Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Ngidam


__ADS_3

Luke berkata ke neneknya, "Nek, aku akan menemani Embun selama Ibu Embun dirawat di rumah sakit"


"Oke. Nenek akan urus semua bisnis kita"


"Terima kasih, Nek"


Maria mengusap lembut rambut Embun, lalu memeluk Embun sambil berkata, "Nenek pulang dulu, ya. Nenek harus ke luar kota besok untuk menggantikan Luke menghadiri acara pembukaan resort"


Embun membalas pelukan neneknya Luke sambil berkata, "Baik, Nek. Jaga diri Nenek baik-baik dan jaga kesehatan selalu"


Maria mengelus punggung Embun sambil berkata, "Kamu juga. Ingat ada anak di dalam kandungan kamu. Jadi, kamu harus selalu jaga kesehatan"


"Baik, Nek. Terima kasih"


"Ayo makan dulu! Ingat ada anak kita di dalam perut kamu. Aaaaaa!"


Embun dengan terpaksa membuka mulut. Dia harus makan demi anak yang ada di dalam kandungannya walaupun sebenarnya dia malas untuk makan. Sambil mengunyah makanannya, Embun terus meneteskan air mata.


Luke mengusap air mata Embun dengan bibirnya dan di saat bibir Luke mengarah ke bibir Embun, Embun tersentak kaget dan sontak mendorong Luke sambil berkata, "Mas, ini di tempat umum. Kenapa Mas main cium aja"


"Kamu nangis terus. Aku pengen usap air mata kamu. Tapi, lihatlah! Tanganku kepakai semua. Makanya aku usap aja air mata kamu dengan bibirku"


Embun hanya bisa menghela napas panjang.


"Aaaaa!"


"Aku malas makan, Mas"


"Aaaaaa! Atau aku akan suapi kamu lewat mulut"


Embun terpaksa membuka mulut kembali.


Tapi, di suapan keenam, Embun benar-benar menutup mulutnya dan menggeleng kencang.


"Baiklah. Cukup segini dulu makannya nggak papa, daripada kamu malah mual dan muntah. Tapi, diminum susunya, ya?"


"Kok bisa ada susu di sini?"


"Ada dong. Aku suruh Mona beli yang kemasan siap minum di supermarket rumah sakit ini"


Embun terpaksa meminum susu rasa strawberry di kemasan siap minum dan di saat Embun menghentikan minumnya, Luke mengusap pelan punggung Embun sembari berkata, "Ayo diminum lagi!"


Akhirnya berkat usapan tangan hangat Luke di punggungnya, Embun berhasil menghabiskan susu rasa strawberry itu.


Luke membuang susu kemasan itu di tempat sampah, lalu cuci tangan di wastafel dan melangkah kembali untuk duduk di sampingnya Embun.


Luke memeluk bahu Embun dan merebahkan kepala Embun di atas pundaknya sambil berkata, "Gimana kalau kita pulang dulu? ini sudah larut malam. Ibu hamil nggak boleh begadang, kan?"


"Tapi, aku ingin menunggu Ibu"


"Kamu hamil dan nggak boleh masuk ke ruang ICU. Nunggu di luar ruangan seperti ini dingin, kan? Kamu pulang aja dulu! Istirahat di rumah. Aku yang akan gantikan kamu menunggu Ibu kamu"


"Tapi, Mas besok, kan, masih harus kerja dan......."


Luke mencium kening istrinya sambil berkata di sana, "Aku udah terbiasa begadang Udah biasa lembur di kantor. Nggak papa kalau aku harus nunggu Ibu kamu"


"Tapi, Mas........"


"Nurut, ya?! Ini demi kesehatan kamu dan anakku"


Embun menghela napas panjang dan akhirnya ia menganggukkan kepala dan berkata, "Baiklah. Tapi, Mas nggak boleh terlalu capek dan harus jaga kesehatan"


Luke menangkup wajah Embun dan menatap wajah Embun sangat dalam untuk bertanya, "Apa kamu sedang mengkhawatirkan aku?"


"Iya"


Luke mengecup bibir Embun dan Embun sontak mendelik dan bergumam lirih, "Mas, ini tempat umum. Ada yang lihat kita, tuh"


Alih-alih merespons ucapannya Embun, Luke justru bertanya, "Benarkah?"


"Iya. Ada beberapa pasang mata memperhatikan kita saat ini"


"Bukan itu maksudku. Bodo amat kalau ada orang yang merhatiin kita. Yang aku maksud, benarkah kamu sedang mengkhawatirkan aku saat ini?"


