
Embun langsung melangkah maju dan berdiri di depan suami tampannya. Dia ingin melindungi suaminya dari tentakel-tentakel beracun si pelakor yang bernama Chika itu.
Luke terkejut dan sontak menatap punggung Embun. Namun, dia memilih untuk diam mematung.
"Apa benar dia Istri kamu, Luke?!" Chika menatap Luke yang berdiri mematung di belakangnya Embun.
Luke masih terpesona dengan punggung Embun untuk itulah ia masih setia diam mematung di belakangnya Embun.
"Luke! Jawab!"
Rendy yang sudah berdiri di sebelahnya Chika, langsung menarik lengan wanita itu sambil berkata, "Lebih baik kau keluar dari sini. Kau hanyalah pelakor. Sadarilah itu!"
Chika menarik lengannya dengan keras dan menunjuk Embun sambil berteriak, "Dia yang pelakor! Dia yang merebut Luke dariku dan dia yang telah............"
"Tapi, aku Istri sahnya. Kami punya surat nikah dan kami punya anak" Embun berkata dengan nada dan wajah tegas.
"Apa?! Anak?! Luke katakan kalau itu tidak benar! Luke! Jawab!
Luke mendengus kesal dan sontak menatap Chika untuk berkata, "Berhentilah berteriak! Aku tidak tuli"
"Kalau gitu jawab semua pertanyaanku!" Chika mendelik ke Luke.
"Benar. Semua yang dikatakan Embun benar. Tapi, yang kamu katakan juga benar. Embun lari meninggalkan aku tiga tahun yang lalu demi laki-laki lain" Sahut Luke dengan helaan napas frustasi karena dia tidak bisa memutuskan siapa yang harus ia percayai.
Embun sontak menoleh ke Luke untuk berkata, "Kenapa Mas bilang seperti itu? Aku tidak ......."
"Tunggu!" Chika berteriak kaget sambil menyibak rambut Embun. Di saat Embun menoleh ke belakang, Chika dapat melihat tanda kepemilikan di leher Embun dan untuk memastikan penglihatannya, wanita mantan penari balet tingkat Internasional itu dengan lancangnya menyibak rambut Embun.
Embun menoleh kaget ke Chika dan sambil menepis kasar tangan Chika dari lehernya, wanita cantik berambut panjang bergelombang itu, mendelik dan berkata, "Lancang sekali kau menyentuh rambut dan leherku"
"Ta.....ta....tanda apa di leher kamu itu?"
Luke terkejut mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Chika dan secara spontan ia menyibak rambut Embun untuk melihat ada tanda apa di leher Embun.
Embun menoleh kembali ke belakang saat tangan Luke menyentuh kulit lehernya.
Tanpa Luke sadari, ia mengulas senyum penuh arti saat ia melihat ada tanda kepemilikan di leher Embun.
Embun menatap heran senyum di wajah suaminya dan di saat Embun ingin bertanya, Chika langsung berteriak, "Luke! Jawab! Kenapa kau malah senyum kayak gitu, hah?! Apa kau dan dia sudah bercinta semalam?"
Rendy langsung menyahut dengan ekspresi kaget, "Benarkah itu, Tuan?"
Luke hanya diam membisu.
__ADS_1
Embun langsung menatap Chika dengan wajah menantang dan berkata, "Itu benar. Lalu, kau mau apa? Aku adalah istri sahnya Mas Luke. Aku dan Mas Luke berhak untuk ........"
Plak! Tamparan Chika yang sangat keras mendarat di pipi Embun.
Luke sontak memeluk Embun dari belakang dan langsung mendelik ke Chika, "Kenapa kau menamparnya?"
"Lepaskan dia! Jangan peluk dia, Luke! Aku ini tunangan kamu. Wanita yang setia berada di sisi kamu selama ini. Wanita yang selaku ada di saat kamu kesakitan dan menderita selama ini adalah aku, Luke. Sedangkan wanita itu justru pergi meninggalkan kamu dan mengkhianati kamu. Dia pergi ke pelukan pria lain dan........"
Plak! Embun menampar keras pipi Chika sambil berkata, "Jangan kau putar balikkan. fakta dan membuat Mas Luke bingung! Kamu yang menggoda Mas Luke waktu itu dan kau yang membuatku pergi meninggalkan Mas Luke. Kau yang sudah........"
"Cukup!!!!!!! Hentikan!!!!!! Jangan kau putar balikkan fakta! Jangan kau cuci otak Luke dengan kebohonganmu lagi!" Chika berteriak ke Embun dengan isak tangis.
Embun tesentak kaget dengan ucapannya Chika dan spontan berkata, "Kau......."
"Cukup" Luke langsung menggemakan suaranya.
"Luke, kau percaya sama aku, kan?" Chika menatap Luke dengan sorot mata penuh harap.
"Pergilah dulu! Tenangkan diri kamu! Aku akan menemui kamu" Luke menatap Chika dengan sorot mata tegas.
