Kesayangan Tuan Luke

Kesayangan Tuan Luke
Cemburu


__ADS_3

Sesampainya di depan ruang rapat, Telepon genggamnya Embun berbunyi. Luke terpaksa melepaskan tangan Embun sambil bertanya, "Siapa yang nelpon?"


"Nenek"


"Nenek siapa? Nenek kamu atau Nenekku?"


"Nenek Maria"


"Oke. Terima dulu telepon itu! Aku tunggu di dalam. Rendy sebentar lagi datang, kamu bisa masuk bareng Rendy nanti"


"Baik, Mas"


Luke mencium kening Embun dan tak pernah lupa mengusap perut ratanya Embun, lalu ia masuk ke dalam ruang rapat.


Luke menutup pintu dan tersentak kaget saat pinggangnya dipeluk oleh seseorang dari arah belakang dan ada suara lembut, "Aku sangat merindukanmu, Luke"


Luke langsung mengurai gelungan tangan wanita itu dan saat ia berputar badan, ia berucap sembari menghempaskan tangan wanita itu ke udara, "Jaga sikap kamu!" Luke kemudian berjalan melintasi wanita itu dan duduk di kursi yang berada di ujung meja.


Wanita itu tersenyum bahagia. Dia sangat bahagia akhirnya bisa kembali melihat ketampanannya Luke Donovan yang sangat ia rindukan. Dan sambil mengekor Luke, wanita itu terus tersenyum-senyum sendiri.


Lalu, CEO dari Grup Norman itu, menghentikan langkahnya di belakang kursi dan langsung menggelungkan kedua lengannya di leher Luke untuk berbisik di telinga Luke, "Kita hampir berciuman waktu kita menikmati sunset di Bromo. Kau ingat, kan?" wanita cantik dan seksi itu mengusap pelan dada Luke dan berbisik lagi, "Kenapa sekarang kamu pura-pura lupa dan malu-malu begini? Kau tahu, kalau kamu malu-malu begini, ketampanan kamu meningkat seribu persen dan kamu sangat menggemaskan" Wanita itu nekat mencium pipi kirinya Luke.


Luke terlonjak kaget dan spontan mendengus kesal. Pria tampan itu mengurai gelungan tangan wanita itu sambil bangkit berdiri, Lalu ia hempaskan kedua tangan wanita itu ke udara sambil mendorong kursinya ke belakang. Luke kemudian bergegas melangkah untuk berpindah tempat duduk di ujung meja yang satunya.


Embun bergeser beberapa langkah ke kanan agar tidak menghalangi pintu sambil mengangkat telepon yang masuk ke ponselnya itu, "Halo, ada apa, Nek?"


"Nenek mau ajak Ibu kamu belanja baju. Nenek nelpon kamu pengen nanya sama kamu, warna baju kesukaan Ibu kamu itu apa?"


"Ibu suka warna cokelat dan warna-warna kalem lainnya, Nek"


"Ooooo, semacam warna-warna pastel, ya?"


"Benar, Nek"


"Baiklah. Terima kasih, Sayangku"


"Terima kasih Nenek sudah luangkan waktu mengajak Ibu berbelanja baju"


"Sama-sama. Nenek titip sun (cium) sayang untuk Luke, ya"


"Baik, Nek"


"Harus beneran dikasih sun (cium) lho.. Jangan iya-iya thok"


"Baik, Nek" Embun menyahut dengan rona malu di wajah.


"Kalau bisa sun-nya yang Es lima"


"Es lima, Nek? Es apa itu kok ada lima?"


"Sun Sing Suwe ben Soyo Sweet" ( Cium yang lama biar lebih sweet)


Embun yang terlahir dari Ibu berdarah Jawa yang kenta dan tulen, bisa memahami arti dari bahasa Jawa yang diucapkan oleh Neneknya Luke dan seketika itu ia berucap, "Saya malu, Nek"


"Hahahahaha. Nggak usah malu sama Suami sendiri. Udah Nenek ke rumah Ibu kamu dulu, ya. Ingat harus beneran dikasih Es lima!"


Embun tersipu malu dan menyahut, "Baik, Nek"


Rendy datang bertepatan dengan masuknya telepon genggam Embun ke dalam tas. Embun tersenyum ramah ke Rendy.


Rendy membalas senyumannya Embun sambil menyerahkan sebuah buku dan pulpen ke Embun lalu berkata, "Buku dan pulpen itu untuk mencatat semua yang diucapkan oleh Tuan Luke, Nyonya"

__ADS_1


"Ooooo, baiklah. Terima kasih Pak Rendy" Sahut Embun dengan wajah ramah.


