Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Lembut dan Singkat


__ADS_3

"Ren, jemput Embun dan Dino sekarang juga" Maria Donovan langsung menoleh ke Rendy.


"Siap, Nyonya besar" Rendy langsung bergegas masuk ke dalam lift pribadinya Luke untuk turun lalu membawa naik, Embun, Dino, dan Mona.


Sambil menunggu Embun, Dino, Mona, dan Rendy naik ke ruang kerjanya Luke, Maria Donovan memperkenalkan Daniel ke Luke, "Ini Daniel. Adik kamu"


"Kejutan apalagi ini? Setelah aku punya anak, sekarang aku juga punya adik?"


"Itulah kenyataannya Luke" Sahut Maria.


"Hai, Kak. Aku sedih sekali saat ini karena Kakak, tidak mengenaliku. Aku Daniel. Adik yang selalu merepotkan kamu" Sahut Daniel dengan senyum tulus.


"Yeeaahh, salam kenal" Ucap Luke dengan acuh tak acuh.


Daniel tersenyum dan berkata, "Aku di sini untuk membantu memulihkan ingatan Kakak"


"Thank you" Sahut Luke dengan wajah datar.


Ting! Saat pintu lift terbuka, Luke sontak melompat ke atas sofa terus tanpa jeda melompat ke belakang sofa sambil menunjuk dan berteriak, "Bidadari pencabut nyawa! Dia bidadari pencabut nyawa!"


Dino yang digandeng oleh Embun langsung mendongak untuk bertanya ke bundanya, "Bun, Ayah Dino yang mana?"


Embun langsung berjongkok untuk berbisik di telinga Dino"Yang lompat ke belakang sofa dan sembunyi di belakang sofa itu"


Dino sontak berkata, "Ayahku ternyata lucu, ya, Bun" Lalu anak laki-laki tampan itu terkekeh geli. Embun ikutan terkekeh geli dan berkata, "Iya. Ayah kamu memang lucu dan dia sangat menyayangi kamu sejak kamu ada di dalam kandungan Bunda"


Sementara itu, Maria sontak bangkit berdiri, berlari mendekati Luke dan langsung menepuk keras bahu Luke sambil mendelik, "Jaga bicara kamu! Itu Istri kamu dan anak kecil yang dia gandeng itu anak kamu. Geraldino Donovan"


"Wah! Anak itu mirip banget dengan fotoku pas masih kecil" Luke terpana melihat anak kecil yang digandeng oleh wanita berambut panjang bergelombang dan sangat cantik itu.


"Keluarlah dari balik sofa dan dekati anak kamu!" Maria Donivan kembali menepuk bahu Luke.


Luke sontak melangkah keluar dari balik sofa dan dengan langkah hati-hati dia mendekati anak laki-laki berumur tiga tahun lebih yang sangat tampan.


Luke mengabaikan wanita berambut panjang bergelombang dan dia langsung jongkok di depan anak kecil itu untuk mengusap rambut anak, lalu ia elus lembut pipi gembul anak tampan itu, kemudian dia peluk anak itu. Luke tanpa sadar terisak menangis dan berkata, "Papa sangat merindukan kamu, Nak"

__ADS_1


Semua yang di ruangan itu sontak tertegun dan menitikkan air mata termasuk Embun. Embun bangkit berdiri sambil mengusap air mata di kedua pipinya saat Dino mendorong pelan dada Luke untuk berkata, "Bolehkah saya panggil Ayah?"


Luke langsung tertawa dan berkata, "Tentu saja boleh. Kamu boleh panggil aku apa aja. Kakak juga boleh, hehehehe"


Maria langsung menepuk pundak Luke dan sambil mengusap titik air mata di kedua pipinya, ia berkata, "Kau selalu saja merusak momen syahdu dengan kekonyolanmu, Luke. Mana ada anak kamu sendiri kamu suruh manggil kamu, Kakak"


Luke yang masih jongkok di depan Dino, mendongak dan langsung berkata, "Aku, kan masih dua puluh tahun. Masih pantas untuk dia panggil Kakak"


Maria kembali menepuk pundak Luke sambil berkata, "Kamu, tuh, udah tiga puluh tahun sekarang ini. Kenapa masih aja berpikiran kalau kamu masih dia puluh tahun Hadeeeehhh"


Pria tampan itu kemudian bangkit berdiri dan tanpa ia sadari, ia menggendong Dino, lalu berkata ke Maria Donovan, "Yeeeeaahhh, terserah Nenek saja. Tapi, aku tetap ngeyel dong kalau aku masih dua puluh tahun karena aku memang masih dua puluh tahun"


Maria Donovan hanya bisa menghela napas panjang sambil memijit pelipisnya.


Luke mematung saat ia bersitatap dengan wajah cantik wanita berambut panjang bergelombang. Jantung Luke seketika itu berdegup kencang dan perutnya kembali merasakan gelitikan sayap kupu-kupu.


Embun tersenyum penuh cinta dan kerinduan dan berkata, "Apa kabar, Mas Luke?"


Luke yang masih menggendong Dito, memilih menatap lekat wajah cantik itu di dalam kesunyian.


Lalu, Luke berkata, "Tinggalkan kami dan tolong bawa Dino bersama kalian" Sambil menyerahkan Dino ke Rendy dan tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik wanita berambut panjang bergelombang yang masih berdiri di epannya dengan canggung.


"Luke, Nenek tidak bisa meninggalkan kalian berdua karena.........."


