Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Putus


__ADS_3

Sepasang pengantin baru itu berciuman di dalam perasaan asing yang mana keduanya belum saling memahami perasaan apa itu. Mereka saling mengeksplore dan terus berciuman, sampai ruangan kamar VVIP itu dipenuhi deru napas mereka.


Embun gemetar saat ia merasakan gejolak asing di tubuh Luke. Tubuh Embun seketika luluh rapuh. Dada wanita itu terasa nyeri mendambakan sentuhan suami tampannya, dan sensasi liar yang selama ini tersembunyi apik di dalam dirinya dibangkitkan oleh Luke dan seketika berdenyut menyiksa.


Ketika Luke membuka ritsleting dressnya, Embun menarik bibirnya untuk menatap Luke dan sontak menahan dressnya ketika Luke menarik turun dressnya.


Luke mengusap lembut bibir Embun sambil bertanya, "Kenapa kau tahan dress kamu? Kau tidak akan ijinkan suami kamu melihat indahmu dengan penuh kesadaran? Kau tidak percaya sama aku? Aku nggak akan menyakiti kamu"


"Bukan begitu, Mas. Saya malu"


"Kenapa harus malu? Aku adalah suami sah kamu. Dulu, aku merenggut segel kamu di bawah pengaruh alkohol dan obat. Aku sama sekali nggak ingat apa-apa. Saat ini, aku ingin mengabadikan indahmu ke dalam memoriku dengan penuh kesadaran"


Embun masih tampak ragu.


Luke mencium kening Embun dan berkata di sana, "Kalau kamu masih belum bisa percaya sama aku, nggak papa, kok Aku akan sabar menunggu kamu"


Embun mengangkat pelan telapak tangannya dari atas dressnya dan dengan rona malu di wajah wanita berwajah imut itu berkata, "Saya percaya sama, Mas"


Luke tersenyum lalu mencium kening Embun. Akhirnya, dengan pelan ia menurunkan dressnya Embun hingga sampai ke mata kakinya Embun. Kemudian, pria tampan itu mencium setiap jengkal tubuh istri mungilnya dimulai dari tumit kaki.


Lalu pria super tampan itu bermain asyik di dada Embun dengan bibir dan telapak tangan. Saat Embun mengerang lirih, Luke membungkam bibir Embun dengan bibirnya sembari menarik selimut. Lalu, pria berdarah campuran Italia itu, melepaskan bibir Embun, mencium kening istrinya dan berkata di sana, "Tidurlah!"


Embun menyusupkan wajahnya di dada bidang suami tampannya untuk meredakan gairahnya.


Luke terus mengelus pelan punggung Embun sampai Embun tertidur lelap. Kemudian presdir muda Grup Donovan itu bangun dan memakai kembali kemejanya, merapikan celana panjangnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk bermain solo di sana sambil berkali-kali bergumam, "Istriku ternyata memiliki daya pikat yang benar-benar sulit untuk aku abaikan. Tapi, demi anakku, aku nggak boleh menyatu dengan Embun sebelum dokter mengijinkannya"


Keesokan harinya, Embun yang terbiasa bangun pagi, membuka mata di jam empat pagi dan ia mendapati suami tampannya masih memejamkan mata.


Embun memandangi wajah suaminya dan bergumam lirih, "Mas Luke punya bulu mata yang panjang ternyata. Dia pria yang tampan sekaligus cantik" Embun menyentuh pelan bulu matanya Luke dan langsung terlonjak kaget saat Luke tiba-tiba membuka mata.


Embun sontak kebingungan, dia mencari tempat untuk menyembunyikan wajahnya dan Luke langsung memeluk Embun dan berkata, "Kamu mau sembunyi di mana?"


Embun membeku saat wajahnya menempel di dada polosnya Luke.


"Selamat pagi" Luke berucap sembari mengelus lembut punggung polosnya Embun.


Luke kembali membuka suara saat tidak ada sahutan dari Embun, "Kok nggak nyapa balik?"