"Sama-sama Nyonya. Mari kita masuk ke dalam sekarang! Saya akan bukakan pintunya" Sahut Rendy sembari memegang handle pintu lalu memutar dan mendorongnya.


Rendy dan Embun masuk ke dalam saat klien wanitanya Luke yang bernama Alice Norman itu, membungkuk di depan Luke untuk membetulkan dasinya Luke dengan posisi duduk di meja dan tangan kanan di atas pundak Luke sedangkan tangan kiri memegang dasinya Luke.


Sewaktu tangan kiri Alice bergerak turun dengan pelan untuk mengelus dasi Luke, Luke spontan menahan tangan kiri Alice sambil melirik Embun dan pria tampan itu sontak menyipitkan matanya saat ia melihat dari sudut matanya, Embun melangkah santai dengan sikap acuh tak acuh. Bahkan Embun tidak menoleh ke dia dan tidak menyapanya. Embun tampak asyik dengan buku dan pulpennya.


Justru Rendy yang terus menoleh dan mendelik ke Luke.


Lha, Istri Gue sebenarnya siapa, sih? Embun atau Rendy? Kenapa Embun cuek dan justru Rendy yang mendelik ke aku? Batin Luke dengan wajah kesal.


"Kamu pegang tangan aku? Kamu sudah ingat akan perasaan kamu ke aku waktu di Bromo, ya, tampan?" Alice langsung berbisik mesra di telinga Luke.


Luke tersentak kaget dan spontan mendorong cukup keras kedua bahu Alice dan sambil berdeham kesal dia bangkit berdiri untuk berkata, "Nona Alice Norman, kita akan mulai rapat kita. Silakan Anda duduk di kursi dengan baik dan benar!"


Alice langsung menggeser pantatnya dan duduk di kursi yang ada di sisi kirinya Luke dengan senyum bahagia. Wanita cantik itu terus menatap Luke sambil senyum-senyum sendiri.


Luke mengabaikan Alice dan ia terus menatap Embun yang memilih duduk di ujung meja satunya. Embun duduk berseberangan dengan Luke dan jaraknya cukup jauh dari kursinya Luke. Pria tampan itu, kembali berdeham kesal dan kali ini ia berdeham cukup keras saat ia melihat Embun justru asyik membahas sesuatu dengan Rendy alih-alih menatapnya dan di saat Embun masih belum menatapnya, Luke berteriak cukup keras,"Embun Sanjaya! Apa yang kau lakukan?!"


Rendy sontak menegakkan badan.


Embun yang tengah menunduk mempersiapkan buku tulis dan pulpennya, sontak mengangkat wajah cantiknya dan saat ia bersitatap dengan suaminya, dia langsung bertanya, "Ada apa, Tuan? Kenapa Anda bikin saya dan Pak Rendy kaget?"


Alice Norman menoleh ke kiri untuk melihat wanita yang berada di ujung meja sambil bergumam di dalam hati, siapa wanita itu? Apa dia sekretaris pribadinya Luke. Dia masih sangat muda, imut, dan cantik.


"Apa yang kau bahas dengan Rendy?" Luke menghunus tatapan tajamnya ke Rendy.


Rendy sontak membuka suara, "Nyonya tadi bertanya apa perlu dibuat tanya jawab di bukunya? Saya jawab nggak perlu dan........."


"Embun! Aku tanya sama Embun bukan kamu" Luke melotot ke Rendy dan langsung mengarahkan pandangannya ke Embun.


Rendy menghela napas panjang dan berkata di dalam hatinya, kalau tanya ke Nyonya, kenapa tadi, tatapan Anda mengarah tajam ke saya setajam silet, Tuan?"


"Kenapa kamu memilih duduk di situ? Kursi itu jauh banget dariku?"


Alice Norman menoleh ke Luke dan kembali bergumam di dalam hatinya, kenapa Luke terus menatap wanita itu dan tampak sangat peduli sama wanita itu? Memang, sih, wanita itu cantik, tapi aku jauh lebih cantik dan bahkan aku jauh lebih seksi dari wanita mungil dan kurus itu. Cih! Mau bersaing sama aku untuk mendapatkan Luke Donovan,ya? Mimpi aja Lo!


"Emm, Nggak papa Tuan. Hanya saja, emm, itu karena, saya belum terbiasa masuk ke dalam ruangan yang seperti ini, Tuan. Jadi, saya spontan memilih duduk di sini" Sahut Embun dengan wajah lugunya.


