya, ternyata"


"Wah! Benarkah aku lucu? Apa kamu menyukainya?"


"Hmm" Sahut Embun.


"Kalau gitu, aku akan ngelawak terus buat kamu"


Embun terkekeh geli.


Luke ikutan terkekeh geli, lalu bertanya, "Ada apa?"


"Aku menelepon Mas untuk bilang kalau aku nggak bisa makan siang bareng mas hari ini, maaf"


"Aku rasa, anak kita saat ini nggak rewel" Sahut Embun.


"Kenapa nggak bisa makan siang denganku hari ini?" Luke semakin mengerucutkan bibirnya.


"Aku ada tugas dadakan dan harus dikerjakan secepatnya, Mas. Maaf. Tapi, setelah itu, aku akan cepat pulang. Aku akan bawakan mangga dari pohon yang ada di kampus. Mangga Harum Manis. Enak kalau mentah dan ......."


"Baiklah!" Luke kembali semringah. "Hati-hati di jalan dan cepat ke sini. Kita akan makan mangga itu bareng-bareng terus kita pergi ke tempat favoritku di kencan kedua kita, nanti sore"


"Baik, Mas"


Klik. Luke mematikan teleponnya lalu meletakkan telepon genggamnya di atas meja masih dengan senyum semringah.


Para manajer dari berbagai departemen yang tengah rapat, menatap Presdir muda mereka dengan wajah penuh tanda tanya di saat mereka melihat Presdir muda mereka sebentar semringah, sebentar mengerutkan kening, sebentar cemberut, dan kemudian memasang wajah semringah lagi.


Rendy hanya bisa menutup wajahnya dengan telapak tangan sambil menghela napas panjang melihat bos besarnya bersikap kekanak-kanakan di depan para manajer.


Luke kemudian menatap ke depan dan langsung bertanya, "Kenapa kalian semua mengarahkan pandangan kalian ke sini? Ada yang salah di wajahku?"


Semua manajer sontak menunduk ke meja sambil berkata dengan serempak, "Nggak, Tuan. Nggak ada yang salah di wajah Anda"


"Oke! Kita lanjutkan rapat kita. Kita mulai dari departemen teknik, bagaimana laporan keuangan kalian?" Ucap Luke dengan wajah semringah.


Yang lagi kasmaran, wajah semringah teeruusssss!!!! Rendy berkata di dalam hatinya dengan mengulum bibir menahan geli.


"Ren?!" Luke menoleh tajam ke Rendy.


"Ya, Tuan?" Rendy tersentak kaget dan langsung menoleh ke tuan mudanya.


"Kau nyimak tidak?"


"Nyimak, dong, Tuan"


"Kalau nyimak, mana catatan laporannya"


"Ini"


"Hmm. Good job. Tapi, kenapa kamu mengulum bibir menahan geli tadi?"


"Saya hanya senam mulut, Tuan"


"Oooooo"

__ADS_1


Rendy langsung mengulas senyum lebar di depan tuan mudanya dengan bernapas lega.


Embun sampai di lokasi syuting setengah jam sebelum syuting dimulai. Dia langsung dibawa ke ruang ganti untuk didandani.


Alice Norman tengah mengantre di sebuah kedai kopi sambil bersungut-sungut, "Sial! Kenapa Kakak nyuruh aku beli kopi? Aku, kan, ikut Kakak untuk melihat cewek yang ditaksir Kakak. Kenapa malah disuruh-suruh sama Kakak. Beli makan siang kek, siapin kostum syuting kek, terus ini, nih, beli kopi. Mana antreannya panjang banget kayak gini. Huffftttt! Keburu selesai syutingnya dan cewek itu pulang dong kalau antreannya sepanjang ini"


Beberapa jam kemudian, Luke hanya bisa makan roti mentega meises dan menyesap kopi di istirahat makan siangnya.


"Tuan? Kenapa Anda kembali ke selera makan Anda yang dulu?"


"Aku nggak bisa makan kalau nggak ada anak dan Istriku" Sahut Luke sembari merebahkan diri di sofa dan terus menatap layar telepon genggamnya.


Rendy hanya menghela napas panjang, lalu berkata, "Tuan, Jangan diam dan pandangi terus ponsel Anda!"


"Aku menunggu balasan chat dari Embun. Kenapa dia belum balas sampai sekarang? Aku udah kirim pesan text ke Embun dari setengah jam yang lalu"


"Anda baca buku atau nonton televisi aja, Tuan. Kalau Anda pandangi terus ponsel Anda, nanti semakin terasa Anda sedang menunggu. Karena, waktu akan terasa lambat saat Anda menunggu. Jadi, mending abaikan ponsel Anda dulu, Tuan. Nyonya muda pasti masih sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Lagian, tugas itu, kan, dari Anda juga " Saran Rendy.


"Huffttt! Kamu benar" Luke kemudian bangun dan duduk di tepi sofa untuk menyalakan televisi dan mencoba mengabaikan ponselnya.