Embun menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


Embun menarik diri dari pelukannya Luke dan ia berkata dengan mulut yang ia tutup pakai telapak tangan, "Saya belum gosok gigi, Tuan"


Luke mengulum bibir menahan senyum. Lalu, ia bangun, membopong Embun dan sambil melangkah ke kamar mandi ia berucap, "Kita gosok gigi bareng kalau gitu"


"Ta......tapi saya belum pakai baju"


"Aku adalah suami sah kamu ngapain malu. Lagian aku sudah menghapal setiap jengkal tubuh kamu semalam"


Embun langsung menyusupkan wajahnya di dada suaminya, karena malu.


Beberapa jam kemudian, Luke dan Embun keluar dari dalam kamar pengantin dengan bergandengan tangan. Rendy dan kesepuluh pengawal pribadinya Luke langsung menyambut Luke.


Luke bertanya ke Rendy, "Nenek sama Ibu mertuaku sedang sarapan, ya, sekarang ini?"


"Sarapan?" Rendy sontak mengulum senyum menahan geli.


"Malah ngulum bibir. Kenapa? Ada apa?" Luke bertanya sembari menggerak-gerakkan kedua alisnya


"Ini sudah jam sebelas, Tuan. Nyonya besar dan Bu Lastri sudah pulang"


"Kita kesiangan keluarnya, Mas" Sahut Embun.


"Kamu, sih, nggak mau lepaskan aku dan pengen nempel terus sama aku" Luke mencium pelipisnya Embun.


Embun sontak menyemburkan protes karena malu, "Mas, ada banyak orang di depan kita. Lagian yang nempel terus siapa sih sebenernya?"

__ADS_1


Luke terkekeh geli dan saking gemasnya ia nekat mencium bibir Embun di depan orang banyak. Embun hanya bisa menghela napas panjang menghadapi tingkah polosnya Luke.


Rendy sontak berdeham keras lalu bertanya dengan senyum manis, "Tuan dan Nyonya muda sudah sarapan, kan?"


Luke melepaskan bibir Embun dan menoleh ke Rendy untuk menjawab, "Sudah. Tadi dikasih layanan sarapan di kamar. Kalau gitu, aku ke kantor dulu dan kamu antarkan Embun ke sana"


"Ke sana? ke mana?" Embun sontak menoleh ke suaminya.


"Gilang udah balik dari Jepang dan pengen ketemu sama kamu"


"Saya nggak mau ketemu dengan dia, Mas"


"Temui Gilang! Kalian harus selesaikan hubungan kalian, kan? Biar nggak ada kerikil kecil di pernikahan kita nantinya"


"Tapi, Mas nggak ikut?"


"Nggak! Aku repot. Lagian aku percaya sama kamu. Pergilah temui Gilang! Rendy akan mengantarkan kamu dan menemani kamu" Luke mencium singkat bibirnya Embun, lalu ia berbalik badan pergi meninggalkan Embun.


Gilang sampai di restoran yang dipilih oleh Rendy untuk pertemuan terakhirnya dengan Embun. Dia melangkah gontai menuju ke bilik nomer lima. Bilik yang dipilih pula oleh Rendy.


Restoran itu memiliki sepuluh bilik kecil yang berjejer dan tiap biliknya hanya disekat tirai bambu. Bilik yang berjejeran dengan sekat tirai bambu itu, semuanya menghadap ke kolam ikan yang sempit dan panjang.


Gilang duduk di bilik paling ujung yang mana di bagian kanan bikin tersebut tidak ada sekatnya. Dari sana Gilang bisa menikmati taman bunga buatan yang tertata cantik di sisi kanan bilik tersebut


Pria berparas tampan nan sendu itu, kemudian mengarahkan pandangannya ke kolam ikan. Gilang merasa rileks untuk sejenak sewaktu ia melihat ikan berwarna-warni berenang indah di kolam ikan tersebut Gilang sontak menoleh Kemabli ke kanan saat ia mendengar langkah kaki dan ia langsung tertegun ketika ia melihat wanita yang masih sangat ia cintai, berjalan anggun ke arahnya. Perubahan drastis yang ada pada diri Embun Sanjaya membuat Gilang seketika itu kesulitan menelan air liurnya.


Kenapa Embun tampak sangat cantik tanpa kacamata besar dan tebal saat ini? Rambutnya juga berubah dan rambut lurus itu tampak pas banget membingkai wajah tirusnya. Batin Gilang tanpa melepaskan tatapannya dari Embun yang masih melangkah anggun ke arahnya.


