
"Ami" Luke menggumamkan kata Ami sambil memegang dadanya. Ami adalah bahas Italia yang artinya, apakah kamu mencintai?
Embun langsung menghentikan tawanya untuk bertanya, "Ami? Apa itu nama pacar Anda, Tuan?"
Luke mengulum senyum menahan geli. Lalu ia melompat turun dari ranjang. Kemudian dia berdiri di depan Embun untuk berkata, "Kalau iya, kenapa? Kamu cemburu?"
Alih-alih menjawab pertanyaannya Luke, Embun justru memekik, "Tu......tunggu sebentar!" Embun melangkah lebar melewati Luke menuju ke sofa, lalu kembali lagi menghadap Luke untuk bertanya, "Ke......kenapa ada dua selimut di ranjang? Lalu, sofanya rapi. A.....apakah Anda tidur di ranjang se.....semalam?"
Luke tersenyum lebar dan dengan wajah tanpa dosanya, ia berkata, "Aku kemarin merasakan kalau anakku yang ada di perut kamu, minta dipeluk sama Papanya. Jadi, ya, aku naik ke ranjang untuk memeluk anakku"
Embun langsung menunduk melihat perutnya dan sambil mengusap perutnya, ia kembali menatap Luke untuk bertanya, "Mana ada seperti itu? Apa bener Anda merasa kalau anak kita..........."
Grab! Luke menarik pergelangan tangan Embun dan mengajak Embun ke kamar mandi sambil berkata, "Aku gerah banget pagi ini. Pengen buruan mandi. Tapi, aku akan mandiin kamu dulu dan beri obat ke punggung kamu. Setelah itu, kamu yang gantian mandiin aku"
Embun sontak berteriak sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Luke, "Kyaaaaa!!!!! Mana boleh kayak gitu?! Nggak usah, Tuan! Sa......saya bisa mandi sendiri" Embun langsung berlari masuk ke kamar mandi dan dengan cepat ia mengunci pintu kamar mandi.
Luke berdiri di depan pintu kamar mandi dan langsung tertawa lepas. Lalu, ia berjalan ke kotak obat dan duduk di tepi ranjang. Dia terkekeh geli dan bergumam, "Dia lucu banget. Menggemaskan, hahahahaha, dasar Embun"
Luke lalu meraup wajah tampannya sembari bergumam, "Sial! Kenapa ia cantik banget kalau bangun tidur. Wajahnya bersih dan tampak segar alami. Hampir saja aku khilaf tadi"
Embun bersandar di pintu kamar mandi dan sambil mengelus-elus dadanya dia bergumam, "Ayolah Embun! Jangan berdebar-debar terus! Dia hanya peduli sama anak yang ada di dalam perut kamu. Jadi, berhentilah berdebar-debar seperti ini!"
Embun keluar dari dalam kamar mandi dan tersentak kaget saat Luke berkata, "Duduk sini, cepat!"
Embun refleks menggelengkan kepala dengan cepat.
"Duduk! Aku akan obati punggung kamu!"
Embun kembali menggelengkan kepalanya lalu berucap, Anda katanya gerah. Anda harus cepat mandi, kan? Saya sudah siapkan bathtub dan saya akan ........"
"Duduk dengan rela hati atau aku akan menggendongmu ke sini"
Embun langsung melangkah lebar dan duduk di depan Luke.
__ADS_1
Luke membuka pelan jubah mandi yang melilit tubuh ramping dan mungilnya Embun. Embun menahan bagian depan jubah mandi itu agar jubah mandi itu tidak melorot ke bawah.
Fakta yang dilihat Luke bahwa Embun belum memakai pakaian dalam, seketika membuat pria tampan itu kesulitan menelan air liurnya. Luke langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat untuk mengusir pikiran aneh yang melintasi benaknya, lalu ia mulai mengoleskan salep di punggung Embun. Setiap kali ia mendengar Embun mendesis menahan perih, Luke meniup pelan kulit punggung Embun yang masih ada bekas luka sabetan.
Luke dengan cepat merapikan jubah mandi sambil berkata, "Luka kamu udah membaik" Luke langsung melompat turun dari ranjang saat ia melihat Embun mengikat kembali jubah mandi. Pria berdarah campuran Italia itu langsung melesat ke kamar mandi sambil berteriak, "Aku tunggu kamu di bathtub"
Di dalam bathtub Luke bergumam lirih, "Sial! Kenapa jantungku selalu berdebar aneh kayak gini?"
Embun duduk di bangku kecil dan berkata, "Saya gosok punggung Anda sekarang, ya, Tuan?"
"Hmm" Sahut Luke.
Embun terus menggosok pelan punggung Luke dan melakukannya dengan penuh kelembutan.
Beberapa menit kemudian Luke keluar dari dalam kamar mandi dan langsung berganti baju di ruang ganti baju. Lalu ia berdiri di depan Embun sambil menggantungkan dasi ke udara sambil bertanya, "Kamu bisa pasangkan dasi?"
"Bisa, Tuan" Sahut Embun.
"Kamu nggak punya Papa. Kenapa kamu bisa pasang dasi?"
Namun, Embun menjawab, "Saya masih punya Kakek. Kakek kalau pergi ke pertemuan bisnis selalu memakai jas dan dasi"
Luke terdiam membisu dan bertanya di dalam hati, kenapa dia tidak mengatakan soal Gilang? Kenapa dia juga tidak tanya ke aku, kenapa di telepon genggamnya yang baru tidak ada foto dia dan Gilang. Nomer ponselnya Gilang juga, kan, nggak ada di telepon genggamnya yang baru. Kenapa dia nggak tanya-tanya soal itu semua ke aku? Apa dia diam-diam masih mencintai Gilang?