Tapi, Luke hanya bisa bertahan mengabaikan ponselnya selama lima menit saja. Dia kemudian mematikan televisi dan kembali rebah di atas sofa dan kembali menatap layar ponselnya.


Rendy menghela napas panjang dan hanya diam membisu menatap tingkah tuan mudanya yang tidak seperti biasanya.


Syuting berakhir dengan sukses dan Alex langsung naik ke panggung untuk memberikan selamat ke Embun sebelum Embun berlari ke ruang ganti.


Embun menyambut uluran tangan Alex Norman dan langsung tersentak kaget saat Alex Norman menarik tangannya dan memeluknya.


Alice Norman yang tengah meletakkan kopi di meja tersentak kaget, "Hah?! Dia, kan, Embun Sanjaya Istrinya Luke Donovan. Sial! kenapa Kakak naksir Embun Apa Kakak belum tahu kalau Embun adalah Istrinya Luke Donovan? Lalu, apa Luke tahu kalau Istrinya ada di sini?"


Embun langsung mendorong Alex untuk berkata, "Tolong! Jangan main peluk sembarangan!"


"Kamu mau ke mana?"


"Aku harus segera ganti baju dan pulang" Embun bergegas berbalik badan dan Alex langsung menahan lengan Embun.


"Melihat gelagat Embun yang tergesa-gesa ingin segera pergi dari sini, aku rasa Luke tidak tahu kalau Istrinya ada di sini" Alice kemudian menyeringai dan langsung mengambil ponselnya untuk merekam momen kebersamaan Kakak laki-lakinya dengan Embun.


Alex kembali menarik Embun dan saat ia kembali memeluk Embun dia nekat berkata, "Aku menyukaimu. Tidak! Aku jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu"


Alice tersenyum penuh arti saat ia menyetop rekaman videonya di momen itu. Lalu, ia kirimkan rekaman video itu ke Luke Donovan dengan bergumam lirih, "Setelah melihat rekaman video yang aku kirim, Luke pasti marah besar, lalu ia akan menceraikan Embun dan mencari aku"


Embun mendorong Alex Norman, lalu menampar pipi Alex Norman dengan berteriak kencang, "Jaga sikap kamu! Aku sudah menikah"


Luke langsung menegakkan badannya dengan senyum semringah saat ia mendengar bunyi, Kling, kling! Di ponselnya. Bunyi itu adalah tanda ada pesan text masuk ke dalam ponselnya Luke Donovan.


Namun, Luke tiba-tiba bangkit berdiri dan sambil berteriak kencang, "Embun! Tega benar kamu lakukan ini?!" Dia lalu melemparkan telepon genggamnya ke tembok hingga telepon genggamnya hancur berkeping-keping.


Rendy sontak bangkit berdiri dan langsung menaikkan kedua alisnya ke atas dengan mulut ternganga.


"Aku akan pulang sekarang juga. Kalau Embun sampai di sini, antar dia pulang. Aku tunggu di rumah!" Luke langsung melangkah lebar untuk masuk ke dalam lift dengan wajah merah padam penuh amarah.


Rendy menatap pintu lift yang tertutup, lalu bergegas memungut kepingan ponselnya Luke sembari bergumam, "Memangnya apa yang Tuan lihat di ponselnya sampai Tuan marah besar seperti itu?"


"Kau sudah menikah?" Alex tersentak kaget


"Iya dan aku sangat mencintai Suamiku" Sahut Embun sembari bergegas menuju ke ruang ganti untuk berganti baju.


Alex seketika itu mematung. Dia kembali merasakan patah hati.


Sementara itu, Alice Norman tersenyum lebar di tempat ia berdiri.


Beberapa jam kemudian, Embun sampai di ruang kerja suaminya dan langsung bertanya ke Rendy yang tengah duduk dengan wajah murung di sofa, "Mas Luke mana?"


"Tuan sudah pulang dan Anda disuruh segera pulang. Saya akan mengantar Anda, Nyonya"


"Baiklah" Sahut Embun.


Luke duduk di sofa dan langsung menoleh ke Embun dengan sorot mata tajam saat Embun hadir di depannya. Luke bertanya dengan wajah dingin ke Embun, "Kau darimana?"



Embun menelan air liurnya dengan susah, lalu berkata, "Apa maksud Mas?"


Luke kemudian bangkit berdiri dan langsung berteriak kencang ke semua pelayannya, "Mandikan Nyonya muda dan bawa Nyonya muda ke kamar tamu!"


"Mas? Kenapa Mas? Ada apa ini?"


Luke diam membisu dan pergi meninggalkan Embun begitu saja untuk masuk ke dalam kamarnya


Embun menoleh ke Rendy untuk bertanya, "Ada apa dengan Mas Luke, Pak Rendy?"


"Saya juga tidak tahu, Nyonya" Sahut Rendy.


Semua pelayan langsung berkata, "Nyonya muda, mari ikut kami untuk kami mandikan"


Embun mengikuti langkah para pelayan masih dengan wajah penuh tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2