"Katakan dulu kalau kamu lebih percaya sama aku" Chika menatap Luke dengan wajah memelas.
"Hmm" Luke menjawab asal pertanyaannya Chika.
Rendy langsung mengekor langkah Chika untuk memastikan wanita itu tidak melakukan hal yang aneh-aneh di belakang tuan mudanya.
Embun langsung menyikut perut Luke cukup keras dan saat Luke melepaskan pelukannya, Embun langsung memutar badan untuk berhadapan dengan suami tampannya. Tanpa menunggu lama, Embun langsung bertanya, "Kau lebih percaya sama wanita itu, Mas?"
Luke menatap lekat wajah cantik wanita berambut panjang bergelombang itu dalam kebisuan.
"Mas, jawab aku! Tolong, mas!"
"Entahlah. Aku hanya percaya dengan apa yang ada di depan mataku dan .........."
"Sekarang jawab aku dengan sejujur-jujurnya, apa kamu pernah berciuman dengan wanita Iblis itu?"
Luke spontan menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak pernah"
"Kamu berkata jujur, Mas?"
"Iya. Aku nggak pernah bohong"
"Itu adalah bukti kalau kamu dan dia nggak pernah ada rasa. Otak kamu boleh mencari jawaban yang logis atas apa yang terlihat di depan mata kamu, Mas. Tapi, hati itu organ tubuh yang paling ngeyel. Hati tidak pernah nurut apa kata otak. Hati selalu mengikuti nalurinya sendiri. Hati kamu selalu mengarah padaku, kan, Mas? Terbukti saat kita pertama kali bertemu, Mas langsung menciumku dan kemarin malam Mas juga hampir menyatu denganku. Lalu, di beberapa detik yang lalu, Mas langsung memeluk aku saat aku ditampar oleh Chika. Tapi, Mas tidak langsung memeluk Chika saat aku menampar Chika"
__ADS_1
Luke langsung mendesis keras dan memegang kepalanya dengan kedua tangannya saat otaknya ia suruh bekerja keras mengingat kembali semua hal yang telah ia lupakan, ia didera sakit kepala yang liar biasa seketika itu juga. Saat tubuh Luke limbung ke depan, Embun melangkah lebar ke depan untuk segera memeluk Luke dan wanita itu langsung memapah Luke untuk duduk di sofa.
Embun mendekap kepala Luke dan sambil mengusap lembut kepala suami tampannya itu, ia berucap, "Maafkan aku, Mas. Jangan terlalu banyak berpikir dulu saat ini. Aku akan membuatmu mengingat semuanya secara perlahan"
Luke menangis sesenggukkan di dalam pelukan istri mungilnya. Embun pun ikutan menangis sesenggukkan. Luke terus menangis sampai akhirnya pria tampan itu jatuh tertidur di dalam pelukannya Embun.
Embun mengelus lembut kepala suaminya dan masih dengan derai air mata, Embun berkata, "Maafkan aku, Mas. Andai saja aku tidak salah paham dan pergi meninggalkan kamu, semua ini tidak akan terjadi. Maafkan aku, Mas" Embun kemudian menunduk dan mencium lembut pucuk kepala suaminya.
Tiba-tiba pintu ruang kerjanya Luke diketuk tiga kali dan Rendy langsung membuka pintu itu saat tidak ada sahutan.
"Tuan tertidur Nyenyak?" Rendy bertanya dengan melangkah berjingkat dan suara lirih.
"Iya" Embun menyahut dengan suara sangat lirih sambil mengusap air mata di kedua pipinya.
"Anda ditunggu untuk syuting, Nyonya. Saya akan menjaga Tuan"
"Lalu, Chika?"
"Saya sudah suruh Reyhan memajukan jadwal pemotretannya. Jadi, aman. Dia nggak akan menemui Tuan. Lagian saya akan jaga Tuan dengan segenap jiwa raga saya, Nyonya"
"Baiklah. Saya nitip Mas Luke" Embun berucap sembari merebahkan Luke dengan pelan di atas sofa.
"Siap, Nyonya. Mona sudah menunggu Anda di depan pintu. Mona akan mengawal Anda sampai di tempat syuting"
"Baiklah" Sahut Embun.
Sepuluh menit kemudian, Luke terbangun dan langsung bertanya, "Di mana Embun?"
"Nyonya muda ada di lokasi syuting dan Mona bersama Nyonya muda saat ini, Tuan"
"Berapa lama aku tidur?"
"Tidak lama, Tuan. Sekita setengah jam"
"Apa jadwalku pagi ini?"
"Anda tidak istirahat dulu?"
"Nggak, aku akan .........."
Ucapan Luke tertahan saat telepon genggamnya Rendy berbunyi dan Rendy langsung berkata, "Tuan, Nyonya muda dan Chika bertengkar di lokasi syuting. Mereka bertengkar di pinggir kolam renang"
Luke dengan wajah panik langsung bangkit berdiri dan berlari kencang mendahului Rendy.
__ADS_1