Gilang bergumam lirih, "Kenapa di saat aku harus memutuskan hubunganku dengan Embun, aku harus diperlihatkan dengan wajahnya yang secantik ini?"


Embun duduk di depan Gilang dengan anggun dan Rendy langsung berkata, "Saya tunggu Nyonya muda di bilik samping"


"Baik. Terima kasih Pak Rendy" Embun tersenyum ke Rendy.


Rendy melangkah ke bilik sebelah dan seorang pria langsung menarik Rendy naik ke bilik. Rendy sontak mendelik kaget ke sosok pria itu. Pria itu dengan sigap membekap mulut Rendy dan menaruh jari telunjuk tangan kirinya di mulut.


Rendy sontak berbisik di telinga pria itu setelah keterkejutannya hilang, "Tuan?! Bikin kaget aja. Tuan kenapa bisa ada di sini?"


Luke meletakkan kembali jari telunjuknya di bibir, lalu pria tampan itu berbisik ke Rendy, "Tentu saja aku harus dengar semua percakapan Istriku dengan pria lain"


Rendy berbisik di telinga Luke, "Katanya tadi percaya sama Nyonya muda"


Luke berbisik di telinga Rendy, "Aku percaya sama Embun, tapi nggak percaya sama situasi dan kondisi"


Rendy hanya bisa tersenyum.


"Jangan berisik! Jangan sampai Embun tahu aku ada di sini?"


Rendy kembali berbisik di telinga Luke, "Baiklah, Tuan"


"Aku mau ngomong" Gilang dan Embun mengatakan kata-kata itu secara bersamaan.


"Kamu duluan aja. Kamu, kan, yang ngajak ketemuan" Pinta Embun.


"Aku senang dia nggak manggil Pria itu dengan sebutan Mas. Aku senang Istriku wanita yang penurut dan bisa dipercaya" Bisik Luke di telinga Rendy.


Rendy hanya tersenyum dan manggut-manggut.


"Kamu beda banget. Kamu sangat cantik sekarang"


Embun berucap, "Terima kasih"


Gilang langsung berucap kembali, "Aku masih mencin.........."


Luke sontak bangkit berdiri dan Rendy langung menarik Luke untuk duduk kembali dan langsung berbsisik di telinga Luke, "Tuan, jangan keluar! Katanya Tuan nggak ingin Nyonya muda tahu kalau Tuan di sini"


Luke menggeram di telinga Rendy, "Iya, sih. Tapi, kau dengar, kan, dia bilang Embun cantik. Kurang ajar bener dia! Cih! Aku harus bikin perhitungan sama dia dan ........."

__ADS_1


"Pak Rendy?" Embun memanggil Rendy dan Luke langsung menutup mulutnya.


"Ada apa Nyonya muda?!" Rendy berteriak dari tempatnya.


"Anda baik-baik saja? Kenapa terdengar berisik banget di sana?"


Luke langsung meletakkan jari telunjuk di bibirnya dan mendelik ke Rendy.


Rendy langsung menjawab, "Saya sendirian Nyonya. Saya sedang lihat film action di ponsel saya. Maaf kalau suaranya kedengeran sampe sana dan agak berisik!" Rendy berteriak dari tempat ia duduk.


"Oooooo, baiklah Pak. Saya kira Pak Rendy jatuh"


"Nggak Nyonya. Saya lihat film, kok!" Teriak Rendy dari tempat ia duduk. Luke langsung mengacungkan ibu jarinya ke Rendy.


"Baiklah, Pak Rendy" Embun lalu mengarahkan pandangannya ke Gilang kembali dan berkata, "Maaf, aku memotong perkataan kamu. Kamu mau ngomong apa tadi?"


"Lupakan saja. Lagian apa yang mau aku omongkan tadi nggak penting lagi. Aku ajak kamu ketemuan hari ini, di sini, karena aku nggak mau Ghosting (mengakhiri sebuah hubungan secara mendadak dan memutuskan komunikasi tanpa memberikan penjelasan apapun) kamu, Mbun. Aku ingin kita pisah secara baik-baik. Kamu nggak keberatan, kan?"