Kerena, terbakar cemburu saat ia teringat kembali kan pria yang bernama Gilang, Luke berkata dengan ekspresi dingin, "Cium aku! Mulai pagi ini kamu harus mencium aku!"
Embun meraih tangan Luke dan mencium punggung tangannya Luke.
Luke menarik tangannya dan langsung menarik pinggang Embun. Dia memeluk Embun dan setelah berkata, "Aku akan ajari kamu di mana kamu harus menciumku" Dia lalu memagut bibirnya Embun.
Embun yang belum pernah berciuman sebelumnya, sontak memejamkan kedua matanya dan merapatkan bibirnya, kemudian ia mematung.
Di bawah tangannya, Luke bisa merasakan tubuh Embun bergetar hebat. Luke langsung sadar dan dia melepaskan ciumannya untuk bertanya ke Embun yang masih menutup mata, "Kau belum pernah dicium?"
__ADS_1
Embun membuka mata dan mendongakkan wajahnya untuk berkata, "Saya tidak pernah dicium. Anda yang pertama"
Luke dengan sigap mendekap erat Embun saat lutut Embun melemas. Lalu, Luke mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Embun dan sambil mengelus rambut Embun, ia berkata di sana, "Aku tersanjung selalu menjadi yang pertama buat kamu. Namun, sayangnya itu bukan hal indah di memori kamu. Aku perlu minta maaf ke kamu. Minta maaf untuk semua hal yang pernah aku lakukan ke kamu. Aku sudah merenggut segel kamu dengan kasar. Aku sudah berikan pengalaman pertama yang sangat mengerikan buat kamu. Selanjutnya dan seterusnya, aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi"
"Saya sudah memaafkan Anda sejak kita menikah, Tuan. Entah kenapa sejak saya tahu saya hamil, saya justru tidak bisa membenci Anda. Ini semua karena janin di dalam perut saya. Anak kita tidak mengijinkan saya membenci Papanya"
Luke sontak berjongkok untuk mencium perut Embun dan berkata, "Terima kasih, ya, Nak. Walaupun kamu dibentuk dari suatu kebrutalan dan ketidaksengajaan, tapi kamu memiliki hati yang baik kayak Mama kamu. Kamu memaafkan Papa dan tidak mengijinkan Mama kamu terus membenci Papa. Papa mencintaimu, Nak. Aku sangat mencintaimu"
Embun menitikkan air mata dan saat air mata itu jatuh mengenai ujung jarinya Luke, Luke bangkit berdiri dan kembali memagut bibirnya Embun. Dia bergumam di sela ciumannya, "Aku hanya tahu cara untuk menenangkan tangisan seorang wanita, dengan ciuman"
Embun hanya bisa menyerah pasrah saat suaminya menekan dengan lembut bibirnya.
Embun terasa hangat, namun ia minim pengalaman. Keluguan Embun membuat Luke menggila. Dia mencoba menggoda bibir Embun dengan lidahnya. Luke semakin menggila saat ia merasakan mulut Embun sangat mengagumkan, begitu penuh, lembur, luar biasa seksi.
Embun masih mematung, namun tanpa ia sadari ia berjinjit. Dengan masih tidak bergerak, Embun mulai bernapas berat dan tengah lewat hidung. Tak mampu menguasai kegilaannya, Luke memegangi kepala Embun dengan dua tangan dan memosisikan diri lebih dekat lagi dengan Embun, makin dalam mencium, dengan makin lembut menjelajah mulut Embun yang manis.
Saat Luke menyadari bahwa Embun hamil, dia melepaskan ciumannya, mundur sedikit untuk memandang Embun.
Embun jatuh melemas di dadanya Luke. Luke langsung mengusap lembut punggung Embun sambil berkata, "Aku senang kamu udah nggak nangis lagi. Kalau kamu terus menangis, entah apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Karena aku sudah mencium kamu, aku akan kasih tahu kamu agar tidak ada kesalahpahaman, Ami bukan nama pacarku. Ami itu bahasa Italia. Kalau kamu ingin tahu artinya, kamu cari tahu di internet nanti"
Embun yang masih berusaha menenangkan diri, hanya bisa diam membisu di dalam dekapan hangat suaminya.
Luke kemudian mencium kening Embun dan menggandeng tangan Embun keluar dari dalam kamar. Embun hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya menggandeng tangannya, karena hati dan jantungnya masih berpacu abnormal dan sekujur tubuhnya melemas setelah ia suaminya memagut paksa bibirnya.
Nama Gilang seketika lenyap dari benak Luke.
Sesampainya di meja makan, Maria Donovan tersenyum senang melihat Luke menggandeng tangan Embun. Dengan rona malu di wajah, Embun langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Luke.
"Nenek sudah ada di sini sepagi ini?"
Maria Donovan langsung berkata, "Itu karena mama tiri kamu, membuat ulah. Dia merasa kalau Daniel yang sudah menikah berada di atas angin dan yakin kalau Daniel akan menggantikan posisi kamu. Oleh karena itu, dia membujuk para pemegang saham untuk segera melakukan rapat pemilihan Presdir periode terbaru"
"Dan kapan itu, Nek?" Tanya Luke sembari menyuapi Embun.
__ADS_1
"Hari ini"
"Hah?!" Luke langsung ternganga.