Luke semakin menyipitkan matanya sambil berkata di dalam hatinya, kenapa ia pakai kata saya dan memanggilku Tuan?


Rendy hanya diam mematung. Jika tuan mudanya sudah menyipitkan mata dan cemberut, Rendy tidak berani memberikan komentar apapun.


"Pindah ke sini! Cepat, nggak pakai lama!" Luke berteriak dengan wajah kesal.


Embun sontak bangkit berdiri dan langsung berlari kecil untuk duduk di kursi yang ada di sisi kanannya Luke. Embun duduk berhadapan dengan Alice Norman.


Embun menganggukkan kepala dan tersenyum ramah ke Alice Norman sambil berkata, "Selamat siang, Nona. Wah, Anda cantik banget" Embun spontan memuji kecantikannya Alice Norman yang memang memiliki wajah sangat cantik bak Dewi-dewi Yunani.


Alice Norman tersenyum ramah dan berkata, "Terima kasih, kamu juga cantik dan imut"


"Ah! Benarkah? Belum pernah ada yang memuji saya cantik dan......."


"Belum pernah ada katamu? Lalu, kemarin apa? Aku bilang apa ke kamu semalam?" Luke mulai menggertakkan gerahamnya.


Embun sontak menoleh ke Luke karena, terkejut dan spontan menarik kerah jasnya Luke untuk berbisik, "Mas, jangan dibahas di sini soal semalam. Ada tamu, nih. Malu"


Wajah Luke seketika berubah semringah saat Embun dengan santainya menarik kerah jasnya dan berbisik padanya. Luke tersenyum senang saat Embun melepaskan jasnya dengan tersipu malu. Presdir muda nan tampan itu, langsung merasa kalau ia tidak ingin berada jauh dari tempat duduk Embun. Pria super tampan itu langsung menggeser kursinya dekat menempel dengan kursinya Embun.


Alice Norman tentu saja tersentak kaget melihat hal itu. Wanita cantik dan seksi itu, sontak menautkan alis dan mengerucutkan bibir.

__ADS_1


"Lalu, Luke menghadapkan kaki dan tubuhnya ke Embun. Pria berdarah campuran Italia itu kemudian berkata, "Silakan sampaikan pendapat kamu Nona Alice Norman!" Luke berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantiknya Embun yang imut.


Embun menatap suaminya dan bergumam lirih, "Mas, jangan sedekat ini kursinya! Malu sama tamu kita, Mas. Jangan melihat ke sini terus! Tamu kira bicara sama Mas, tuh"


Alih-alih merespons ucapannya Embun, Luke justru menatap dalam ke mata Embun dan terus mengulas senyum tampannya sambil berucap, "Aku senang kamu memanggilku Mas lagi. Kenapa tadi manggil Tuan?"


"Kan, ini ruang rapat. Aku harus profesional, kan?" Ucap Embun dengan suara lirih setengah berbisik.


Luke terus tersenyum menatap Embun dan dia senang mendengar kata-katanya Embun. Pria tampan itu kemudian secara spontan menopangkan tangan kanannya di pucuk kepala Embun sembari berkata, "Kamu pinter juga membawa diri. Aku bangga menjadi milik kamu" Luke kemudian memperlebar senyumannya.


"Kamu tidak mengarahkan pandangan kamu ke sini, Luke Donovan?!" Wanita cantik itu nekat bangkit berdiri dan melangkah mendekati Luke untuk menyentuh pundak Luke. "Aku akan mulai berbicara mengutarakan pendapatku soal kerjasama kita kalau kamu menghadapkan wajah kamu ke sini"


Luke yang masih menatap Embun dalam-dalam berkata ke Embun, "Pundakku disentuh cewek lain, nih. Kamu nggak merasakan apa-apa?"


Embun menatap suaminya dengan wajah penuh tanda tanya, lalu ia berkata, "Memangnya kenapa? Kan, cuma nyentuh pundak?"


"Kamu nggak lihat pas kamu masuk tadi, dia nyentuh dasiku dan berbisik di telingaku. Kamu nggak merasakan apa-apa?" Luke mulai mengerucutkan bibirnya.


"Merasakan apa?" Embun yang belum pernah mengerti apa itu cemburu, karena semasa ia masih berpacaran dengan Gilang, Gilang tidak pernah mengajarinya apa itu cemburu, masih menatap Luke dengan wajah penuh tanda tanya.