"Tolong, Nek! Aku nggak mencelakainya. Tinggalkan kami" Sahut Luke dengan masih menatap lekat wajah cantik wanita berambut panjang bergelombang yang ada di depannya.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Maria Donovan mengajak semuanya masuk ke dalam lift pribadinya Luke dan turun ke lantai satu untuk menuju ke ruang kerjanya Maria Donovan.


"Mas, jangan menatapku terus seperti itu! Katakan sesuatu, Mas" Embun berkata dengan sorot mata dan anda suara yang sangat lembut.


Luke menghela napas panjang untuk mengusir rasa sesak yang tiba-tiba menyusup di dadanya. Lalu, pria tampan itu bertanya dengan wajah datar dan dingin, "Kau pergi meninggalkan aku tiga tahun yang lalu dalam keadaan hamil? Jawab dengan jujur!"


"Iya, Mas. Aku pergi meninggalkan kamu saat aku melihat kamu ......."


"Berapa bulan kandungan kamu waktu kau tinggalkan aku?"

__ADS_1


Embun mulai menautkan kedua alisnya saat ia berkata, "Empat bulan, Mas"


"Kau pergi ke mana?"


"Ke Jepang"


"Bersama siapa?"


"Mbak Mona"


"Menemui siapa di Jepang"


Embun semakin menarik ke dalam kedua alisnya saat ia mengeluarkan suara, "Alex Norman. Dia adalah........."


Tanpa Embun duga sama sekali, Luke meletakkan telapak tangannya pada pipi Embun sambil berkata, "Akal sehatku menyuruhku meninggalkanmu detik ini juga.Tapi, insting alamiku, inginkan diriku mengingat dirimu yang dulu itu seperti apa" Lalu, pria tampan itu memberikan ciuman yang lembut dan cepat pada bibir Embun, "Saat ini aku tengah bertarung dengan akal sehat dan insting alamiku"


Lalu, bibir Luke kembali turun untuk mengulum bibir Embun dengan penuh gairah.


Kerinduan yang membuncah pada suaminya membuat hati Embun memekik, Ya Tuhan, rasanya luar biasa. Ciuman ini, wangi parfum Mas Luke yang belum berubah, kehangatan pelukan Mas Luke, sentuhan lembut tangan Mas Luke, sangat tegas dan indah.


Luke kemudian menempelkan bibirnya pada sudut kanan bibir Embun lalu dengan sentuhan lidahnya yang lembut ia menggoda Embun. "Astaga! Ya Tuhan, kau manis sekali bidadariku"


"Sudah lama sekali, Mas" Bibir Embun merekah sempurna.


Luke tergoda untuk menghujamkan lidahnya ke bibir yang tengah merekah indah itu. Namun, nama Alex Norman kembali terngiang di telinganya. Pria tampan itu langsung mendorong kasar kedua bahu Embun dan Luke langsung melangkah melewati Embun sambil berkata, "Berarti Chika tidak berbohong. Dasar menjijikkan. Kau pergi meninggalkan suami kamu untuk menemui pria lain" Lalu, pria tampan itu masuk ke dalam lift dan meninggalkan Embun begitu saja.


Embun sontak memutar badan mengikuti arah perginya Luke dan mematung di depan pintu lift yang sudah tertutup rapat.


Embun memegang dadanya yang terasa sedikit perih mendengar suaminya lebih memercayai wanita lain dan berucap Pulu, "Kalau kau percaya sama Chika, kenapa kau menciumku, Mas?" Namun, di saat ia ingat kembali akan amnesia yang Luke derita, Embun langsung bergumam, "Aku akan segera membuatmu ingat kembali sama aku, Mas. Ingat kembali sama cinta indah kita berdua. Asal kau tahu Mas, aku sangat merindukanmu. Maafkan aku untuk kebodohan yang sudah aku lakukan di masa lalu"


Luke berdiri di dalam lift pribadinya yang tengah meluncur turun sambil terus mengusap bibirnya dengan ibu jari. Kemudian, pria tampan itu bergumam, "Kenapa aku malah menciumnya tadi? Sial! Apa dia akan salah paham? Aduh! bodoh sekali, sih, Lo, Luke. Tapi, kenapa aku ingin menciumnya lagi saat ini. Bibirnya masih terasa sangat manis dan aku tidak bisa meluapkan rasa manis itu"


Saat pintu lift terbuka di lantai satu, alih-alih melangkah keluar, Luke justru menutup kembali pintu lift itu dan naik kembali menuju ke ruang kerjanya. Di saat tombol lift menyala di lantai 10, Luke langsung menahan laju lift dan sontak mengumpat kesal, "Sial! Kenapa aku malah naik lagi, nih?" Lalu, Luke mengaktifkan kembali lift itu dan menekan tombol 1.


Sewaktu pintu lift kembali terbuka di lantai satu, Luke justru membiarkan pintu lift itu menutup, pria tampan itu tanpa sadar menggerakkan jari telunjuknya kembali untuk menekan tombol 15. Dia kembali naik menuju ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Sementara itu, Embun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang kerja suami tampannya dan sambil melangkah menuju ke dapur, Embun berkata, "Aku akan memasak saja. Masak nasi goreng cinta. Siapa tau saat Mas Luke makan nasi goreng cinta yang dulu pernah Mas Luke masak untukku, Mas Luke akan sembuh dari amnesianya"


__ADS_2