"Iya. Aku nggak keberatan. Dan aku harus jujur sama kamu. Aku sudah menikah dan aku sudah hamil saat ini. Maaf kalau aku baru kasih tahu kamu sekarang. Semuanya serba mendadak dan aku kira kamu masih ada di Jepang" Sahut Embun.


"Pantas saja kamu dari tadi nggak manggil aku Mas. Kamu udah nggak mau manggil aku dengan sebutan Mas lagi, ya?"


"Karena aku rasa, aku sudah nggak pantas lagi memanggilmu dengan sebutan itu. Maaf. Maaf juga untuk semua kesalahan aku selama ini. Maaf aku sudah menikah tanpa kasih tanu kamu dulu. Terima kasih untuk semua yang pernah kamu lakukan untukku. Aku doakan kamu bisa dapatkan wanita yang lebih baik dari aku dan bisa hidup bahagia"


"Dan kamu, apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu?"


"Iya" Sahut Embun dengan cepat.


Luke langsung menggoyang-goyangkan bahu Rendy saking senangnya ia mendengar jawaban Embun.


"Apa suami kamu bersikap lembut sama kamu dan sayang sama janin yang ada di perut kamu?"


"Iya"


Luke memeluk erat Rendy dengan wajah semringah dan berbisik di telinga Rendy, "Istriku baik banget, ya"


Rendy menoleh ke tuan mudanya untuk berbsisik, "Jangan kelamaan meluk saya Tuan! Di bilik seberang sana banyak orang melihat kita. Dikira kita pasangan abnormal"


Luke langsung melepaskan pelukannya dan mendelik ke Rendy.


"Lalu, apa yang kamu rasakan pas kamu bertemu denganku saat ini?"


Embun hanya mengulas senyum tipis.


Dari tadi kamu cuma ngangguk, menjawab dengan kata iya thok, lalu senyum" Gilang mendengus kesal.


Embun kembali mengulas senyum tipis.


"Kamu bahkan nggak nanya kenapa aku meminta kita putus. Kamu nggak peduli dengan alasanku kenapa aku minta kita putus? Kamu bahkan nggak menitikkan air mata. Kamu bahkan nggak nanya apa aku masih mencintai kamu atau tidak? Apa aku benar-benar sudah lenyap dari hati kamu, Mbun?" Gilang mengulas senyum sedih.


Embun menghela napas panjang dan berkata, "Maafkan aku dan lupakan aku" Embun kemudian bangkit berdiri dan memanggil Rendy, "Pak Rendy, saya sudah selesai"


Luke tersentak kaget dan langsung nungging. Rendy menoleh ke tuan mudanya dan langsung membungkukkan badan untuk bertanya dengan suara yang sangat


lirih, "Tuan ngapain?"


Luke mendongak dan menjawab lirih, "Sembunyi"


Rendy sontak berjongkok dan sambil menautkan alisnya dia kembali berkata lirih, "Sembunyi di mana? Nggak ada tempat untuk bersembunyi, Tuan" Rendy kemudian bangkit berdiri sambil mengulum senyum geli dan berbalik badan untuk melompat turun dari bilik. Rendy bergegas menemui Embun untuk berkata, "Mari kita tinggalkan tempat ini Nyonya"


Embun langsung mengikuti langkah Rendy.


Luke menegakkan badannya sambil bergumam kesal, "Sial! Ngapain juga aku nungging. Hufftt! Sial! Rendy dapat hiburan gratis barusan" Luke lalu melompat turun dari bilik dan langsung berlari menuju ke parkiran mobil, karena ia harus sampai di kantor sebelum Embun sampai di sana.


Seorang wanita cantik nan seksi tersenyum lebar dan sambil mengemudikan mobil sedan mewahnya ia berucap, "Sebentar lagi aku akan bertemu dengan si Tampan Like Donovan. Aku sudah nggak sabar lagi pengen bertemu dengan Luke"


Luke duduk di kursi kerjanya dengan tergesa-gesa dan saat ia menegakkan badan, pintu lift terbuka. Embun dan Rendy melangkah keluar dari dalam lift khusus itu. Luke langsung mengulas senyum lebar dan bertanya, "Bagaimana pertemuannya?"

__ADS_1


__ADS_2