Alice Norman yang merasa kesal terus diabaikan oleh Luke, nekat menarik pundak Luke sampai Luke menghadap ke dia. Alice langsung menyemburkan protes, "Kenapa kamu terus menatap wanita itu? Kenapa kamu mengabaikan aku terus? Padahal sewaktu kita di Bromo, kita hampir bericuman Luke"


Luke langsung menoleh ke Embun, "Kamu dengar itu? Aku dan dia pernah hampir bericuman waktu di Bromo. Kamu nggak merasakan sesuatu?"


"Merasakan apa?" Embun masih tampak kebingungan.


Rendy yang duduk di ujung meja satunya langung menutup wajah tampan lokalnya dengan helaan napas panjang dan bergumam kesal, "Kenapa malah jadi drama Korea, nih? Di mana rapatnya? Sebenarnya apa yang Tuan minta ke Nyonya? Tuan ingin Nyonya merasakan apa, sih?" Hadeeeeh!"


Alice Norman memekik kaget saat Luke menariknya ke atas pangkuan Luke dan Luke menoleh ke Embun, "Kalau begini, kamu merasakan sesuatu?"


Rendy sontak menarik kedua telapak tangan dari wajah tampan lokalnya untuk melihat apa yang terjadi saat ia mendengar pekikannya Alice Norman. Rendy langung mendelik kaget sewaktu ia melihat tuan mudanya memangku Alice Norman.


Luke memegang kedua tangan Alice Norman, lalu ia letakkan kedua tangan Alice Norman di atas dadanya, dan ia kembali menoleh ke Embun, "Masih belum merasakan apapun?"


Alice langsung bertanya, "Ada apa ini?"


Namun, Luke mengabaikan Alice Norman. Presdir Grup Donovan itu terus menatap Embun, karena ia masih menunggu jawabannya Embun.


Embun menggeleng lugu dengan ekspresi wajah yang masih sama, kebingungan.


Rendy langsung bisa memahami apa yang menjadi keinginan tuan mudanya. Asisten pribadinya Luke yang lama kelamaan ketularan kecerdasannya Luke itu, sontak bangkit berdiri dan langsung berlari mendekati Embun.


Di saat Luke menatap Alice Norman cukup lama untuk bertanya-tanya kenapa wajah secantik Alice Norman tidak bisa membuat Embun mengeluarkan kata cemburu, Rendy langsung menulis kata-kata di buku tulisnya Embun. Embun yang masih menatap tingkah aneh suaminya, tidak menyadari kalau Rendy menuliskan kata-kata di buku tulis yang ada di depannya.


Melihat Luke Donovan terus mengamati wajahnya, Alice Norman tersenyum senang. Ia mengira, Luke terpesona akan kecantikannya yang memang sungguh sangat luar biasa itu. Lalu, dengan penuh percaya diri, Alice Norman, menatap kedua mata Luke dalam-dalam dan menangkup wajah tampannya Luke.


Luke tersentak kaget dari lamunannya dan refleks ia mendorong kedua bahu Alice Norman hingga membuat wanita itu berdiri dari atas pangkuannya.


Di saat itulah Rendy langsung menurunkan badannya untuk berbisik ke Embun, "Cepat baca tulisan saya di buku itu, Nyonya! Cepat!" Rendy segera menegakkan badannya kembali setelah berbisik seperti itu.


Karena, kaget, Embun refleks melihat buku di depannya dan langsung membaca tulisan di buku itu dengan sangat jelas dan keras, "Saya cemburu!"


Luke menoleh ke Embun dengan ekspresi kaget dan Embun menoleh ke Rendy dengan ekspresi kaget.


Rendy meringis lebar ke nyonya mudanya untuk sepersekian detik dan ia menutup kembali bibinya untuk menoleh cepat ke tuan mudanya dan langsung berkata, "Nyonya Muda cemburu. Tentu saja cemburu. Iya, kan, Nyonya?!"


Luke menatap Embun dengan semringah, "Benarkah?"


Embun yang masih menatap Rendy mendapatkan anggukkan dan tawa anehnya Rendy. Embun kemudian, menoleh ke suaminya dan walaupun masih belum memahami situasinya, Embun memilih untuk mengikuti gerakannya Rendy, yakni mengangguk dan tertawa aneh.


Luke sontak bangkit berdiri dan melompat ke Embun untuk memeluk Embun dan langsung berteriak kegirangan, "Ah! Akhirnya kamu cemburu! Akhirnya kamu cemburu, hahahahahaha"

__ADS_1


Embun menautkan alisnya dan sambil mengelus punggung suaminya, Embun hanya mengeluarkan suara, "Hehehehe, iya, Mas. Iya, hehehehehe"


Dan Rendy, langsung menghela napas lega.


__ADS_2