"Iya"


Luke menatap Embun dengan semringah dan bertanya, "Kenapa? Kenapa.kamu mengkhawatirkan aku?"


Embun tampak kebingungan mencari jawaban atas pertanyaannya Luke itu. Wanita itu terdiam selama sepersekian detik.


"Kok malam diam? Apa kamu kurang nutrisi otak? Setiap kali aku kasih pertanyaan, kamu nggak langsung jawab?" Luke yang masih menangkup wajah Embun, kembali mengecup bibir Embun.


Embun menghela napas panjang dan berkata, "Karena Mas, Papa anak kita. Aku nggak ingin anak kita sedih kalau sampai melihat Papanya jatuh sakit"


Luke melepaskan wajah Embun sambil bertanya, "Karena itu? Hanya karena itu? karena, aku Papa dari anak yang ada di dalam kandungan kamu?"

__ADS_1


Embun menatap Luke dan bertanya, "Lalu, karena apa, Mas?"


Luke menopangkan tangan di atas kepala Embun dan sambil menepuk lembut puncak kelas itu, ia berucap, "Lupakan saja! Nggak penting. Kamu buruan pulang. Mona akan mengantarkanmu pulang"


"Mas, jangan terlalu capek, ya?"


"Hmm" Sahut Luke sembari mencium kening Embun.


Luke kemudian menggandeng tangan Embun, "Aku akan antar kamu sampai di depan mobil"


Embun tersenyum ke Luke dan berkata, "Terima kasih, Mas"


Luke membukakan pintu mobil untuk Embun dan membantu Embun masuk ke dalam mobil sambil berucap, "Awas kepala kamu"


Setelah Embun duduk tenang di jok, Luke mencium kening Embun lalu menutup pintu mobil dan berkata ke Mona, "Jaga anak dan Istriku dengan baik"


"Siap, Tuan" Sahut Mona.


Luke melambaikan tangan dan pria tampan itu tersenyum senang saat ia melihat Embun mengeluarkan wajah ke jendela untuk membalas lambaian tangannya.


Sepeninggalnya Embun, Luke bergegas kembali ke ICU. Melihat tuan mudanya duduk kembali di kursi tunggu yang ada di depan ruang ICU, Rendy berpindah tempat duduk untuk duduk di sebelah tuan mudanya. Lalu, asisten berparas tampan lokal itu bertanya dengan hati-hati, "Apakah tadi berhasil, Tuan?"


Luke menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke Rendy. Lalu, pria super tampan itu bersedekap dan menyadarkan belakang kepalanya ke tembok.


"Kok bisa gagal?"


Luke yang masih bersedekap dan menyandarkan kepala di tembok, menyahut dengan memejamkan mata, "Banyak yang memilih restoran itu untuk melamar. Jadi, banyak gangguan dan tiba-tiba Nenek nelpon kasih kabar kalau Ibu mertuaku masuk rumah sakit"


"Maafkan saya, Tuan. Saya pikir restoran itu sangat terkenal sebagai restoran yang paling romantis. Makanya saya memilih restoran itu untuk Tuan. Lain kali saya akan pilihkan restoran romantis lainnya yang lebih private, Tuan"


"Hmm" Sahut Luke tanpa mengubah posisi duduknya.


"Tuan, nggak marah sama saya, kan?"


"Untuk apa aku marah sama kamu?" Luke menyahut masih dengan posisi duduk yang sama.


"Terima kasih Tuan kalau Tuan nggak marah sama saya"


Rendy kemudian berkata di dalam hati, Baru kali ini Tuan nggak marah-marah perkara rencananya gagal. Biasanya kalau rencananya gagal, aku pasti kena semprot kemarahan yang panjang banget dan sampai bersambung selama berhari-hari. Nyonya muda telah membuat Tuan muda banyak berubah ke hal yang positif. Tuan muda juga tidak pernah lagi pergi ke klub untuk party dan mabuk.


"Tuan, apa Tuan pengen saya belikan sesuatu? Kopi hangat atau teh?"


"Aku pengen makan buah" Luke tiba-tiba membuka mata dan menegakkan badan untuk menoleh ke Rendy.


"Hah?! Buah? Tapi, Tuan nggak suka buah, kan? Tuan lebih suka makan buah kalau dibikin puding atau jus. Tapi, itu pun nggak pernah Tuan memintanya"


"Baiklah. Ada supermarket yang buka dua puluh empat jam. Saya akan belikan buah kupas di sana. Tuan pengen makan buah apa?"


"Mangga"


"Mangga?!" Saking terkejutnya, Rendy hampir terjatuh dari kursi.


"Kenapa? Aneh, ya, kalau aku pengen makan mangga"


"Kalau orang lain yang minta, sih, nggak aneh. Tapi, ini Anda yang minta. Anda yakin pengen makan mangga, Tuan?"


"Iya" Sahut Luke dengan memasang wajah seperti anak kecil yang sedang menginginkan sepotong es krim.


"Tapi, Anda makan satu potongan kecil mangga saja, bisa sakit perut berhari-hari"


"Entahlah. Aku pengen banget makan mangga saat ini. Tolong belikan dan akan aku coba memakannya"


"Baiklah. Semoga Anda tidak sakit perut dan......."


"Wah! Kau yang ngidam, ya, Luke?" Seorang pria muda dan tampan yang berseragam dokter mendekati Luke.


"Dokter Theo? Kapan Anda balik dari Amerika?" Tanya Rendy.


"Kemarin dan aku langsung kaget saat tahu ternyata Luke Donovan sudah menikah dan akan menjadi seorang Papa" Wah! Kau masih awet berada di sisi orang aneh, ini, ya, Ren?"


Rendy tersenyum lebar dan berkata, "Karena, saya juga aneh, hehehehe. Saya permisi mau beli buah dulu"


"Hmm" Sahut Luke dan dokter muda yang bernama Theo itu secara bersamaan.


Sepeninggalnya Rendy, dokter muda yang bernama Theo itu duduk di samping Luke.


"Kenapa kamu balik? Kalau mencari kamu Chika, percuma. Dia udah pergi ke luar negeri dan wanita gila itu pergi tanpa pamit sama aku. Dia cuma meninggalkan secarik kertas"


"Aku sudah nggak terobsesi lagi dengan Chika. Aku udah punya tunangan. Apa kau masih menyimpan rasa sama Chika? Apa kau masih mengharapkan dia cepat balik ke sini dan kembali padamu lagi?"


Luke menggeleng tegas lalu berkata, "Aku rasa aku udah nggak punya perasaan apa-apa sama Chika. Dia wanita yang egois dan aku salah tentang dia. Aku rasa ia memahami aku, tapi ternyata ia hanyalah seorang wanita yang egois dan sulit diatur"


"Iya. Kita berdua adalah korban dari kecantikan dan keseksiannya Chika. Dia bukan pribadi yang baik ternyata"


"Hmm" Sahut Luke.

__ADS_1


"Lalu, apa kabar calon Papa muda, nih? Kamu yang ngidam kayaknya" Theo merangkul bahu Luke dengan senyum geli.


"Ngidam?" Luke menoleh kaget ke teman masa kecilnya yang bernama Theo itu.


Theo mengulum bibir menahan geli, lalu berkata, "Iya, ngidam. Kamu, kan, nggak suka makan buah dan tiba-tiba pengen makan buah. Itu ngidam namanya. Apalagi buah mangga"


"Benarkah begitu? Syukurlah kalau aku yang kejatah ngidam. Ngidam itu berat, kan?"


"Yang aku tahu, sih, rindu yang berat, karena aku belum pernah merasakan ngidam, hehehehe"


"Dasar gila. Aku nanya serius, nih. Kamu, kan, dokter. Jadi, kamu pasti tahu kalau ngidam itu berat bagi wanita yang tengah hamil muda"


"Iya. Ngidam itu berat" Sahut Theo.


"Syukurlah" Luke menatap Theo dengan wajah semringah.


"Tapi, kenapa kamu bisa semringah begitu pas tahu kalau ngidam itu berat. Jangan-jangan kamu udah jatuh cinta sama Istri kamu yang kamu nikahi karena insiden mengerikan itu"


"Kamu tahu darimana kalau aku awalnya menikahi Istriku, karena insiden mengerikan?"


"Dari Felix" Sahut Theo.


"Kamu benar. Aku sudah jatuh cinta. Ini cinta yang sesungguhnya dan belum pernah aku rasakan sebelumnya"


"Lalu, pas sama Chika, kau nggak jatuh cinta?"


"Entahlah. Aku merasa aku mencintai Chika. Tepi, saat aku mulai mencintai Istriku, aku sadar kalau perasaanku dulu sama Chika hanyalah, karena hasrat semata"


"Yeeeaahhh, Chika memang sangat sempurna secara fisik. Dia sangat seksi dan sangat cantik" Sahut Theo.


"Istriku juga tidak kalah cantiknya dengan Chika. Istriku sangat imut dan sangat menggemaskan" Sahut Luke dengan cepat.


"Wah! Aku jadi penasaran pengen melihat Istri kamu dan berkenalan dengannya"


"Nggak boleh. Kita memiliki selera cewek yang sama. Aku nggak mau kamu naksir sama Istriku seperti dulu kamu naksir sama Chika"


Theo sontak menggelegarkan tawanya lalu berkata, "Hei! Aku udah punya tunangan. Bagaimana kalau kita double date kapan-kapan?"


"Oke. Kalau double date aku mau" Sahut Luke.


"Aku masuk dalam tim dokter yang menangani ibu mertua kamu" Ucap Theo kemudian. "Untuk itulah aku ke sini mencari kamu"


Rendy datang dan ucapan Theo terhenti sejenak. Theo dan Rendy menunggu Luke membuka kemasan piring dari styrofoam yang diberi plastik di atasnya. Luke kemudian menusuk salah satu potongan mangga dengan tusuk gigi dan langsung memasukkan potongan mangga itu ke dalam mulutnya.


Rendy dan Theo menunggu reaksi Luke. Kalau Luke meletakkan piring styrofoam berisi mangga dan berlari ke toilet, Theo akan segera menangani Luke.


Namun, Rendy dan Theo melihat Luke makan buah mangga itu dengan lahap dan tampak aman-aman saja.


Luke menoleh ke Rendy dan Theo, "Kalian mau?" Luke mengarahkan piring styrofoam yang masih berisi beberapa potongan kecil mangga ke Rendy dan Theo.


Rendy dan Theo menggelengkan kepala dengan kompak.


Luke kemudian berkata sambil asyik menikmati mangga itu, "Lalu, menurut kamu apa Ibu mertuaku masih punya harapan untuk sembuh?"


"Akan kami usahakan. Kami akan berjuang melakukan yang terbaik. Walaupun peluangnya Fifty-fifty"


Luke membuang piring styrofoam ke tempat sampah lalu duduk kembali untuk berkata ke Theo, "Aku mohon sembuhkan Ibu mertuaku secepatnya. Aku nggak ingin melihat Istriku sedih dan menangis terus. Aku juga nggak tega melihat Ibu mertuaku berbaring lemah sendirian di ICU"


"Kami akan berusaha yang terbaik, Luke" Sahut Theo sembari meletakkan tangannya di pundak Luke.


"Batere ponselku habis, Mbak"


"Batere ponsel saya juga habis, Nyonya. Ada apa? Apa Anda ingin nelpon Tuan Luke?"


"Iya. Tapi, nanti di rumah aja. Bentar lagi sampai, kan?"


"Satu jam lagi sampai, Nyonya" Sahut Mona.


"Kalau gitu nanti di rumah aja nelponnya"


"Nyonya muda, kita diikuti oleh mobil asing. Dan tidak hanya satu. Ada dua mobil Van berwarna hitam mengikuti kita. Mobilnya tidak ada pelat nomernya. Sial! Mereka berniat jahat pada kita, Nyonya"


"Hah?! Lalu, gimana Mbak?"


"Tenang Nyonya. Saya sudah terbiasa menghadapi masalah seperti ini. Saya akan ngebut. Nyonya muda pegangan yang kuat, ya"


"Baiklah. Maafkan saya, Mbak" Ucap Embun sembari memegang handle yang ada di atas jendela mobil.


"Kenapa Anda minta maaf Nyonya?" Sahut Mona tanpa menoleh ke Embun.


"Karena, saya melarang Mas Luke membawa pengawal tadi. Kalau sampai mobil-mobil itu berhasil mengejar kita, Mbak Mona akan menghadapi mereka semua sendirian"


"Saya akan mencoba melarikan diri dari mereka, Nyonya. Pegangan yang kuat, ya"


Soraya Donovan menelepon salah satu orang yang berada di dalam mobil Van yang tengah mengejar mobil mewahnya Luke, "Kejar mobil Luke sampai kalian berhasil ngeblok mobil itu. Lalu, bunuh Istrinya Luke dan pengawal wanita nggak guna itu!"

__ADS_1


"Siap Nyonya!"


__ADS_2